<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8327700263599763418</id><updated>2012-02-17T09:31:52.090+07:00</updated><category term='Ruang Belajar Bahasa'/><category term='Karya Tulis Ilmiah'/><category term='Ruang Budaya dan Gaya Hidup'/><category term='Ruang Berbagai Ulasan Buku dan Artikel Sastra'/><category term='Ruang Sejarah Sastra'/><category term='Catatan Harian'/><category term='Cerita dan Permainan Kata-kata'/><category term='Ruang Kritik Sastra'/><category term='Ruang Berbagi Informasi'/><category term='Belajar Sastra di Strata Satu'/><category term='Ruang Drama dan Sinema'/><category term='Ruang Mengenal Berbagai Teori dan Pendekatan Sastra'/><title type='text'>Ruang Kata-kata</title><subtitle type='html'>Ruang Sastra, Bahasa, Film, Budaya, dan Cerita Biasa</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8327700263599763418/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Ruang Kata-kata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02073905970978168417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-BMpRpLILnS8/Tgiif45TyJI/AAAAAAAAAF4/wJFIcqlOhCM/s220/DSC01970.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>86</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8327700263599763418.post-1954210023411798414</id><published>2012-01-16T10:20:00.003+07:00</published><updated>2012-01-16T10:37:21.083+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Berbagi Informasi'/><title type='text'>Parade Teater UIN Syarif Hidayatullah Jakarta</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-syy3EHx0cHQ/TxOXH1Ld6qI/AAAAAAAAAJs/gksO0fs99l8/s1600/Parade+Tetaer+UIN.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://4.bp.blogspot.com/-syy3EHx0cHQ/TxOXH1Ld6qI/AAAAAAAAAJs/gksO0fs99l8/s200/Parade+Tetaer+UIN.jpg" width="130" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Senin, 16 Januari 2012 gelaran Parade Teater yang diselenggarankan oleh Teater7 mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dimulai. Lakon hari ini berjudul "Pagi Bening" dan "Pinangan" akan dipentaskan pada pukul 15.30 dan 19.00 WIB. Sedangkan Rabu, 18 Januari 2012 mahasiswa PBSI UIN kembali menggelar pementasan dengan lakon "Mimpi-Mimpi","Malam Pengantin di Bukit Kera", dan "Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi", pada pukul 13.00, 15.30, dan 19.00 WIB. Harga Tiket Masuk Rp5000 untuk lima pertunjukan yang bertempat di Aula Madya lt.2 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selamat datang dan Menyaksikan!&amp;nbsp; &amp;nbsp;  &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8327700263599763418-1954210023411798414?l=ruangkata-katavie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/feeds/1954210023411798414/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/2012/01/parade-teater-uin-syarif-hidayatullah.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8327700263599763418/posts/default/1954210023411798414'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8327700263599763418/posts/default/1954210023411798414'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/2012/01/parade-teater-uin-syarif-hidayatullah.html' title='Parade Teater UIN Syarif Hidayatullah Jakarta'/><author><name>Ruang Kata-kata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02073905970978168417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-BMpRpLILnS8/Tgiif45TyJI/AAAAAAAAAF4/wJFIcqlOhCM/s220/DSC01970.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-syy3EHx0cHQ/TxOXH1Ld6qI/AAAAAAAAAJs/gksO0fs99l8/s72-c/Parade+Tetaer+UIN.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8327700263599763418.post-1196344021741626985</id><published>2011-12-08T19:32:00.002+07:00</published><updated>2011-12-08T19:54:09.945+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan Harian'/><title type='text'>I Love My Job</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Semester ini, saya mengajar dua mata kuliah menulis di dua kampus yang berbeda, yaitu Penulisan Editorial dan Opini di UIN Ciputat dan Menulis Populer di Universitas Pamulang (Unpam). Kedua matakuliah tersebut membuat saya bekerja ekstra karena harus membaca lebih jeli setiap tulisan mahasiswa. Melelahkan tapi sangat menyenangkan!&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di kelas "Penulisan Editorial dan Opini" saya menantang mahasiswa saya untuk mengirimkan opininya ke media. Bagi yang berhasil dimuat, nilai A di tangan. Kesempatan tersebut saya buka selama satu semester perkuliahan. Ternyata, satu orang mencoba, Reni namanya. Dengan semangat ia menunjukkan tulisannya di koran daerah Tangerang, "Bu tulisan saya dimuat". Saya pun melihatnya dengan semangat. Tak hanya koran, Reni juga membawa bukti pengiriman dan tulisan asli yang ia kirimkan. Hhmm... tulisannya memang banyak diubah, tapi melihat kegigihan dan semangatnya, patutlah dia diberi nilai 85 untuk UTSnya (dengan berbagai pertimbangan terpaksa tulisan itu hanya ampuh untuk UTS). "Wah saya jadi semangat mengirimkan tulisan lain ke media nasional Bu" begitu katanya. Akh, Reni taukah bahwa kamu sudah membuat saya bahagia :)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Untuk memancing greget mahasiswa lainnya, senin&amp;nbsp; lalu saya juga meminta mahasiswa untuk mengirimkan surat pembaca ke berbagai media. Hasilnya beberapa email masuk ke inbox saya di sepanjang Selasa dan Rabu saya mendapat kabar mahasiswa saya lainnya juga dimuat tulisannya di &lt;i&gt;Republika&lt;/i&gt;. Horeeee... &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berbeda dengan di UIN, di UNPAM sebagai latihan saya meminta mahasiswa untuk membuat blog kelas yang berisi semua tulisan "penulisan popular". Sekali lagi saya terkejut, dua dari sepuluh mahasiswa saya, malah ikut-ikutan &lt;i&gt;ngeblog&lt;/i&gt; yaitu Farras blognya &lt;a href="http://farrasz.blogspot.com/"&gt;http://farrasz.blogspot.com/&lt;/a&gt; dan Nandu &lt;a href="http://biroeimoet.blogspot.com/"&gt;http://biroeimoet.blogspot.com/&lt;/a&gt;. Untuk blog kelas masih terus diisi dan dipercantik. Sekali lagi bagi yang berani mengirimkan cerpennya ke media dan dimuat, tanpa basa-basi saya berikan nilai A.&amp;nbsp; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Semoga saja pekan depan saya mendapat banyak kabar bahagia lainnya :)&lt;br /&gt;Tetap semangat ya! Terima kasih untuk segala usaha dan apresiasinya. Buat yang tidak suka, ya biasa saja :)&lt;br /&gt;Yuk banyak baca dan menulis!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8327700263599763418-1196344021741626985?l=ruangkata-katavie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/feeds/1196344021741626985/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/2011/12/i-love-my-job.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8327700263599763418/posts/default/1196344021741626985'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8327700263599763418/posts/default/1196344021741626985'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/2011/12/i-love-my-job.html' title='I Love My Job'/><author><name>Ruang Kata-kata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02073905970978168417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-BMpRpLILnS8/Tgiif45TyJI/AAAAAAAAAF4/wJFIcqlOhCM/s220/DSC01970.JPG'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8327700263599763418.post-6740295067909656951</id><published>2011-12-04T22:21:00.002+07:00</published><updated>2011-12-04T22:29:01.191+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Belajar Bahasa'/><title type='text'>Kalimat</title><content type='html'>&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;div class="O"&gt;&lt;div&gt;&lt;div class="O"&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul style="margin-top: 0cm;" type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;Kalimat ialah satuan bahasa yang dapat berdiri      sendiri, memiliki &lt;b&gt;intonasi final&lt;/b&gt;, terdiri atas &lt;b&gt;frasa&lt;/b&gt; dan &lt;b&gt;klausa&lt;/b&gt;      (KBBI).&amp;nbsp;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;Terdapat 3 buah intonasi final yang memberi      ciri kalimat: intonasi deklaratif (tanda titik), intonasi interogeratif      (tanda tanya), intonasi seru (tanda seru).&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;b&gt;Jenis Kalimat Berdasarkan Tujuan dan Situasinya&lt;/b&gt; &amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;1.Kalimat berita berfungsi untuk memberitahukan sesuatu kepada pihak lain hingga diperoleh tanggapan yang berupa perhatian. Contoh: &lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;Malam ini sepi sekali. &lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;Ia baru saja datang.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;2.Kalimat perintah merupakan kalimat yang mengharapkan tanggapan (biasanya berupa tindakan) dari pihak lain.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Dari segi makna, kalimat perintah dapat berupa: &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;a)Perintah → Pergilah segera! &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;b)Ajakan → Mari kita ke sana! &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;c)Larangan → Jangan membuang sampah sembarangan! &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;d)Mempersilakan →Silakan duduk! &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;e)Salam → Selamat pagi!&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;3. Kalimat tanya&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt; berfungsi untuk menanyakan sesuatu kepada pihak lain. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Macam-macam bentuk dan fungsi kata tanya, yaitu: &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;a.Kata tanya yang menghendaki jawaban “ya” atau “tidak” dan juga untuk menanyakan benda, perbuatan, yaitu &lt;b&gt;apa(kah). &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;b.Kata tanya untuk menanyakan orang, Tuhan, Malaikat, yaitu &lt;b&gt;siapa/siapakah. &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;c.Kata tanya untuk menanyakan perbuatan dan sebab, yakni &lt;b&gt;kenapa&lt;/b&gt; serta &lt;b&gt;mengapa&lt;/b&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;d.Kata tanya untuk menanyakan proses, yakni &lt;b&gt;bagaimana&lt;/b&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;e.Kata tanya untuk menanyakan tempat, yaitu &lt;b&gt;di mana, ke mana, dari mana&lt;/b&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;f.Kata tanya untuk menanyakan waktu, yaitu &lt;b&gt;kapan&lt;/b&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;g.Kata tanya untuk menanyakan jumlah, yakni &lt;b&gt;berapa&lt;/b&gt;.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Jenis Kalimat Berdasarkan Sifat Predikatnya&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;1.Kalimat Aktif &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt;adalah kalimat yang predikatnya melakukan suatu pekerjaan.Ciri penting yang menandai kalimat aktif, predikat kalimat itu berupa kata kerja yang berawalan &lt;i&gt;me- &lt;/i&gt;dan b&lt;i&gt;e&lt;/i&gt;r-. Ada juga kalimat aktif yang predikatnya tidak disertai kedua imbuhan tersebut, misalnya &lt;i&gt;makan &lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;minum. &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Contoh: &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Gubernur akan membuka pameran ini. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Mereka bermain di lapangan&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;2.Kalimat Pasif &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;adalah kalimat yang subjeknya dikenai pekerjaan. Ditandai oleh predikat berawalan &lt;i&gt;di- &lt;/i&gt;atau &lt;i&gt;ter- &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Contoh: &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Pameran ini akan dibuka oleh gubernur. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;Tugas saya tertinggal di rumah.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="visibility: hidden;"&gt;&lt;span style="color: #3333cc; left: -7.69%; position: absolute;"&gt;n&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="O" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="visibility: hidden;"&gt;&lt;span style="color: #3333cc; left: -4.1%; position: absolute;"&gt;n&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8327700263599763418-6740295067909656951?l=ruangkata-katavie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/feeds/6740295067909656951/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/2011/12/kalimat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8327700263599763418/posts/default/6740295067909656951'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8327700263599763418/posts/default/6740295067909656951'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/2011/12/kalimat.html' title='Kalimat'/><author><name>Ruang Kata-kata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02073905970978168417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-BMpRpLILnS8/Tgiif45TyJI/AAAAAAAAAF4/wJFIcqlOhCM/s220/DSC01970.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8327700263599763418.post-2708151535547297390</id><published>2011-12-04T21:33:00.005+07:00</published><updated>2011-12-04T21:47:29.567+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Belajar Bahasa'/><title type='text'>Frasa dan Klausa</title><content type='html'>&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Frasa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Frasa ialah satuan gramatikal yang terdiri dari dua kata dan konstruksi non-predikatif (unsur pembentuknya bukan subjek-predikat).&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="O" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;div style="color: blue;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="color: #3333cc; left: -4.18%; position: absolute; top: 0.61em;"&gt;n&lt;/span&gt;Contoh Kalimat&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;u&gt;Adik saya&lt;/u&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;u&gt;sedang membaca&lt;/u&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;u&gt;buku cerita&lt;/u&gt;&lt;span style="width: 3.62%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;u&gt;di kamar tidur&lt;/u&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; S&lt;span style="width: 2.68%;"&gt; &lt;/span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; P&lt;span style="width: 13.27%;"&gt; &lt;/span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; O&lt;span style="width: 10.97%;"&gt; &lt;/span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Ket&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: black; text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Terdiri dari Frasa: 1) Adik saya ; 2) Sedang membaca ; 3) Buku cerita&lt;/span&gt;&lt;span style="color: black; font-size: small;"&gt;; 4) di kamar tidur&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: black; text-align: left;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: black; text-align: left;"&gt;&lt;div class="O"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-size: 133%;"&gt;&lt;span style="color: #3333cc; font-size: 60%; left: -7.47%; position: absolute; top: 0.61em;"&gt;n&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Frasa dibagi menjadi:&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="color: #3333cc; left: -7.17%; position: absolute; top: 0.61em;"&gt;1.&lt;/span&gt;Frasa endosentris adalah frasa yang unsur pusatnya berdistribusi sama dengan frasa yang dibentuknya. Contoh: mahasiswa teladan → unsur pusat nomina, frasa yang dibentuk Frasa nomina/FN.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Frasa eksosentris ialah kategori frasa yang dibentuk tidak sama dengan unsur pusatnya, contoh: di kelas → (prep+n) disebut frasa preposisi (Fprep) dengan unsur pusat nomina.  &lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="color: #3333cc; left: -6.33%; position: absolute; top: 0.61em;"&gt;n&lt;/span&gt;Tidak hanya itu, ada dasar kelas katanya frasa dapat dibagi menjadi 5 jenis: Frasa Nomina (FN), Frasa verbal (FV), Frasa adjektiva (FAdj), Frasa Adverbia (FAdv), Frasa Preposional (FPrep)&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&amp;nbsp;  &lt;span style="color: black; font-size: small;"&gt;&lt;/span&gt;  &lt;br /&gt;&lt;div class="O"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="color: #333399;"&gt;Klausa&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="O"&gt;&lt;div class="O"&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-size: 133%;"&gt;&lt;span style="color: #3333cc; font-size: 60%; left: -3.96%; position: absolute; top: 0.61em;"&gt;n&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Klausa merupakan frasa yang salah satu unsur intinya berfungsi sebagai predikat. Berpontensi menjadi kalimat jika diberi intonasi final.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="color: #3333cc; left: -4.17%; position: absolute; top: 0.61em;"&gt;n&lt;/span&gt;Contoh&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="width: 3.65%;"&gt; &lt;/span&gt;Dia baru pulang → klausa yang dapat berubah menjadi kalimat tunggal jika diberi intonasi final.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="width: 3.42%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;u&gt;Adik membaca komik&lt;/u&gt; sedangkan &lt;u&gt;kakak membaca novel&lt;/u&gt; → kalimat majemuk yang terdiri dari dua klausa; 1) Adik membaca komik ; 2) kakak membaca novel.&lt;u&gt; &lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="color: #333399;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: 20pt;"&gt;&lt;b&gt;  &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;    &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8327700263599763418-2708151535547297390?l=ruangkata-katavie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/feeds/2708151535547297390/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/2011/12/definisi-frasa-dan-klausa.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8327700263599763418/posts/default/2708151535547297390'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8327700263599763418/posts/default/2708151535547297390'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/2011/12/definisi-frasa-dan-klausa.html' title='Frasa dan Klausa'/><author><name>Ruang Kata-kata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02073905970978168417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-BMpRpLILnS8/Tgiif45TyJI/AAAAAAAAAF4/wJFIcqlOhCM/s220/DSC01970.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8327700263599763418.post-2215400910332718494</id><published>2011-12-04T16:19:00.004+07:00</published><updated>2011-12-04T16:24:25.436+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Drama dan Sinema'/><title type='text'>Pentas Teater  Realis "Rumah Boneka" ( A Doll's House): Tiga Jam Tanpa Interval</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-0yuyWWG2ApQ/Tts6MOTxppI/AAAAAAAAAJU/E-7WemSZoNQ/s1600/eventrumahboneka.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://1.bp.blogspot.com/-0yuyWWG2ApQ/Tts6MOTxppI/AAAAAAAAAJU/E-7WemSZoNQ/s200/eventrumahboneka.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&amp;nbsp;"Saya mempunyai tugas yang tak kalah sakralnya dengan menjadi seorang ibu, tugas kepada diri sendiri!"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Kalimat tersebut merupakan kutipan dialog teater "Rumah Boneka" yang diadaptasi dari buku drama karya Hendrik Ibsen&amp;nbsp; "A Doll's House". Dari kata sambutan Faiza Mardzoeki (produser) saya tahu bahwa Ibsen oleh bangsa Norwegia dijadikan simbol kebanggaan nasional. Pemerintah Norwegia mendukung diciptakannya ruang pergaulan kreatif di seluruh dunia melalui Ibsen. Program kesetaraan gender pun dipromosikan dengan nama &lt;i&gt;Nora's Sisters&lt;/i&gt; mengambil nama tokoh utama perempuan dalam cerita. Terus terang isu gender ini yang menarik minat saya untuk datang ke Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) kemarin malam (3/12).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sekilas, teater ini bercerita mengenai kehidupan rumah tangga Nora (diperankan oleh Maya Hasan dan Chantal Della Concetta) dan Tommy Herlambang (Ayez Kassar) yang awalnya tampak harmonis tetapi sangat rapuh. Adegan dibuka dengan Nora yang datang membawa tas-tas belanjaan, sedikit berdialog dengan Bibi Heni (Pipien Putri), lalu masuklah Mas Tom suaminya. Dari perbincangan antara Mas Tom dan Nora tampak bahwa sosok Nora manja, lemah, suka berbelanja, tidak tahu apa-apa dan hanya mengandalkan Mas Tom dalam hidupnya. Tapi kedatangan Linda (Ayu Dyah Pasha) sahabat Nora membuka rahasia bahwa Nora bukanlah perempuan lemah yang tidak bisa melakukan apa-apa. Diam-diam Nora menyelamatkan nyawa Mas Tom ketika terserang kanker dengan membawa suaminya tersebut ke Singapura. Kenapa diam-diam? "Karena laki-laki tidak suka bila hidupnya diselamatkan perempuan. Jatuh harga dirinya". Biaya pengobatan yang sangat mahal membuat Nora harus "membuat kesalahan" dengan berutang pada Togar (Teuku Rifnu Wikana). Untuk membayar utang tersebut Nora harus bekerja menawarkan produk-produk multi level marketing, bahkan menghemat uang pemberian Mas Tom. Akan tetapi, ketika perkara utang ini terbongkar, Nora tidak mendapat respek dan pengertian dari sang suami. Justru hardikan dan kata-kata kasarlah yang terlontar dari mulut suami yang sangat dicintai Nora. Sikap kasar tersebut membuat Nora kembali memikirkan hubungan pernikahan yang sudah delapan tahun dijalaninya.&amp;nbsp; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Rumah Boneka" dimulai pada pukul 20.00 dan berakhir hampir pukul 23.00. Ini merupakan pengalaman pertama saya menikmati pentas teater realis tiga jam tanpa interval. Hasilnya, ngantuk luar biasa! Dialog panjang Nora membuat beberapa kali Maya Hasan tampak "terpeleset". Walaupun cerita cenderung monoton, ide dan perlawanan yang dilakukan Ibsen terkait relasi suami-istri masih sangat relevan. Jadi buat yang penasaran silakan datang ke GKJ malam ini untuk menutup teater yang sudah dipentaskan sejak 30 November. Saran saya, siapkan stamina dan permen (makan dan minum dalam gedung pertunjukan tidak diperbolehkan, jadi sampah jangan dibuang sembarangan ya hehe), jika tidak sama seperti saya Anda pasti akan ngantuk dan melewatkan dialog-dialog yang sangat "padat". Ingat, ini pertunjukan teater realis tiga jam tanpa interval! Selamat menikmati.... &amp;nbsp; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;HARGA TIKET/PRICE&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1. VIP Rp 250.000,-&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2. Kelas I Rp 150.000,-&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3. Balkon Rp 75.000,-&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;4. Pelajar dan Mahasiswa Rp 50.000,- ( berlaku untuk Balkon, tempat terbatas)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Terima Kasih buat Mba Sahat Tarida yang sudah menyediakan "tempat khusus" buat saya dan si Mas :) &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8327700263599763418-2215400910332718494?l=ruangkata-katavie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/feeds/2215400910332718494/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/2011/12/pentas-teater-rumah-boneka-dolls-house.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8327700263599763418/posts/default/2215400910332718494'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8327700263599763418/posts/default/2215400910332718494'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/2011/12/pentas-teater-rumah-boneka-dolls-house.html' title='Pentas Teater  Realis &quot;Rumah Boneka&quot; ( A Doll&apos;s House): Tiga Jam Tanpa Interval'/><author><name>Ruang Kata-kata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02073905970978168417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-BMpRpLILnS8/Tgiif45TyJI/AAAAAAAAAF4/wJFIcqlOhCM/s220/DSC01970.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-0yuyWWG2ApQ/Tts6MOTxppI/AAAAAAAAAJU/E-7WemSZoNQ/s72-c/eventrumahboneka.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8327700263599763418.post-4007751504815549570</id><published>2011-12-02T06:06:00.003+07:00</published><updated>2011-12-02T06:18:03.637+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Karya Tulis Ilmiah'/><title type='text'>Menulis Abstrak</title><content type='html'>&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Abstrak merupakan &lt;b&gt;intisari&lt;/b&gt; dari karya tulis yang kamu buat. Oleh karena itu, seleksi menarik tidaknya karya tulis yang dapat dilihat dari abstraknya. &amp;nbsp;Saat mengikuti “Academic Writing Skills Workshop” di kampus Depok, salah satu pemateri&amp;nbsp; Allan Lauder menjelaskan ada tiga hal yang harus diperhatikan saat membuat abstrak, yaitu:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Panjang abstrak maksimal &lt;b&gt;250 kata. &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Isinya berpola &lt;b&gt;BPMRC&lt;/b&gt; → &lt;i&gt;Background&lt;/i&gt; (latar belakang), &lt;i&gt;Purpose&lt;/i&gt; (tujuan), &lt;i&gt;Method&lt;/i&gt; (metode), &lt;i&gt;Result&lt;/i&gt; (hasil), &lt;i&gt;Conclusion &lt;/i&gt;(simpulan).&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Di bawah abstrak sertakan &lt;b&gt;kata kunci&lt;/b&gt; yaitu kata-kata penting yang terkait dengan karya ilmiah yang bersangkutan. &lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&amp;nbsp;&lt;b&gt;Contoh: &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;KEINGINAN UNTUK PULANG:&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;KECEMASAN DAN AMBIVALENSI DALA&lt;/span&gt;M &lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;NOVEL &lt;i&gt;MISS LU&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Novi Diah Haryanti&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;ABSTRAK&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;span lang="IN"&gt;Pascalengsernya Soeharto, berbagai macam karya sastra muncul kepermukaan&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;membawa isu-isu yang “terpendam” selama berpuluh-puluh tahun. Salah satu isu yang sering diangkat ke dalam cerita adalah tragedi’65, yang tidak hanya memakan korban jiwa, tapi juga menimbulkan rasa traumatis terhadap korban hidup yang tersisa. Selain ‘menyapu’ mereka yang dianggap tercemar oleh Partai Komunis Indonesia (PKI), sasaran lain tragedi ini adalah etnis Tionghoa. &lt;b&gt;(Latar Belakang)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Esai ini &lt;b&gt;bertujuan&lt;/b&gt; untuk memperlihatkan proses peliyanan yang dilakukan terhadap etnis Tionghoa dan membongkar pemakanaan nasionalisme –secara sempit– yang dilakukan pemerintah untuk mengindonesiakan etnis Tionghoa dalam novel &lt;i&gt;Miss Lu &lt;/i&gt;(2003) karya Naning Pranoto. &lt;b&gt;Metode deskriptif&lt;/b&gt; analisis dengan perspektif multikulturalisme digunakan untuk melihat wacana nasionalisme dan oposisi biner “pribumi vs nonpribumi” dalam novel. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;b&gt;Berdasarkan pembacaan&lt;/b&gt; terhadap &lt;i&gt;Miss Lu&lt;/i&gt;, tampak sikap ambivalen pemerintah terkait etnis Tionghoa. Di satu sisi pemerintah berusaha “mengindonesiakan” mereka, namun di sisi lain membuat berbagai aturan yang mempertegas perbedaan antara pribumi dengan etnis Tionghoa sebagai nonpribumi (&lt;i&gt;other&lt;/i&gt;). &lt;b&gt;Dengan demikian&lt;/b&gt;, pemaknaan kembali kata nasionalisme menjadi penting di tengah upaya mewujudkan Indonesia yang multikultur. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kata kunci&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;: &lt;i&gt;identitas&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;other&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;nasionalisme&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;etnis&lt;/i&gt; &lt;i&gt;Tionghoa&lt;/i&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Perhatikan abstrak di atas. Kamu pasti bisa melihat bahwa paragraf pertama abstrak berisi latar belakang (&lt;b&gt;background&lt;/b&gt;). Berikutnya “tujuan” (&lt;b&gt;purpose)&lt;/b&gt; dan “metode” &lt;b&gt;(method)&lt;/b&gt; ada di paragraf dua. Paragraf terakhir berisi hasil &lt;b&gt;(result)&lt;/b&gt; –perhatikan “berdasarkan pembacaan”- dan &amp;nbsp;simpulan &lt;b&gt;(conclusion)&lt;/b&gt; –ada di frasa “dengan demikian”. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Akan tetapi, abstrak tidak harus dibuat dalam tiga paragraf lho, yang penting perhatikan saja jumlah maksimal kata dari abstrak yang kamu buat. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Selamat mencoba ya....&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;span lang="PT-BR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8327700263599763418-4007751504815549570?l=ruangkata-katavie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/feeds/4007751504815549570/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/2011/12/membuat-abstrak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8327700263599763418/posts/default/4007751504815549570'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8327700263599763418/posts/default/4007751504815549570'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/2011/12/membuat-abstrak.html' title='Menulis Abstrak'/><author><name>Ruang Kata-kata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02073905970978168417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-BMpRpLILnS8/Tgiif45TyJI/AAAAAAAAAF4/wJFIcqlOhCM/s220/DSC01970.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8327700263599763418.post-3102986287573670729</id><published>2011-11-17T16:06:00.000+07:00</published><updated>2011-11-17T16:06:11.120+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Berbagi Informasi'/><title type='text'>Daftar Pemenang Lomba dan Sayembara Dalam Kegiatan Bulan Bahasa dan Sastra 2011</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Alhamdulillah, blog saya Ruang Kata-Kata mendapat juara 2 di Kegiatan Bulan Bahasa dan Sastra 2011. Semoga ke depannya makin rajin meng-&lt;i&gt;update&lt;/i&gt; tulisan. Berikut &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;sebagian daftar pemenang lomba dan sayembara dalam kegiatan Bulan Bahasa dan Sastra 2011. Informasi lengkapnya &lt;a href="http://pusatbahasa.kemdiknas.go.id/lamanv42/?q=detail_berita/2629"&gt;silakan klik di sini!&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Lomba Blog Kebahasaan dan Kesastraan Tingkat Nasional&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Pemenang I, Bekti Patria Dwi Hastuti, S.S.,      Madiun&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Pemenang II, Novi Diah Haryanti, Depok&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;Pemenang III, Sabjan Badio,      Yogyakarta&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;Pemenang Harapan I, Imam      Muhtarom, Surabaya&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;Pemenang Harapan II, Binhad      Nurrohmat, Jakarta      Selatan&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;Pemenang Harapan III, R.      Kusdaryoko, S.Pd., Banjarnegara&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Penilaian Penggunaan Bahasa Indonesia di Media Massa&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Urutan sesuai dengan peringkat)&lt;br /&gt;&lt;ol start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Kompas&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Media Indonesia&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Koran Tempo&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Republika&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Seputar Indonesia&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Sinar Harapan&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Suara Pembaruan&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Rakyat Merdeka&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Indopos&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Pikiran Rakyat&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&amp;nbsp;Suara Karya&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Wawasan&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Radar Banten&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Suara Merdeka&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Kabar Banten&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Koran Jakarta&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Tribun Timur&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Seputar Indonesia (&lt;/i&gt;Palembang)&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Pos Kupang&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Warta Kota&lt;/i&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Catatan: terdapat 54 media tetapi saya hanya menampilkan 20 besar saja.&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Penghargaan Sastra Badan Bahasa&lt;/strong&gt; &lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;D. Zawawi Imron, dengan kumpulan puisi yang berjudul &lt;em&gt;Kelenjar Laut&lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Leila S. Chudori, dengan kumpulan cerpen yang berjudul &lt;em&gt;9 Negeri Nadira&lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Abidah El Khalieqy, dengan novel yang berjudul &lt;em&gt;Mahabbah Rindu&lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FI"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8327700263599763418-3102986287573670729?l=ruangkata-katavie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/feeds/3102986287573670729/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/2011/11/daftar-pemenang-lomba-dan-sayembara.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8327700263599763418/posts/default/3102986287573670729'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8327700263599763418/posts/default/3102986287573670729'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/2011/11/daftar-pemenang-lomba-dan-sayembara.html' title='Daftar Pemenang Lomba dan Sayembara Dalam Kegiatan Bulan Bahasa dan Sastra 2011'/><author><name>Ruang Kata-kata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02073905970978168417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-BMpRpLILnS8/Tgiif45TyJI/AAAAAAAAAF4/wJFIcqlOhCM/s220/DSC01970.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8327700263599763418.post-6713354465300358057</id><published>2011-11-13T01:09:00.001+07:00</published><updated>2011-11-13T01:11:51.331+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Drama dan Sinema'/><title type='text'>Sang Penari: Bila Ronggeng Mulai Menari</title><content type='html'>&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-gc6wMl7CJrs/Tr60QbbbfQI/AAAAAAAAAIg/32Qd7twdIbw/s1600/42yqda_sang-penari_320x480.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://1.bp.blogspot.com/-gc6wMl7CJrs/Tr60QbbbfQI/AAAAAAAAAIg/32Qd7twdIbw/s200/42yqda_sang-penari_320x480.jpg" width="133" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Sang Penari&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Sang Penari" (SP) merupakan salah satu film yang sejak akhir Oktober lalu sudah saya tunggu pemutarannya. Alasannya tentu saja karena penasaran bagaimana jika novel seserius "Ronggeng Dukuh Paruk" (RDP) -trilogi RDP (2003) terbitan Gramedia 397 hlm- diadaptasi ke layar lebar dengan durasi yang terbatas. Tidak hanya itu, sudah dua semester ini saya selalu menyelipkan RDP sebagai bacaan wajib di kelas, sehingga visualisasi Srintil (tokoh utama) sebagai ronggeng membuat saya sangat penasaran. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;RDP berkisah mengenai gadis bernama Srintil yang harus menanggung dosa kedua orang tuanya yang dianggap telah membunuh orang se-Dukuh Paruk dengan tempe bongkreknya. Namun, dosa masa lalu itupun dianggap hilang saat ia kemasukkan roh indang hingga ia dianggat sebagai ronggeng. Kemunculan ronggeng tersebut menghidupkan kembali Dukuh Paruk yang telah lama "mati". Ronggeng menjadi harapan, penghibur, 'penolong' warga Dukuh Paruk hingga datanglah PKI memanfaatkan kepopuleran Srintil untuk menarik simpati warga.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tidak jauh berbeda dengan novelnya, SP memperlihatkan dengan baik bagaimana awal mula terjadinya tragedi tempe bongkrek. Sayangnya, peralihan masa kanak-kanak Srintil (&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Prisia Nasution) &lt;/span&gt;ke masa remajanya tidak semulus bagian pembuka karena sutradara (Ifa Ifansyah) gagal mengambil moment-moment penting di saat Srintil bertransformasi dari gadis cilik yang diam-diam menari bersama teman sepermainannya menjadi seorang ronggeng. Tidak hanya itu, penokohan Rasus (&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Oka Antara) &lt;/span&gt;dan Srintil juga tidak terbangun sebaik novelnya bahkan gambaran pedihnya "tragedi" 65 pun tidak terlalu tampak dan hanya menjadi "tempelan" dalam film. Selain akting pemain yang standar, parahnya -menurut saya- film ini minim interpretasi!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: right; margin-left: 0px; margin-right: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-oCNJtATJxIk/Tr60xJWK2fI/AAAAAAAAAIo/B4u8P9Ie5mc/s1600/ronggeng-dukuh-paruk.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://2.bp.blogspot.com/-oCNJtATJxIk/Tr60xJWK2fI/AAAAAAAAAIo/B4u8P9Ie5mc/s200/ronggeng-dukuh-paruk.jpg" width="143" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Ronggeng Dukuh Paruk&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Meskipun demikian, keberanian Ifa untuk mengangkat RDP ke layar lebar patut diapresiasi. Terlebih lagi karya tersebut merupakan salah satu karya kanon yang mengangkat isu sensitif "65". Setidaknya film ini mengingatkan kita bahwa ada tragedi yang belum selesai di negeri ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sapardi Djoko Damono dalam kuliahnya di kelas Alih Wahana pernah mengungkapkan bahwa alih wahana tidak harus sama dengan karya aslinya. Justru ketika karya tersebut dibuat sama dengan aslinya (dalam hal ini novelnya) maka alih wahana (adaptasi) tersebut gagal.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ini hanya catatan singkat yang saya buat dengan sedikit emosional. Entah karena sudah tengah malam atau sangat terganggu dengan certa "Sang Penari". Penasaran? Lupakan catatan saya, berangkatlah ke bioskop dan buat catatanmu sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selamat menonton teman! &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Novi Diah Haryanti&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="clear: both; font-size: xx-small; text-align: center;"&gt;Published with Blogger-droid v2.0.1&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8327700263599763418-6713354465300358057?l=ruangkata-katavie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/feeds/6713354465300358057/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/2011/11/sang-penari-bila-ronggeng-mulai-menari.html#comment-form' title='9 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8327700263599763418/posts/default/6713354465300358057'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8327700263599763418/posts/default/6713354465300358057'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/2011/11/sang-penari-bila-ronggeng-mulai-menari.html' title='Sang Penari: Bila Ronggeng Mulai Menari'/><author><name>Ruang Kata-kata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02073905970978168417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-BMpRpLILnS8/Tgiif45TyJI/AAAAAAAAAF4/wJFIcqlOhCM/s220/DSC01970.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-gc6wMl7CJrs/Tr60QbbbfQI/AAAAAAAAAIg/32Qd7twdIbw/s72-c/42yqda_sang-penari_320x480.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8327700263599763418.post-3835432810605049160</id><published>2011-11-10T17:31:00.003+07:00</published><updated>2011-11-10T17:39:02.994+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Mengenal Berbagai Teori dan Pendekatan Sastra'/><title type='text'>Dongeng</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Dongen, pasti bukan istilah yang asing di telinga kita, tapi apa sih pengertian dongeng sebenarnya? Dongeng dan hikayat merupakan dua bentuk prosa lama yang banyak mengisi khazanah sastra Indonesia. Atar Semi mengungkapkan dongeng merupakan cerita khayal atau fantasi yang mengisahkan tentang keanehan dan keajaiban sesuatu seperti menceritakan asal muasal suatu tempat, peristiwa-peristiwa yang aneh dan menakjubkan tentang kehidupan manusia atau binatang. Oleh karena itu ,dongeng cenderung tidak masuk akal (tidak mungkin terjadi). Misalnya, cerita tentang kancil yang balap lari dengan siput. Kalian pasti tak akan percaya kalau siput yang lambat bisa menang lomba lari melawan di kancil. Cerita-cerita semacam itu sebenarnya bukan dipercayai sebagai sesuatu yang pernah terjadi. Masyarakat membuat cerita semacam ini lebih sebagai cara lain dalam berkomunikasi dan menyampaikan ide-ide lewat tokoh-tokoh semacam kancil atau binatang lain.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Meski demikian, ada pula dongeng yang hingga saat ini dipercaya terjadi pada suatu masa di zaman dahulu. Hal ini biasanya berkait dengan dongeng mengenai asal-usul suatu tempat atau yang biasa disebut legenda. Misalnya, cerita mengenai Gunung Tangkuban Perahu. Meski, rasanya tidak mungkin, masyarakat setempat percaya bahwa seperti itulah Tangkuban Perahu terbentuk atau cerita tentang Nyi Roro Kidul yang dipercaya penduduk Jawa sebagai penguasa Ratu Pantai Selatan, hingga kerap melakukan berbagai ritual adat guna menghormatinya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 18.7pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dongeng berdasarkan isinya dapat dibagi menjadi:&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol start="1" style="margin-top: 0cm;" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Cerita binatang&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="IN"&gt; disebut juga fabel. Dalam      fabel, binatang tampil seperti manusia. Mereka dapat berbicara, berpikir, mempunyai      cita-cita, dan semua hal yang biasa dilakukan manusia. Itulah mengapa      dongeng banyak disukai karena isi &amp;nbsp;ceritanya tentang kehidupan manusia yang      ditokohkan dengan lucu oleh para binatang. Indonesia banyak sekali memiliki      dongeng fabel. setiap daerah memiliki tokoh-tokoh utama dari jenis      binatang yang berbeda. Kalau di Jawa, kita mengenal kancil, di Sunda kura-kura      menjadi tokoh utama, sedangkan di wilayah Sumatra, kera dan pelanduk      adalah jenis hewan yang biasa muncul sebagai tokoh utama. Di Indonesia      Timur, tokoh utamanya adalah kelinci. Namun, dapat dikatakan kancil adalah      tokoh yang paling sering muncul di setiap daerah, itulah mengapa kancil      menjadi tokoh utama dalam cerita-cerita binatang di Indonesia adalah si      kancil. Sedangkan di negara lain, salah satu fabel yang paling terkenal      adalah kisah antara kucing dan tikus, &lt;i&gt;Tom dan Jerry. &lt;/i&gt;Beberapa      contoh cerita binatang yang ada di Indonesia yaitu &lt;i&gt;Bangau dan Kura-Kura,      Pelanduk yang Cerdik, Kancil dan Buaya, Kancil dan Siput.&amp;nbsp; &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Cerita Jenaka&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="IN"&gt; ditujukan untuk menghibur mereka yang mendengarnya.      Isi cerita jenaka adalah kisah-kisah jenaka atau lucu yang dialami      tokoh-tokohnya. Agar lucu, tokoh-tokoh dalam cerita jenis ini biasanya      memiliki karakter bodoh, pemalas, atau yang sangat cerdik. Salah satu      tokoh yang terkenal adalah Kabayan dari daerah Jawa Barat atau Sunda.      Kabayan terkenal cerdik sehingga selalu bisa keluar dari      kesulitan-kesulitan yang dihadapinya. Saking unik dan terkenalnya cerita      si Kabayan ini juga difilmkan lho pemerannya adalah aktor kenamaan Didi      Petet. Selain Si Kabayan yang berasal dari Sunda, beberapa tokoh jenaka      yang ada di Indonesia yaitu Lebai Malang (Sumatra), Pak Belalang (Sumatra),      Panbalang Tamak (Bali). Sedangkan saat ini, tokoh jenaka yang agak bodoh      dan terkenal di seluruh dunia adalah Mr. Bean. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Legenda&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="IN"&gt; adalah dongeng yang mengisahkan tentang kehidupan      manusia yang dihubungkan dengan keanehan dan keajaiban alam disebut      legenda. Keajaiban alam itu bisa berkaitan dengan asal-usul nama suatu      tempat dan berada &amp;nbsp;di luar logika      umum. Berikut beberapa contoh legenda yang terdapat di Indonesia, yaitu Legenda      Joko Tole (Jawa Timur), Asal Usul Banyuwangi (Jawa Timur), Legenda Rawa      Pening (Jawa Tengah), Legenda Tangkuban Perahu (Jawa Barat), Asal Usul      Situ Bagendit (Jawa Barat)&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Mite&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="IN"&gt; adalah cerita tentang dewa-dewa, makhluk halus, dan      hal-hal gaib lainnya yang berhubungan dengan kepercayaan masyarakat tempat      cerita itu berkembang. Contoh mite yang terkenal di Indonesia adalah Nyi      Roro Kidul dan Kiai Ageng Selo. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sage &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;adalah cerita yang di dalamnya ada unsur-unsur      sejarah yang digabung kepahlawanan dan kejadian-kejadian ajaib, aneh,      serta luar biasa, itu adalah sage. Cerita seperti Satria Madangkara dan      Tutur Tinular bisa dimasukkan ke dalam cerita jenis sage.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: left;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Parabel &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;adalah dongeng perumpamaan yang biasanya berisi unsur      pendidikan tentang kesusilaan atau keagamaan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;b&gt;Novi Diah Haryanti&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8327700263599763418-3835432810605049160?l=ruangkata-katavie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/feeds/3835432810605049160/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/2011/11/dongeng.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8327700263599763418/posts/default/3835432810605049160'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8327700263599763418/posts/default/3835432810605049160'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/2011/11/dongeng.html' title='Dongeng'/><author><name>Ruang Kata-kata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02073905970978168417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-BMpRpLILnS8/Tgiif45TyJI/AAAAAAAAAF4/wJFIcqlOhCM/s220/DSC01970.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8327700263599763418.post-1910352512607691709</id><published>2011-11-09T22:23:00.002+07:00</published><updated>2011-11-09T22:30:40.601+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan Harian'/><title type='text'>Lebih Bergerak dengan "Ruang" di Tangan</title><content type='html'>Bagaimana rasanya menulis setiap saat dan di mana saja? Terus terang saya belum pernah. Tapi teknologi memudahkan semua, bermodalkan ponsel (dan langganan internet) kita bisa menulis di mana dan kapan saja. Jadi mari mengingat dengan menulis, karena ide bisa hadir di mana saja saat bertemu siapa saja bahkan diwaktu-waktu yang tidak kita bayangkan. Yuk mulai menulis, mengukir jejak, dan mencegah lupa!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Terima kasih Mas Agung, kadonya berguna sekali) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="clear: both; font-size: xx-small; text-align: center;"&gt;Published with Blogger-droid v2.0.1&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8327700263599763418-1910352512607691709?l=ruangkata-katavie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/feeds/1910352512607691709/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/2011/11/lebih-bergerak-dengan-ruang-di-tangan.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8327700263599763418/posts/default/1910352512607691709'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8327700263599763418/posts/default/1910352512607691709'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/2011/11/lebih-bergerak-dengan-ruang-di-tangan.html' title='Lebih Bergerak dengan &quot;Ruang&quot; di Tangan'/><author><name>Ruang Kata-kata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02073905970978168417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-BMpRpLILnS8/Tgiif45TyJI/AAAAAAAAAF4/wJFIcqlOhCM/s220/DSC01970.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8327700263599763418.post-8240348310333820360</id><published>2011-11-09T18:35:00.000+07:00</published><updated>2011-11-09T18:35:33.270+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Berbagi Informasi'/><title type='text'>Undangan Berpartisipasi Dalam Ubud Writers &amp; Readers Festival 2012</title><content type='html'>Pecinta sastra Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ubud Writers &amp;amp; Readers Festival&lt;/em&gt; (UWRF) kembali membuka seleksi karya untuk tahun 2012.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami  akan memilih 15 penulis emerging Indonesia yang kehadiran serta  partisipasinya di festival akan didanai oleh UWRF dan lembaga funding  mitra UWRF. Pemilihan akan didasari pada sejumlah kriteria, termasuk  kualitas karya, prestasi dan konsistensi dalam berkarya, serta dedikasi  pada pengembangan kesusastraan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan festival meliputi: disksusi panel, pembacaan karya, lokakarya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila  Anda adalah penulis Indonesia, atau mengenal penulis yang Anda anggap  layak, layangkan pendaftaran sesuai syarat dan ketentuan di bawah ini:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Penulis      adalah warga negara Indonesia &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menulis       karya sastra, baik berupa puisi, prosa, naskah drama maupun karya  non-      fiksi baik yang sudah diterbitkan maupun belum. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Penulis      yang sudah menerbitkan buku dipersilahkan mengirim buku yang telah      diterbitkan. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Penulis       yang belum menerbitkan buku dipersilahkan mengirim 30 karya puisi  terbaik      atau 8 karya cerpen terbaik, 5 karya essai, atau 3 naskah  Drama. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Biodata      penulis &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Usulan      topik yang dinilai menarik untuk dibahas selama festival.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;Kirim ke sekretariat panitia UWRF paling lambat tanggal &lt;strong&gt;1 Februari 201&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;2&lt;/strong&gt; &amp;nbsp;(cap pos)&lt;br /&gt;Ditujukan kepada :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadek Purnami&lt;br /&gt;Ubud Writers &amp;amp; Readers Festival&lt;br /&gt;Jl. Raya Sanggingan Ubud - Indus Restaurant.&lt;br /&gt;PO Box 181, Ubud Bali 80571.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi  penulis dari luar Bali yang terpilih, Panitia akan menangung biaya&amp;nbsp;  transportasi (penerbangan) dan akomodasi selama berlangsungnya acara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk informasi lebih lanjut, Anda bisa hubungi&lt;br /&gt;Kadek Purnami:&lt;br /&gt;Telp : 0361-7808932/ Fax : 0361-977408&lt;br /&gt;Email : kadek.purnami@ubudwritersfestival.com&lt;br /&gt;www.ubudwritersfestival.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FB Kadek Purnami klik &lt;a href="http://www.facebook.com/notes/kadek-purnami-uwrf/undangan-berpartisipasi-dalam-ubud-writers-readers-festival-2012/269417393101281#%21/notes/kadek-purnami-uwrf/undangan-berpartisipasi-dalam-ubud-writers-readers-festival-2012/269417393101281"&gt;di sini&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8327700263599763418-8240348310333820360?l=ruangkata-katavie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/feeds/8240348310333820360/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/2011/11/undangan-berpartisipasi-dalam-ubud.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8327700263599763418/posts/default/8240348310333820360'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8327700263599763418/posts/default/8240348310333820360'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/2011/11/undangan-berpartisipasi-dalam-ubud.html' title='Undangan Berpartisipasi Dalam Ubud Writers &amp; Readers Festival 2012'/><author><name>Ruang Kata-kata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02073905970978168417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-BMpRpLILnS8/Tgiif45TyJI/AAAAAAAAAF4/wJFIcqlOhCM/s220/DSC01970.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8327700263599763418.post-483094264821043458</id><published>2011-10-14T22:15:00.001+07:00</published><updated>2011-10-14T22:19:30.303+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita dan Permainan Kata-kata'/><title type='text'>Jatuh Cinta</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Sayang, terus terang aku tak tahu sejak kapan bunga cinta bermekaran di antara kita.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Seingatku, kita selalu membicarakan luka. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Luka karena jatuh cinta. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Ja-tuh.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Cin-ta. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Ja-tuh.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Cin-ta. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Katamu mengeja.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Lalu, pelan dan diam kau gandeng tanganku mesra. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Dengan kasihNya&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Kita pun bercinta.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Vie&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-kXMEwgMEcGk/TphSn60bBWI/AAAAAAAAAIQ/JjV8D3eL2Ko/s1600/IMGP0082.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://2.bp.blogspot.com/-kXMEwgMEcGk/TphSn60bBWI/AAAAAAAAAIQ/JjV8D3eL2Ko/s200/IMGP0082.JPG" width="150" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8327700263599763418-483094264821043458?l=ruangkata-katavie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/feeds/483094264821043458/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/2011/10/jatuh-cinta.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8327700263599763418/posts/default/483094264821043458'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8327700263599763418/posts/default/483094264821043458'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/2011/10/jatuh-cinta.html' title='Jatuh Cinta'/><author><name>Ruang Kata-kata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02073905970978168417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-BMpRpLILnS8/Tgiif45TyJI/AAAAAAAAAF4/wJFIcqlOhCM/s220/DSC01970.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-kXMEwgMEcGk/TphSn60bBWI/AAAAAAAAAIQ/JjV8D3eL2Ko/s72-c/IMGP0082.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8327700263599763418.post-6770559404043614457</id><published>2011-10-14T16:46:00.004+07:00</published><updated>2011-12-02T12:52:54.851+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Drama dan Sinema'/><title type='text'>Tanggapan Atas Naskah Sandiwara "Cindua Mato"</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Novi Diah Haryanti&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; line-height: 150%; text-align: center; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: small;"&gt;novi.diah@gmail.com&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; line-height: 150%; text-align: center; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: small;"&gt;Mursal Esten dalam buku &lt;i&gt;Tradisi dan Modernitas dalam Sandiwara&lt;/i&gt; (1992) meneliti hubungan teks sandiwara “Cindua Mato” karya Wisran Hadi dengan teks kaba “Cindua Mato” yang merupakan karya sastra tradisonal Minangkabau. Dalam simpulannya Esten mengungkapkan “Wisran Hadi menggunakan genre yang juga mencerminkan sikapnya. Ia menggunakan tradisi bakaba dan randai untuk hal yang bersifat tradisional dan menggunakan sandiwara untuk mengungkapkan konflik yang terjadi dan pikiran-pikiran barunya” (1992: 149). Sedangkan Wisran Hadi dalam wawancara yang dilakukan dengan Esten,&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8327700263599763418#_ftn1" name="_ftnref1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; mengungkapkan bahwa “Cindua Mato” dibuat sebagai upaya untuk ‘menshock’ masyarakat Minang yang berusaha mempertahankan tradisi dan mengagung-agungkan kaba Cindua Mato yang para tokohnya “bersih” sebagai manusia.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: small;"&gt;Wisran Hadi lahir di &lt;/span&gt;&lt;span class="spelle" style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Lapai&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: small;"&gt;, Padang, Sumatera Barat, &lt;span class="spelle"&gt;pada&lt;/span&gt; 27 &lt;span class="spelle"&gt;Juli&lt;/span&gt; 1945. Lewat karya-karyanya, &lt;span class="spelle"&gt;Wisran&lt;/span&gt; &lt;span class="spelle"&gt;berupaya&lt;/span&gt; &lt;span class="spelle"&gt;untuk&lt;/span&gt; &lt;span class="spelle"&gt;menghidupkan&lt;/span&gt; &lt;span class="spelle"&gt;kembali&lt;/span&gt; &lt;span class="spelle"&gt;tradisi&lt;/span&gt; &lt;span class="spelle"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="spelle"&gt;mitos&lt;/span&gt; lama &lt;span class="spelle"&gt;Minangkabau&lt;/span&gt; &lt;span class="spelle"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="spelle"&gt;Melayu&lt;/span&gt; &lt;span class="spelle"&gt;menjadi bentuk yang lebih baru dan&lt;/span&gt; &lt;span class="spelle"&gt;tidak&lt;/span&gt; &lt;span class="spelle"&gt;tunduk&lt;/span&gt; &lt;span class="spelle"&gt;kepada&lt;/span&gt; &lt;span class="spelle"&gt;pemikiran&lt;/span&gt; &lt;span class="spelle"&gt;masyarakatnya&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8327700263599763418#_ftn2" name="_ftnref2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: small;"&gt; &lt;span class="spelle"&gt;Selain&lt;/span&gt; &lt;span class="spelle"&gt;menulis&lt;/span&gt; &lt;span class="spelle"&gt;naskah&lt;/span&gt; drama, &lt;span class="spelle"&gt;dia&lt;/span&gt; &lt;span class="spelle"&gt;juga&lt;/span&gt; &lt;span class="spelle"&gt;menulis&lt;/span&gt;, &lt;span class="spelle"&gt;puisi&lt;/span&gt;, &lt;span class="spelle"&gt;cerpen&lt;/span&gt;, &lt;span class="spelle"&gt;dan&lt;/span&gt; novel. &lt;span class="spelle"&gt;Pada &lt;/span&gt;1978, ia mendirikan &lt;span class="spelle"&gt;sanggar&lt;/span&gt; &lt;span class="spelle"&gt;Teater&lt;/span&gt; &lt;span class="spelle"&gt;Bumi&lt;/span&gt; &lt;span class="spelle"&gt;di&lt;/span&gt; Padang. &lt;span class="spelle"&gt;Kumpulan&lt;/span&gt; &lt;span class="spelle"&gt;naskah&lt;/span&gt; drama &lt;span class="spelle"&gt;berjudul&lt;/span&gt; &lt;span class="spelle"&gt;Empat&lt;/span&gt; &lt;span class="spelle"&gt;Orang&lt;/span&gt; &lt;span class="spelle"&gt;Melayu&lt;/span&gt; &lt;span class="spelle"&gt;berisi&lt;/span&gt; &lt;span class="spelle"&gt;empat&lt;/span&gt; &lt;span class="spelle"&gt;naskah&lt;/span&gt; drama &lt;span class="spelle"&gt;&lt;i&gt;Senandung&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt; &lt;span class="spelle"&gt;Semenanjung&lt;/span&gt;, &lt;span class="spelle"&gt;Dara&lt;/span&gt; &lt;span class="spelle"&gt;Jingga&lt;/span&gt;, &lt;span class="spelle"&gt;Gading&lt;/span&gt; &lt;span class="spelle"&gt;Cempaka”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="spelle"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="spelle"&gt;&lt;i&gt;Cindua&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt; &lt;span class="spelle"&gt;Mato&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="spelle"&gt;” membuatnya&lt;/span&gt; &lt;span class="spelle"&gt;mendapat&lt;/span&gt; &lt;span class="spelle"&gt;penghargaan&lt;/span&gt; SEA Write Award 2000.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: small;"&gt;“Cindua Mato” karya Wisran Hadi adalah pemenang sayembara penulisan naskah sandiwara Indonesia yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta pada 1977. &amp;nbsp;Wisran membagi sandiwarannya ke dalam delapan putaran. Cerita dimulai dengan kabar pernikahan Puti Bungsu dengan Imbang Jaya yang diterima oleh Dang Tuanku. Sebagai orang yang sudah dijodohkan sejak kecil, Dang Tuanku merasa terhina ketika tahu wanitanya direbut oleh lelaki lain. Itulah yang membuat Dang Tuanku bersikeras menyuruh Cindua Mato berperang untuk merebut Puti Bungsu. Bundo Kanduang pun merasa terhina dengan ulah Rajo Mundo yang membatalkan perjodohan antara Dang Tuangku dan Puti Bungsu serta menerima lamaran dari Raja Tiang Bungkuk. Maka diutuslah Cindua Mato untuk menghadiri dan mengacaukan perkawinan Puti Bungsu dan Imbang Jaya. Ternyata, Cindua Mato bertindak melebihi perintah Bundo Kanduang. Imbang Jaya dibunuhnya, hingga Cindua Mato di penjara. Tak hanya itu kedekatan Cindua Mato dengan Puti Bungsu membuat Dang Tuangku merasa cemburu padanya. Namun, atas saran Bundo Kanduang, Dang Tuangku yang sudah tak ingin lagi menerima Puti Bungsu karena dianggap tidak suci lagi, akhirnya kembali. Terdesak oleh serangan yang dilakukan oleh Raja Tiang Bungkuk, Cindua Mato pun dibebaskan untuk berperang melawannya. Kemenangan yang diperoleh oleh Cindua Mato tidak lantas membuatnya bahagia karena ia merasa sedih ditinggal oleh Puti Bungsu yang lebih memilih Dang Tuangku dibanding dirinya. &lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;/2/&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;Sebagai tokoh utama, Cindua Mato digambarkan Wisran mula-mula sebagai sosok yang tenang&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: small;"&gt; dan pemberani. Ketenangan dan keberanian Cindua Mato, tampak ketika terjadi situasi tidak nyaman dalam istana Pagaruyung karena mendengar Puti Bungsu akan dinikahkan oleh Imang Jaya. Keinginan Dang Tuanku untuk berperang karena merasa telah dihina, ditanggapi dingin oleh Cindua Mato. Hal tersebut tampak dari kutipan berikut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: small;"&gt;Dang Tuanku: Arang telah dicorengkan ke dahi kita. Cindua Mato! Apa kau takut turun ke gelanggang!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: small;"&gt;Cindua Mato: Menyiapkan angkatan perang tidak begitu sulit, selagi kita masih punya uang. Tapi dapatkan Dang Tuanku mengingat kembali berapa jumlah prajurit kita yang mati di Padang Sibusuk melawan tentara Majapahit dulu? (Hadi, 2000:261)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: small;"&gt;Bagi Cindua Mato, perkara merebut Puti Bungsu bukanlah persoalan negara yang harus melibatkan banyak korban. Seharusnya, Dang Tuanku sebagai putra mahkota dapat menyelesaikannya sendiri. Itulah yang membuat kesetiaan Cindua Mato diragukan oleh Dang Tuanku. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: small;"&gt;Dang Tuanku: Tunggu dulu. Tugas yang kuberikan belum kau jawab untuk disanggupi. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: small;"&gt;Cindua Mato: Apa gunanya aku diberi tugas kalau kesetiaanku diragukan? &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Jawaban dari tantangan Dang Tuanku, terdapat di putaran kedua. Perbincangan antara Cindua Mato dan Dang Tuanku mengenai cinta dan wanita mulai membuka sedikit demi sedikit perasaan Cindua Mato pada Puti Bungsu. Cindua Mato meragukan cinta yang diberikan Dang Tuanku pada Puti Bungsu, apakah itu cinta atau perasaan terbiasa. Bahkan, Cindua Mato pun sengaja membuat Dang Tuanku meragukan cinta Puti Bungsu. Kedatangan Puti Bungsu tiap tahun menurut Cindua Mato adalah untuk “menemui seorang laki-laki berdestar merah mudah. Kemudian keduanya berjumpa dalam gelap menyatakan cinta, hidup dan masa depan” (hlm.269). &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: small;"&gt;Apa yang dikatakan Cindua Mato dengan cepat dan nada tak biasa pada Dang Tuanku, memperlihatkan bahwa sebenarnya Cindua Mato diam-diam menaruh hati pada Puti Bungsu. Itulah yang membuat ia rela untuk merebut sendiri Puti Bungsu dari Imbang Jaya, namun kesetiaannya pada putra mahkota membuat Cindua Mato menyimpan sendiri rasanya. Hal tersebut tampak dari kutipan berikut:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: small;"&gt;Dang Tuanku: Dorongan apakah itu? Karena menolong seorang sahabat, atau karena,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: small;"&gt;Cindua Mato: Jangan tanyakan, itu bagian dari rahasiaku sendiri. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: small;"&gt;(Hadi, 2000: 269)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: small;"&gt;Namun, bagian dari rahasia itulah yang kemudian menjadi pertanyaan dalam diri Dang Tuanku. Ketika akhirnya Puti Bungsu diketahui hamil, Dang Tuanku merasa kehamilan Puti Bungsu adalah ulah dari Cindua Mato. Penolakan yang dilakukan Dang Tuanku tidak bertahan lama, atas saran Bundo Kanduang Dang Tuanku tetap menerima Puti Bungsu. Kepergian Puti Bungsu, Dang Tuanku, dan Bundo Kanduang pada bagian akhir menegaskan sisi lain dari Cindua Mato yang tak hanya jagoan, tenang, dan setia tapi juga kesepian. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: small;"&gt;Rasa kesepian Cindua Mato pertama kali terungkap dari percakapannya dengan Dang Tuanku. Hal tersebut tampak dari kutipan berikut:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; margin-left: 35.45pt; text-align: justify; text-indent: 0.55pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: small;"&gt;Dang Tuanku: Bila Puti Bungsu tidak menerima diriku hadir dalam hatinya, siapa lagi yang akan menerima hatiku dalam dirinya?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; margin-left: 35.45pt; text-align: justify; text-indent: 0.55pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: small;"&gt;Cindua Mato: Kau selalu merasa kesepian tapi kukira karena kita tidak merasakan kasih sayang seorang ayah. Pernah kutanya Bundo Kanduang, jawabannya hanya air mata. Sebelumnya kutanya juga ibuku tapi dia hanya membisu. Itulah sebabnya kau didik secara keras, agar secepatnya dapat menjadi raja. Sedangkan aku harus siap-siap mendampingimu untuk menjaga keutuhan kerajaan dan rahasia-rahasianya. (Hadi, 2000: 267)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: small;"&gt;Itulah yang membuat Cindua Mato menggila saat mengetahui rahasia siapa ayah dari Cindua Mato dan Dang Tuanku. Hal tersebut tampak dari kutipan berikut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: small;"&gt;Cindua Mato: (Semakin liar)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: small;"&gt;Akan kukatakan pada seluruh negeri! Ayah kita yang tidak diketahui selama ini adalah Bujang Salamat itu! Dia tidak disebut namanya dalam naskah karena dia telah menjadikan istana sebagai sebuah arena skandal yang memalukan! (Hadi, 2000: 277)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pada putaran akhir, terbukalah semua usaha dan siasat yang dilakukan Cindua Mato kesepian dan tertekan karena kerap menjadi orang kedua di istana Pagaruyung. Apapun yang dilakukannya adalah untuk putra mahkota dan Cindua Mato walaupun ia adalah’ pahlawan yang pemberani’ ia tetap menjadi bayang-bayang. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: small;"&gt;Cindua Mato: Semuanya telah kudendangkan. Karena akupun tak ada artinya dalam kenyataan. Aku telah menutup mata untuk dapat melakukan segalanya. Kesediaanku pergi merebut Puti Bungsu sebagai seorang lelaki yang sangat mencintainya, tapi juga paling kuyakini bahwa aku tidak mungkin dapat mengawininya. Dan saudaraku sendiri, Dang Tuanku, tealah kulemahkan segala persedian peragaannya dengan berita-berita bohong tentang hubungan gelapku dengan Puti Bungsu, Agar Dang Tuanku pergi, sehingga aku dapat mempersunting Puti Bungsu. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: small;"&gt;Aku tau, tidak seorang pun yang setuju mengangkatku menjadi raja, karena aku hanya orang kedua. Anak dari seorang dayang yang kebetulan sebapak dengan putra mahkota. Untuk melampiaskan perasaanku yang tertekan begitu lama, seluruh istana kuobrak-abrik moral dan ukuran nilai-nilainya. (Hadi, 2000: 313)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; margin-left: 36pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;/3/&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; margin-left: 36pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: small;"&gt;Membaca dan menginterpretasi “Cindua Mato” tidaklah mudah. Dari analisis singkat terhadap tokoh Cindua Mato tampak bahwa setiap tokoh dalam sandiwaranya memiliki sifat yang “misterius” dan selalu menampilkan sisi yang berbeda dari satu putaran-keputaran lainnya. Wisran memang harus bekerja lebih ekstra agar pembaca atau penonton sandiwaranya dapat memahami dan menikmati, karena tanpa mengetahui konvesi budaya dan bahasa Minang pembaca naskah ini hanya akan menemukan ‘masalah’ tanpa menangkap esensinya.&amp;nbsp; &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;hr align="left" size="1" width="33%" /&gt;&lt;div id="ftn1"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8327700263599763418#_ftnref1" name="_ftn1" title=""&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Lihat wawancara Mursal Esten dengan Wisran Hadi yang menjadi pada lampiran 1 bukunya&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn2"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8327700263599763418#_ftnref2" name="_ftn2" title=""&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Lihat profil Wisran Hadi di &lt;a href="http://www.tamanismailmarzuki.com/tokoh/wisranhadi.html"&gt;http://www.tamanismailmarzuki.com/tokoh/wisranhadi.html&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8327700263599763418-6770559404043614457?l=ruangkata-katavie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/feeds/6770559404043614457/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/2011/10/tanggapan-atas-naskah-sandiwara-cindua.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8327700263599763418/posts/default/6770559404043614457'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8327700263599763418/posts/default/6770559404043614457'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/2011/10/tanggapan-atas-naskah-sandiwara-cindua.html' title='Tanggapan Atas Naskah Sandiwara &quot;Cindua Mato&quot;'/><author><name>Ruang Kata-kata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02073905970978168417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-BMpRpLILnS8/Tgiif45TyJI/AAAAAAAAAF4/wJFIcqlOhCM/s220/DSC01970.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8327700263599763418.post-4681232575271107507</id><published>2011-10-14T15:41:00.000+07:00</published><updated>2011-10-14T15:41:26.196+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Budaya dan Gaya Hidup'/><title type='text'>Kebudayaan Nasional dan Multikulturalisme</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt; /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin:0cm; mso-para-margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:"Times New Roman"; mso-ansi-language:#0400; mso-fareast-language:#0400; mso-bidi-language:#0400;}&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span&gt;Dalam artikel berjudul &lt;i&gt;National Culture and Multiculturalism&lt;/i&gt;, Bhikhu Parekh mencoba menjelaskan beberapa hal seperti konsep multikulturalisme, kemunculan gerakan multikulturalisme di Amerika, Inggris, dan Kanada, serta bentuk-bentuk multikulturalisme. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Tiga dekade saat kulit putih menunjukan dominasinya diberbagai aspek kehidupan, hal itu menimbulkan gerakan sosial diberbagai kelompok masyarakat khususnya kelompok minoritas seperti pribumi, kaum imigran, perempuan, kaum gay dan lesbian. Gerakan ini kemudian digolongkan sebagai gerakan multikultural. Gerakan tersebut menurut Parekh muncul sebagai serangan balik atas kebudayaan dominan yang selama ini kerap mendiskriminasikan mereka. Pergolakan masyarakat pribumi tersebut diantaranya terjadi di Kanada, Australia, New Zealand, Amerika, Amerika Latin, India, serta etnis dibeberapa negara seperti Quebec dan Kashmir.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Untuk sampai pada apa itu multikulturalisme, Parekh lebih dahulu berbicara mengenai apa itu kebudayaan, multikultur, dan multikulturalisme. &lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Menurut Parekh kebudayaan adalah cara kita untuk mengetahui struktur, kondisi, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan kehidupan manusia. Unsur-unsur&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;kebudayaan tersebut bisa berupa, ide, kepercayaan, nilai, norma dan perilaku. Lebih lanjut Parekh menerangkan, dalam masyarakat yang memiliki beberapa macam agama, bahasa, dan kebudayaan itulah yang disebut multikultur. Bagaimana merespon fakta pluralitas kebudayaan itulah yang kemudian kita sebut sebagai gerakan multikulturalisme. &lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span&gt;Kemunculan gerakan multukulturalisme pada 1960 dimulai dari Amerika sebelum akhirnya menyebar ke daerah lain. Gerakan tersebut terlihat lewat perlawanan terhadap &lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;budaya WASP yang selama ini dominan. Ada tiga penyebab yang memungkinkan hal tersebut. Pertama, adalah perbudakan dan peresentasian kulit hitam oleh kulit putih yang membuat mereka rendah diri, tidak menghargai diri sendiri, dan tidak memiliki motivasi/pengharapan. Kedua adalah kekuatan hukum yang terbatas, hal ini memungkinkan orang bersikap rasis. Ketiga, mulainya orang africa-amerika/kulit hitam hidup berdampingan dengan warga kulit.&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;span&gt;****&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span&gt;Pendidikan merupakan kendaraan utama untuk mendefinisikan kebudayaan. Tidaklah mengejutkan jika kemudian pendidikan menjadi pusat berkembangnya kebudayaan sehingga banyak yang menyamakan aliran multikulturalisme dengan pendidikan multikultural. Pendidikan multikultural di Amerika mencakup bagian yang sangat luar, tidak hanya mengajarkan bahasa, sejarah, kebudayaan, seperti pendidikan pada umumnya. Salah satu yang paling ekstrem adalah memasukkan pendidikan afrocentric (kebudayaan kulit hitam). &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 144pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span&gt;*****&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span&gt;Cikal Bakal Multikulturalisme di Inggris adalah pada saat orang Afro-Caribbean dan imigran Asia tiba pada 1950. Mereka menyebar luas dan berasimilasi dengan kebudayaan Inggris. Dari survei yang dilakukan di daerah Nottingham dan Notting Hill menunjukkan bahwa ada dua hal yang membuat asimilasi di Inggris berlangsung sulit. Pertama adalah makin meluasnya diskriminasi pada mereka baik di wilayah pekerjaan atau domestik. Kedua, kegelisahan orang kulit putih dengan makin banyaknya presentasi imigran. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Lewat Proses asimilasi tersebut mereka coba menanamkan bahwa mereka adalah bagian dari kebudayaan Inggris. Mereka bicara dalam bahasa Inggris, berpakaian seperti orang Inggris, menganggap orang inggris adalah nenek moyang mereka, dan mengidentifikasikan sejarah mereka dengan sejarah Inggris. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 144pt; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span&gt;*****&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;Bentuk-bentuk Multikulturalisme &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;Terdapat lima macam bentuk macam multikulturalisme yaitu, &lt;i&gt;isolationist, accommodative, autonomist, critical/interactive&lt;/i&gt;, dan &lt;i&gt;cosmopolitan.&lt;/i&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="margin-top: 0cm;" type="square"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;Isolationist      multiculturalism&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt;, mengacu      pada kehidupan bermasyarakat yang di dalamnya terdapat komunitas lain yang      hidup menyendiri dan sangat jarang berinteraksi dengan masyarakat pada      umum. Seperti, kelompok Amish dan muslim kulit hitam di USA. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;Accommodative      Multiculturalism&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt;, mengacu      kepada masyarakat yang terbiasa hidup dalam kebudayaan dominan tapi mampu      menyesuaikan dan menyediakan ruang bagi kebudayaan minoritas. Contohnya      yang terjadi di Inggris, Perancis, dan negara Eropa. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;Autonomist      multiculturalism&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt;, mengacu      kepada masyarakat yang salah satu tujuan dari kelompok/komunitas budayanya      mencari persamaan hak dengan kebudayaan dominan yang bertujuan untuk      mengatur kehidupan mereka sendiri dengan kerangka berpikir bersama yang      dapat diterima. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;Critical/Interactive      multiculturalism&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt; mengacu      kepada masyarakat yang tidak hanya fokus pada kelompok mereka sendiri      tapi juga menciptakan kebudayaan bersama yang menggambarkan dan      menegaskan perspektif mereka. Seperti pemimpin dan intelektual kulit hitam      di Amerika, Inggris dll.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;Cosmopolitan      Multiculturalism&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt; mencari      dan melakukan loncatan pada seluruh kebudayaan dan menciptakan masyarakat      yang individual, tidak ada kebudayaan spesifik, dengan bebas menggunakan      kebudayaan apapun dan mengembangkan kebudayaan mereka sendiri. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;Novi Diah Haryanti&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8327700263599763418-4681232575271107507?l=ruangkata-katavie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/feeds/4681232575271107507/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/2011/10/kebudayaan-nasional-dan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8327700263599763418/posts/default/4681232575271107507'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8327700263599763418/posts/default/4681232575271107507'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/2011/10/kebudayaan-nasional-dan.html' title='Kebudayaan Nasional dan Multikulturalisme'/><author><name>Ruang Kata-kata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02073905970978168417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-BMpRpLILnS8/Tgiif45TyJI/AAAAAAAAAF4/wJFIcqlOhCM/s220/DSC01970.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8327700263599763418.post-2932402694455038236</id><published>2011-10-14T14:44:00.003+07:00</published><updated>2011-10-14T15:05:29.699+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Belajar Bahasa'/><title type='text'>REDUPLIKASI</title><content type='html'>&lt;div class="O"&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma; font-size: 156%;"&gt;&lt;span style="color: #3333cc; font-family: Wingdings; font-size: 60%; left: -3.96%; position: absolute; top: 0.61em;"&gt;n&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma; font-size: 28pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Ulasan singkat reduplikasi ini saya ambil dari buku &lt;i&gt;Morfologi: Suatu Tinjuan Deskriptif &lt;/i&gt;yang ditulis oleh Prof. Drs. M. Ramlan.&amp;nbsp; &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Reduplikasi adalah proses pengulangan satuan gramatik, baik seluruhnya maupun sebagian, baik dengan variasi fonem maupun tidak. Hasilnya disebut kata ulang dan setiap kata ulang memiliki bentuk dasar.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Contoh kata ulang: rumah-rumah, menari-nari, lauk-pauk.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Contoh bukan kata ulang: sia-sia, alun-alun, mondar-mandir, compang-camping. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;Menentukan Bentuk Dasar Kata Ulang&lt;/b&gt;&lt;span lang="FI"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="margin-top: 0cm;" type="square"&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;Pengulangan      pada umumnya tidak mengubah golongan kata. contoh:&lt;span lang="FI"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ol&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI"&gt; makan-makanan (nomina) → makanan (nomina)&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;tersenyum-senyum (verba) → tersenyum (verba)&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="margin-top: 0cm;" type="square"&gt;&lt;li&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Ada pula pengulangan yang mengubah      golongan kata, ialah pengulangan dengan &lt;i&gt;se-nya.&lt;/i&gt; Contoh:&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;setinggi-tingginya (adverbia) → tinggi (adjektiva)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;secepat-cepatnya (adverbia) → cepat (adjektiva)&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul style="margin-top: 0cm;" type="square"&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;Bentuk      dasar selalu satuan yang terdapat dalam penggunaan bahasa. Misalnya:&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ol&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;berdesak-desakan → berdesakan&amp;nbsp; &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;ul style="margin-top: 0cm;" type="square"&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;Macam-macam reduplikasi &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="margin-top: 0cm;" type="square"&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;Pengulangan seluruh ialah      pengulangan seluruh bentuk dasar, tanpa perubahan fonem (bunyi) dan tidak      ada proses pembubuhan afiks. Misalnya:&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ol&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;sepeda → sepeda-sepeda&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;buku → buku-buku&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;ul style="margin-top: 0cm;" type="square"&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul style="margin-top: 0cm;" type="square"&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Pengulangan      sebagian&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt; ialah      pengulangan sebagian dari bentuk dasarnya. Bentuk dasarnya dapat berupa bentuk tunggal, seperti lelaki →      laki; tetamu → tamu ataupun bentuk      kompleks seperti menjalan-jalankan → menjalankan; dikemas-kemasi →      dikemasi; berkata-kata → berkata.&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pengulangan sebagian biasanya tidak mengubah kelas kata dikemasi (verba) → dikemas-kemasi&amp;nbsp;&amp;nbsp; (verba)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="O"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;    &lt;br /&gt;&lt;ul style="margin-top: 0cm;" type="square"&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Pengulangan yang berkombinasi dengan      proses pembubuhan afiks (pada bentuk/kata dasar). Misalnya:&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;anak&amp;nbsp; → anak-anakan&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; rumah → rumah-rumahan &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; hitam → kehitam-hitaman&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; jelek → sejelek-jeleknya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="margin-top: 0cm;" type="square"&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;Pengulangan      dengan perubahan fonem&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; gerak → gerak gerik &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; serba → serba serbi&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; lauk → lauk pauk &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;Novi Diah Haryanti&amp;nbsp; &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8327700263599763418-2932402694455038236?l=ruangkata-katavie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/feeds/2932402694455038236/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/2011/10/reduplikasi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8327700263599763418/posts/default/2932402694455038236'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8327700263599763418/posts/default/2932402694455038236'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/2011/10/reduplikasi.html' title='REDUPLIKASI'/><author><name>Ruang Kata-kata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02073905970978168417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-BMpRpLILnS8/Tgiif45TyJI/AAAAAAAAAF4/wJFIcqlOhCM/s220/DSC01970.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8327700263599763418.post-3597889047120746718</id><published>2011-10-05T19:28:00.000+07:00</published><updated>2011-10-05T19:33:25.427+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Sejarah Sastra'/><title type='text'>Mas Marco Kartodikromo: Dunia dan Karya-karyanya</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt; /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin:0cm; mso-para-margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:"Times New Roman"; mso-ansi-language:#0400; mso-fareast-language:#0400; mso-bidi-language:#0400;}&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Mas Marco Kartodikromo lahir di Cepu pada 25 Maret 1890. Lewat pengakuan Marco dalam &lt;i&gt;persdelict&lt;/i&gt;-nya yang dimuat dalam &lt;i&gt;Sinar Djawa&lt;/i&gt;, ia merupakan keturunan kelima dari Mas Karowikoro, sedangkan sumber lain menyebut Marco adalah anak seorang asisten wedana (Hartanto, 2008:43). Ia lulus dari sekolah bumiputra Angka Dua di Bojonegoro dan sekolah swasta bumiputra Belanda di Purworejo. Menurut Shiraishi (1997:110), Marco adalah anggota kaum muda yang diciptakan oleh pendidikan gaya Barat. Ia dapat membaca bahasa Belanda, tetapi kemampuan menulis dan berbicaranya tidak terlalu baik. Tidak mengherankan jika semua tulisannya dalam berbahasa Melayu dan Jawa. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Pada 1905, Marco bekerja sebagai juru tulis di Dinas Kehutanan sebelum akhirnya pindah ke Semarang menjadi juru tulis di &lt;i&gt;Nederland Indische Spoorweg&lt;/i&gt; (NIS), perusahaan swasta di Hindia Belanda yang menangani masalah kereta api. Ketika melakukan perjalanan dengan menggunakan kereta api, Marco melihat bagaimana gerbong dibuat berdasarkan kelas, sesuai dengan warna kulit dan status sosial. Kelas satu diperuntukkan bagi orang Eropa, kelas dua diperuntukkan orang Eropa berpenghasilan rendah, orang Timur asing, dan pribumi kelas atas. Kelas tiga (kelas kambing) bagi pribumi miskin (Hartanto, 2008:50). Setelah enam tahun bekerja di perusahaan tersebut, semangat nasionalismenya berkobar. Ia tidak dapat lagi bertahan untuk bekerja pada perusahaan Eropa yang sangat rasialis, membedakan golongan jabatan dan gaji atas dasar ras (Yuliati, 2008)&lt;span style="color: red;"&gt;.&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Saat itu diperkirakan pendapatan bumiputra per kepala setahun hanya 63 gulden, sedang golongan Eropa 2.100 gulden dan Timur asing sekitar 250 gulden.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Pada 1911, Marco meninggalkan Semarang menuju Bandung, bergabung dengan &lt;i&gt;Medan Prijaji&lt;/i&gt; sebagai pegawai magang Di surat kabar yang diperuntukkan bagi &lt;i&gt;bangsa jang terprentah&lt;/i&gt; itulah Marco memulai kariernya sebagai jurnalis dan berguru pada Tirto Adhi Suryo dan Soewardi. Persahabatannya dengan Suwardi itulah yang membuat Marco berusaha mengumpulkan uang untuk membiayai Nyi Suwardi Suryaningrat dan dua orang rekannya Ny. Dokter Cipto dan Nyi Douwes Dekker agar dapat menyusul suami mereka ke tempat pembuangan di Nederland. Lalu, pada 1913 Marco pun datang ke Nederland untuk menengok keadaan teman-temannya yang dibuang dan mempelajari kebudayaan masyarakat Belanda di Nederland. Hasil penyelidikannya ialah Belanda tidak mungkin dapat memberikan bimbingan yang cukup bertanggung jawab terhadap kemajuan, kesulilaan, dan kebudayaan kepada rakyat Indonesia (Muljana, 2008: 96). &lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Sebagai seorang jurnalis, ciri khas yang paling menonjol dari Marco ialah &amp;nbsp;ia selalu&amp;nbsp; menulis apa yang dilihat dan dirasa secara lugas, tanpa ditutup-tutupi. Ketika &lt;i&gt;Medan Prijaji&lt;/i&gt; bangkrut, Marco bergabung dengan &lt;i&gt;Sarotomo&lt;/i&gt; pada 1912 sebagai editor dan administrator. Pada usia 22 tahun, Marco terjun ke dunia pergerakan. Terinspirasi dari Tirto dan Soewardi yang menerbitkan surat kabar sendiri dan mengatakan apa yang ingin dikatakannya, Marco melakukan hal yang sama. Ia mendirikan &lt;i&gt;Inlandsche Journalistenbond&lt;/i&gt; (IJB) di Semarang pada 1914 dan menerbitkan &lt;i&gt;Doenia Bergerak&lt;/i&gt; sebagai surat kabar IJB.&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Marco yang peka terhadap kondisi di sekelilingnya, melihat bumiputra menjadi orang miskin di negerinya yang kaya raya. Maka di &lt;i&gt;Sarotomo&lt;/i&gt; edisi 10 November no.142, 1914, Marco mengakronimkan &lt;i&gt;Welvaart Comisse&lt;/i&gt; (Komisi Kesejahteraan Hindia Belanda) menjadi WC, jamban yang jorok dan beraroma busuk (Hartanto, 2008:57). Akronim tersebut, membuat Rinkes Direktur Utama Balai Pustaka&lt;span style="color: #ff6600;"&gt; &lt;/span&gt;marah dan menulis surat teguran kepada pemimpin &lt;i&gt;Sarotomo&lt;/i&gt;, Haji Samanhoedi, yang juga merupakan pemimpin Sarekat Islam. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Tidak cukup sampai di situ, Marco pun melancarkan perang suara dengan Rinkes, penasihat urusan bumiputra, melalui &lt;i&gt;Doenia Bergerak&lt;/i&gt;. Surat teguran Rinkes yang mengatakan bahwa artikel Marco dalam &lt;i&gt;Saratomo&lt;/i&gt; adalah bohong belaka, dimuat Marco dalam &lt;i&gt;Doenia Bergerak&lt;/i&gt; dan menempatkannya sejajar dengan artikelnya sendiri yang berjudul “Marco: Pro of Contra Dr. Rinkes”. Menurut Shiraishi (1997:114), dalam melancarkan perang tersebut, ada tiga hal yang saling berhubungan. &lt;i&gt;Pertama&lt;/i&gt;, bahasanya sangat keras semisal &lt;i&gt;Welvaart Comisse &lt;/i&gt;diubahnya menjadi WC. &lt;i&gt;Kedua&lt;/i&gt;, setiap kali ia menuliskan Doktor yang dimiliki Rinkes selalu dibubuhi dengan kata doekoen dalam tanda kurung. &lt;i&gt;Ketiga&lt;/i&gt;, jika Soewardi masih menuliskan “Als ik eens Nederlander was”, Marco malah menulis “Seandainya Saya Orang Ketjil” dan mengatakan bahwa semua manusia sama. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;i&gt;Doenia Bergerak&lt;/i&gt; terbit dari pertengahan 1914 sampai pertengahan 1915. &lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Tulisannya yang terus mengkritik&lt;span style="color: #4bacc6;"&gt; &lt;/span&gt;keras pemerintah, membuat Marco kerap dituntut dengan tuduhan &lt;i&gt;persdelicten&lt;/i&gt;. Empat surat pembaca yang ia muat dalam &lt;i&gt;Doenia Bergerak &lt;/i&gt;membuat Marco dijatuhi hukuman tujuh bulan penjara.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8327700263599763418#_ftn1" name="_ftnref1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Keluar dari penjara di Semarang, Marco tinggal di Belanda selama lima bulan dan masuk penjara lagi di Weltevreden, dari Februari 1917 sampai Februari 1918. Pada masa itulah Marco menulis syair &lt;i&gt;Sama Rata Sama Rasa&lt;/i&gt;. April 1920, untuk ketiga kalinya Marco dituntut atas tuduhan &lt;i&gt;persdelict&lt;/i&gt; karena syair &lt;i&gt;Sjairnja Sentot&lt;/i&gt;. Setelah bebas dari penjara, Marco meninggalkan Semarang dan bergabung dengan &lt;i&gt;Centraal Sarekat Islam&lt;/i&gt; (CSI) Yogyakarta sebagai wakil sekertaris CSI. Akan tetapi, tidak lama berselang, ia mundur dari dunia pergerakan karena melihat ambruknya pergerakan dengan pecahnya CSI. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Pada September 1921, Marco pindah ke Salatiga, namun lagi-lagi ia dituntut atas tuduhan &lt;i&gt;persdelict&lt;/i&gt; untuk tulisannya &lt;i&gt;Rahasia Kraton Terboeka&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;Matahariah&lt;/i&gt;, dan arikel dalam jurnal &lt;i&gt;Pemimpin&lt;/i&gt;. Desember 1923, Marco kembali ke Salatiga setelah menjalani hukuman selama dua tahun di Weltevreden. Meskipun dalam pergerakan mula-mula Marco menganut pendirian Islam, tetapi lambat laun beralih ke ideologi nasionalis dan komunis (Muljana, 2008:96). Ia memilih bergabung dengan PKI dan tampil di muka umum sebagai anggota PKI pada &lt;i&gt;Vergadering&lt;/i&gt; SI Merah Salatiga, Februari 1924. Akhirnya Marco tiba di Boven Digoel pada 21 Juni 1927, terkait pemberontakan PKI pada 12 November 1926.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8327700263599763418#_ftn2" name="_ftnref2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Pada 19 Maret 1932, Marco Kartodikromo meninggal dunia karena penyakit malaria. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Selama rentang waktu 1890-1932, tulisan-tulisan Marco hadir dalam berbagai bentuk seperti artikel, cerita bersambung, roman, novel, babad,&lt;span style="color: #4bacc6;"&gt; &lt;/span&gt;dan syair. Pada 1914 Marco menerbitkan roman &lt;i&gt;Mata Gelap&lt;/i&gt;. Buku itu menurut Marco hanya berisi cerita biasa dan hanya boleh dibaca oleh orang dewasa (Hartanto, 2008:111). &lt;span&gt;Sejak saat itulah, ia terus-menerus mengerluarkan karya-karya yang berisi kritikan dan perlawanan terhadap kolonialisme. Marco juga yang pertama kali dengan sadar melemparkan kritik terhadap feodalisme dan kolonialisme. Tidak hanya itu, sebagai wartawan, ia&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;juga menyadari peranan pers sebagai alat perjuangan (Siregar, 1964:25). Perlawanan itulah yang kemudian membuatnya harus keluar masuk bui, terlebih lagi haluan politiknya yang kekiri-kirian.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Dua karyanya terbit di &lt;i&gt;Harian Sinar Hindia&lt;/i&gt; pada tahun yang sama, yaitu&lt;i&gt; Student Hidjo&lt;/i&gt; yang terbit pertama kali pada 1918&lt;i&gt; &lt;/i&gt;dan muncul sebagai buku pada 1919; &lt;i&gt;Matahariah&lt;/i&gt; yang terbit antara Agustus 1918 sampai Januari 1919. Dalam novel &lt;i&gt;Matahariah&lt;/i&gt; terdapat dramanya berjudul &lt;i&gt;Kromo Bergerak. &lt;/i&gt;Lalu, pada 1924 ia menerbitkan &lt;i&gt;Rasa Merdika&lt;/i&gt; dengan nama samaran Soemantri. Selain menulis novel, Sumardjo (2004) mengungkapkan bahwa Marco adalah pengarang Indonesia pertama yang dikenal sebagai penulis cerpen. Pada 1924 Marco menulis cerpen &lt;i&gt;Semarang Hitam&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;Tjermin Boeah Kerojolan&lt;/i&gt; dengan nama samaran Synthema. Pada 1925 menulis &lt;i&gt;Roesaknja Kehidoepan di Kota Besar &lt;/i&gt;(Sumardjo, 2004:107). Soemantri dan Synthema adalah dua nama samaran yang paling sering Marco digunakan, menurut Sumardjo (2004:114) bahkan masih banyak lagi nama samaran lain yang belum dikenal hingga sekarang. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Tidak hanya itu, beberapa syair yang ditulisnya pun menjadi perhatian pemerintah kolonial, seperti &lt;i&gt;Sama Rasa Sama Rata&lt;/i&gt; (1917), &lt;i&gt;Sjair Rempah Rempah&lt;/i&gt; (1919), dan &lt;i&gt;Sjairnja Sentot&lt;/i&gt; (1920). Selain piawai menulis fiksi, Marco membuktikan diri bahwa ia pun mampu menulis nonfiksi dengan membuat &lt;i&gt;Babad Tanah Jawa&lt;/i&gt; yang terbit berseri di majalah bulanan &lt;i&gt;Hidoep&lt;/i&gt; pada 1924 dan merupakan usaha Marco untuk mengembalikan sejarah Jawa dari Belanda ke Indonesia. Tulisan-tulisan Marco berisi gugatan dan perlawanan sehingga karyanya diberi label “bacaan liar” oleh pemerintah kolonial. Label bacaan liar itu membuat karya-karya Marco disingkirkan bahkan perlahan dileyapkan oleh pemerintah dalam kurun waktu yang sangat lama.&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: black;"&gt;&lt;b&gt;Novi Diah Haryanti&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;novi.diah@gmail.com&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br clear="all" /&gt;  &lt;hr align="left" size="1" width="33%" /&gt;    &lt;div id="ftn1"&gt;  &lt;div class="MsoEndnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8327700263599763418#_ftnref1" name="_ftn1" title=""&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt; &lt;span lang="IN"&gt;Marco menolak memberitahu penulis surat pembaca dan menyatakan bahwa ia siap bertanggung jawab penuh terhadap surat pembaca yang isinya sama dengan apa yang ia perjuangankan. (Lihat Shiraishi, 1999)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn2"&gt;  &lt;div class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8327700263599763418#_ftnref2" name="_ftn2" title=""&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt; &lt;span lang="IN"&gt;Lihat tulisan pengatar Koesalah Soebagyo Toer, di buku Pergaulan Orang Buangan di Boven Digoel (2002) &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8327700263599763418-3597889047120746718?l=ruangkata-katavie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/feeds/3597889047120746718/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/2011/10/mas-marco-kartodikromo-dunia-dan-karya.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8327700263599763418/posts/default/3597889047120746718'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8327700263599763418/posts/default/3597889047120746718'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/2011/10/mas-marco-kartodikromo-dunia-dan-karya.html' title='Mas Marco Kartodikromo: Dunia dan Karya-karyanya'/><author><name>Ruang Kata-kata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02073905970978168417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-BMpRpLILnS8/Tgiif45TyJI/AAAAAAAAAF4/wJFIcqlOhCM/s220/DSC01970.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8327700263599763418.post-1610203545318035893</id><published>2011-10-05T19:24:00.002+07:00</published><updated>2011-10-05T19:33:25.428+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Sejarah Sastra'/><title type='text'>Marco, Balai Pustaka, dan Bacaan Liar</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pers pada tahun duapuluhan, yaitu masa pergerakan nasional mencapai gelombang pasang yang pertama. Mereka telah memuat cerita bersambung dan cerita pendek yang mencerminkan penderitaan dan perjuangan rakyat untuk sesuap nasi (Siregar,1964). Oleh karena itu, perkembangan pers sejalan dengan perkembangan dunia sastra di Hindia. Beberapa tokoh pergerakan pun turut ambil bagian pada awal abad XX, Tirto, Semaoen, Marco merupakan nama-nama yang kerap kali menulis dengan tajam kritikan kepada penguasa Belanda saat itu. Tidak heran jika mereka sering kali keluar masuk bui bahkan ‘dibuang’. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sastra dapat dianggap sebagai perkembangan masyarakat dan kebudayaan, dengan konsekuensi perkembangan dalam sastra harus dilihat dalam kaitan dengan fungsi lain dalam masyarakat dan kebudayaan, seperti ekonomi, susunan dan bangunan kelas sosial, pembentukan kekuasaan dan distribusi kekuasaan dalam satu sistem politik (Kleden, 2004). Perkembangan sastra Melayu di awal abad XX sejalan dengan perkembangan pers yang pada saat itu banyak menggunakan bahasa Melayu pasar sebagai medium penyampai gagasan. Bahasa Melayu pasar digunakan karena bahasa tersebut adalah bahasa para pedagang dan kaum buruh yang tidak pernah mengenyam pendidikan sekolah gaya Barat dengan pelajaran bahasa Melayu yang baik. Selain itu, bacaan yang ditulis dalam bahasa Melayu pasar menggunakan bahasa sehari-hari yang terasa lebih spontan dan kadang-kadang lebih “hidup”, serta lebih bebas dari ikatan tata bahasa. &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Penulisan Roman modern pada mulanya sangat terpengaruh oleh penulis-penulis Belanda (Retnanningsih, 1983). Surat kabar yang pertama kali memuat cerita bersambung berbentuk roman adalah &lt;i&gt;Medan Prijaji&lt;/i&gt;. Roman yang pertama diterbitkan adalah &lt;i&gt;Hikajat Siti Mariah&lt;/i&gt; yang dikarang oleh H. Mukti. Roman ini menurut pengarangnya disebut “hikayat”, tetapi melukiskan kehidupan sehari-hari pada zaman pengarangnya, lalu ditulis dalam bahasa melayu (Rosidi, 1986). Lebih lanjut, Rosidi mengungkapkan Tirto Adhi Suryo dapat pula disebut sebagai perintis fiksi moderen. Karya-karyanya antara lain: &lt;i&gt;Doenia Pertjintaan 101 Tjerita Jang Soenggoe Terjadi di Tanah Priangan&lt;/i&gt; (1906), &lt;i&gt;Tritja Nyai Ratna&lt;/i&gt; (1909), &lt;i&gt;Membeli Bini Orang &lt;/i&gt;(1909), &lt;i&gt;Busono &lt;/i&gt;(1912).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pengarang lain yang terbilang produktif adalah Mas Marco Kartodikromo. Karya-karyanya adalah &lt;i&gt;Mata Gelap&lt;/i&gt; (1914), &lt;i&gt;Student Hidjo&lt;/i&gt; (1918), &lt;i&gt;Syair Rempah-rempah&lt;/i&gt; (1919), dan &lt;i&gt;Rasa Mardika &lt;/i&gt;(1924). Akibat tulisannya Marco empat kali dijatuhi hukuman oleh pemerintah kolonial. Selain Marco, Semoen juga menulis sebuah roman berjudul &lt;i&gt;Hikayat Kadiroen&lt;/i&gt; (1920) yang dilarang beredar oleh pemerintah. &lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Bacaan-bacaan yang dihasilkan oleh Tirto, Marco, dan Semaoen dapat dikategorikan sebagai “bacaan politik”. Hampir semua bacaan yang diproduksi oleh para pemimpin pergerakan baik novel, roman, maupun cerita bersambung, isinya menampilkan kekritisan dan perlawanan terhadap pemerintah kolonial. Sifat dan isi karangan tersebut banyak menghasut rakyat untuk berontak, sehingga karya tersebut dilabeli “bacaan liar” oleh pemerintah kolonial dan penulisnya disebut “pengarang liar”. Selain itu, pemerintah memberi label bacaan liar karena corak realisme sosialis yang terdapat dalam karya dan ditulis oleh pengarang yang mempunyai kecenderungan ideologi sosialis dan komunis (Yulianeta, 2008) &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ketakutan pemerintah kolonial bahwa pengarang akan mensosialisasikan ideologinya, membuat pemerintah berusaha membendung dan menyetop peredaran bacaan liar dengan membentuk Komisi Bacaan Rakyat &lt;i&gt;(Commisie voor de Inlandsche School en Volkslectuur) &lt;/i&gt;pada 1908 dan pada 1917 diubah menjadi Kantor Bacaan Rakyat &lt;i&gt;(Kantoor voor de Volkslectuur)&lt;/i&gt; atau Balai Pustaka. Pekerjaan komisi ini mula-mula memeriksa dan mencetak segala naskah dan cerita yang ditulis dalam bahasa daerah. Balai Pustaka kemudian juga mencetak buku-buku terjemahan dari cerita yang mengisahkan pahlawan orang Belanda dan cerita klasik eropa. Hingga pada 1920 terbitlah roman pertama dalam bahasa Indonesia berjudul &lt;i&gt;Azab dan Sengsara Seorang Anak Gadis &lt;/i&gt;karangan Merari Siregar. Sejak itu banyak roman dalam bahasa daerah dan Melayu yang diterbitkan Balai Pustaka (Rosidi, 1986). &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Selain menerbitkan buku, Balai Pustaka juga mengadakan taman-taman perpustakaan di tiap-tiap sekolah dasar. Selanjutnya diterbitkannya majalah &lt;i&gt;Sri Pustaka&lt;/i&gt; (1919), dalam bahasa Melayu, majalah &lt;i&gt;Panji Pustaka&lt;/i&gt; (1923) juga dalam bahasa Melayu, majalah &lt;i&gt;Kedjawen&lt;/i&gt; dalam bahasa Jawa, serta majalah &lt;i&gt;Parahiangan&lt;/i&gt; dalam bahasa Sunda. Dengan demikian Balai Pustaka adalah penerbit, pencetak, dan menjual buku serta majalah yang secara sistematis menggiatkan penyebarannya ke sekolah sampai desa-desa terpencil untuk mengimbangi bacaan antikolonial (Siregar, 1964). &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Karena istilah bacaan liar datang dari pemerintah kolonial Belanda– dalam hal ini Balai Pustaka – maka kriteria Balai Pustakalah yang dijadikan dasar dalam menentukan sebuah novel termasuk kategori bacaan liar atau bukan. Menurut Yulianeta (2008) setidaknya ada lima kriteria yang membuat sebuah novel dianggap sebagai bacaan liar, yaitu 1) memuat gagasan politik tertentu yang bertentangan dengan pandangan politik pemerintah yang berkuasa, 2) berisi penghinaan terhadap golongan agama tertentu, 3) memuat adegan yang melanggar nilai-nilai kesusilaan, 4) berisi penghinaan terhadap golongan bangsa tertentu, dan 5) menggunakan bahasa yang bukan bahasa Melayu Tinggi.&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Jika dilihat dari kelima kriteria tersebut, maka jelaslah mengapa karya-karya Marco –khususnya &lt;i&gt;Student Hidjo&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;Rasa Merdika –&lt;/i&gt;dianggap sebagai bacaan liar. Dari lima kriteria tersebut setidaknya ada tiga kriteria yang terdapat dalam &lt;i&gt;Student Hidjo&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;Rasa Merdika&lt;/i&gt;. &lt;i&gt;Pertama&lt;/i&gt;, karya tersebut bertentangan dengan padangan politik pemerintah dan mencoba menggugat sistem yang telah dibentuk oleh pemerintah kolonial. &lt;i&gt;Kedua&lt;/i&gt;, karya tersebut berisi penghinaan terhadap golongan bangsa tertentu, yaitu bangsa penjajah (kolonial) yang menurut Marco menindas, menyengsarakan, dan memiskinkan rakyat Hindia. &lt;i&gt;Ketiga,&lt;/i&gt; walaupun Marco termasuk golongan terpelajar, keterlibatannya dalam dunia pergerakan dan jurnalistik, membuat ia kerap menulis dalam bahasa Melayu Rendah agar dibaca oleh khalayak luas. Sedangkan dua kriteria lainnya tidak terlalu tampak dalam novel &lt;i&gt;Student Hidjo&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;Rasa Merdika&lt;/i&gt;.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8327700263599763418#_edn1" name="_ednref1" title=""&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;[i]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Baik &lt;i&gt;Student Hidjo&lt;/i&gt; ataupun &lt;i&gt;Rasa Merdika&lt;/i&gt; adalah gugatan Marco terhadap kolonialisme dan kapitalisme. Label bacaan liar diberikan oleh pemerintah kolonial Belanda dengan maksud menimbulkan kesan negatif terhadap kedua novel tersebut. Namun pelabelan itu tidak lantas menyurutkan Marco untuk menuliskan tentang kebenaran yang diyakininya. Label bacaan liar juga tidak membuatnya mengubah haluan keberpihakannya pada pemerintah agar karya-karyanya diterima. Ia terus saja berteriak, protes, dan melawan segala bentuk penindasan yang dilakukan oleh perintah kolonial dalam karya-karyanya. Baginya, manusia adalah sama, berhak hidup layak, bebas, merdeka, dan dihargai sebagai manusia. Imperialisme dan kapitalismelah yang membuat suatu bangsa terpuruk, miskin, dan bodoh. Bukan hasil pemberian Tuhan ataupun karena bangsa Hindia sendiri yang malas. Protes kerasnya itulah yang membuat karya-karya Marco diberi label bacaan liar hingga ia terpinggikan dan membuatnya kerap keluar masuk tahanan.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Novi Diah Haryanti&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;novi.diah@gmai.com&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr align="left" size="1" width="33%" /&gt;&lt;div id="edn1"&gt;&lt;div class="MsoEndnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8327700263599763418#_ednref1" name="_edn1" title=""&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;[i]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Baik &lt;i&gt;Student Hidjo&lt;/i&gt; (SH) ataupun &lt;i&gt;Rasa Merdika&lt;/i&gt; (RM) tidak memasukan agama secara intens ke dalam karya. Memang dalam &lt;i&gt;Rasa Merdika&lt;/i&gt; sempat hadir tokoh bernama Mohamad Abdulgani, yang beragama Islam. Namun kehadirannya bukan untuk membicarakan atau menyinggung agama tertentu, melainkan sebagai sindiran bagi pembaca karena ia percaya kemiskinan yang dialaminya bukanlah akibat dari kapitalisme (penjajahan) melainkan bawaan yang diberikan Tuhan. Padangan tersebut merupakan salah satu wacana yang terus ditanamkan oleh pemerintah kolonial sehingga terinternalisasi dalam diri rakyat Hindia yang mengakibatkan rakyat Hindia merasa kemiskinan yang dialami adalah takdir yang tak bisa diganggu gugat. Dalam novel &lt;i&gt;Student Hidjo&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;Rasa Merdika&lt;/i&gt; juga tidak terdapat bahasa cabul atau penggambaran adegan yang melanggar nilai-nilai kesusilaan. Memang dalam &lt;i&gt;Student Hidjo&lt;/i&gt;, tokoh utama novel tersebut Hidjo, melakukan seks bebas dengan gadis Belanda bernama Betje. Namun, hal tersebut digambarkan Marco dengan kata-kata yang ‘biasa’ sehingga tidak menimbulkan kesan porno di otak pembacanya. Prilaku Betje yang terus menggoda Hidjo juga merupakan kritik terhadap kelakuan bangsa yang menganggap dirinya lebih berbudaya.&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8327700263599763418-1610203545318035893?l=ruangkata-katavie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/feeds/1610203545318035893/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/2011/10/marco-balai-pustaka-dan-bacaan-liar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8327700263599763418/posts/default/1610203545318035893'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8327700263599763418/posts/default/1610203545318035893'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/2011/10/marco-balai-pustaka-dan-bacaan-liar.html' title='Marco, Balai Pustaka, dan Bacaan Liar'/><author><name>Ruang Kata-kata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02073905970978168417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-BMpRpLILnS8/Tgiif45TyJI/AAAAAAAAAF4/wJFIcqlOhCM/s220/DSC01970.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8327700263599763418.post-3126432703911091518</id><published>2011-10-04T19:36:00.001+07:00</published><updated>2011-10-04T19:37:24.286+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan Harian'/><title type='text'>Setiap Hari Merupakan Kado Istimewa</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hidup adalah kejutan. Sering kali kita terkaget-kaget dengan setiap peristiwa yang dihadirkanNya. Senang alhamdulillah, sedih astagfirullah, padahal susah senang adalah pemberianNya. Lalu mengapa kita sering kali mengeluh tiap kali diberi kejutan yang tidak sesuai dengan harapkan kita?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sudah hampir dua tahun ini saya selalu belajar memahami makna "innalillahi wa innalillahi ra'jiun". Kalimat yang tentu saja, kaum muslim sangat akrab dengannya. Saya berkenalan dengan kalimat tersebut ketika asik "pengajian" bersama Bu Turita dan Mas Asep Sambodja. Intinya, belajar mengiklaskan semua, bahwa semua bukanlah milik kita, karena itulah susah senang harus dikembalikan padaNya. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tak perlu sedih atau senang berlebih, karena sedih dan senang sama saja. Berputar, atas, tengah, bawah, atas, tengah, bawah, begitu seterusnya. Jadi apalagi yang harus dirisaukan? Tak ada, karena semua toh akan dirasa, diminta, dikembalikan, suka atau tidak suka.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seseorang pernah berkata pada saya, "Tuhan sudah terlalu baik, jadi tidak ada alasan untuk mengeluh". Inalillahi wa innalillahi ra'jiun, setiap hari merupakan kado istimewa buat saya...&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8327700263599763418-3126432703911091518?l=ruangkata-katavie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/feeds/3126432703911091518/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/2011/10/setiap-hari-merupakan-kado-istimewa.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8327700263599763418/posts/default/3126432703911091518'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8327700263599763418/posts/default/3126432703911091518'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/2011/10/setiap-hari-merupakan-kado-istimewa.html' title='Setiap Hari Merupakan Kado Istimewa'/><author><name>Ruang Kata-kata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02073905970978168417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-BMpRpLILnS8/Tgiif45TyJI/AAAAAAAAAF4/wJFIcqlOhCM/s220/DSC01970.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8327700263599763418.post-1354396393885028552</id><published>2011-09-29T17:24:00.002+07:00</published><updated>2011-09-29T17:36:29.620+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Mengenal Berbagai Teori dan Pendekatan Sastra'/><title type='text'>Said dan Orientalisme</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Edward Said, lahir di Yerusalem pada 1 November 1935. Dalam memoar berjudul yang &lt;i&gt;Out Of Place&lt;/i&gt; (2002) yang ditulisnya pada 1999, Said mengaku membutuhkan waktu lima puluh tahun untuk merasa nyaman dengan namanya. Menurutnya, nama Edward terdengar bodoh dan secara paksa dilekatkan pada nama keluarga Arab asli, Said. Ayahnya adalah saudagar Arab yang makmur, berkewarganegaraan Palestina-Amerika Serikat. Said menjalani pendidikan dasar dan menengah di Yerusalem dan Mesir lalu pada usia limabelas tahun pindah ke Massachusets dan menjadi warganegara Amerika Srikat pada umur delapanbelas tahun (Amalik, 2001). &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Said belajar sastra, musik, dan filsafat di Princeton selama setahun. Namun, gelar doktor sastra Inggris diraihnya dari Universitas Harvard. Perang yang melanda Arab pada 1947 -1948, membuat keluarganya tergusur dari Palestina dan memilih tinggal di Yordania dan Lebanon. Peristiwa ini, mengubahnya dari intelektual kampus menjadi intelektual organik. Said juga akrab dengan kegiatan advokasi dan penegakan Hak Asasi Manusia dalam rangka membela kepentingan Palestina dan dunia Arab pada umumnya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pada 1978, Said menerbitkan buku berjudul &lt;i&gt;Orientalism&lt;/i&gt; yang melahirkan kegerahan sekaligus pencerahan dalam berbagai disiplin ilmiah seperti cultural studies, kajian wilayah, dan secara khusus melahirkan analisis diskursus kolonial (Young dalam Yusuf , 2009). Lapangan penelitian baru yang kemudian dikenal dengan nama teori pascakolonial (&lt;i&gt;postcolonial theory&lt;/i&gt;). &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&lt;i&gt;Orientalisme&lt;/i&gt; (2001) merupakan suatu cara untuk memahami dunia Timur, berdasarkan tempatnya yang khusus dalam pengalaman manusia Barat Eropa. Timur telah membantu mendefinisikan Eropa (Barat) sebagai imaji, idea, kepribadian dan pengalaman yang berlawanan dengannya. Orientalisme tidak pernah jauh dari apa yang dinamakan Denys Hay sebagai gagasan Eropa, suatu pikiran kolektif yang mengidentifikasikan ‘kita’ orang-orang Eropa sebagai yang berbeda dari ‘mereka’ orang-orang non Eropa. Apa yang membuat budaya Eropa berkuasa baik di Eropa ataupun di luar Eropa adalah gagasan identitas Eropa sebagai identitas yang lebih unggul dibandingkan dengan semua bangsa dan budaya non Eropa.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8327700263599763418#_ftn1" name="_ftnref1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;[1]&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Istilah orientalisme menurut Said dapat didefinisikan dengan tiga cara yang berbeda. Pertama memandang orientalisme sebagai mode atau paradigma berpikir berdasarkan epistemologi dan ontologi yang secara tegas membedakan antara Timur degan Barat. Timur sebagai diskursus yang dikonstruksi oleh bentuk kekuasaan dan pengetahuan kolonial. Kedua, orientalisme sebagai gelar akademis untuk menggambarkan seraingkaian lembaga, disiplin, dan kegiatan yang umumnya terdapat pada universitas Barat yang peduli pada kajian masyarakat dan kebudayaan Timur. Ketiga, orientalisme sebagai lembaga resmi yang pada hakekatnya peduli pada Timur (Lubis, 2009). Lebih jauh Lubis mengungkapkan bagaimana Said mengemukakan arti orientalisme dalam tiga wilayah yang saling tumpang tindih. Pertama, menciptakan sejarah pahit yang panjang hubungan antara Eropa dan Asia-Afrika. Kedua, menciptakan bidang-bidang ilmu ilmu yang sejak awal abad ke-19 sebagai spesialis dalam bahasa dan kebudayaan oriental. Ketiga, menciptakan stereotip dan ideologi tentang the orient yang selalu diidentikan dengan the Other dengan the Occident (the self).&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Lubis via Suryawan, mengungkap Said menggunakan pemikiran-pemikiran Derrida, Foucault, Gramsci, dan teori kritis sebagai dasar untul teori poskolonial. Pemikiran tokoh-tokoh tersebut digunakan untuk membongkar narsisme dan kekerasan epistemologis Barat terhadap Timur dengan menunjulkan bias, kepentingan, kuasa yang terkandung dalam berbagai teori yang dikemukakan kamu kolonialis dan orientalis. Para tokoh teori poskolonial menolak pandangan dan sikap yang merendahkan masyarakat dan budaya Timur yang bersifat narsistik, hegemonik, dan penuh kekerasan.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Orientalisme&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN"&gt; dianggap sebagai narasi terbesar, bentuk khusus imperialisme yang masih hidup dan selalu diperbincangkan dalam kajian pascakolonialisme. Dari pemikiran Said tersebut, dapat disimpulkan bahwa dua hal penting yang menjadi dasar teori pascakolonial, yaitu (1) oposisi biner Barat-Timur, Penjajah-Terjajah sebagai pusat perhatian dan (2) sifat &lt;i&gt;anggitan&lt;/i&gt; &lt;i&gt;(constructedness)&lt;/i&gt; dari dikotomi tersebut (Rusdian, 2002).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr align="left" size="1" width="33%" /&gt;&lt;div id="ftn1"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8327700263599763418#_ftnref1" name="_ftn1" title=""&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Dikutip dari buku terjemahan Orientalisme Edward Said (2001), penerjemah Asep Hikmat. Bandung: Pustaka. &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8327700263599763418-1354396393885028552?l=ruangkata-katavie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/feeds/1354396393885028552/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/2011/09/said-dan-orientalisme.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8327700263599763418/posts/default/1354396393885028552'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8327700263599763418/posts/default/1354396393885028552'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/2011/09/said-dan-orientalisme.html' title='Said dan Orientalisme'/><author><name>Ruang Kata-kata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02073905970978168417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-BMpRpLILnS8/Tgiif45TyJI/AAAAAAAAAF4/wJFIcqlOhCM/s220/DSC01970.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8327700263599763418.post-920651147263319866</id><published>2011-09-25T22:04:00.000+07:00</published><updated>2011-09-25T22:04:49.074+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Mengenal Berbagai Teori dan Pendekatan Sastra'/><title type='text'>Representasi</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt; /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin:0cm; mso-para-margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:"Times New Roman"; mso-ansi-language:#0400; mso-fareast-language:#0400; mso-bidi-language:#0400;}&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 200%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 200%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Representasi merupakan praktik pemaknaan yang menjelaskan atau menguraikan objek atau praktik lain di dunia ‘nyata’. Representasi membangun kebudayaan, makna dan pengetahuan&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8327700263599763418#_ftn1" name="_ftnref1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; yang terimbas pada kekuasaan. &lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Representasi merupakan isu utama dalam kesusastraan. Karya sastra secara umum kerap dipandang sebagai upaya merepresentasikan keyataan dan oleh sebab itu sastra dikatakan sebagai imitasi atau peniruan kenyataan.&lt;a href="http:///#_ftn1" name="_ftnref2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Sebagai sumber data, dengan medium utama bahasa, yang kemudian direpresentasikan dalam bentuk wacana karya sastra juga merupakan objek kajian yang sangat kaya, sebab sebagai sistem simbol bahasa selalu menunjuk sesuatu yang lain.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8327700263599763418#_ftn3" name="_ftnref3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Karya sastra merepresentasikan dimensi kebudayaan tertentu yang berfungsi untuk menampilkan kembali berbagai peristiwa kehidupan manusia. Tujuannya agar manusia dapat mengidentifikasikan dirinya dalam rangka menciptakan suatu kehidupan yang lebih bermakna. Dikaitkan dengan totalitas karya sastra sebagai dunia dalam kata, maka tokoh-tokoh, kejadian, dan latar dianggap repersentasi kolektif, sebagai spesies. Nama diri, nama tempat, nama benda, peristiwa sejarah dan sebagainya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 200%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 200%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8327700263599763418#_ftn4" name="_ftnref4" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;b&gt;Novi Diah Haryanti&lt;/b&gt;&lt;br clear="all" /&gt;  &lt;hr align="left" size="1" width="33%" /&gt;    &lt;div id="ftn1"&gt;  &lt;div class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8327700263599763418#_ftnref1" name="_ftn1" title=""&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn2"&gt;  &lt;div class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8327700263599763418#_ftnref2" name="_ftn2" title=""&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Manneke Budiman, &lt;i&gt;Sastra dan Representasi&lt;/i&gt;, (Jakarta: Junal Kalam, 1998), ed. 11&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn3"&gt;  &lt;div class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8327700263599763418#_ftnref3" name="_ftn3" title=""&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kutha Ratna, &lt;i&gt;Sastra dan Cultural Studies, &lt;/i&gt;(Yogyajarta: Pustaka Pelajar, 2005), hlm.2&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn4"&gt;  &lt;div class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8327700263599763418#_ftnref4" name="_ftn4" title=""&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8327700263599763418-920651147263319866?l=ruangkata-katavie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/feeds/920651147263319866/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/2011/09/representasi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8327700263599763418/posts/default/920651147263319866'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8327700263599763418/posts/default/920651147263319866'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/2011/09/representasi.html' title='Representasi'/><author><name>Ruang Kata-kata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02073905970978168417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-BMpRpLILnS8/Tgiif45TyJI/AAAAAAAAAF4/wJFIcqlOhCM/s220/DSC01970.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8327700263599763418.post-1555753950134126372</id><published>2011-09-25T18:58:00.005+07:00</published><updated>2011-09-25T19:02:55.385+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Budaya dan Gaya Hidup'/><title type='text'>ANTARA GAYA HIDUP DAN NASIONALISME: Analisis semiotika dalam Iklan NSP 1212 Telkomsel</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp; &lt;/b&gt;Nada sambung pribadi (NSP) atau &lt;i&gt;ring back tone&lt;/i&gt; (RBT), berkembang pesat sejak tiga tahun belakangan. Pertumbuhan yang mencapai 30 persen pertahun, membuat pengguna NSP di Indonesia kini lebih dari 8 juta orang. Selain menguntungkan bagi artis dan labelnya, keuntungan penggunaan NSP oleh pelanggan juga dirasakan produsen&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8327700263599763418#_ftn1" name="_ftnref1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, sebut saja Indosat yang tahun lalu memiliki penghasilan tambahan senilai Rp15 milyar – Rp20 milyar perbulan dari hasil penjualan NSP atau Telkomsel yang mendapatkan &lt;i&gt;revenue&lt;/i&gt; dari industri konten sebesar Rp1,2 Triliun pada 2007. &lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8327700263599763418#_ftn2" name="_ftnref2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kemampuan NSP menghasilkan keuntungan bagi artis, label, dan provider, tentu bukanlah tanpa sebab. Berbagai iklan dan promosi di televisi, radio, dan media cetak gencar dilakukan oleh para provider. Hal tersebut dilakukan tentu saja untuk menggenjot penggunaan NSP yang pasarnya masih terbuka luas. &lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8327700263599763418#_ftn3" name="_ftnref3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Iklan sebagai salah satu produk budaya popular, tidak bebas nilai. Hal tersebut menurut Noorman (2003) membuat khalayak, khususnya remaja “harus” sadar akan pentingnya melek media atau &lt;i&gt;media literate &lt;/i&gt;yaitu upaya memahami media secara kritis berdasarkan informasi yang lengkap. Kemampuan ini menjadi penting karena khalayak terutama anak dan remaja, harus sampai pada kesadaran bahwa: 1) Pesan media merupakan konstruksi (buatan atas ideology dan kepentingan tertentu); 2) Pesan-pesan dibuat dengan bahasa kreatif yang memiliki aturan tersendiri dan membawa kepentingan sendiri; 3) Setiap orang mungkin mendapatkan kesan/makna yang berbeda dari pesan yang sama dengan cara berbeda pula; 4) Media memiliki nilai dan cara pandangan sendiri; 5) Pesan-pesan media dibuat untuk mendapatkan keuntungan dan/atau kekeuasaan tertentu.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8327700263599763418#_ftn4" name="_ftnref4" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp; &lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Untuk memahami media secara kritis, perlu dilakukan “pembacaan” terhadap tanda-tanda yang coba dimainkan produsen untuk menyakinankan konsumennya agar mengaktifkan NSP. Permainan tanda tersebut, menjadi bahan yang akan saya ulas dalam &lt;i&gt;paper&lt;/i&gt; singkat ini. Iklan yang menjadi bahan kajian adalah NSP 1212 milik Telkomsel dengan &lt;i&gt;tagline &lt;/i&gt;“Paling Gak Nada Sambung-nya Nasionalis” yang saya ambil dari Tabloid Bintang Edisi 958 tahun XIX Minggu Kedua September 2009. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ada dua alasan mengapa saya tertarik membedah iklan tersebut. Pertama berbeda dengan iklan-iklan NSP pada umumnya yang menjual artis dan lagunya, iklan tersebut menjual tema yaitu nasionalisme. Kedua, sebagai iklan yang hanya dinikmati secara visual, pilihan untuk menggunakan kartun sebagai media penyampai informasi menjadi menarik untuk dicermati karena iklan tersebut menyasar kalangan remaja.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Permaianan Tanda dan Konstruksi Makna&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Semiotik melihat berbagai gejala dalam suatu kebudayaan sebagai tanda yang dimaknai oleh masyarakat. Nation dalam pandangan semiotik, merupakan kepanjangan dari identitas personal yang terkait dengan representasi ruang kolektif, sedangkan dalam perspektif peircean, nasionalisme adalah sebuah interpretan publik yang terdiri dari sejumlah proposisi-proposisi budaya yang membentuk sebuah argumen (Christomy, 2002: 57).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Iklan NSP 1212 Telkomsel adalah iklan seperempat halaman yang dibuat dengan tema nasionalisme dengan target pasar anak muda. Target pasar tersebut, tampak dari media yang dipilih oleh Telkomsel untuk beriklan, yaitu &lt;i&gt;Bintang Indonesia&lt;/i&gt;.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8327700263599763418#_ftn5" name="_ftnref5" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp; Selain itu, iklan tersebut menggunakan kartun bergambar manusia dengan bahasa gaul ala anak muda (&lt;i&gt;signifier&lt;/i&gt;), sehingga pesan untuk menggunakan NSP (&lt;i&gt;signifield&lt;/i&gt;) lebih mudah ditangkap oleh pasar yang ditujunya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Dalam menghadirkan isu nasionalisme, pembuat iklan sengaja memakai pola oposisi binner lewat permainan gambar dan kata-kata. Dikotomi&amp;nbsp; lokal dan global,&amp;nbsp; tampak dari wacana mengenai nasionalisme yang diangkat lewat &lt;i&gt;tagline&lt;/i&gt; “Paling Gak Nada Sambung-nya Nasionalis” mengacu pada sesuatu yang berbau lokal karena subjek dikelilingi oleh tanda-tanda global (Barat). &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Untuk dapat memahami maksud tagline tersebut, Anda harus membaca iklan ini secara menyeluruh, sehingga tampak hubungan satu tanda dengan tanda lainnya –termasuk juga hubungan antara lokal dan global. Misalnya, selain tagline yang dibuat dengan huruf besar dan warna putih yang mencolok karena warna dominan yang digunakan dalam iklan adalah degradasi merah marun, ketika melihat iklan tersebut mata kita akan tertuju kepada kartun laki-laki perlente yang seluruh tubuhnya dipenuhi barang-barang &lt;i&gt;branded. &lt;/i&gt;Namun, merek-merek (&lt;i&gt;brand&lt;/i&gt;) dunia (global) tersebut oleh kartunis sengaja dipelesetkan, seperti; kemeja “bagio arman nih” Italy, tas “Loe Pitung” impor Perancis, laptop “tjap apel digigit”, jam “Ngessot” Italy, bolpen “Maung Belank” oleh-oleh Perancis, Hape “AihFon” asli Amrik, Celana asli New York “Ck...ck...ck...”.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8327700263599763418#_ftn6" name="_ftnref6" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Tak lupa untuk melengkapi kesan mendunia (global), kartunis melengkapinya dengan “Minuman gaul sosialite anggur Eropa.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8327700263599763418#_ftn7" name="_ftnref7" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dari yang serba global itu, kartunis membuat satu tanda panah besar menuju &lt;i&gt;tagline&lt;/i&gt; “Paling Gak Nada Sambung-nya Nasionalis”, yang secara halus menyiratkan makna, walaupun Anda berselera global –memakai barang-barang bermerek dari ujung kaki sampai kepala –setidaknya Anda masih memakai NSP yang menggugah rasa nasionalisme lewat lagu-lagu perjuangan dalam negeri (bukan luar negeri) karena konsep nation terkait dengan representasi ruang kolektif, yaitu Indonesia. Untuk memperjelas &lt;i&gt;tagline &lt;/i&gt;tersebut, ditambahankan kalimat, “saatnya gaungkan rasa kebangsaanmu dengan NSP lagu-lagu perjuangan”, dengan font yang jauh lebih kecil namun masih dapat terbaca. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Penanda (signifier, signifiant) yang tampilkan lewat teks-teks baik yang berupa gambar atapun tulisan/&lt;i&gt;tagline&lt;/i&gt;,&amp;nbsp; mengacu kepada petanda (signified, signifie) sikap nasionalisme. Sehingga diharapkan setelah membaca iklan ini, konsumen merepersentasikan sikap nasionalismenya dengan menggunakan lagu-lagu bertema perjuangan sebagai nada sambung pribadinya. Perlu untuk diingat bahwa bisnis NSP adalah bisnis gaya hidup, karena yang dibeli adalah kepuasan dan trend. Konsumen tidak mendapat manfaat dari NSP yang dipasangnya, pun dengan penelpon yang mendengarkan NSP Anda. Oleh karena itu, yang dilakukan oleh produsen adalah menyakinkan konsumen bahwa NSP merupakan salah bentuk ekspresi yang mewakili penggunanya. Tak heran jika pengguna NSP memilih lagu yang dianggap sesuai dengan suasana hati. Selain memilih lagu yang dianggap sesuai dengan &lt;i&gt;mood&lt;/i&gt;-nya, lagu yang sedang popular (menjadi hits) juga kerap menjadi NSP, tidak hanya itu konsumen juga kerap mengganti NSP-nya sesuai dengan moment-moment tertentu seperti lagu rohani di bulan ramadhan atau natal, serta lagu-lagu perjuangan memasuki bulan Agustus hingga September.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8327700263599763418#_ftn8" name="_ftnref8" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Simpulan &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Iklan NSP 1212 Telkomsel memperlihatkan pada kita bagaimana tanda-tanda saling berhubungan dan meninggalkan kesan seperti yang diharapkan oleh pembuatnya. Sebagai sebuah iklan, tujuan dari dibuatnya iklan tersebut bukanlah untuk menumbuhkan sikap nasionalisme seperti tema yang usungnya, melainkan menjaring sebanyak-banyaknya konsumen untuk mengaktifkan NSP lagu-lagu perjuangan dengan memanfaatkan momen hari kemerdekaan. Semakin banyak yang mengaktifkan NSP, semakin banyak pula keuntungan yang didapat oleh produsen. Dalam hal ini, produsen memanfaatkan moment kemerdekaan untuk mendongkak penjaulan NSP dan mencoba menghegemoni konsumen dengan pesan “paling &lt;i&gt;gak&lt;/i&gt;, gunakan NSP lagu perjuangan untuk menunjukan rasa nasionalisme”.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;b&gt;Novi Diah Haryanti&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Daftar Bacaan &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 27pt; text-align: justify; text-indent: -27pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Christomy, Tommy. 2002. “Bungkus Rokok yang Terbakar” dalam Tommy Christomy (ed.) &lt;i&gt;Indonesia: Tanda yang Retak&lt;/i&gt;. Jakarta. Wedatama Widya Sastra. &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 27pt; text-align: justify; text-indent: -27pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Prabasmoro, Aquarini Priyatna. 2003. “&lt;i&gt;Becoming White&lt;/i&gt;: Representasi Ras, Kelas, Femininitas dan Globalitas dalam Iklan Sabun”. Yogyakarta: Jalasutra. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr align="left" size="1" width="33%" /&gt;&lt;div id="ftn1"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8327700263599763418#_ftnref1" name="_ftn1" title=""&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp; Produsen NSP terdiri dari provider seperti Telkomsel, Indonsat, XL; Content provider seperti kantongmusik.com dan thinkway studio; dan label rekaman seperti PT Aquarius Musikindo &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn2"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8327700263599763418#_ftnref2" name="_ftn2" title=""&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp; Tabloid Kontan Minggu IV, Mei 2008 dan Edisi Khusus Kontan September-Oktober 2008&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn3"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8327700263599763418#_ftnref3" name="_ftn3" title=""&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp; Menurut Tjandra Tedja Direktur Indonesia Mobile and Online Content Provider Association (IMOCA), pengguna RBT di Indonesia baru 8 juta orang, sedangkan pengguna ponsel di Indonesia mencapai 120 juta orang. Hal tersebut, memperlihatkan pasar RBT masih terbuka luas, tak heran jika para produsen RBT (termasuk para artis) berpromosi untuk menggunakan RBT.&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn4"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8327700263599763418#_ftnref4" name="_ftn4" title=""&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Kemampuan menganalisis media tersebut, saya kutip dari kata pengangantar&amp;nbsp; Safrina&amp;nbsp; Noorman dalam buku&amp;nbsp; &lt;i&gt;Becoming white: Representas Ras, Kelas, Femininitas, dan Globalisasi dalam Iklan Sabun&lt;/i&gt; (2003) yang merupakan desertasi Aquarini Priyatna Prabasmoro yang diterbitkan Jalasutra&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn5"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8327700263599763418#_ftnref5" name="_ftn5" title=""&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Iklan tersebut muncul di edisi yang menjual kabar tentang para pemain serial Korea berjudul Boys Before Flowers (BBF). Booming serial BBF, membuat tabloid Bintang mengeluarkan setidaknya sebelas edisi koleksi 100% BBF untuk menaikkan oplah mereka. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn6"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8327700263599763418#_ftnref6" name="_ftn6" title=""&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Bagio arman nih merujuk pada merek &lt;i&gt;Giorgio Armani&lt;/i&gt;, Loe Pitung mengacu kepada &lt;i&gt;Loius Vuitton&lt;/i&gt;, merek jam Ngessot maksudnya &lt;i&gt;Tissot&lt;/i&gt;, laptop “tjap apel digigit” mengacu kepada merek &lt;i&gt;Apel&lt;/i&gt;, celana ck... ck... ck... mengacu kepada &lt;i&gt;Calvin Klein&lt;/i&gt;, Maung Belank merujuk pada merek &lt;i&gt;Mount Blank.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn7"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8327700263599763418#_ftnref7" name="_ftn7" title=""&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp; Sewaktu melihat iklan NSP Telkomsel ini, saya langsung teringat komik strip (kartun) yang dibuat&amp;nbsp; kartunis Benny Rachmadi dan Muh. Misrad (Benny dan Mice). Ternyata, bukan mereka yang menggarap kartun dalam iklan tersebut dan sayangnya saya belum bisa melacak siapa kartunis yang membuatnya. Namun, saya berasumsi, sedikit banyak kartunis tersebut terpengaruh oleh gaya Benny dan Mice, karena memiliki karakteristik dan gaya menyampaikan yang sama. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn8"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8327700263599763418#_ftnref8" name="_ftn8" title=""&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Menurut saya, iklan bertema nasionalis yang terdapat di tabloid Bintang tersebut ada karena moment hari kemerdekaan yang jatuh pada bulan Agustus.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8327700263599763418-1555753950134126372?l=ruangkata-katavie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/feeds/1555753950134126372/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/2011/09/antara-gaya-hidup-dan-nasionalisme.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8327700263599763418/posts/default/1555753950134126372'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8327700263599763418/posts/default/1555753950134126372'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/2011/09/antara-gaya-hidup-dan-nasionalisme.html' title='ANTARA GAYA HIDUP DAN NASIONALISME: Analisis semiotika dalam Iklan NSP 1212 Telkomsel'/><author><name>Ruang Kata-kata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02073905970978168417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-BMpRpLILnS8/Tgiif45TyJI/AAAAAAAAAF4/wJFIcqlOhCM/s220/DSC01970.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8327700263599763418.post-4348268457265942544</id><published>2011-09-25T18:43:00.001+07:00</published><updated>2011-09-25T18:43:48.938+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Budaya dan Gaya Hidup'/><title type='text'>Multikulturalisme dan Pendidikan Multikultural: Sebuah Gambaran Umum</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Membaca artikel &lt;i&gt;Multikulturalisme dan Pendidikan Multikultural&lt;/i&gt; yang ditulis Melani Budianta mengembalikan memori saya menuju masa sekolah dasar, di mana penekanan terhadap persatuan menjadi menu wajib pelajar PMP (kemudian berubah menjadi PPKN dan PKn). Keanekaragaman budaya yang diperlihatkan lewat rumah adat, baju tradisional, alat musik, ataupun bahasa, dikukuhkan lewat “Bhineka Tunggal Ika”. Alih-alih menyatukan, secara tidak sadar kita terbiasa ‘diseragamkan’ dan merasa terancam pada saat menyadari banyak ‘perbedaan’ disekeliling kita. Hal itu terjadi karena kita terbiasa menonjolkan sikap “persatuan dan kesatuan”, bukan menerima perbedaan dengan berbagai konsekuensinya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Belum lagi, kebijakan yang sentralistis dan pengawalan ketat terhadap isu-isu perbedaan pada masa Orde Baru menurut Melani telah menghilangkan kemampuan masyarakat, untuk memikirkan, membicarakan dan memecahkan persoalan masyarakat yang muncul dari perbedaan secara terbuka, rasional, dan damai. &amp;nbsp;Hal itulah yang membuat wacana multikulturalisme menjadi penting.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Amerika adalah satu contoh negara yang memunculkan konsep pluralitas yang berbeda-beda, mulai dari konsep &lt;i&gt;melting pot&lt;/i&gt; sampai multilkuturalisme. Anglo Sakso menganggap bahwa negeri yang ditemuinya merupakan kawasan tak bertuan dan menyebarkan pandangan suku bangsa Indian merupakan bangsa promitif yang harus ditakukan.&amp;nbsp; Di sinilah&amp;nbsp; terlihat bagaimana perspektif tunggal datang dari perspektif budaya tertentu dapat membutakan mata melihat realitas yang ada.&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Dalam perkembangannya, kedatangan imigran dari berbagai pelosok Eropa Barat dan Timur ke wilayah yang dikuasai Anglo-Sakson memunculkan konsep &lt;i&gt;melting pot&lt;/i&gt;, bercampurnya berbagai manusia dari latar belakang Eropa menjadi satu bangsa baru, “manusia-manusia Amerika”.&amp;nbsp; Ketika pluralitas semakin terlihat, dan mereka yang di luar WASP (White, Anglo-Sakson, Protestan) mulai menuntut pengakuan atas kontribusi mereka, maka lahirlah &lt;i&gt;Salad Bowl&lt;/i&gt; dan konsep &lt;i&gt;Cultural Pluralism&lt;/i&gt; yang mencoba membedakan antara ruang publik yang homogen dengan ruang privat yang penuh keragaman budaya berdasarkan latar belakang masing-masing.&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Pada awal 1980, lahirlah istilah multikulturalsime sebagai gugatan dari dominasi budaya WASP dalam berbagai bidang, termasuk pendidikan, bahasa, sejarah, dan ekspresi budaya di media masa dan kesusastraan. Di Amerika, munculnya multikulturalisme diikuti dengan apa yang disebut&amp;nbsp; “demam PC” (&lt;i&gt;Political Correctness&lt;/i&gt;) atau tuntutan untuk bersikap politik berterima sesuai dengan perspektif multikultural.&amp;nbsp; Menurut Melani kontroversi multikulturalisme inilah yang membuka mata kita pada suatu masalah serius yang patut dicermati yaitu politik identitas. Dalam memperjuangkan pengakuan keragaman budaya, orang akan berbicara atas satu nama kelompok tertentu dan identitas tertentu yang mengacu pada etnisitas, ras, agama, atau daerah. Itulah mengapa Gunew dan Fox Genovese (1999) mengangangap bahwa multikulturalsime sangat mudah terjebak pada masalah identitas.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;*****&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Pendidikan diharapkan dapat mengubah perspektif monokultural dan esesnsialis. Untuk itulah beberapa model pendidikan digunakan untuk mengubah paradigma yang tidak hanya terbatas pada dimensi kognitif saja. Inilah yang kemudian terjadi&amp;nbsp; pada revisi kurikulum sekolah yang dilakukan program pendidikan multikultural di Inggris, Australia, dan Kanada. Hanya saja revisi ini terbatas pada penambahan informasi tentang keragaman budaya yang ada (dimensi kognitif). Model lainnya adalah pendidikan multikultural yang tidak hanya sekadar merevisi pembelajaran, tapi juga melakukan reformasi dalam sistem pembelajaran itu sendiri. &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Menurut Gorski, pendidikan multikultural merupakan satu komitmen yang memfasilitasi pengalaman belajar siswa untuk mencapai potensi maksimal sebagai pelajar dan pribadi yang aktif dan memiliki kepekaan sosial tinggi di tingkat lokal, nasional, dan global. Di Indonesia sendiri, seperti diungkapkan Gorski, pendidikan multikulturalisme mencakup tiga jenis transformasi, yakni: 1)transformasi diri, 2)transformasi sekolah dan proses belajar-mengajar, dan 3)transformasi masyrakat.&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Menurut Melani, yang terpenting di tengah berbagai kepentingan sektoral, kita perlu keberanian untuk mendengar apa yang tidak kita sukai, belajar dari yang tidak dipahami dan berdialog dengan yang bersebrangan serta memunculkan pahlawan-pahlawan multikultural.&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8327700263599763418-4348268457265942544?l=ruangkata-katavie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/feeds/4348268457265942544/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/2011/09/multikulturalisme-dan-pendidikan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8327700263599763418/posts/default/4348268457265942544'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8327700263599763418/posts/default/4348268457265942544'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/2011/09/multikulturalisme-dan-pendidikan.html' title='Multikulturalisme dan Pendidikan Multikultural: Sebuah Gambaran Umum'/><author><name>Ruang Kata-kata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02073905970978168417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-BMpRpLILnS8/Tgiif45TyJI/AAAAAAAAAF4/wJFIcqlOhCM/s220/DSC01970.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8327700263599763418.post-4642326970218535791</id><published>2011-09-16T06:53:00.001+07:00</published><updated>2011-09-16T06:54:53.900+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Berbagai Ulasan Buku dan Artikel Sastra'/><title type='text'>Sastra dan Interaksi Lintas Budaya</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Pada pengantar makalah &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Sastra dan Interaksi Lintas Budaya&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;, Melani Budianta menekankan bahwa tujuan dari pembahasan makalahnya adalah menunjukan pentingnya peran sastra dalam pemahaman lintas budaya. Hal ini terjadi dikarenakan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;, interaksi global tidak dapat dipisahkan dengan yang bersifat lokal. Bahkan menurut Melani dapat dikatakan bahwa pertautan lintas budaya dalam interaksi global-regional-nasional-lokal menjadi semakin kompleks. Untuk melihat posisi sastra dalam interaksi lintas budaya itu,&amp;nbsp; Melani mencoba mengupas beberapa karya yang sarat akan pengalaman Lokal-Nasional-Regional-Global. Hal tersebut dilakukan karena sastra merupakan suatu praktis budaya, sosial, bahkan politik yang tidak hanya membentuk, tapi juga ikut bermain dalam lintas budaya tersebut. &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Menurut Melani, salah satu cerpen yang mengusik hubungan keuasaan diberbagai tingkatan adalah cerpen Azmi R Fatwa, &lt;i&gt;Karena Generasi Kakek&lt;/i&gt;.&amp;nbsp; Lewat cerpennya, Azmi mencoba menggambarkan bagaimana masyarakat desa Tajul&amp;nbsp; mengubah posisi mereka menjadi warga dunia dengan menggunakan bahasa Inggris dalam setiap komunikasinya.&amp;nbsp; Dengan nada sedih dipersolkan peran bangsa sebagai penguasa yang mengeruk kekayaan lokal kepada pihak asing. Di satu sisi, cerpen ini membalikan posisi keterpinggiran dengan bergabung ke tataran global melalui bahasa asing. Cerpen Azmi berbeda dengan kelaziman untuk memakai bahasa Inggris sebagai simbol pengaruh Barat yang mengancam indentitas nasional. Lewat cerpen ini, kita melihat pertautan bahwa yang asing, nasional, maupun lokal dapat saling bertaut tanpa batas yang jelas. &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Dalam kumpulan &lt;i&gt;Riau Satu&lt;/i&gt; maupun karya lain yang memposisikan diri sebagai marginal atau gugatan terhadap kekuatan pusat, maka nada kecewa, gusar, risau, menjadi warna dominan. Karya sastra mewakili daerah yang membangun kesadaran akan kebersamaan dalam kondisi apapun di wilayah budaya yang sama.&amp;nbsp; Pembentukan suatu entitas kelompok seperti itu memerlukan upaya untuk terus membayangkan dan mengukuhkan eksistensinya, termasuk ciri budaya, tradisi, mitos, dan ritualnya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Identitas sebagai suatu komunitas dikukuhkan dengan menentukan siapa yang berhak memilikinya. Konsep asli, pendatang, orang asing, secara hirakis menunjukan hak kepemilikikan terhadap suatu komunitas, baik dalam tataran lokal maupun nasional. Sastra selain dapat berfungsi untuk mengukuhkan kecenderungan yang dominan, dapat pula secara steorotip mempertanyakan konstruksi sosial yang telah ada. Hal ini terlihat, jika pada masa orde baru kata-kata komunis, kiri mampu membangkitkan konotasi yang menakutkan. Sesudah masa kejatuhannya, sastrawan dan sejarahwan dapat melihatnya dengan perspektif yang beda. Hal ini dapat dilihat lewat karya Putu Oka Sukanta, &lt;i&gt;Merajut Harkat&lt;/i&gt; karya karya Martin Aleida, &lt;i&gt;Layang-layang itu Tak Lagi Mengepak Tingg-tinggi,&lt;/i&gt; dan juga dalam karya Ayu Utami berjudul &lt;i&gt;Larung. &lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Tidak hanya lahir dan mendobrak stereotip, banyak pula karya yang lahir dengan memberika tema solidaritas dan empati. Salah satunya, karya Usma Awang bejudul &lt;i&gt;Anak Jiran Tionghua&lt;/i&gt; . Lepas dari bias subjektif yang mau tak mau mewarnai pengarang, tapi sastra memilik potensi sangat besar sebagai medium imajinasi untuk memahami lintas budaya. Salah satu karya yang dimiliki Indonesia adalah kisah &lt;i&gt;Si Doel Anak Jakarta&lt;/i&gt; yang ditulis ole Aman Datuk Majoindo. Contoh karya lintas budaya lain yang dapat dikaji secara sosiologis adalah Namaku Teweraut, karya Ani Sekarngningsih, perempuan Jawa yang lama tinggal di Irian.&amp;nbsp; &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Selain berpotensi memasuki perspektif orang lain, karya sastra juga mampu membuat terobosan dalam berpikir dan memandang permasalahan lintas budaya. Misalnya saja, kerusuhan, penjarahan, dan pembakaran tempat usaha yang terjadi pada 1998, banyak diangkat menjadi sumber pembicaraan dan tulisan. Salah satunya adalah sejumlah cerpen dalam antologi &lt;i&gt;Cerpen Mini Inhoa&lt;/i&gt; melihat persoalan dengan kacamata santai,kreatif, dan penuh humor. Pada akhirnya, karya sastra mempunyai fungsi untuk membuka mata pada kompleksitas persoalan dan menyadarkan diri untuk tidak terlalu cepat menghakimi. Peran karya sastra dalam intraksi sosial tidak dapat dipisahkan dari kondisi penciptaan yang melingkupinya dan kebijakan budaya yang berlaku.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Novi Diah Haryanti&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8327700263599763418-4642326970218535791?l=ruangkata-katavie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/feeds/4642326970218535791/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/2011/09/sastra-dan-interaksi-lintas-budaya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8327700263599763418/posts/default/4642326970218535791'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8327700263599763418/posts/default/4642326970218535791'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/2011/09/sastra-dan-interaksi-lintas-budaya.html' title='Sastra dan Interaksi Lintas Budaya'/><author><name>Ruang Kata-kata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02073905970978168417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-BMpRpLILnS8/Tgiif45TyJI/AAAAAAAAAF4/wJFIcqlOhCM/s220/DSC01970.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8327700263599763418.post-4512485606139907010</id><published>2011-09-13T22:13:00.001+07:00</published><updated>2011-09-13T22:14:41.256+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Berbagi Informasi'/><title type='text'>Sayembara Cerpen dan Cerber Femina</title><content type='html'>&lt;h2 style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Femina&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="font-size: small;"&gt; kembali mengundang Anda --para penulis fiksi hebat-- untuk ikut serta dalam Sayembara Cerpen &amp;amp; Cerber &lt;i&gt;femina.&lt;/i&gt; Tantang daya cipta Anda untuk menjadi penulis terkenal sekaligus membawa pulang total hadiah Rp44 juta!&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Hadiah Sayembara Cerpen*&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Pemenang I &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;: Rp6.000.000&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Pemenang II &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;: Rp4.000.000&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Pemenang III &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;: Rp3.000.000&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Hadiah Sayembara Cerber*&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Pemenang I &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;: Rp15.000.000&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Pemenang II &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;: Rp9.000.000&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Pemenang III &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;: Rp7.000.000&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="SV"&gt;*Hadiah dikenakan pajak 5% (dengan NPWP) atau 6% (tanpa NPWP)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Syarat Umum Sayembara Cerpen &amp;amp; Cerber&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;Peserta adalah Warga Negara      Indonesia.      &lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia yang      baik dan benar, menggunakan ejaan yang disempurnakan. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Naskah harus karya asli, bukan terjemahan. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Tema bebas, namun sesuai untuk majalah &lt;i&gt;femina.&lt;/i&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Naskah belum pernah dipublikasikan di media      cetak, elektronik dan &lt;i&gt;online&lt;/i&gt;dan tidak sedang diikutsertakan dalam      sayembara lain. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Peserta hanya boleh mengirim 2 naskah      terbaiknya. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;Hak untuk menyiarkannya di      media &lt;i&gt;online&lt;/i&gt; ada pada PT Gaya Favorit Press. &lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Redaksi berhak mengganti judul dan menyunting      tanpa mengubah isi. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Naskah yang tidak menang, namun memenuhi      syarat, akan dimuat di &lt;i&gt;femina.&lt;/i&gt;Penulis akan mendapat honor sesuai      standar &lt;i&gt;femina.&lt;/i&gt; &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Keputusan juri mengikat. Tidak dapat diganggu      gugat dan tidak ada surat-menyurat. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Lomba ini tertutup untuk karyawan Femina      Group. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Naskah dikirim ke Redaksi &lt;i&gt;femina&lt;/i&gt;,      Jl. H.R. Rasuna Said Kav B Blok 32-33, Kuningan, Jakarta Selatan, 12910.&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;Syarat Khusus Cerpen:&lt;/b&gt;  &lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul type="disc"&gt;&lt;ul type="circle"&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Diketik dengan komputer di atas kertas HVS       kuarto dengan jarak dua spasi. &lt;/span&gt;&lt;i&gt;Font&lt;/i&gt; Arial ukuran 12. &lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Panjang naskah 6-8 halaman, dan dikirim       sebanyak dua rangkap disertai 1 (satu) CD berisi naskah. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Naskah dilampiri formulir asli dan fotokopi       KTP. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Pada amplop kiri atas ditulis: Sayembara       Mengarang Cerpen &lt;i&gt;femina&lt;/i&gt; 2011. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;Naskah ditunggu       selambat-lambatnya 15 September 2011. &lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Pemenang akan diumumkan di majalah &lt;i&gt;femina&lt;/i&gt;       yang terbit pada bulan November 2011. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Karya pemenang utama akan dimuat di &lt;i&gt;femina&lt;/i&gt;       edisi tahunan 2012.&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/ul&gt;&lt;b&gt;Syarat Khusus Cerber:&lt;/b&gt;  &lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul type="disc"&gt;&lt;ul type="circle"&gt;&lt;ul type="square"&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Diketik dengan komputer di atas kertas HVS        kuarto dengan jarak dua spasi. &lt;/span&gt;&lt;i&gt;Font&lt;/i&gt; Arial ukuran 12. &lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;Panjang naskah        antara 40-50 halaman. &lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Dijilid dan dikirim sebanyak dua rangkap,        disertai 1 (satu) CD berisi naskah. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Naskah dilampiri formulir asli, fotokopi        KTP, dan sinopsis cerita. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Pada amplop kiri atas ditulis: Sayembara        Mengarang Cerber &lt;i&gt;femina&lt;/i&gt; 2011. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;Naskah ditunggu        selambat-lambatnya 30 November 2011. &lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Pemenang akan diumumkan di &lt;i&gt;femina&lt;/i&gt;,        terbit akhir April 2012.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/ul&gt;(sumber: milis femina &amp;amp; friends)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Info lebih lengkap silakan klik &lt;a href="http://www.femina.co.id/event/event_detail.asp?id=287&amp;amp;views=5"&gt;di sini&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8327700263599763418-4512485606139907010?l=ruangkata-katavie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/feeds/4512485606139907010/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/2011/09/sayembara-cerpen-dan-cerber-femina.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8327700263599763418/posts/default/4512485606139907010'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8327700263599763418/posts/default/4512485606139907010'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/2011/09/sayembara-cerpen-dan-cerber-femina.html' title='Sayembara Cerpen dan Cerber Femina'/><author><name>Ruang Kata-kata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02073905970978168417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-BMpRpLILnS8/Tgiif45TyJI/AAAAAAAAAF4/wJFIcqlOhCM/s220/DSC01970.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8327700263599763418.post-8852641060303295046</id><published>2011-09-11T22:09:00.001+07:00</published><updated>2011-09-11T22:12:48.528+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Budaya dan Gaya Hidup'/><title type='text'>Gay, Penikahan, dan Pornografi</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Saya mencoba membuat ulasan tentang dua bacaan bertajuk &lt;b&gt;Between religion and desire: being Muslim and gay in Indonesia &lt;/b&gt;yang ditulis oleh Tom Boellstroff pada jurnal &lt;i&gt;American Anthropologist&lt;/i&gt;, Vol.107, No.4, Desember 2005; serta artikel &lt;b&gt;Wedding and Pornography: The Cultural Performance of Sex &amp;nbsp;&lt;/b&gt;yang ditulis oleh Elizabeth Bell dan dimuat dalam &lt;i&gt;Text and Performance Quartely&lt;/i&gt;, vol. 19 No.3, July 1999. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dalam esainya &lt;i&gt;Between religion and desire: being Muslim and gay in Indonesia&lt;/i&gt;, Boellstroff berargumen bahwa norma sosial yang dominan –norma agama Islam –membuat posisi gay muslim menjadi &lt;i&gt;ungrammatical&lt;/i&gt; (tidak berterima) di Indonesia. Hal itu terjadi, karena wacana seksualitas yang berterima dalam Islam adalah heteroseksualitas, seks (pernikahan) antara laki-laki dan perempuan. Sedangkan seks sesama jenis (homoseksual), bertolak belakang dan tidak dapat diterima. Penolakan terhadap homoseksual dilakukan oleh para pemuka agama yang mendoktrin bahwa homoseksual adalah penyakit sosial dan prilaku setan yang harus ditinggalkan. Tekanan yang didapat oleh golongan gay muslim, membuat mereka hidup dalam &lt;i&gt;“the silence of incommensurability”. &lt;/i&gt;Maka semakin tampak bahwa, Islam bukan hanya “&lt;i&gt;personal belief” &lt;/i&gt;yang mempengaruhi kita untuk mengerjakan rukun Islam dan rukun Iman, seperti sholat lima waktu dan berpuasa, melainkan &lt;i&gt;power&lt;/i&gt; yang mempengaruhi tidak hanya masyarakat tapi juga negara. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Peran negara dan agama menjadi penting karena berfungsi sebagai aparatus yang menjaga keberlangsungan sistem yang ada, yaitu warga negara yang baik dan muslim yang saleh harus menikah. Tak heran jika kemudian ada gay yang memilih menikah karena “kesadaran” akan kodrat mereka sebagai lelaki dan kebutuhan untuk melanjutkan hidup “secara normal”. Konsep pernikahan yang berterima ialah pernikahan heteroseksual yang membentuk &lt;i&gt;“heterosexual nuclear family”&lt;/i&gt;&amp;nbsp; dan merepresentasikan seks positif (“normal”), sedangkan kaum gay dianggap tidak normal dan melakukan apa yang disebut dengan seks negative.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-IWt3chmN9pg/TmzOUApCyaI/AAAAAAAAAII/uLp7B5kgB4Q/s1600/gay+marriage+just+married.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="237" src="http://3.bp.blogspot.com/-IWt3chmN9pg/TmzOUApCyaI/AAAAAAAAAII/uLp7B5kgB4Q/s320/gay+marriage+just+married.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Gambar dari &lt;a href="http://www.topnews.in/law/region/manipur?page=8&amp;amp;destination=taxonomy%2Fterm%2F478%3Fpage%3D1"&gt;sini&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Walau belum dapat menunjukan eksistensinya secara terbuka, para gay muslim membentuk komunitas – komunitas &lt;i&gt;underground&lt;/i&gt; dan melakukan pertemuan- pertemuan diberbagai acara keagamaan dan tradisi (semisal slametan). Menurut Boellstorff, &lt;i&gt;“yet gay life exist and are lived every day; what exist is a habitation, not a resolution, of incommensurability”&lt;/i&gt;, yang dapat dilakukan mereka hanyalah “berdamai“ dengan keadaan. Untuk mendeskripsikan keadaan gay muslim di Indonesia, Boellstroff melemparkan wacana &lt;i&gt;dubbing culture&lt;/i&gt;, karena menurutnya&amp;nbsp; kaum gay muslim hidup dengan cara yang unik. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Berbeda dengan Boellstroff yang memandang pernikahan sebagai bentuk negosiasi “ketaatan” terhadap agama, negara, dan masyarakat, Bell dalam &lt;i&gt;Wedding and Pornography: The Cultural Performance of Sex &lt;/i&gt;berargumen (upacara) pernikahan dan pornografi adalah sebuah pertunjukan budaya. Keduanya bukan budaya yang saling berlawanan melainkan berada pada sisi yang sama untuk saling melengkapi dan saling membutuhkan karena menggunakan &lt;i&gt;sex&lt;/i&gt; sebagai penyempurna. Sebagai sebuah pertunjukan, upacara pernikahan mempertontonkan momen disaat “kegiatan seks dilegalkan” lewat ritual keagamaan. Yang juga penting menurut Bell &lt;/span&gt;&lt;i&gt;“this essay positions both wedding dan pornography are made at the intersection of the church and the state through public performace”. &lt;/i&gt;Jika negara, pertunjukan dan gereja “membuat”(&lt;i&gt;making&lt;/i&gt;)&amp;nbsp; pernikahan dan sekaligus “mematahkan” (&lt;i&gt;breaking&lt;/i&gt;) konvensinya. Hal ini memperlihatkan struktur sexual normatif yang ada dibaliknya. &lt;span lang="FI"&gt;Maka pernikahan “dipalsukan”(&lt;i&gt;faking&lt;/i&gt;) –siklus yang sama juga terjadi untuk pornografi. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Lebih lanjut, pada bagian &lt;i&gt;The Rhetoric of&amp;nbsp; Performance in Pornography&lt;/i&gt;, Bell membagi setidaknya ada empat &lt;i&gt;performance&lt;/i&gt; terkait hal tersebut yaitu, 1) &lt;i&gt;doing real sex&lt;/i&gt;;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;2) &lt;i&gt;Sex workers are acting&lt;/i&gt;; &lt;i&gt;3) Real people watching sex, &lt;/i&gt;yang dibadi menjadi tiga &lt;i&gt;3a: watching real people acting badly, &lt;/i&gt;3b: &lt;i&gt;Watching real people not acting married, &lt;/i&gt;3c: &lt;i&gt;Watching real women who are really hated&lt;/i&gt;; 4) &lt;i&gt;There is no real, really&lt;/i&gt;&lt;b&gt;. &lt;/b&gt;&amp;nbsp;Akhirnya, pernikahan dalam kebudayaan kita dianggap sebagai &lt;i&gt;“proven innocent”&lt;/i&gt;, sedangkan pornografi sebagai &lt;i&gt;“worst possible expression”&lt;/i&gt;. Walau demikian, keduanya saling melengkapi dan saling membutuhkan karena keduanya menggunakan aktivitas seksual sebagai kontrol. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Catatan singkat untuk Boellstroff (2005) dan Bell (1999) &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Jika menurut Boellstroff pernikahan heteroseksual yang dilakukan oleh gay muslim merupakan bentuk ketaatannya terhadap agama dan negara atau bentuk negosiasi “berdamai dengan keadaan”, saya melihat pernikahan heteroseksual tersebut juga merupakan bentuk performativitas yang harus dilakukan untuk menunjukan bahwa Anda normal. Kebutuhan dianggap “normal” oleh masyarakat, membuat gay muslim menyembunyikan ke-gay-annya dengan membentuk &lt;i&gt;“heterosexual nuclear family”&lt;/i&gt; . &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sedangkan Bell, membongkar mengenai “kesucian” pernikahan dengan mengungkapkan bahwa (upacara) penikahan dan pornografi adalah pertunjukan&amp;nbsp;&amp;nbsp; budaya, dengan seks sebagai bahan utama. Inti dari disahkannya sebuah pernikahan adalah disahkannya hubungan seks antara laki-laki dan perempuan. Ketika Anda mengakatan “I do” hal itu berarti Anda bersiap untuk menyerahkan kehidupan seksual kepada pasangan Anda. Konsep penikahan heteroseksual ini dipatahkan (&lt;i&gt;breaking&lt;/i&gt;) oleh kaum gay dengan melakukan pernikahan sesama jenis &lt;i&gt;(same-sex marriage)&lt;/i&gt; yang dibolehkan di beberapa negara. Namun, beberapa gereja dan masyarakat tidak me-&lt;i&gt;label&lt;/i&gt;-kan kata &lt;i&gt;“wedding”&lt;/i&gt; sebagai wujud dari penikahan sesama jenis melainkan &lt;i&gt;“bonding ceremonies”, “celebrations of commitment, “blessings”&lt;/i&gt; dan “&lt;i&gt;union ceremonies&lt;/i&gt;”. Label yang berbeda tersebut menurut saya terkait dengan konsep “&lt;i&gt;wedding&lt;/i&gt;” yang heteroseksual, sehingga untuk menerima yang homoseksual perlu dibuat label lain agar tidak mengurangi bahkan mengubah ‘makna’ &lt;i&gt;wedding&lt;/i&gt;. Hal tersebut menunjukan bahwa homoseksualitas –di mana pun itu, tidak hanya di Indonesia atau negara muslim lainnya –belum dapat diterima sebagai hal yang normal, sama seperti heteroseksualitas. Sehingga kaum gay, di mana pun mereka berada akan menjadi &lt;i&gt;the other&lt;/i&gt; yang diperlakukan berbeda, dikucilkan, dan dianggap abnormal. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8327700263599763418-8852641060303295046?l=ruangkata-katavie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/feeds/8852641060303295046/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/2011/09/gay-wedding-and-pornography.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8327700263599763418/posts/default/8852641060303295046'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8327700263599763418/posts/default/8852641060303295046'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/2011/09/gay-wedding-and-pornography.html' title='Gay, Penikahan, dan Pornografi'/><author><name>Ruang Kata-kata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02073905970978168417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-BMpRpLILnS8/Tgiif45TyJI/AAAAAAAAAF4/wJFIcqlOhCM/s220/DSC01970.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-IWt3chmN9pg/TmzOUApCyaI/AAAAAAAAAII/uLp7B5kgB4Q/s72-c/gay+marriage+just+married.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8327700263599763418.post-5144371483985238105</id><published>2011-09-11T11:52:00.001+07:00</published><updated>2011-09-11T11:53:23.138+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Berbagi Informasi'/><title type='text'>Lomba Blog Kebahasaan dan Kesusastraan Tingkat Nasional 2011</title><content type='html'>&lt;h6 style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;span class="messagebody" style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-weight: normal;"&gt;Buat kamu yang punya blog, ada baiknya coba mengikuti "Lomba Blog Kebahasaan dan Kesusastraan Tingkat Nasional 2011" yang diselenggarakan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementrian Pendidikan Nasional. Lomba Blog ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan dalam memperingati Bulan Bahasa 2011.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="font-size: small; font-weight: normal;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/h6&gt;&lt;h6 style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-size: small; font-weight: normal;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/h6&gt;&lt;h6 style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-size: small; font-weight: normal;"&gt;Syarat mengikuti lomba: &lt;/span&gt;&lt;/h6&gt;&lt;h6 style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-size: small; font-weight: normal;"&gt;Melakukan pendaftaran dengan melengkapi identitas pemilik blog dan data-data yang lain dikirimkan melalui pos-el lombablog2011@gmail.com:&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="font-size: small; font-weight: normal;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h6&gt;&lt;h6 style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-size: small; font-weight: normal;"&gt;- Nama lengkap&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/h6&gt;&lt;h6 style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-size: small; font-weight: normal;"&gt;- Tautan Blog&lt;/span&gt;&lt;/h6&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-size: small;"&gt;- Alamat Pos-el yang aktif&lt;br /&gt;- Nomer Ponsel yang aktif&lt;br /&gt;&lt;span class="textexposedshow"&gt;- Tanggal Lahir/usia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="textexposedshow"&gt;- Alamat/kota tempat tinggal saat ini&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;span class="textexposedshow"&gt;- Pekerjaan&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;span class="textexposedshow"&gt;- Satu paragraf pendek, mengenai mengapa Anda mengikuti lomba kompetisi blog ini dan bagaimana tanggapan Anda mengenai masalah Kebahasaan dan Kesastraan di Indonesia pada saat ini.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-size: small;"&gt;&lt;span class="textexposedshow"&gt;Info lebih lengkap silakan clik &lt;a href="http://www.facebook.com/#%21/pages/Lomba-Blog-Kebahasaan-dan-Kesastraan-2011-Badan-Bahasa/147792295297781"&gt;di sini&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8327700263599763418-5144371483985238105?l=ruangkata-katavie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/feeds/5144371483985238105/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/2011/09/lomba-blog-kebahasaan-dan-kesusastraan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8327700263599763418/posts/default/5144371483985238105'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8327700263599763418/posts/default/5144371483985238105'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/2011/09/lomba-blog-kebahasaan-dan-kesusastraan.html' title='Lomba Blog Kebahasaan dan Kesusastraan Tingkat Nasional 2011'/><author><name>Ruang Kata-kata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02073905970978168417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-BMpRpLILnS8/Tgiif45TyJI/AAAAAAAAAF4/wJFIcqlOhCM/s220/DSC01970.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8327700263599763418.post-1700707296721478354</id><published>2011-09-09T15:34:00.000+07:00</published><updated>2011-09-09T15:34:37.464+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Berbagi Informasi'/><title type='text'>Ayo Nonton Teater</title><content type='html'>&lt;div class="mbl notesBlogText clearfix"&gt;&lt;div&gt;Tulisan ini saya salin dari catatan facebook, teman saya Maria Sahida pada 8 September 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teater Realis memiliki  kejayaannya di Indonesia, itu kala perjuangan kemerdekaan. Teater Realis  merupakan strategi kebudayaan perjuangan untuk terus menggelorakan  semangat kemerdekaan nasional. Teater Realis, bukanlah mudah. Di saat  teater manis, kritik humoris merupakan gen teater yang digandrungi pasar  sebagai yang utama, animo untuk teater realis masih menjadi pertanyaan.  Kita akan melihatnya nanti pada pertunjukan teater realis Rumah Boneka,  30 November – 4 Desember 2011 di Gedung Kesenian Jakarta :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah  Boneka, merupakan&amp;nbsp; adaptasi dari Doll’s House, yang ditulis oleh Henrik  Ibsen asal Norwegia. Diadaptasi oleh Faiza Mardzoeki, Rumah Boneka akan  dimainkan oleh sederet nama yang telah lulus audisi kualifikasi. Maya  Hasan, Ayu Diah Pasha, Ayez Kassar, Teuku Rifnu Wikana, Willem Bevers  dan Pipien Putri. Persiapan pementasan, naskah yang disutradarai oleh  Wawan Sofwan ini menjalani disiplin latihan yang intens. Di Galeri  Nasional mereka berlatih, naskah yang utuh, latihan rutin yang disiplin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah  Boneka sendiri bercerita banyak tentang relasi. Pasangan suami istri,  relasi menantu dan mertua, interaksi dengan pekerja rumah tangga, dan  anak tentunya. Tokoh utama dalam cerita ini adalah Nora, seorang  perempuan, ibu rumah tangga. &lt;em&gt;Konon,&lt;/em&gt; Doll’s House oleh sebagian kalangan dianggap sebagai drama feminis pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Adaptasi ini sukses dengan situasi kekinian pasangan rumah tangga metropolitan. Kelas menengah terdidik di Jakarta. Perkawinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkawinan,  sejak dulu hingga saat ini merupakan salah satu tema besar perjuangan  perempuan. Ada masa kita, perempuan Indonesia, berada dalam relasi yang  sangat timpang di dalam rumah tangga. Terhadap bapak, terhadap suami,  maupun terhadap lingkungannya. Perempuan hari ini, harus menghormati  mereka para pejuang, yang hasil perjuangannya kita nikmati sekarang.  Deretan nama dalam sejarah panjang perempuan Indonesia, mulai Kartini  hingga SK. Trimurti. Tanpa&amp;nbsp; mereka, apalah arti kita sekarang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Payung  hukum perkawinan di Indonesia diatur dalam UU No I 1974 tentang  Perkawinan. Dimana tegas dijelaskan bahwa dasar perkawinan itu adalah  ikatan lahir batin antara lelaki dan perempuan sebagai suami istri untuk  membentuk keluarga yang bahagia. Perkawinan sah jika dilakukan menurut  hukum masing-masing agama. Menjadi catatan, bahagia itu tidak bernilai  sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti apa berumahtangga? Simak Rumah Boneka.  Sebagai kerja seniman lintas daerah, tentunya ini menyegarkan. Komposisi  musik &amp;nbsp;digarap oleh Marcello Pelliterri, seorang musisi jazz kenamaan  dari New York, professor di Berklee Music College.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai bertemu di pementasan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Info lebih lanjut silakan klik &lt;a href="http://pentasindonesia.com/?pages=project&amp;amp;id_project=12&amp;amp;p=1"&gt;di sini&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8327700263599763418-1700707296721478354?l=ruangkata-katavie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/feeds/1700707296721478354/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/2011/09/ayo-nonton-teater.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8327700263599763418/posts/default/1700707296721478354'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8327700263599763418/posts/default/1700707296721478354'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/2011/09/ayo-nonton-teater.html' title='Ayo Nonton Teater'/><author><name>Ruang Kata-kata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02073905970978168417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-BMpRpLILnS8/Tgiif45TyJI/AAAAAAAAAF4/wJFIcqlOhCM/s220/DSC01970.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8327700263599763418.post-960743996508637106</id><published>2011-09-09T10:34:00.005+07:00</published><updated>2011-09-09T10:41:55.902+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Mengenal Berbagai Teori dan Pendekatan Sastra'/><title type='text'>Ulasan Singkat Teori Abrams: Objektif, Mimetik, Pragmatik, Ekspresif</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Berbicara tentang teori sastra, salah satu tokoh yang sangat berpengaruh adalah M.H. Abrams. Dalam artikelnya yang berjudul &lt;i&gt;Orientation of Critical Theory&lt;/i&gt;&amp;nbsp; Abrams mencoba menawarkan satu kerangka berpikir untuk memahami proses penciptaan satu karya. Kerangka tersebut terdiri dari artis/seniman, karya, semesta, dan penikmat seni/audience. Untuk memudahkan analisis tersebut Abrams mengacak keempat elemen tersebut ke pola segitiga di mana karya seni berada di tengah sebagai hal/objek yang akan dijelaskan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Universe&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Work&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Artis &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Audience&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Menurut Abrams keempat kordinat ini tidak selalu tetap, melainkan berubah, keempat-empatnya sangat penting tergantung dari apa yang kemudian ingin diteliti. Abrams mengambil contoh, ketika berbicara mengenai alam semesta, maka salah satu teori yang kerap digunakan adalah imitasi yang diperkenalkan oleh Plato. Lebih lanjut, Abrams mencoba&amp;nbsp; melihat teori apa saja yang berkembang pada masa romantik khususnya meneliti puisi di Inggris pada abad ke-19.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Teori Mimetik &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Secara esensial, teori mimetik melihat bahwa karya seni adalah imitasi dari alam semesta. &lt;/span&gt;&lt;i&gt;“The Mimetic Orientation- the explanation of art as essentially an imitation of aspects of the universe”&lt;/i&gt;. &lt;span lang="SV"&gt;Teori ini bersumber dari pikiran Plato dan Aristoteles. Menurut Abrams teori ini merupakan teori yang paling primitif.&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Teori Pragmatik &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Pendekatan Pragmatik menurut Abrams menekankan pada tujuan seniman dan karakter karya yang sifat dasarnya untuk memenuhi kebutuhan dan kesenangan penikmatnya (audience). &lt;/span&gt;&lt;i&gt;“The Pragmatic orientation, &lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;ordering the aim of the artist and the character of the work to the nature, the need, and the springs of pleasure in the audience”,&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="color: black;"&gt; &lt;/span&gt;karena karakteristik tersebut, pendekatan pragmatik tersebar luas sampai dengan abad delapan belas.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Teori Ekspresif&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Menurut Abrams hampir semua aliran romantik di Inggris, mengungkapkan definisi yang menunjukan persamaan atau kesajajaran antara karya dan penyair. Puisi adalah luapan, ungkapan, atau sorotan dari pikiran dan perasaan penyair. Puisi merupakan proses imajinasi yang diubah dan dikumpulkan dari gambaran, pikiran dan perasaan penyair.&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Dengan kata lain, menurut Abrams di dalam teori ekspresif seniman menjadikan dirinya sendiri sebagai element terpenting. &lt;/span&gt;&lt;i&gt;“This way of thinking, in which the artist himself become the major element generating both the artistic product and the criteria by whic it is to be judge, I shall call the expressive theory of art”.&lt;/i&gt; &lt;span lang="SV"&gt;Pada zaman romantik, pendekatan ekspresif merupakan pendekatan yang dominan dilakukan untuk menganalisis satu karya.&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Teori Objektif &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Pendekatan objektif pada prinsipnya memandang karya seni terpisah dari segala sesuatu yang berada di luar karya tersebut. Seni adalah karya seni itu sendiri, lepas dari segala faktor eksternal yang ada. Dalam melakukan analisis dengan sendirinya cukup dengan sesuatu yang sudah ada di dalam karya.&lt;/span&gt;&lt;i&gt;“the objective orientation, ’which on principle regard the work of art in isolation from all these external points of reference, analyze it as a self-sufficient entity constituted by its parts in their internal relation, and sets out to judge it solely by criteria intrinsic to its own mode of being”&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Pendekatan Objektif yang muncul pada akhir abad ke 18 dan awal abad ke-19,menjadi salah satu pendekatan yang diperhitungkan selama hampir 3 dekade.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;Novi Diah Haryanti&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8327700263599763418-960743996508637106?l=ruangkata-katavie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/feeds/960743996508637106/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/2011/09/empat-teori-abrams-objektif-mimetik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8327700263599763418/posts/default/960743996508637106'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8327700263599763418/posts/default/960743996508637106'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/2011/09/empat-teori-abrams-objektif-mimetik.html' title='Ulasan Singkat Teori Abrams: Objektif, Mimetik, Pragmatik, Ekspresif'/><author><name>Ruang Kata-kata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02073905970978168417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-BMpRpLILnS8/Tgiif45TyJI/AAAAAAAAAF4/wJFIcqlOhCM/s220/DSC01970.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8327700263599763418.post-5830720350956485916</id><published>2011-09-07T00:42:00.002+07:00</published><updated>2011-09-09T10:44:15.876+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Mengenal Berbagai Teori dan Pendekatan Sastra'/><title type='text'>MITOS-SEMIOTIKA (Barthes)</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Barthes (1915-1980) merupakan pelopor semiotik yang mengembangkan strukturalisme pada semiotik teks. Salah satu teorinya yang terkenal ialah mitos yang sering dipertukarkan dengan pengertian mitos yang telah lama dikenal di Indonesia, yaitu cerita yang menampilkan makhluk suci dalam bentuk yang konkret dan dipercayai kebenarannya oleh masyarakat tertentu. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Bagi Barthes, mitos adalah sistem komunikasi karena mitos menyampaikan pesan, suatu bentuk, dan bukan suatu objek atau suatu konsep. Mitos juga merupakan bentuk tuturan, karena itu semua dapat dianggap mitos, asal ditampilkan dalam bentuk wacana. Mitos tidak ditentukan oleh materinya, melainkan oleh pesan yang disampaikan. Mitos tidak selalu bersifat verbal (kata-kata, baik lisan ataupun tulisan), tetapi dalam berbagai bentuk lain atau campuran antara bentuk verbal dan nonverbal, seperti dalam bentuk film, lukisan, patung, fotografi, iklan, bahkan komik.&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Barthes memperluas teori tentang tanda yang diusung oleh Saussure. Oleh Barthes, pemaknaan terjadi dalam dua tahap. Tanda (penanda dan petanda) pada tahap pertama menyatu sehingga dapat membentuk penanda pada tahap ke dua. Kemudian pada tahap berikutnya membentuk penanda dan petanda yang telah menyatu ini dapat membentuk petanda baru yang merupakan perluasan makna. Makna tahap pertama disebut denotasi, sedangkan makna tahap kedua disebut konotasi. Walau denotasi dan konotasi bukan istilah baru, Barthes memperlihatkan proses terjadinya kedua istilah tersebut, sehingga menjadi jelas dari mana datangnya perluasan makna.&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Mitos adalah suatu nilai, tidak memerlukan kebenaran sebagai sanksinya. Tak ada yang tetap dalam mitos: konsep ini dapat berubah, dapat dibuat kembali, terurai atau sama sekali hilang. Sehingga tidak ada hubungan yang teratur antara volume konsep dan besar penandanya. Konsep dapat meluas melalui penanda yang besar dan panjang, sebaliknya bentuk yang sangat kecildapat menjadi penada dari konsep yang sangat berkebang. Pada mitos berbahasa verbal (lisan ataupun tulisan), hubungan antarunsur bersifat linear, sedangkan pada mitos visual, hubungan itu bersifat multimensional.&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Mitos adalah suatu tuturan yang lebih ditentukan oleh maksudnya dari pada bentuknya. Dengan kata lain, mitos adalah “une parole volee et rendue” (suatu tuturan yang telah dicuri, kemudian dikembalikan). Hanya saja ketika dikembalikan tuturan itu tidak sama lagi, tidak seperti ketika dicuri. Pencurian sesaat inilah yang membentuk tuturan mistis tersebut.&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kita tahu bahasa bersifat arbitrer. Tak ada yang menghubungkan imaji bunyi dengan konsepnya. Namun, sifat arbitrer ini ada batasnya. Sementera itu, signifikansi dalam mitos tidak bersifat arbitrer, selalu ada bagian yang mengandung motivasi yang biasanya dikemukakan berkat analogi. Sehingga mitos selalu menampilkan analogi bentuk atau makna.&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Mitos tidak menyembunyikan sesuatu, juga tidak menonjolkannya. Mitos adalah deformasi, suatu pembelokan makna. Dengan menggunakan sistem semiologis pemaknaan dua tahap ini, mitos akan mengubah pengalaman menjadi sesuatu yang alamiah. Dengan demikian, kini dapat dipahami mengapa di mata konsumen mitos, maksud konsep dapat terungkap tanpa tampak mempunyai maksud tertentu. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Si pembuat mitos adalah orang yang ingin menyebarkan ideologi, si ahli mitos adalah yang menganalisis mitos, dan yang terakhir, si pembaca mitos (dalam hal ini adalah pemirsa mitos) adalah orang yang menerima ideologi yang disebarkan oleh pembuat mitos. Dapat ditambahkan bahwa ada kemungkinan penyebaran ideologi itu berhasil dan ada kemungkinan juga gagal. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Dengan mempelajari mitos-mitos yang berkembang di suatu masyarakat kita dapat mengetahui bagaimana ideologi-ideologi ditanamkan. Ideologi itu, akan ditampilkan dalam satu bentuk ungkapan budaya, baik dalam bahasa verbal mapun cara berkomunikasi lainnya seperti lukisan, iklan, komik, dan film. Dengan kata lain, lewat teori mitosnya, Barthes membantu kita untuk menemukan ideologi-ideologi tersembunyi itu. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Novi Diah Haryanti&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Bibliografi&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Zaimar, Okke Kusuma Sumantri. 2008. Semiotik dan Penerapannya Dalam Karya Sastra. Jakarta: Pusat Bahasa &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;_____. 2001. “Ideologi dalam Pariwara Televisi” dalam Ida Sundari Husen dan &amp;nbsp;Rahayu Hidayat (penyunting) &lt;i&gt;Merentas Ranah, Bahasa,Semiotika, dan &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Budaya&lt;/i&gt;. Yogyakarta: Bentang&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8327700263599763418-5830720350956485916?l=ruangkata-katavie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/feeds/5830720350956485916/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/2011/09/mitos-barthes.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8327700263599763418/posts/default/5830720350956485916'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8327700263599763418/posts/default/5830720350956485916'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/2011/09/mitos-barthes.html' title='MITOS-SEMIOTIKA (Barthes)'/><author><name>Ruang Kata-kata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02073905970978168417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-BMpRpLILnS8/Tgiif45TyJI/AAAAAAAAAF4/wJFIcqlOhCM/s220/DSC01970.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8327700263599763418.post-3405690381527439558</id><published>2011-08-26T12:45:00.000+07:00</published><updated>2011-08-26T12:45:40.041+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Kritik Sastra'/><title type='text'>Nilai-nilai Keislaman dalam Karya Sastra Forum Lingkar Pena (FLP Bag.3)</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt; /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable	{mso-style-name:"Table Normal";	mso-tstyle-rowband-size:0;	mso-tstyle-colband-size:0;	mso-style-noshow:yes;	mso-style-parent:"";	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;	mso-para-margin:0cm;	mso-para-margin-bottom:.0001pt;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:10.0pt;	font-family:"Times New Roman";	mso-ansi-language:#0400;	mso-fareast-language:#0400;	mso-bidi-language:#0400;}&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Sebagai organisasi yang berazaskan Islam, FLP menekankan kegiatan menulis sebagai bagian dakwah dan pencerahan kepada anggotanya. Dakwah berasal dari bahasa Arab dakwah dan kata &lt;i&gt;dâ’a, yad’u&lt;/i&gt; yang berarti panggilan, ajakan, seruan (Aziz, 2004: 2). Berdasarkan etimologi tersebut, Aziz, mengungkapkan setidaknya ada tiga pengertian dakwah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;1) Proses penyampaian agama islam dari seseorang kepada &lt;span&gt; &lt;/span&gt;orang lain, 2) penyampaian ajaran Islam tersebut dapat berupa &lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;amr ma’ruf (ajaran kepada kebaikan) dan nahi mun’kar &lt;span&gt;&lt;/span&gt;(mencegah kemungkran), 3) usaha &lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;tersebut dilakukan secara &lt;span&gt;&lt;/span&gt;sadar dengan tujuan terbentuknya suatu individu atau masyatrakat &lt;span&gt;&lt;/span&gt;yang taat dan mengamalkan sepenuhnya ajaran Islam.&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;(2004: 10)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Berdakwah adalah kewajiban seluruh umat muslim dan bersifat universal itulah mengapa tugas dakwah tidak hanya dibebankan kepada ulama atau cendikiawan muslim. Ada tiga metode yang dapat dilakukan untuk dakwah. Pertama, dakwah &lt;i&gt;Qoliyah&lt;/i&gt; berbentuk ucapan seperti, ceramah, diskus, tanya jawab. Kedua, dakwah &lt;i&gt;Kitabiyah&lt;/i&gt;, yaitu penyampaian dakwah melalui tulisan seperti, melalui media masa, buku-buku, kitab agama, gambar, lukisan. Ketiga, dakwah &lt;i&gt;alamiyah&lt;/i&gt;, penyampaian dakwah dengan tidak menggunakan kata-kata lisan maupun tulisan tetapi dengan tindakan nyata (2004: 155-156). Sifat universalitas dakwah itu yang ditangkap oleh FLP dan diterapkan dalam karya-karyanya.&lt;i&gt; &lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Salah satu dasar pemikiran dakwah adalah hadis, “&lt;i&gt;ballighu annii walau ayatan&lt;/i&gt;”, artinya sampaikanlah apa yang kalian dapat dari aku (Muhammad) walau cuma satu ayat (Budiwanti, 2000: 6). Dengan metode penyampaian dakwah lewat tulisan (&lt;i&gt;kitabiyah&lt;/i&gt;), para anggota FLP menulis karya-karya Islami yang melahirkan tren sastra islami di tahun 2000-an.&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Karya-karya yang digolongkan zaman Islam adalah karya-karya yang secara jelas memperlihatkan pengaruh atau alam pemikiran Islam. Karya-karya tersebut dibagi menjadi dua: pertama adalah karya yang bersifat sufistik yang ditulis para ulama yang mendalami pengetahuan tentang Islam dan mempunyai kencenderungan terhadap sufisme. Kedua adalah karya yang memperlihatkan pengaruh sastra Islam baik dari bahasa Arab maupun Persia atau karya ciptaan baru yang memperlihatkan pengaruh agama/peradaban Islam terhadap penulisnya (Rosidi, 1995:337-338). &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dengan menekankan pada diri sastrawan sebagai pencipta karya sastra, Hasjmy mengungkapkan ciri khas sastrawan muslim sebagai berikut. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 36.85pt 0.0001pt 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;1) hati dan jiwannya penuh dengan keimanan, 2) kerjannya senantiasa beramal salih, berbuat bakti,3) pancaran iman menjelma dalam amal perbuatannya, 4) mereka selalu mengenang Allah, sehingga berujud dalam karya-karyanya (1977: 62-63)&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;. &lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Untuk melihat nilai keislaman dalam karya-karya Forum Lingkar Pena, saya akan memfokuskan pada satu novel berjudul &lt;i&gt;Diselubung Malam&lt;/i&gt; karangan Novia Syahidah (selanjutnya disebut Via). Novel tersebut saya pilih karena &lt;/span&gt;&lt;span&gt;dua alasan, pertama, Novia Syahidah adalah salah satu penulis FLP Jakarta yang menulis empat artikel dalam &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Materi Kelompok Pramuda Forum Lingkar Pena JAKARTA Jakarta&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt;, yaitu &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Cerpen&lt;/span&gt;&lt;span&gt;, &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tenik Penokohan&lt;/span&gt;&lt;span&gt;, &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Latar dan Pelataran, serta Penyusunan Konflik&lt;/span&gt;&lt;span&gt;. Sehingga, saya berasumsi anggota pramuda tidak hanya belajar teknik menulis dari artikel yang ditulisanya di modul, tapi juga mempelajarinya secara langsung dari karya-karya yang dibuatnya. &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kedua, novel tersebut &lt;/span&gt;&lt;span&gt;mendapat &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;penghargaan &lt;/span&gt;&lt;span&gt;dari &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Forum Lingkar Pena sebagai Novel Remaja Terpuji 2005. Penghargaan tersebut memperlihatkan novel &lt;i&gt;Di Selubung Malam &lt;/i&gt;merupakan salah satu novel terbaik yang dimiliki FLP Jakarta. &lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Novi Syahidah lahir di Payakumbuh, 7 Desember 1973. Ia menekuni dunia tulis menulis sejak bergabung dengan FLP Jakarta pada 2002. Buku pertamanya &lt;i&gt;Putri Kejawen&lt;/i&gt; (Pustaka Annida, 2003), pernah dimuat sebagai cerita bersambung di majalah &lt;i&gt;Annida&lt;/i&gt;. Selanjutnya, ia menulis novel &lt;i&gt;Titip Rindu Buat Ibu&lt;/i&gt; (DAR! Mizan, 2003) yang berlatar Minangkabau, 1927. Tak hanya menulis novel, ia juga menulis kumpulan cerpen yang memuat latar tempat dan budaya yang beragam seperti NTB, Lampung, Thailand, Somalia, Vietnam, dan Tibet berjudul &lt;i&gt;Gadis Lembah Tsang Po&lt;/i&gt; (Asy-Syaamil, 2003). Cerpen pertamanya &lt;i&gt;Pasanga Ri Kajang&lt;/i&gt; menjadi nominator Kategori Sastra dalam Lomba Cipta Cerpen Islami FLP Tingkat Nasional. Beberapa buku Antologi cerpen memuat karyanya, seperti &lt;i&gt;Dari Negeri Asing&lt;/i&gt; (Asy-Syaamil, 2002), &lt;i&gt;Bulan Kertas&lt;/i&gt; (FBA Press, 2003), &lt;i&gt;20 Tahun Cinta dan Mengetuk Cintamu&lt;/i&gt; (Senayan Abadi, 2003), serta &lt;i&gt;From Batavia With Love&lt;/i&gt; (Asy-Syaamil, 2003). &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;i&gt;D Selubung Malam&lt;/i&gt; (DAR! Mizan, 2004) adalah karya Novia Syahidah yang mengupas mengenai suku Sasak di Lombok. Sistem kelas dalam tingkatan gelar kebangsawanan yang diterapkan masyarakat Lombok, membuat pernikahan menjadi hal yang tidak mudah bagi kaum perempuan. Hal itu yang terjadi pada tokoh Saqnah, seorang keturunan bangsawan Sasak di Bayan Timur yang jatuh cinta pada Gerantang yang gelar bagsawanannya lebih rendah. &lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Penikahan yang dilakukan Saqnah dengan Gerantang membuat Saqnah terbuang dari keluarga besarnya. Watak Gerangtang yang mulanya baik, berubah menjadi buruk karena pengaruh judi. Cintanya pada Saqnah, terkikis dengan hutang yang menumpuk pada seorang rentenir, Muhanar. Kekalahan terus menerus dalam berjudi membuat Gerantang tak sanggup membayar hutangnya. Maka, Muhanar pun meminta Saqnah sebagai penebus hutang. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Sikap pengecut Gerantang itulah yang memicu konflik. Perkosaaan yang dilakukan Munahar pada Saqnah dan nyaris saja terjadi pada Mandalika –anak perempuan Saqnah –menimbulkan kebencian pada sosok ayah (Gerantang) dalam diri Mandalika. Beruntung Jamanik yang sudah menaruh hati pada Mandalika, menyelamatnya. Sebagai tokoh yang pencerahan, Jamanik lepas kontrol melihat gadis yang dicintainya hampir menjadi korban perkosaan bapaknya. Sehingga, tanpa sadar Jamanik membunuh Munahar dan menghabiskan waktu dipenjara. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Rasa dendam Mandalika dan sang kakak Jagat Wira, membuat kakak-beradik ini mencari Gerantang untuk membalaskan dendamnya. Belum juga sempat ia membunuh ayahnya, Jagat Wira menemukan kondisi Gerantang di Sumbawa sangat mengenaskan. Bandannya kurus kering, kakinya pincang, matanya buta sebelah. Cacat yang dialami Gerantang membuat Jagat Wira kesal dan marah. Namun, hal tersebut membuka hatinya bahwa Tuhan telah menghukum sang ayah dengan caranya sendiri, hingga ia tak perlu mengotori tangannya. Sedangkan, Mandalika yang sebelumnya dipenuhi dendam berubah setelah mendekatkan diri dan menyerahkan semuannya pada Tuhan. Sebagai media dakwah, novel ini ditutup dengan perubahan watak para tokohnya menjadi lebih baik karena kedekatannya dengan agama.&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Sebagai karya Islami, &lt;i&gt;Di Selubung Malam&lt;/i&gt; memperlihatkan pengaruh peradaban Islam terhadap penulisnya. Pengaruh tersebut terlihat dari syariat Islam yang terdapat dalam novel. Syariat Islam merupakan ketetapan Allah SWT tentang ketentuan hukum dasar yang bersifat global dan kekal, sehingga tidak mungkin dirombak oleh siapapun. Hamid mengungkapkan secara garis besar, syariat Islam mencakup tiga hal. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 36.85pt 0.0001pt 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;1) Petunjuk dan bimbingan untuk mengenal Allah SWT dan alam gaib yang tak terjangkau oleh indera manusia (&lt;i&gt;Ahkam syar’iyyah I’tiqodiyyah&lt;/i&gt;) yang menjadi pokok bahasan ilmu tauhid; 2) Petunjuk untuk mengembangkan potensi kebaikan yang ada dalam diri manusia agar menjadi mahluk terhormat yang sesuangguhnya (&lt;i&gt;Ahkam Syar’iyyah khuluqiyyah&lt;/i&gt;) yang menjadi bidang bahasan ilmu tasawuf (ahlak); 3) Ketentuan-ketentuan yang mengatur tata cara beribadah kepada Allah SWT atau hubungan manusia dengan Allah (vertikal), serta ketentuan yang mengatur pergaulan/hubungan antara manusia dengan sesamanya dan dengan lingkungannya. (2007: 22-23)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Berdasarkan tiga cakupan syariat tersebut, dalam penelitian ini saya akan mengupas mengenai ketentuan-ketentuan yang mengatur tata cara beribadah kepada Tuhan, hubungan antara manusia dengan sesamanya dan lingkungannya. Syariat tersebut, ditampilkan Syahidah lewat karakteristik tokoh-tokoh pencerahan yaitu Jamanik, Biyu, Pipit. Adapula tokoh-tokoh yang bertansformasi menjadi pribadi yang lebih baik setelah mendalami agama seperti Mandalika, Jagat Wira, dan Darmaji. &lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Novel &lt;i&gt;Di Selubung Malam&lt;/i&gt; dimulai dengan kompleksitas status sosial masyarakat Sasak, di Lombok. Saqnah berasal dari &lt;i&gt;kampu&lt;/i&gt; Bayan Timur, yang merupakan &lt;i&gt;kampu&lt;/i&gt; paling dihormati di seluruh daerah Bayan. Sebagai anak perempuan dari bangsawan Bayan Timur, Saqnah dan keluarga besarnya, menganut agama Islam &lt;i&gt;Wetu Telu&lt;/i&gt;, yang tidak memperlihatkan suatu batasan yang jelas antara adat dan agama. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Setelah menikahi laki-laki yang gelar bangsawannya lebih rendah, Saqnah meninggalkan kampu Bayan Timur dan tinggal di Meninting. Kehidupan Saqnah pun berubah. Tidak hanya perubahan rumah tangga yang menjadi tidak harmonis karena suaminya menjadi seorang penjudi, tapi kehidupan beragam Saqnah pun perubahan. Setelah meninggalkan kampu Bayan Timur Saqnah mulai mulai melepaskan agama &lt;i&gt;Wetu Telu&lt;/i&gt; yang dianutnya. Hal tersebut terlihat dari kutipan &lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;perbincangan antara Saqnah dan Mandalika berikut.&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 36.85pt 0.0001pt 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;“Kenapa kita tidak kembali saja ke Bayan, &lt;i&gt;Inaq&lt;/i&gt;? Mungkin di sana kita bisa hidup lebih tenang,” ujar &lt;i&gt;Baiq&lt;/i&gt; Mandalika sambil menatap wajah ibunya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 36.85pt 0.0001pt 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;“Belum tentu di sana kita bisa akan hidup lebih baik, Nak”&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 36.85pt 0.0001pt 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;i&gt;Baiq&lt;/i&gt; Mandalika terdiam. Ia tahu bahwa cara hidup leluhurnya di Bayan sana, yang menganut keyakinan &lt;i&gt;Wetu Telu&lt;/i&gt;, memang berbeda dengan cara hidup orang Sasak pada umumnya. (54-55)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Masyarakat Sasak yang tinggal di Bayan, Barat Laut Lombok, dikenal sebagai penganut Islam &lt;i&gt;Wetu Telu&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;Waktu Lima&lt;/i&gt; yang saling berlawanan. Menurut &lt;/span&gt;&lt;span&gt;Budiwanti&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt; (2000: 247), komunitas &lt;i&gt;Wetu Telu&lt;/i&gt; di Bayan terdiri dari bangsawan (&lt;i&gt;perwangsa&lt;/i&gt;) dan orang biasa (&lt;i&gt;jajarkarang&lt;/i&gt;). Bangsawan Bayan Timur mengklaim bahwa garis silsilah mereka lebih tua dan karenanya status kebangsawanan mereka lebih tinggi dari status kebangsawanan keluarga manapun. Untuk menjaga kemurnian garis keturunan dan mempertahankan status serta privilese, kaum bangsawan mencegah saudara dan anak perempuan mereka agar tidak kawin dengan pria dari tingkatan yang lebih rendah. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Adat perkawinan di Bayan yang memberikan tekanan lebih berat bagi para wanita bangsawan ketimbang kaum laki-lakinya, menurut Budiwanti (2000: 261), mengakibatkan sejumlah wanita tidak kawin (&lt;i&gt;dedare&lt;/i&gt;). Pada akhirnya, &lt;i&gt;dedare lokaq/toaq&lt;/i&gt; ini tinggal dengan orang tua atau saudara laki-laki mereka sebagai bagian dari anggota keluarga besar (&lt;i&gt;extended family&lt;/i&gt;). &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Syahidah menggambarkan nasib &lt;i&gt;dedare toaq &lt;/i&gt;lewat tokoh &lt;i&gt;Denda&lt;/i&gt; Apti yang terlihat dari kutipan berikut. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 36.85pt 0.0001pt 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;“Kau harus sadar, Apti. Meskipun sampai saat ini belum ada seorang pemuda bangsawan yang melamarmu, kehoramatanmu sebagai seorang pewangsa tetap terjaga. Berbanggalah karena kau tetap bebas mendiami kampu ini sampai kapanpun”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 36.85pt 0.0001pt 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Denda Apti menunduk. Hatinya jeri. Adakah kehormatan bagi seorang gadis yang tetap melajang sampai melewati batas usia? Menjadi &lt;i&gt;dedare toaq&lt;/i&gt; yang akan dipandang sebelah mata oleh orang sekampung. (Syahidah, 2004: 61) &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 36.85pt 0.0001pt 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-right: 0.85pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Perubahan kenyakinan tokoh Saqnah dari Islam &lt;i&gt;Wetu Telu&lt;/i&gt; ke Islam &lt;i&gt;Waktu Lima&lt;/i&gt; dilakukan Syahidah untuk mempermudah proses dakwah dalam karyanya. Dengan memilih &lt;i&gt;Waktu Lima&lt;/i&gt; yang ajarannya sesuai dengan syariat Islam, Syahidah memperlihatkan kecendrungan umum pengislaman masyakat Sasak Asli (&lt;i&gt;indigenous)&lt;/i&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;yang menjadi sasaran kegiatan –kegiatan dakwah &lt;i&gt;Waktu Lima&lt;/i&gt;.&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-right: 0.85pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kemenangan &lt;i&gt;Waktu Lima&lt;/i&gt; juga ditampilkan Syahidah lewat para tokoh yang mencoba melawan adat istiadat yang dibuat oleh bangsawan Sasak yang kebanyakan masih menganut &lt;i&gt;Wetu Telu&lt;/i&gt;. Hal tersebut terlihat sosok &lt;i&gt;Denda&lt;/i&gt; Apti yang selama empat puluh lima tahun patuh pada adat leluhur, mencoba lepas dari adat dengan meninggalkan &lt;i&gt;kampu&lt;/i&gt; Bayan mencari Saqnah. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-right: 0.85pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sebagai novel yang bertujuan memberikan pencerahan dengan berpegang pada nilai-nilai Islam yang universal, Syahidah menutup cerita &lt;i&gt;Denda&lt;/i&gt; Apti dengan sikap melunak yang ditunjukannya dengan mendatangi &lt;i&gt;Mamiq&lt;/i&gt; (ayah) yang terbaring sakit untuk memimta restu setelah menerima pinangan Darmaji, yang bukan golongan bangsawan. Walaupun tahu bahwa keinginannya untuk menikah dengan orang biasa pasti tak akan direstui, tidak menyurutkan niat Darmaji dan &lt;i&gt;Denda&lt;/i&gt; Apti untuk mendatangi &lt;i&gt;Mamiq&lt;/i&gt; dan meminta restunya untuk menikah secara agama, seperti tampak pada kutipan berikut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 36.85pt 0.0001pt 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;“Maafkan kehadiran saya, &lt;i&gt;Mamiq&lt;/i&gt;. Saya memang hanya seorang pemuda biasa yang berniat menikahi &lt;i&gt;Denda&lt;/i&gt; Apti tanpa &lt;i&gt;merari&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;sajikrama&lt;/i&gt;. Bukan karena saya tidak menghormati &lt;i&gt;Mamiq&lt;/i&gt; atau tradisi orang Sasak, terutama tradisi di Bayan ini, tapi karena kami sudah sepakat untuk menikah secara agama saja” ujar Darmaji santun (Syahidah, 2004: 254)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-right: 0.85pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;Kutipan tersebut, selain memperlihatkan sikap hormat anak terhadap &lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;orangtuanya, juga menegaskan mulai lunturnya adat dan menguatnya pengaruh &lt;i&gt;Waktu Lima&lt;/i&gt; dikalangan masyarakat Sasak. Pilihan &lt;i&gt;Denda&lt;/i&gt; Apti dan Darmaji untuk menikah secara agama adalah bentuk perlawanan dari kebiasaan &lt;i&gt;merari&lt;/i&gt; (kawin lari) yang biasa dilakukan oleh perempuan yang ingin menikah dengan pria yang tidak &lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;direstui oleh keluarga. &lt;i&gt;Merari &lt;/i&gt;tersebut membuat pihak lelaki harus membayar &lt;i&gt;sajikrama&lt;/i&gt; (mas kawin) yang besarnya sesuai dengan status kebangsawanan sang gadis. Tradisi itu, semakin menyudutkan perempuan Sasak karena mahalnya &lt;i&gt;sajikrama&lt;/i&gt; kerap membuat pihak lelaki memilih mundur. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-right: 0.85pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Selain memperlihatkan kompleksitas penikahan di suku Sasak Bayan Timur, sesuai dengan misi dakwahnya, &lt;i&gt;Di Selubung Malam &lt;/i&gt;bercerita tentang transformasi diri&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;para tokoh dalam menjalani hidup yang lebih baik. Kehadiran tokoh-tokoh yang memberikan pencerahan seperti Jamanik, Biyu, dan Pipit adalah pintu gerbang bagi Mandalika, Darmaji, dan Jagat Wira untuk mengenal dan berprilaku secara Islami. Orang yang baik keislamannya tidak hanya saleh secara ritual, melainkan saleh secara sosial. Maksudnya orang tersebut tidak cukup cuma sholat, berpuasa, membayar zakat, dan pergi haji –sesuai dengan rukun Islam saja –juga senantiasa berprilaku baik sebagaimana diajarkan dalam Islam. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-right: 0.85pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Menurut Hamid, ciri-ciri prilaku Islami diantaranya; adil, amal saleh, amanah (jujur), mengajak orang kepada kebijakan (&lt;i&gt;amar ma’ruf)&lt;/i&gt;, bakti kepada orang tua, &lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;mencintai Allah SWT dan Rosul-Nya, dermawan (murah hati), hemat (tidak boros), hormat, memelihara kesucian diri (&lt;i&gt;iftah&lt;/i&gt;), berbuat baik bagi orang lain (ihsan), ikhlas, instropkesi diri, menepati janji, berkerja (mencari nafkah), maaf-memaafkan, malu untuk berbuat kerusakan, mecegah kemungkaran, ridho, sedekah, sederhana, menjalin &lt;i&gt;silaturrahmi&lt;/i&gt;, bersyukur, taat. (2007: 505-515). Prilaku Islami itulah yang ditampilkan Syahidah lewat karakteristik para tokoh dalam novel.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-right: 0.85pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sebagai tokoh penggerak cerita, Mandalikan, mulanya digambarkan sebagai gadis pendendam yang sangat membenci ayahnya. Kejadian pemerkosaaan yang menimpa Saqnah –ibunya– membuat Mandalika ingin membunuh sang ayah. Untuk menetralisasi amarah Mandalika, maka Syahidah menghadirkan tokoh Biyu, yang perannya memberikan nasihat –dakwah keagamnaan –seperti &lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;tampak pada kutipan berikut ini. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 36.85pt 0.0001pt 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;“Lika Manusia memiliki banyak kelamahan, memiliki nafsu dan sifat-sifatnya buruk lainnya. Sementara Allah tidak. Allah mahasemupurna dari segala kelemahan dan kekurangan. Jadi, satu-satunya yang pantas menghukum secara adil adalah Dia.” &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 36.85pt 0.0001pt 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;“Jangan membuat diri kita dihasut oleh setan. Setan hanya akan menimbulkan kesombongan dalam diri kita, hingga kita menganggap bahwa kitalah yang pantas menjatuhkan hukuman itu sesuai dengan keinginan kita. Padahal, kita tidak sadar bahwa sesungguhnya pada saat itu hati kita tela dikemudikan oleh setan,” tambah Biyu, tetap dengan nada lembut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 36.85pt 0.0001pt 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;“Sesungguhnya, dengan alasan apapun, membunuh orantua sendiri bukalah perbuatan yang dibenarkan. Selamanya, kita akan merasa jadi anak durhaka dan orang-orang pun akan menganggap kita manusia biadab.” (Syahidah, 2004: 179-180)&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-right: 0.85pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;Tidak hanya memaafkan sang ayah, sejak mengenal Biyu yang &lt;i&gt;alim&lt;/i&gt;, Mandalika menjadi menjadi lebih dekat dengan Tuhan. Hal tersebut terlihat dari kebiasaan sholat, menikuti pengajian yang kerap dilakukan, sampai memakai tutup kepala (jilbab). Perubahan tampilan dan sifat Mandalika terlihat dari percakapannya dengan Jamanik, pada saat mengunjungi Jamanik di penjara.&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 36.85pt 0.0001pt 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Selama ini ia berharap melihat &lt;i&gt;Baiq&lt;/i&gt; Mandalika memakai kerudung seperti ini. Dan ia seperti tidak percaya ketika pada kunjungan pada kunjungan kedua beberapa bulan lalu, &lt;i&gt;Baiq&lt;/i&gt; Mandalika datang bersama Darmaji dengan kerudung menutup kepalanya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 36.85pt 0.0001pt 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;“Kak Jamanik tetap bisa shalat dan mengaji di sini kan?” tanya Baiq Mandalika kemudian. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 36.85pt 0.0001pt 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;“&lt;i&gt;Alhamdulillah&lt;/i&gt;. Tempat ini membuat saya semakin leluasa mendekatakan diri pada Allah. Saya juga bisa banyak belajar dari narapidana yang lain, sekaligus mengajak mereka untuk lebih banyak beribadah.” (174-175)&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 36.85pt 0.0001pt 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-right: 0.85pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sifat religius Jamanik juga terlihat dari sikapnya yang santun dan&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;kebiasaanya mengajar anak-anak kampung membaca Al-Quran. Maka, saat Syahidah menggambarkan Jamanik sebagai sosok yang sangat religius namun mampu membunuh sang ayah yang berusaha memperkosa gadisnya, memperlihatkan bahwa tak ada sifat seseorang yang “benar-benar hitam” atau “benar-benar putih”. Sifat manusia yang mudah berubah ini, memperlihatkan tak ada manusia yang sempurna, karena kesempurnaan adalah milik Tuhan.&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-right: 0.85pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Perubahan sifat juga terlihat dari sosok Darmaji. Setelah majikannya Munahar meninggal, Darmaji, berusaha mengabdi kepada Jamanik agar tidak kehilangan pekerjaan. Untuk memenuhi keinginan tersebut, Jamanik memberikan persyaratan kepadanya untuk menjalankan shalat lima waktu dan shalat Jumat di masjid, membaca Al Quran, tidak boleh mabuk-mabukan, dan dilarang berbohong. Upaya pencerahan yang dilakukan Jumanik terhadap Darmaji ayah terlihat berikut. &lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 36.85pt 0.0001pt 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;“Saya hanya berpikir, kira-kira apa kami pantas ke masjid?” &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 36.85pt 0.0001pt 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;“Tentu saja pantas. Bahkan sangat pantas. Kalian semua orang Muslim, kan? Sudah jelas itu pantas. Justru aneh kalau kalian mengaku muslim, tapi tidak pernah shalat, tidak pernah ke masjid, tidak pernah baca Al-Quran dan sebagainya.” Jamanik tersenyum. (Syahidah, 2004: 94) &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Jagat Wira adalah tokoh terakhir yang mengalami perubahan setelah bertemu dengan Pipit. Walaupun tidak sereliugus Damanik dan Mandalika, sejak menikah dengan Pipit, mau tak mau Jagat Wira menemani istrinya untuk melaksanakan pengajian subuh di masjid. Tak hanya itu, Pipit juga kerap mengingatkan Jagat Wira untuk melaksanakan shalat tepat waktu. Kehadiran Pipit adalah upaya yang dilakukan oleh pengarang untuk melakukan dakwah dan pencerahan kepada tokoh Jagat Wira. Meskipun belum bisa membuat Jagat Wira melaksanakan shalat lima waktu, setidaknya timbul perasaan tak enak dalam diri Jagat Wira saat melupakan shalat. Hal itu membuktikan bahwa dakwah dan pencerahan yang dilakukan Pipit cukup berhasil. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 36.85pt 0.0001pt 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Hatinya benar-benar jadi tidak enak. Selama di Batam ia selalu berusaha untuk tetap shalat lima waktu, meski itupun lebih sering disebabkan oleh paksaan dari istrinya. Sementara sejak ia pulang ke Lombok, seingatnya ia hanya shalat sekali saja. Yaitu ketika diajak shalat Jumat oleh Darmaji ke masjid. (Syahidah, 2004:278)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 36.85pt 0.0001pt 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Sebagai karya yang bertujuan memberikan pencerahan kepada para pembaca, &lt;i&gt;Di Selubung Malam&lt;/i&gt;, tidak ingin menyisakan satupun tokoh yang hidup dalam “kegelapan”, termasuk Gerantang yang memberi banyak masalah bagi keluarganya. Ia seakan mendapati hukuman (karma) dari perbuatan buruknya, hal itu terlihat dari tubuhnya yang kini ringkih sakit-sakitan, matanya buta sebelah, dan jalannya yang pincang. Di akhir cerita Gerantang pun mendekatkan diri, berserah, dan pasrah kepada Tuhan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Penutup &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Di tengah maraknya komunitas sastra yang hadir untuk melakukan perlawanan terhadap hegemoni pusat-pusat, FLP lahir bertujuan memberikan pembinaan &lt;/span&gt;&lt;span&gt;terhadap peningkatan kualitas tulisan para anggotannya. Kehadiran FLP, menjadi alternatif bagi siapapun yang ingin mengasah kemampuan menulisnya. Selain lewat pertemuan rutin, untuk mempercepat proses belajar para anggotanya, pengurus FLP juga menyusun &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;materi ajar (modul),&lt;/span&gt;&lt;span&gt; yang digunakan sebagai pegangan dan panduan (arahan) dalam menulis. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Materi Kelompok Pramuda Forum Lingkar Pena Jakarta&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN"&gt; –modul FLP Jakarta –memperlihatkan nuansa keislaman yang ketal dalam FLP. Lewat materi KE-FLP-AN dan wawasan keislaman, anggota FLP diarahkan untuk menulis sebagai bagian dari dakwah dan pencerahan, salah satunya terlihat dari karya Novia Syahidah &lt;i&gt;Di Selubung Malam&lt;/i&gt;. &lt;/span&gt;&lt;span&gt;Novia Syahidah, yang dibesarkan di FLP Jakarta adalah satu dari ribuan penulis FLP yang karya-karyanya kerap disebut sebagai sastra islami. Karya yang digunakan sebagai media dakwah ini menjadi padat dengan pesan moral, sedangkan latar budaya Sasaknya kurang tergali. Pesan moral tersebut diantaranya, keutamaan shalat, membaca Al Quran, pengajian, tidak mabuk-mabukan serta,&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;berbuat baik pad asesama, melepas semua dendam dan memaafkan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span&gt;Ada satu catatan penting untuk Syahidah, yang kerap menulis novel berlatar budaya. Pada halaman 205-210, saat Syahidah mencoba masukan tokoh lelaki tua yang tubuhnya sedikit bungkuk untuk bercerita mengenai sejarah Lombok, ia membuat kesalahan fatal. Berikut adalah kutipan bagian yang saya maksud.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 37.3pt 0.0001pt 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Lagi-lagi ia teringat akan ucapan Baiq Mandalika seminggu lalu. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 37.3pt 0.0001pt 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;“Saya bahkan lebih mencintai Lombok daripada Bali, meskipun saya berdarah Bali dan menganut agama Hindu”(Syahidah, 2004: 210)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 37.3pt 0.0001pt 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-right: 1.3pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span&gt;Kesalahan tersebut sangat fatal karena tokoh Mandalika, adalah gadis yang dilahirkan oleh Saqnah –perempuan kampu Bayan Timur –di Lombok. Kesalahan&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;yang walau sedikit, sangat mempengaruhi saya sebagai pembaca, karena kesalahan terdapat pada tokoh utama yang kisah hidupnya kita tahu melalui cerita. Mungkin Syahidah terlalu asyik memainkan data, sehingga ia lupa melihat kesesuaian antara data –masyakarat Bali di Lombok mayoritas menganut agama Hindu – dengan fakta –Mandalika adalah orang Lombok yang beragama Islam &lt;i&gt;Waktu Lima&lt;/i&gt; –yang terdapat dalam cerita. Kesalahan itu membuktikan, bahwa para penulis FLP seperti saya kutip dari tulisan Helvy Tiana Rosa, merupakan &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;‘pemula’ yang terus bermetamorfosis. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-right: 1.3pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Sebagai organisasi yang menggunakan karya-karyanya sebagai media dakwah dan pencerahan, FLP mampu memberikan alternatif bagi pembaca muslim. Walaupun Helvy Tiana Rosa dan Irfan Hidayatullah mengungkapkan bahwa FLP bersifat terbuka –tidak ekslusif – sulit bagi FLP untuk mendapatkan&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;(memperbanyak) anggota nonmuslim karena recuitment, dan sistem pembinaan yang berbasis Islam. Namun, keislaman itulah yang menjadi kekuatan dan ciri khas Forum Lingkar Pena. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Daftar Bacaan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Aziz, Moh. Ali. 2004. &lt;i&gt;Ilmu Dakwah&lt;/i&gt;. Jakarta: Prenada Media. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Budianta, Melani dan Iwan Gunadi (ed). 1998. &lt;i&gt;Pemetaan Komunitas Sastra di &lt;span&gt;&lt;/span&gt;Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi&lt;/i&gt;. Tangerang: Komunitas Sastra &lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Budiwanti, Erni. 2000. &lt;i&gt;Islam Sasak Wetu Telu versus Waktu Lima. &lt;/i&gt;Yogyakarta: &lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;LKIS&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Derk, Will. 2006. “Sastra Pedalaman: Pusat-pusat Sastra Lokal dan Regional di &lt;span&gt;&lt;/span&gt;Indonesia” &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;dalam Keith Foulcher dan Tony Day (editor) &lt;i&gt;Clearing A &lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Space, Kritik Pascakolonial tentang Sastra Indonesia Modern&lt;/i&gt;. Jakarta: &lt;span&gt;&lt;/span&gt;Yayasan Obor.&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Hamid, Syamsul Rijal. 2007. &lt;i&gt;Buku Pintar Agama Islam Edisi yang &lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Disempurnakan&lt;/i&gt;. Bogor: Cahaya Salam.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Hasjmy, A. 1977. &lt;i&gt;Sumbangan Kesastraan Aceh dalam Pembinaan Kesusastraan &lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Indonesi&lt;/i&gt;a. Jakarta: Bulan Bintang.&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Herfanda, Ahmadun Yosi. Dkk. (ed). 2008. &lt;i&gt;Komunitas Sastra Indonesia: Catatan &lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Perjalanan&lt;/i&gt;. Tangerang: Komunitas Sastra Indonesia. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Ratna, Nyoman Kutha. 2007. &lt;i&gt;Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra&lt;/i&gt;. &lt;span&gt; &lt;/span&gt;Yogyakarta: Pustaka Pelajar. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Rosa, Helvy Tiana. 2007. &lt;i&gt;Forum Lingkar Pena: Sejarah, Konsep, dan Gerakan&lt;/i&gt;. &lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Makalah yang disampaikan pada seminar internasional HISKI di Fakultas &lt;span&gt;&lt;/span&gt;Ilmu Budaya Universitas Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; _____. 2004. &lt;i&gt;Majalah Remaja Annida Konsep, Strategi, dan Pola Representasi &lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;dalam Delapan Cerpennya tahun 1990-an&lt;/i&gt;. Tesis. Depok: FIB UI&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Rosidi, Ajib. 1995. &lt;i&gt;Sastra dan Budaya Kedaerahan dan Keindonesiaan&lt;/i&gt;. Jakarta:&lt;span&gt;&lt;/span&gt; Pustaka Jaya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Syahidah, Novia. 2004. &lt;i&gt;Di Selubung Malam&lt;/i&gt;. Jakarta: DAR! Mizan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; TIM FLP DKI Jakarta. 2008. &lt;i&gt;Materi Kelompok Pramuda Forum Lingkar Pena.&amp;nbsp;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;Untuk kalangan sendiri.&lt;a href="http://galeriflpdki.multiply.com/"&gt; http://galeriflpJakarta.multiply.com&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8327700263599763418-3405690381527439558?l=ruangkata-katavie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/feeds/3405690381527439558/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/2011/08/nilai-nilai-keislaman-dalam-karya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8327700263599763418/posts/default/3405690381527439558'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8327700263599763418/posts/default/3405690381527439558'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/2011/08/nilai-nilai-keislaman-dalam-karya.html' title='Nilai-nilai Keislaman dalam Karya Sastra Forum Lingkar Pena (FLP Bag.3)'/><author><name>Ruang Kata-kata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02073905970978168417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-BMpRpLILnS8/Tgiif45TyJI/AAAAAAAAAF4/wJFIcqlOhCM/s220/DSC01970.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8327700263599763418.post-677776243019407937</id><published>2011-08-26T12:20:00.000+07:00</published><updated>2011-08-26T12:20:37.032+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Kritik Sastra'/><title type='text'>Nilai-Nilai Keislaman dalam Forum Lingkar Pena (Bag.2)</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt; /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable	{mso-style-name:"Table Normal";	mso-tstyle-rowband-size:0;	mso-tstyle-colband-size:0;	mso-style-noshow:yes;	mso-style-parent:"";	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;	mso-para-margin:0cm;	mso-para-margin-bottom:.0001pt;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:10.0pt;	font-family:"Times New Roman";	mso-ansi-language:#0400;	mso-fareast-language:#0400;	mso-bidi-language:#0400;}table.MsoTableGrid	{mso-style-name:"Table Grid";	mso-tstyle-rowband-size:0;	mso-tstyle-colband-size:0;	border:solid windowtext 1.0pt;	mso-border-alt:solid windowtext .5pt;	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;	mso-border-insideh:.5pt solid windowtext;	mso-border-insidev:.5pt solid windowtext;	mso-para-margin:0cm;	mso-para-margin-bottom:.0001pt;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:10.0pt;	font-family:"Times New Roman";	mso-fareast-font-family:Calibri;	mso-ansi-language:#0400;	mso-fareast-language:#0400;}&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Nilai-nilai Keislaman dalam Forum Lingkar Pena &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Komunitas sastra Indonesia ada sejak awal tahun 1970 ketika Persada Studi Klub (PSK) pimpinan Umbu Landu Paranggi memulai proses kreatifnya di kawasan Malioboro. Hanya saja, istilah komunitas sastra baru popoler sejak Komunitas Sastra Indonesia (KSI) lahir pada 1996 (Herfanda, 2008). &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Herfanda mengungkapkan, komunitas-komunitas yang lahir pada tahun 90-an seperti KSI dan &lt;i&gt;Revitalisasi Sastra Pedalaman&lt;/i&gt; (RSP), menjadi gerakan ‘sastra perlawanan’ terhadap hegemoni pusat-pusat di Jakarta. Hal ini membuat komunitas-komunitas tersebut kurang memberikan pembinaan terhadap kualitas karya&lt;/span&gt;&lt;span&gt; para&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt; anggota&lt;/span&gt;&lt;span&gt;nya&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;. Tak heran jika RSP lebih dulu bubar tanpa melahirkan karya besar, sedang KSI &lt;/span&gt;&lt;span&gt;menjadi komunitas yang cukup &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;popular karena para penulis ‘sudah jadi’ yang bergabung menjadi anggotanya.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8327700263599763418#_ftn1" name="_ftnref1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Namun, tidak semua komunitas muncul untuk melawan hegemoni pusat tersebut. Salah satunya adalah Forum Lingkar Pena yang sejak awal bertujuan untuk membina dan meningkatkan kualitas menulis para anggotanya&lt;/span&gt;&lt;span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span&gt;Forum Lingkar Pena (FLP), lahir dari kegiatan kumpul-kumpul yang kerap dilakukan di masjid Ukhuwah Islamiyah, Universitas Indonesia. Bukan sekadar kumpul, Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, Muthmainnah, dan beberapa kawan lainnya kerap melakukan &lt;i&gt;sharing&lt;/i&gt; seputar kegiatan tulis menulis. Banyaknya anak muda yang ingin berkiprah di bidang kepenulisan serta minimnya pembinaan terhadap peningkatan kualitas tulisan dan wadah sebagai penampung kreativitas, menjadi latar belakang proses terbentuknya FLP. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span&gt;Kehadiran FLP, menjadi alternatif bagi siapapun yang ingin mengasah kemampuan menulisnya. Hal tersebut terlihat dari beragamnya profesi para anggota FLP, mulai dari siswa, mahasiswa, ibu rumah tangga, pekerja kantoran (swasta), PNS, sampai para TKW.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8327700263599763418#_ftn2" name="_ftnref2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Asas kebersamaan, ketulusan, dan egaliter, menimbulkan rasa persaudaraan antara anggota FLP. Salah satunya terlihat dari anotologi-antologi&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8327700263599763418#_ftn3" name="_ftnref3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; yang kerap diterbitkan untuk menggalang dana.&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span&gt;Selain lewat pertemuan rutin, untuk mempercepat proses belajar para anggotanya, pengurus FLP juga menyusun &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;materi ajar (modul),&lt;/span&gt;&lt;span&gt; yang digunakan sebagai pegangan dan panduan (arahan) dalam menulis. Terakhir, pembinaan kemampuan menulis anggota FLP dilakukan melalui &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;penerbitan karya-karyanya.&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Salah satu cara untuk melihat Islam sebagai roh dalam berorganisasi dengan mengupas modul FLP. Modul FLP merupakan salah satu bagian pembinaan (kaderisasi) yang bertujuan memberi panduan atau arahan bagi para anggotanya. Saat ini, FLP pusat telah memiliki modul penulisan fiksi dan modul organisasi. Modul penulisan fiksi yang dibuat, baru tahap awal.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8327700263599763418#_ftn4" name="_ftnref4" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Namun, beberapa wilayah/cabang/ranting FLP telah memiliki modul yang disusun sesuai dengan kebutuhannya masing-masing, diantaranya FLP Jakarta. &lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;FLP Jakarta berdiri pada 11 September 2000.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8327700263599763418#_ftn5" name="_ftnref5" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Dibandingkan dengan cabang lainnya, keanggotaan FLP Jakarta sangatlah beragam,&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8327700263599763418#_ftn6" name="_ftnref6" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; tingginya minat untuk bergabung dengan FLP membuat &lt;i&gt;recuitment&lt;/i&gt; anggota baru dilakukan tiap enam bulan sekali. Setidaknya, FLP Jakarta menerima 50 pendaftar ditiap semester. Menjadi unik karena walaupun telah berdiri selama hampir sembilan tahun, FLP Jakarta tidak memiliki sekertariat yang tetap. Pertemuan rutin anggota tiap minggu, dilakukan diberbagai tempat seperti teras Masjid Pusat Dakwah Muhamadiyah di kawasan Menteng Jakarta Pusat, ataupun saat ini di Masjid Amir Hamzah, Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Selain tempat yang kerap berpindah, keunikan lain FLP Jakarta terletak dari jenjang keanggotannya. Jika dalam AD/ART FLP, terdapat tiga jenjang keanggotaan, muda, madya, andal, maka di FLP Jakarta calon anggota –berada pada jenjang pramuda –harus terlebih dulu mengikuti pelatihan penulisan selama enam bulan. Di akhir pelatihan, digelar inaugurasi untuk mengevaluasi hasil pelatihan dan mengukuhkan calon anggota FLP Jakarta memasuki jenjang muda dan menjadi anggota FLP yang resmi. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Hingga kini, FLP Jakarta telah memiliki 13 angkatan. Setidaknya 70 orang anggota, aktif berkumpul tiap minggunya.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8327700263599763418#_ftn7" name="_ftnref7" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Banyak karya yang telah dihasilkan FLP Jakarta seperti, &lt;i&gt;From Batavia With Love&lt;/i&gt; (antologi FLP Jakarta, Syaamil, 2003), &lt;i&gt;Hari ini Aku Cantik Sekali&lt;/i&gt; (Azimah Rahayu, Syaamil, 2003), &lt;i&gt;Kantin Love Story&lt;/i&gt; (Zaeral Radar T, LPPH, 2004). &lt;i&gt;Di Selubung Malam &lt;/i&gt;(Novia Syahidah, DAR! Mizan, 2004),&lt;i&gt; Putri Surat Cinta&lt;/i&gt; (Antologi FLP Jakarta, LPPH, 2005), &lt;i&gt;Mahligai Kedua&lt;/i&gt; (Taufan E. Prast, LPPH, 2005), &lt;i&gt;Jejak-jejak Cinta&lt;/i&gt; (Beni Jusuf, MU3 Books, 2005), &lt;i&gt;Gue Bukan Bintang di Langit&lt;/i&gt; (Billy Antoro, LPPH, 2005), &lt;i&gt;Bidadari&lt;/i&gt; (Asa Mulchias, MU3 books), &lt;i&gt;Muslimah Nggak Gitu, Deh!&lt;/i&gt; (Andi Tenri Dala F. dkk., LPPH, 2007). &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Jumlah anggota, pluralitas, dan produktivitas tersebut yang membuat saya memilih untuk meneliti &lt;i&gt;Materi Kelompok Pramuda Forum Lingkar Pena Jakarta&lt;/i&gt; yang dibuat pada 2008. Materi kelompok pramuda ini penting karena menjadi acuan (arahan) bagi anggota baru untuk mengenal organisasi Forum Lingkar Pena, memahami wawasan keislaman versi FLP, dan melatih kemampuan menulis untuk mencapai jenjang kelompok muda. Hal itulah yang membuat modul 104 halaman ini, dibagi menjadi tiga bagian; 1) KE-FLP-AN (Pengetahuan Dasar tentang Forum Lingkatr Pena), 2) Wawasan Keislaman, dan 3) Kepenulisan&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;. &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tulisan Helvy Tiana Rosa berjudul &lt;i&gt;FLP, Penulis dari 100 Kota&lt;/i&gt; menjadi pembuka bagian KE-FLP-AN. Lewat tulisan tersebut, Rosa menuliskan sejarah berdirinya lingkar pena, visi, misi, dan FLP versus ‘Sastra Sekuler’. Dengan mengutip artikel berjudul &lt;i&gt;Apakah Forum Lingkar Pena itu? Sebuah ‘Pabrik Penulis Cerita’ &lt;/i&gt;(&lt;i&gt;Koran Tempo&lt;/i&gt;), dan kutipan dari Taufiq Islamil &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;FLP adalah hadiah Tuhan untuk, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Rosa, mencoba memotivasi anggota yang baru bergabung dengan FLP. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Rosa mencatat ada dua kelemahan FLP. Pertama, kualitas karya sebagian besar anggota FLP masih dianggap oleh para kritikus sastra sebagai ‘pemula’ yang terus bermetamorfosis. Kedua adalah perdebatan yang terdapat di &lt;i&gt;mailing list&lt;/i&gt; &lt;a href="mailto:penyair@yahoogroups.com"&gt;&lt;span style="color: windowtext; text-decoration: none;"&gt;penyair@yahoogroups.com&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; mengenai anggapan bahwa penulis yang mendirikan komunitas penulisan adalah mereka yang tidak pecaya dan takut untuk tampil sendirian. Sedangkan, sisi positif FLP diantaranya: pertama, kehadiran FLP yang bercorak Islami dianggap menjadi pesaing bagi eksistensi ‘sastra sekuler’. Kedua, di antara banyaknya kritik terhadap kualitas karya FLP, ada pula karya-karya yang mendapat perhatian dan penghargaan dari peminat sastra seperti Asma Nadia yang menulis 10 buku setahun dan Izzatul Jannah menulis setidaknya 30 cerita anak. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Sebagai organisasi yang menjadi wadah bagi para penulis muda, persoalan minimnya kualitas karya&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; sebagian besar anggota FLP &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;membuat Irfan Hidayatullah membuka divisi kritik sastra pada masa kepengurusannya. Sehingga, anggota FLP tidak hanya belajar menulis tapi juga belajar melakukan kritik terhadap karya-karya FLP yang sudah diterbitkan dan termotivasi untuk menghasilkan karya yang lebih baik. Selain membuka divisi kritik, pengurus pusat FLP terus menyempurnakan modul yang digunakan sebagai acuan bagi cabang yang belum memiliki modul atau digunakan bagi cabang yang sedang menyusun modul sendiri dengan standar isi yang ditetapkan oleh FLP pusat.&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;FLP adalah organisasi kepenulisan berbasis Islam. Hal itu terlihat dari Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) yang terdapat pada bagian KE-FLP-AN. Terkait dengan asas keislaman tersebut, FLP &lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;memiliki visi memberikan pencerahan kepada pembaca dan masyarakat melalui tulisan. Dengan visi tersebut, FLP memiliki empat misi utama yaitu:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 39pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span&gt;a.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Meningkatkan mutu dan produktivitas karya anggota sebagai sumbangsih berarti bagi masyarakat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 39pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span&gt;b.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Membangun jaringan penulis yang menghasilkan karya-karya berkualitas dan mencerdaskan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 39pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span&gt;c.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Meningkatkan budaya membaca dan menulis di kalangan masyarakat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 39pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span&gt;d.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Memperjuangkan kehidupan yang lebih baik bagi penulis.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Anggota FLP terdiri dari anggota biasa (anggota) dan anggota kehormatan yang di-&lt;i&gt;rekruit &lt;/i&gt;berdasarkan tiga sifat yaitu agama, kepenulisan, dan keorganisasian. Sedangkan dalam mengader anggotanya, ada tiga asas yang diterapkan sesuai dengan AD/ART. Pertama, a&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;sas kebersamaan, setiap anggota berupaya menggali potensi bersama, saling memberi, menerima dan mendukung, tanpa meninggalkan kompetensi yang sehat dalam berkarya. Kedua, asas kontinuitas yaitu setiap anggota memiliki kontinuitas dalam berkarya dan terlibat dalam proses pembinaan. Ketiga, asas kompetensi, setiap anggota menjaga dan meningkatkan kualitas karya dengan penuh keiklasan, kekuatan, tekad, dan memiliki kejelasan arah serta tujuan dalam mencerahkan umat.&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Untuk memudahkan proses pembinaan kemampuan menulis, FLP membuat jenjang keanggotaan dimulai dari muda, madya, dan andal. Jenjang muda &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;yaitu mereka yang memiliki keinginan, ketekunan untuk menulis namun belum memiliki pengalaman dan pengetahuan menulis. Kelompok diskusi muda diarahkan dan dibina oleh anggota madya dan andal. Madya, yaitu mereka yang telah menghasilkan karya di media massa lokal atau nasional atau pernah memenangkan sayembara penulisan tingkat daerah maupun nasional, namum belum cukup aktif. Kelompok diskusi madya diarahkan oleh anggota andal. Andal, yaitu mereka yang aktif menulis di berbagai media, telah membukukan karya-karyanya, pernah menjuarai sayembara penulisan tingkat nasional dan menjadi akademisi pada bidang sastra atau bidang jurnalistik, serta menjadi pembicara dalam berbagai acara yang berkaitan dengan kepenulisan. Kelompok diskusi andal saling mengarahkan, membina, dan bertukar posisi kepemimpinan.&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Tulisan Azimah Rahayu berjudul &lt;i&gt;Rumah Cahaya Penjaringan, &lt;/i&gt;menjadi materi penutup bagian dari KE-FLP-AN (Pengetahuan Dasar tentang Forum Lingkatr Pena). &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Rumah Cahaya yang merupakan kependekan dari Rumah baCa dan Hasilkan karYa, &lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;adalah salah salah satu wujud dari visi FLP membangun Indonesia cinta membaca dan menulis yang diharapkan dapat dibangun diseluruh cabang FLP di wilayah Indonesia. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Bagian kedua &lt;i&gt;Materi Kelompok Pramuda Forum Lingkar Pena JAKARTA Jakarta &lt;/i&gt;mengupas tentang wawasan keislaman. Ada tiga tulisan yang menggambarkan wawasan keislaman dalam modul ini. Pertama, tulisan Azimah Rahayu berjudul &lt;i&gt;Anda Menulis, Maka Anda Hidup&lt;/i&gt;. Ada lima interpretasi Rahayu terhadap kalimat anda menulis, maka anda hidup, yaitu; 1) tulisan kita sama dengan prasasti hidup kita, 2) sebagai parameter perkembangan pemikiran, 3) curahan jiwa karena menulis adalah bukti bahwa kita masih hidup, merasakan, berbagi dan akhirnya mengerti, 4) sumber penghidupan adalah makna yang paling pragmatis, karena ada penulis yang mampu hidup dengan royalti dan honor lainnya yang didapat dari kegiatannya menulis, 5) berdakwah lewat tulisan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Dari kelima interpretasi tersebut, poin terakhirlah yang merupakan inti wawasan keislaman dalam tulisan Rahayu. Berikut saya tampilkan secara penuh apa yang dimaksud Rahayu berdakwah lewat tulisan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 36.85pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Sesungguhnya semua makna di atas dapat diberi jiwa dengan &lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;makna &lt;span&gt; &lt;/span&gt;ini: &lt;b&gt;Bedakwah lewat tulisan&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8327700263599763418#_ftn8" name="_ftnref8" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ListParagraph" style="line-height: normal; margin: 0cm 45.85pt 0.0001pt 72pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;span&gt;a.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Tulisan, apapun bentuknya adalah media yang sangat efektif untuk berdakwah, kerena: &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ListParagraph" style="line-height: normal; margin: 0cm 36.85pt 0.0001pt 72pt; text-align: justify; text-indent: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; font-size: 12pt;"&gt;&lt;span&gt;§&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Dapat menjangkau semua lapisan masyarakat tanpa dibatasi ruang dan waktu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ListParagraph" style="line-height: normal; margin: 0cm 36.85pt 0.0001pt 72pt; text-align: justify; text-indent: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; font-size: 12pt;"&gt;&lt;span&gt;§&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Upaya pembentukan opini yang sangat efektif.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ListParagraph" style="line-height: normal; margin: 0cm 36.85pt 0.0001pt 72pt; text-align: justify; text-indent: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; font-size: 12pt;"&gt;&lt;span&gt;§&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Dapat meminimalisir kesan menggurui, bahkan sekalipun bentuk tulisan itu seperti ‘khotbah’.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ListParagraph" style="line-height: normal; margin: 0cm 36.85pt 0.0001pt 72pt; text-align: justify; text-indent: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; font-size: 12pt;"&gt;&lt;span&gt;§&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Tulisan-tulisan berupa naskah fiksi, ataupun renungan dengan sentuhan sastra biasanya juga lebih menyentuh dan membetukan atsar/kesan mendalam. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ListParagraph" style="line-height: normal; margin: 0cm 36.85pt 0.0001pt 72pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;span&gt;b.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Ada beberapa kaidah/adab yang perlu diperhatikan oleh penulis islami. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ListParagraph" style="line-height: normal; margin: 0cm 36.85pt 0.0001pt 72pt; text-align: justify; text-indent: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; font-size: 12pt;"&gt;&lt;span&gt;§&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Penulis cerita islami selayaknya berusaha memiliki wawasan keislaman yang baik.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ListParagraph" style="line-height: normal; margin: 0cm 36.85pt 0.0001pt 72pt; text-align: justify; text-indent: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; font-size: 12pt;"&gt;&lt;span&gt;§&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Cerita yang ditulis tidak boleh bertentangan dengan akidah dan syariat dan tidak mengeksploitir dan mendramatisir nilai-nilai jahiliyah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ListParagraph" style="line-height: normal; margin: 0cm 36.85pt 0.0001pt 72pt; text-align: justify; text-indent: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; font-size: 12pt;"&gt;&lt;span&gt;§&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Cerita tersebut mampu membawa pembaca kepada ammar ma’ruf nahi mungkar&amp;amp;sarat ibrah (hikmah).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ListParagraph" style="line-height: normal; margin: 0cm 36.85pt 0.0001pt 72pt; text-align: justify; text-indent: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; font-size: 12pt;"&gt;&lt;span&gt;§&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Cerita tersebut dibuat karena Allah dalam rangka dakwah ilallah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ListParagraph" style="line-height: normal; margin: 0cm 36.85pt 0.0001pt 72pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;span&gt;c.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Ikatlah ilmu dengan menuliskannya&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;→&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;kaidah yang perlu kita dipegang. Alasannya yang kuat, mengapa kita perlu menulis dan harus terus menulis. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-right: 36.85pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Tulisan kedua berjudul &lt;i&gt;Menggores Pena Mendidik Diri&lt;/i&gt; oleh Asa Mulchias. Sebelum menyimpulkan wawasan keislaman versi Mulchias, berikut saya tampilkan kutipan tulisan Mulchias. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 35.65pt 0.0001pt 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Menjadi penulis dengan label ‘islami’ atau ‘humanis’ memang tidak mudah. Tidak semudah menjadi penulis novel esek-esek, tabloid gaya hidup metropolis, atau koran yang hanya menyajikan peristiwa-peristiwa kriminal plus praktik-praktik kejahatan di negeri ini. Penulis yang memilik jalan sebagai penulis kebaikan memiliki sejumlah pasal yang mesti dipatuhi. Pasal yang membuat dia tidak sebebas penulis-penulis yang telah mengabdikan diri menulis ayat-ayat setan yang menjerumuskan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 35.65pt 0.0001pt 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Menurut Mulchias ada pasal-pasal yang harus dimiliki sebagai penulis islami seperti semangat mengajarkan kebaikan walau sedikit sehingga tidak hanya pembaca yang akan mendapat manfaat, tapi diri penulis sendiri. Dengan kata lain, penulis tidak hanya menganjurkan untuk berbuat baik tapi dia pun harus berbuat baik. Pasal yang kedua, janganlah menjadi penulis munafik yang hanya menulis kebaikan untuk mendapat honor dan ingin tulisannya. Pasal yang ketiga, dakwah adalah kewajiban setiap orang. Keempat, jangan meninggalkan para nabi hanya karena kita belum mampu menjalankan ketentuannya. Pasal yang terakhir, seruan untuk menulis dengan simponi kebenaran tanpa melupakan kalau kita juga berhak menikmati simponi itu untuk diri sendiri. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Tulisan terakhir mengenai wawasan keislaman, ditulis oleh Ahmad Lamuna berjudul &lt;i&gt;Universalitas Islam&lt;/i&gt;. Lamuna mencatat, kemunculan FLP diiringi dengan munculnya isu sastera islami. Dari FLP muncul pemuda-pemuda yang bergairah untuk melaksanakan Da’wah melalui goresan penanya. Ia pun menampilkan beberapa karakteristik sastra islami yang didapat dari definisi beberapa tokoh berikut ini. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 36.85pt 0.0001pt 36pt; text-indent: 0cm;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&lt;span&gt;1.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Karya sastra itu dibuat sebagai bentuk menifestasi seorang&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 36.85pt 0.0001pt 36pt;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;muslim dalam mengabdi kepada Allah. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 36.85pt 0.0001pt 36pt; text-indent: 0cm;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&lt;span&gt;2.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Karya sastera itu berisikan dan berlandaskan akhlak islam.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 36.85pt 0.0001pt 36pt; text-indent: 0cm;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&lt;span&gt;3.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Karya sastera itu mengandung nilai yang membuat manusia&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 36.85pt 0.0001pt 36pt;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;mengarah kepada kesempurnaan (karya itu mengandung&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 36.85pt 0.0001pt 36pt;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;pencerahan). &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 36.85pt 0.0001pt 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Sebuah karya yang islami menurut Lamuna, tidak hanya menampilkan simbol-simbol islam atau memiliki tokoh seorang kyai, ustadz, jilbaber, atau ikhwan, melainkan memenuhi ketiga unsur tersebut.&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Wawasan keislaman &lt;i&gt;Materi Kelompok Pramuda Forum Lingkar Pena JAKARTA Jakarta &lt;/i&gt;yang ditulis oleh Azimah Rahayu, Asa Mulchias dan Ahmad Lamuna mempelihatkan karakteristik isi yang sama. Pertama, karya sastra dibuat untuk Allah, sehingga apa yang ditulis di dalam tidaklah bertentangan dengan syariat Islam. Kedua, menulis sebagai bagian dakwah. Ketiga, memberikan manfaat bagi penulis dan pembaca. Isi wawasan keislaman ini hanyalah penegas dari bagian KE-FLP-AN yang juga berbicara menyinggung ketiga hal tersebut. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Bagian terakhir dari modul FLP JAKARTA adalah materi kepenulisan. Untuk mempermudah, daftar materi kepenulisan dan penulisnya saya tampilkan dalam bentuk tabel berikut ini. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tabel 1. Daftar Penulis dan Judul Tulisan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;table border="1" cellpadding="0" cellspacing="0" class="MsoTableGrid" style="border-collapse: collapse; border: medium none;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0cm 5.4pt; width: 32.4pt;" valign="top" width="43"&gt;   &lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;No.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-style: solid solid solid none; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 108pt;" valign="top" width="144"&gt;   &lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Penulis&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-style: solid solid solid none; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 285.7pt;" valign="top" width="381"&gt;   &lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Judul Artikel&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;   &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-style: none solid solid; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 32.4pt;" valign="top" width="43"&gt;   &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;1&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 108pt;" valign="top" width="144"&gt;   &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Beni Jusuf&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 285.7pt;" valign="top" width="381"&gt;   &lt;ul style="margin-top: 0cm;" type="square"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Soal Memulai Menulis dan Menulis Bebas&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Menganalisis Segmen Pasar dan Memilih Pasar Sasaran&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Karakteristik Media Cetak&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;   &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-style: none solid solid; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 32.4pt;" valign="top" width="43"&gt;   &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;2&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 108pt;" valign="top" width="144"&gt;   &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Novia Syahidah&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 285.7pt;" valign="top" width="381"&gt;   &lt;ul style="margin-top: 0cm;" type="square"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Cerpen&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tenik Penokohan&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Latar dan Pelataran&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Penyusunan Konflik &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;   &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-style: none solid solid; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 32.4pt;" valign="top" width="43"&gt;   &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;3&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 108pt;" valign="top" width="144"&gt;   &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ahmad Lamuna&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 285.7pt;" valign="top" width="381"&gt;   &lt;ul style="margin-top: 0cm;" type="square"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Menggali dan Mengembangkan Tema &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Plot dan Ploting&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;   &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-style: none solid solid; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 32.4pt;" valign="top" width="43"&gt;   &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;4&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 108pt;" valign="top" width="144"&gt;   &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Aep Saefulloh&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 285.7pt;" valign="top" width="381"&gt;   &lt;ul style="margin-top: 0cm;" type="square"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Teknik Membangun Cerita&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Membuka dan Menutup Secara Manis&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;   &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-style: none solid solid; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 32.4pt;" valign="top" width="43"&gt;   &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;5&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 108pt;" valign="top" width="144"&gt;   &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Palris Jaya&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 285.7pt;" valign="top" width="381"&gt;   &lt;ul style="margin-top: 0cm;" type="square"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sudut Pandang&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Gaya Bahasa &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tata Bahasa dan EYD&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;   &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-style: none solid solid; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 32.4pt;" valign="top" width="43"&gt;   &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;6&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 108pt;" valign="top" width="144"&gt;   &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Andi Tenri Dala F&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 285.7pt;" valign="top" width="381"&gt;   &lt;ul style="margin-top: 0cm;" type="square"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Fokus Cerita&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Revisi Karya Fiksi &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;   &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-style: none solid solid; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 32.4pt;" valign="top" width="43"&gt;   &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;7&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 108pt;" valign="top" width="144"&gt;   &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Billy Antoro &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 285.7pt;" valign="top" width="381"&gt;   &lt;ul style="margin-top: 0cm;" type="square"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Reportase Untuk Tulisan Sastra Fiksi&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Feature &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Opini dan Kegelisahan Diri &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Sebagai organisasi kepenulisan, modul memiliki peran yang penting dalam proses akselerasi kemampuan menulis dan kaderisasi anggota. Tidak hanya memuat berbagai teknik dalam menulis, separuh halaman modul ini memberikan gambarkan kepada pembaca untuk mengetahui Forum Lingkar Pena. Dengan membaca &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Materi Kelompok Pramuda Forum Lingkar Pena Jakarta, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;terlihat bahwa nilai keislaman yang diusung FLP, tidak hanya terimplementasikan dalam&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;karya-karya yang ditulis para anggota FLP. Namun, menjadi asas yang tertuang dalam AD/ART. Hal tersebut berarti semangat keislaman telah memperkokoh FLP sebagai organisasi kepenulisan berbasis Islam yang menggunakan karya sebagai media dakwah.&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br clear="all" /&gt;  &lt;hr align="left" size="1" width="33%" /&gt;    &lt;div id="ftn1"&gt;  &lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8327700263599763418#_ftnref1" name="_ftn1" title=""&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Selain tulisan Herfanda, “Reposisi dan Pergeseran Peran Komunitas Sastra” dalam &lt;i&gt;Komunitas Sastra Indonesia Catatan Perjalanan &lt;/i&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;(2008), mengenai sastra pedalaman juga diulas oleh Will Derks, “Sastra Pedalaman Pusat-pusat Sastra Lokal dan Regional di Indonesia” dalam buku &lt;i&gt;Clearing a Space Kritik Pascakolonial tentang Sastra Indonesia Modern&lt;/i&gt; (2006) &lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn2"&gt;  &lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8327700263599763418#_ftnref2" name="_ftn2" title=""&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Para TKW di Hongkong, mendirikan FLP Hongkong pada 16 Februari 2004 yang seluruh anggotanya adalah pembantu rumah tangga. &lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn3"&gt;  &lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8327700263599763418#_ftnref3" name="_ftn3" title=""&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Contoh antologi &lt;i&gt;Ketika Duka Tersenyum&lt;/i&gt; (2002) yang seluruh penjualannya didedikasikan bagi Pipiet Senja yang mengidap thalassemia.&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn4"&gt;  &lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8327700263599763418#_ftnref4" name="_ftn4" title=""&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Lihat wawancara dengan Rahmadiyanti yang saat ini menjabat sebagai CEO Lingkar Pena Publishing House (LPPH) dan &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;koordinator &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Divisi Pengembangan Sumber Daya Manusia &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;(&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;PSDM&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn5"&gt;  &lt;div class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8327700263599763418#_ftnref5" name="_ftn5" title=""&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Tentang FLP JAKARTA dapat dilihat di &lt;a href="http://galeriflpdki.multiply.com/"&gt;&lt;span style="color: windowtext;"&gt;http://galeriflpJakarta.multiply.com&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn6"&gt;  &lt;div class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8327700263599763418#_ftnref6" name="_ftn6" title=""&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Menurut Irfan Hidayatullah, keanggotaan FLP cabang Jabodetabek lebih plural, berbeda dengan FLP di UGM atau Jatinangor yang anggotanya mayoritas berstatus mahasiswa. Hal itu, juga ditegaskan oleh Taufan. E Prast yang mengungkapkan bahwa keanggotaan FLP Jakarta terdiri dari pelajar, ibu rumah tangga, mahasiswa, dan golongan pekerja. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn7"&gt;  &lt;div class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8327700263599763418#_ftnref7" name="_ftn7" title=""&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Data per 8 Maret 2009&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn8"&gt;  &lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8327700263599763418#_ftnref8" name="_ftn8" title=""&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Berdakwah Lewat Tulisan yang diberi &lt;i&gt;Bold &lt;/i&gt;oleh Azimah Rahayu, memperlihatkan penekanan yang ingin disampaikan penulis.&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8327700263599763418-677776243019407937?l=ruangkata-katavie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/feeds/677776243019407937/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/2011/08/nilai-nilai-keislaman-dalam-forum_26.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8327700263599763418/posts/default/677776243019407937'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8327700263599763418/posts/default/677776243019407937'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/2011/08/nilai-nilai-keislaman-dalam-forum_26.html' title='Nilai-Nilai Keislaman dalam Forum Lingkar Pena (Bag.2)'/><author><name>Ruang Kata-kata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02073905970978168417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-BMpRpLILnS8/Tgiif45TyJI/AAAAAAAAAF4/wJFIcqlOhCM/s220/DSC01970.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8327700263599763418.post-5277716651361282978</id><published>2011-08-24T11:47:00.001+07:00</published><updated>2011-09-07T00:45:59.180+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Kritik Sastra'/><title type='text'>Nilai-Nilai Keislaman dalam Forum Lingkar Pena (Bag.1)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;oleh Novi Diah Haryanti&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;Abstrak &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/b&gt;Forum Lingkar Pena (FLP) adalah organisasi kepenulisan berbasis Islam yang berdiri pada 22 Februari 1997. Saat ini, FLP merupakan organisasi penulis muda terbesar yang anggotanya mencapai 7000 orang dan menghasilkan lebih dari 600 judul buku. Penelitian ini bertujuan untuk melihat nilai-nilai keislaman yang terdapat dalam FLP dan karya-karya yang dihasilkannya. Hal tersebut, dilakukan dengan menganalisis modul dan karya FLP, serta melakukan wawancara terhadap para tokoh FLP. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Nilai-nilai keislaman FLP terlihat dari isi&lt;i&gt; &lt;span lang="EN-GB"&gt;Materi Kelompok Pramuda Forum Lingkar Pena Jakarta, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;yang memuat &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;pengetahuan dasar tentang Forum Lingkar Pena&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; (KE-FLP-AN), wawasan keislaman, dan kepenulisan. Modul &amp;nbsp;tersebut berperan mengarahkan tulisan anggotanya, sehingga karya-karya dihasilkan, diharapkan dapat menjadi media dakwah yang memberi pencerahan bagi pembacanya. Sebagai komunitas, FLP merupakan akselerasi bagi para penulis muda. Karya-karya yang dihasilkan FLP pun dapat menjadi alternatif bacaan bagi para pembaca khususnya pembaca muslim.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-UrVNRpnbna4/TlSCZldtBoI/AAAAAAAAAH8/q4RuxQfslt8/s1600/logoflp-flp2.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="232" src="http://1.bp.blogspot.com/-UrVNRpnbna4/TlSCZldtBoI/AAAAAAAAAH8/q4RuxQfslt8/s320/logoflp-flp2.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pendahuluan &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sejak tahun 1990-an komunitas sastra tumbuh subur tidak hanya di ibu kota provinsi tapi juga di kantong-kantong kesenian yang terdapat di kabupaten, tingkat kecamatan, bahkan sampai di tingkat kelurahan (KSI, 2008). Perkembangan ini yang direspon oleh Litbang &lt;i&gt;Kompas&lt;/i&gt; dan Komunitas Sastra Indonesia (1998) dengan melakukan pemetaan terhadap komunitas sastra yang terdapat di Jakarta, Tangerang, Bogor, dan Bekasi. Dari pemetaan tersebut, setidaknya tercatat sebanyak 20 komunitas terdapat di Jakarta, 5 komunitas di Bogor, 18 komunitas di Tangerang, dan 3 komunitas di Bekasi. Tidak hanya menjadi komunitas yang sekadar muncul lalu menghilang, beberapa komunitas –sebut saja Komunitas Utan Kayu yang didirikan oleh Goenawan Mohamad (GM) dan Komunitas Sastra Indonesia yang didirikan &lt;i&gt;keroyokan&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8327700263599763418#_ftn1" name="_ftnref1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/i&gt; oleh para sastrawan di Jabotabek, menjadi pusat kekuatan sastra baru.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sebelas tahun pascapemetaan yang dilakukan oleh KSI dan Litbang &lt;i&gt;Kompas&lt;/i&gt;, pertumbuhan komunitas sastra kian marak, sebut saja Forum Lingkar Pena (FLP), komunitas sastra &lt;i&gt;cyber&lt;/i&gt;, Creative Writing Institute (CWI), Boemipoetra, dan Rumah Dunia. Tidak hanya ikut-ikutan, kehadiran komunitas-komunitas ini mampu memberikan warna dalam kancah sastra Indonesia. Contoh paling nyata terlihat dari FLP yang melahirkan tren sastra islami dan berkembang dengan pesat lewat jejaring pembaca, penulis, dan penerbit yang dibuatnya. Karya-karya yang dihasilkan oleh para penulis FLP menjadi alternatif bagi pembaca di tengah kontroversi maraknya para penulis –kebanyakan perempuan –yang memasuk&lt;/span&gt;k&lt;span lang="IN"&gt;an unsur seksualitas dalam karyanya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Forum Lingkar Pena (FLP) berdiri pada 22 Februari 1997. Dimotori oleh Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, dan Muthmainnah, FLP memulai gerakannya hanya dengan 30 orang anggota. Namun, setelah duabelas tahun berdiri, komunitas ini menjelma menjadi komunitas penulis muda terbesar yang anggotanya mencapai 7000 orang&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8327700263599763418#_ftn2" name="_ftnref2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; dan tersebar di 125 kota di Indonesia dan &lt;/span&gt;m&lt;span lang="IN"&gt;ancanegara seperti Singapura, Hongkong, Jepang, Belanda, Amerika, Mesir, dan Inggris.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8327700263599763418#_ftn3" name="_ftnref3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Dengan jumlah anggota tersebut, FLP telah menerbitkan lebih dari 700 buku –fiksi ataupun nonfiksi untuk dewasa, remaja, dan anak-anak– serta&amp;nbsp; bekerjasama dengan 30 penerbit. Kesuksesan anggota FLP menerbitkan karya-karyanya, membuat FLP pada 2003 mendirikan penerbitan sendiri yang diberi nama &lt;i&gt;Lingkar Pena Publishing House &lt;/i&gt;(LPPH). &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Salah satu faktor berkembang&lt;/span&gt;nya&lt;span lang="IN"&gt; FLP adalah kedekatan dengan Majalah fiksi Islami &lt;i&gt;Annida&lt;/i&gt; –pada saat itu dipimpin oleh &lt;/span&gt;Rosa&lt;span lang="IN"&gt; –yang menjadi wadah bagi karya-karya anggota FLP.&lt;/span&gt; Sebagai majalah fiksi Islami, cerpen-cerpen yang terdapat dalam &lt;i&gt;Annida&lt;/i&gt; mengangkat berbagai persoalan dalam diri, keluarga, dan masyarakat serta melihatnya dari sudut pandang keislaman. Unsur keislaman yang sangat kental membuat cerpen-cerpen &lt;i&gt;Annida&lt;/i&gt; hanya dapat dinikmati oleh kalangan tertentu seperti pesantren, namun terkadang unusr-unsur tersebut ditampilan secara samar dan multitafsir.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8327700263599763418#_ftn4" name="_ftnref4" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;span lang="IN"&gt;Kebiasaan para anggota FLP yang kerap menulis cerpen di &lt;i&gt;Annida&lt;/i&gt; dan kedekatannya dengan majalah tersebutlah yang membuat FLP lekat dengan nuansa islami.&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Selain menampung kreativitas anggota FLP, di &lt;i&gt;Annida&lt;/i&gt; juga terdapat rubrik khusus berisi info FLP yang menjadi sarana perekrutan bagi anggota baru.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sebagai organisasi kepenulisan yang berbasis keislaman, FLP merupakan tempat akselerasi bagi siapapun yang ingin menjadi seorang penulis dan menjadikan kegiatan tulis-menulis sebagai bagian dari pencerahan dan dakwah. Selain dari karyanya, nuansa keislaman FLP juga terlihat dari ritual-ritual yang dilakukan pada pertemuan rutin di tiap cabang, seperti membuka kegiatan dengan membaca Al Quran ataupun menutupnya dengan &lt;i&gt;Qultum&lt;/i&gt;.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8327700263599763418#_ftn5" name="_ftnref5" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Walau demikian, baik &lt;/span&gt;Rosa&lt;span lang="IN"&gt; atapun &lt;/span&gt;Hidayatullah&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8327700263599763418#_ftn6" name="_ftnref6" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="IN"&gt; menegaskan bahwa FLP merupakan organisasi terbuka bagi siapapun yang ingin belajar menulis dan menjadikannya sebagai kegiatan yang mencerahkan umat (masyarakat). &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kemajuan FLP tersebut, membuat motor pengerak FLP, Helvy Tiana Rosa, mendapatkan banyak apresiasi dari berbagai pihak, seperti Penghargaan Perempuan Indonesia Berprestasi dari Tabloid &lt;i&gt;Nova&lt;/i&gt; dan Menteri Pemberdayaan Perempuan RI (2004),&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tokoh Sastra &lt;i&gt;Eramuslim&lt;/i&gt; Award (2006), Muslimah Teladan Bidang Penulisan versi Majalah &lt;i&gt;Alia&lt;/i&gt; (2006), Ikon Perempuan Indonesia versi Majalah &lt;i&gt;Gatra&lt;/i&gt; (2007), Wanita Indonesia Inspiratif versi Tabloid &lt;i&gt;Wanita Indonesia &lt;/i&gt;(2008), Danamon Award mengusung FLP yang ia dirikan (2008)&lt;/span&gt;, dan 100 Wanita Terinspiratif versi Majalah &lt;i&gt;Kartini &lt;/i&gt;(2009).&amp;nbsp; &lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tidak hanya memiliki Helvy Tiana &lt;/span&gt;Rosa&lt;span lang="IN"&gt;, beberapa penulis FLP terbilang sangat produktif bahkan melahirkan buku-buku yang &lt;i&gt;best seller&lt;/i&gt;, seperti Asma Nadia, Muthmainnah,&amp;nbsp; Azzimah Rahayu, dan Habiburrahman El Shirazy. Ada pula FLP &lt;i&gt;Kids&lt;/i&gt;, yang menjadi tempat anak-anak untuk belajar menulis dan melahirkan karya bersama FLP, seperti Adzimattin Nur, Abdurrahman Faiz, dan Adam Putra Firdaus. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Perkembangan FLP yang pesat dan lahirnya para penulis yang mencuri perhatian masyarakat lewat buku-buku &lt;i&gt;bestseller&lt;/i&gt;nya, membuat saya tertarik untuk meneliti FLP.&amp;nbsp; Sedangkan, tujuan dari penelitian ini adalah memperlihatkan nilai-nilai keislaman yang tedapat dalam Forum Lingkar Pena (FLP) dan karyanya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analisis yang dilakukan dengan cara mendeskripsikan fakta-fakta kemudian disusul dengan analisis (Ratna, 2006: 53). Penelitian ini memanfaatkan sumber-sumber tertulis seperti buku, laporan penelitian, artikel dan dokumen tertulis lainnya yang memiliki relevansi dengan judul penelitian, serta sumber tidak tertulis (wawancara) dengan tokoh FLP. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr align="left" size="1" width="33%" /&gt;&lt;div id="ftn1"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8327700263599763418#_ftnref1" name="_ftn1" title=""&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Dalam buku &lt;i&gt;Komunitas Sastra Indonesia, Catatan Perjalanan&lt;/i&gt; (2008), sebelas orang sastrawan hadir &lt;/span&gt;untuk mendirikan Komunitas Sastra Indonesia (KSI) &lt;span lang="IN"&gt;diantaranya: Ahmadun Yosi Herfanda (Jakarta), Ayid Suyitno PS (Jakarta), Azwina Aziz Miraza (Tangerang), Diah Hadaning (Bogor), Hasan Bisri BFC (Jakarta), Iwan Gunadi (Jakarta), Medy Loekito (Jakarta), Shobir Poerwanto (Jakarta), Slamet Rahardjo Rais (Jakarta), Wig SM (Bekasi), Wowok Hesti Prabowo (Tangerang). Dalam perjalanannya, KSI tidak hanya menjadi &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;wadah sastrawan yang berdomisili di Jabotabek, tapi merambah ke wilayah Jawa, Bali, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn2"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8327700263599763418#_ftnref2" name="_ftn2" title=""&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Wawancara dengan Rahmadiyanti, CEO LPPH &amp;nbsp;(terlampir).&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn3"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8327700263599763418#_ftnref3" name="_ftn3" title=""&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Helvy Tiana&amp;nbsp; Rosa dalam makalah bertajuk &lt;i&gt;Forum Lingkar Pena, Sejarah Konsep, dan Gerakan&lt;/i&gt; yang disampaikan pada kongres HISKI di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia, 8 Agustus 2007. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn4"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8327700263599763418#_ftnref4" name="_ftn4" title=""&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Lihat tesis Helvy Tiana Rosa bertajuk &lt;i&gt;Majalah Remaja Annida Konsep, Strategi, dan Pola Representasi dalam Delapan Cerpennya tahun 1990-an&lt;/i&gt;. Universisitas Indonesia (2004)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn5"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8327700263599763418#_ftnref5" name="_ftn5" title=""&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Menutup pertemuan dengan &lt;i&gt;Qultum&lt;/i&gt; terlihat ketika saya datang dalam pertemuan rutin FLP cabang Jakarta Jakarta di TIM. Menurut ketua FLP Jakarta 2009-2011, Taufan E. Prast, &lt;i&gt;Qultum&lt;/i&gt; adalah ritual khas FLP yang tidak dilakukan oleh komunitas penulis lainnya.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn6"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8327700263599763418#_ftnref6" name="_ftn6" title=""&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Helvy Tiana Rosa merupakan Ketua Umum FLP periode 1997-2005 sedangkan Irfan Hidayatullah Ketua Umum FLP periode 2005-2009 &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8327700263599763418-5277716651361282978?l=ruangkata-katavie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/feeds/5277716651361282978/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/2011/08/nilai-nilai-keislaman-dalam-forum.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8327700263599763418/posts/default/5277716651361282978'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8327700263599763418/posts/default/5277716651361282978'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/2011/08/nilai-nilai-keislaman-dalam-forum.html' title='Nilai-Nilai Keislaman dalam Forum Lingkar Pena (Bag.1)'/><author><name>Ruang Kata-kata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02073905970978168417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-BMpRpLILnS8/Tgiif45TyJI/AAAAAAAAAF4/wJFIcqlOhCM/s220/DSC01970.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-UrVNRpnbna4/TlSCZldtBoI/AAAAAAAAAH8/q4RuxQfslt8/s72-c/logoflp-flp2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8327700263599763418.post-7917343100452774844</id><published>2011-08-23T10:08:00.002+07:00</published><updated>2011-09-07T00:45:17.884+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Mengenal Berbagai Teori dan Pendekatan Sastra'/><title type='text'>Pendekatan Struktural</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Strukturalis pada dasarnya merupakan cara berpikir tentang dunia yang&amp;nbsp; berhubungan dengan tanggapan dan deskripsi struktur-struktur. Dalam pandangan ini karya sastra diasumsikan sebagai fenomena uang memiliki struktur yang saling terkait satu sama lain.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8327700263599763418#_ftn1" name="_ftnref1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Struktur berasal dari kata &lt;i&gt;stuctura&lt;/i&gt;, bahasa latin, yang berarti bentuk atau bangunan. Secara definitif strukturalisme berarti paham mengenai unsur-unsur, yaitu struktur itu sendiri, dengan mekanisme antarhubugannya, di satu pihak antarhubungan unsur yang satu dengan unsur lainnya, dipihak yang lain hubungan antara unsur (unsur) dengan totalistasnya.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8327700263599763418#_ftn2" name="_ftnref2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp; Sebagai kualitas totalitas, antar-hubungan merupakan energi, motivator terjadinya gejala yang baru, mekanisme yang baru, yang pada gilirannya menampilkan makna-makna baru. &lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8327700263599763418#_ftn3" name="_ftnref3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Strukturalisme adalah suatu pendekatan terhadap teks dan praktik teks yang berasal dari kerangka teoritis seorang pakar linguistik Swiss, Ferdinand de Saussure. Strukturalisme mengambil dua ide dasar Saussure. Pertama, perhatian pada hubungan yang mendukung teks dan praktik budaya, “tata bahasa” yang memungkinkan makna. Kedua, pandangan bahwa makna selalu merupakan hasil dari hubungan seleksi dan kombinasi yang dimungkinkan terjadi di dalam struktur yang mendukungnya.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8327700263599763418#_ftn4" name="_ftnref4" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Menurut Jean Peaget strukturalisme mengandung tiga hal pokok:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pertama gagasan keseluruhan &lt;i&gt;(wholness)&lt;/i&gt;, dalam arti bahwa bagian-bagian atau unsurnya menyesuaikan diri dengan seperangkat kaidah instrinsik yang menentukan baik keseluruhan struktur maupun bagian-bagiannya. Kedua, gagasan transformasi (&lt;i&gt;trasformation&lt;/i&gt;), struktur itu menyanggupi prosedur transformasi yang terus-menerus memungkinkan pembentukan bahan-bahan baru. Ketiga, gagasan keteraturan yang mandiri (&lt;i&gt;self regulation&lt;/i&gt;) yaitu tidak memerlukan hal-hal di luar dirinya untuk mempertahankan prosedur transformasinya, struktur itu otonom terhadap rujukan sistem lain.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8327700263599763418#_ftn5" name="_ftnref5" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 200%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Begitupun dengan Northrop Frye, baginya kesusastraan ialah sebuah ‘struktur verbal otonom’ yang terputus dari acuan lain di luar dirinya. Sebuah&amp;nbsp; area yang tersegel dan menatap ke dalam yang ‘mengandung kehidupan dan realitas dalam sebuah sistem hubungan verbal’. Yang dilakukan sistem ini hanya menata ulang unit-unit simbolisnya dalam hubungannya satu sama lain, bukan dalam hubungannya dengan realitas apa pun di luar sistem.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8327700263599763418#_ftn6" name="_ftnref6" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Abrams mengatakan ada empat model pendekatan yang dapat dilakukan dalam mengkaji karya sastra. Pertama, pendekatan yang menitikberatkan karya itu sendiri, pendekatan ini disebut objektif. Kedua, pendekatan yang menitikberatkan penulis, disebut ekspresif. Ketiga, pendekatan yang menitik beratkan pada semesta, disebut mimetik. Keempat, pendekatan yang menitikberatkan pembaca, disebut pragmatik.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8327700263599763418#_ftn7" name="_ftnref7" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sebagai pendekatan yang menitik beratkan pada karya itu sendiri, pendekatan objektif identik dengan pendekatan strukturalisme yang bertujuan memaparkan fungsi dan keterkaitan antarunsur karya sastra. Secara garis besar struktur karya sastra (fiksi) dibagi atas dua bagian, yaitu: (1) struktur luar (ekstrinsik) dan (2) struktur dalam (instrinsik). Struktur luar (ekstrinsik) adalah segala macam unsur yang berada di luar suatu karya sastra yang ikut mempengaruhi kehadiran karya sastra tersebut. Struktur dalam (intrinsik) adalah unsur-unsur yang membantuk karya sastra tersebut seperti penokohan atau perwatakan, tema, alur (plot), pusat pengisahan, latar dan gaya bahasa.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8327700263599763418#_ftn8" name="_ftnref8" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 200%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Karya sastra yang dibangun atas dasar bahasa, memiliki ciri bentuk &lt;i&gt;(form)&lt;/i&gt; dan isi &lt;i&gt;(content)&lt;/i&gt; atau makna &lt;i&gt;(significance)&lt;/i&gt; yang otonom. Artinya, pemahaman karya sastra dapat diteliti dari teks sastra itu sendiri dan tidak memerlukan hal-hal di luar dirinya untuk mempertahankan prosedur transformasinya. Karena itulah pendekatan strukturalis memandang karya sastra sebagai teks mandiri.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8327700263599763418#_ftn9" name="_ftnref9" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Dresden dalam Teeuw mengatakan, bagi setiap peneliti sastra, analisis struktur karya sastra merupakan prioritas, pekerjaan pendahuluan, sebab karya sastra sebagai ”dunia dalam kata” mempunyai kebulatan makna intrinsik yang hanya dapat digali dari karya itu sendiri. &lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8327700263599763418#_ftn10" name="_ftnref10" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;[10]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Selain itu analisis struktural bertujuan membongkar dan memaparkan dengan cermat, teliti dan marik keterkaitan dan keterjalinan semua unsur karya sastra yang bersama-sama menghasilkan makna seutuhnya.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8327700263599763418#_ftn11" name="_ftnref11" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;[11]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Novi Diah Haryanti&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;  &lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr align="left" size="1" width="33%" /&gt;&lt;div id="ftn1"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8327700263599763418#_ftnref1" name="_ftn1" title=""&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;span lang="IN"&gt;Suwardi Endraswara, &lt;i&gt;Metodologi Penelitian Sastra&lt;/i&gt;,&lt;i&gt; Op.Cit.&lt;/i&gt;, hlm. 49. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn2"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8327700263599763418#_ftnref2" name="_ftn2" title=""&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;span lang="IN"&gt;Nyoman Kutha Ratna, S.U, &lt;i&gt;Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra,&lt;/i&gt;&amp;nbsp; (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), hlm. 91&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn3"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8327700263599763418#_ftnref3" name="_ftn3" title=""&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt; Ibid.,&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN"&gt; hlm.77&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn4"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8327700263599763418#_ftnref4" name="_ftn4" title=""&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt; John Storey, &lt;i&gt;Teori Budaya dan Budaya Pop; Memetakan Landskap konseptual Cultural Studies&lt;/i&gt;, terjemahan Dede Nurdin (Yogyakarta: Qalam, 2003) , hlm. 109.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn5"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8327700263599763418#_ftnref5" name="_ftn5" title=""&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;span lang="IN"&gt;Suwardi Endraswara, &lt;i&gt;Metodologi Penelitian Sastra&lt;/i&gt;,&lt;i&gt; Op.Cit.&lt;/i&gt;, hlm. 50&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn6"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8327700263599763418#_ftnref6" name="_ftn6" title=""&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;span lang="IN" style="font-size: 10pt;"&gt;Terry Eagleton, &lt;i&gt;Teori Sastra; Sebuah Pengantar Komprehensif&lt;/i&gt;, (Yogyakarta: Jalasutra, 2007), hlm. 133-134&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn7"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8327700263599763418#_ftnref7" name="_ftn7" title=""&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;span lang="SV"&gt;A. Teeuw, &lt;i&gt;Sastera dan Ilmu Sastera&lt;/i&gt;, (Bandung: Pustaka Jaya, 2003), hlm. 43.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn8"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8327700263599763418#_ftnref8" name="_ftn8" title=""&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt; Atar Semi, &lt;i&gt;Anatomi Sastra, &lt;/i&gt;(Angkasa Raya: Pandang), hlm.35.&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn9"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8327700263599763418#_ftnref9" name="_ftn9" title=""&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &amp;nbsp;&lt;span lang="IN"&gt;Suwardi Endraswara, &lt;i&gt;Metodologi Penelitian Sastra&lt;/i&gt;,&lt;i&gt; Op.Cit.&lt;/i&gt;, hlm. 50&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn10"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8327700263599763418#_ftnref10" name="_ftn10" title=""&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="SV" style="font-size: 10pt;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;[10]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="font-size: 10pt;"&gt; A.Teeuw, &lt;i&gt;Membaca dan Menilai Sastra&lt;/i&gt;, (Jakarta:PT Gramedia Pustaka Utama,1991),hlm.61&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn11"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8327700263599763418#_ftnref11" name="_ftn11" title=""&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;[11]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Rachmat Djoko Pradopo, &lt;i&gt;Kritik Sastra Indonesia Modern&lt;/i&gt;, (Yogyakarta: Gama Media,&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt; 2002), hlm.72&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8327700263599763418-7917343100452774844?l=ruangkata-katavie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/feeds/7917343100452774844/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/2011/08/pendekatan-struktural.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8327700263599763418/posts/default/7917343100452774844'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8327700263599763418/posts/default/7917343100452774844'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/2011/08/pendekatan-struktural.html' title='Pendekatan Struktural'/><author><name>Ruang Kata-kata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02073905970978168417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-BMpRpLILnS8/Tgiif45TyJI/AAAAAAAAAF4/wJFIcqlOhCM/s220/DSC01970.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8327700263599763418.post-1775997639939900430</id><published>2011-08-17T23:13:00.002+07:00</published><updated>2011-08-17T23:15:21.975+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Kritik Sastra'/><title type='text'>Anticolonialism ideas of the female characters in three Mas Marco Kartodikromo’s Works: A Postcolonial Analysis</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;: Novi Diah Haryanti&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;This analysis aims to show anticolonialism ideas of the female characters in Student Hidjo, Matahariah, and Rasa Merdika. Qualitative descriptive method and orientalism and hibridity theories are used to see how these female characters represent their anticolonialism ideas as a form of Marco’s disapproval. From the result of the analysis, it is shown that Marco presents on purpose the female characters who are independent, intelligent, active, brave in stating their opinions and appear on public, and together with men fight against various forms of colonialism. The connection to the west culture makes these women become hibrid people, move freely in the third space that is ambivalent. Hibridity strategy that is the most obviously done by these characters is mimicry. European women that look so javanese or the javanese women that try to be european. In other words, both try to be “almost the same but not quite’. &amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Key Words: Marco, Anticolonial, Hibridity, Mimicry, West-East &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8327700263599763418-1775997639939900430?l=ruangkata-katavie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/feeds/1775997639939900430/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/2011/08/anticolonialism-ideas-of-female.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8327700263599763418/posts/default/1775997639939900430'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8327700263599763418/posts/default/1775997639939900430'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/2011/08/anticolonialism-ideas-of-female.html' title='Anticolonialism ideas of the female characters in three Mas Marco Kartodikromo’s Works: A Postcolonial Analysis'/><author><name>Ruang Kata-kata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02073905970978168417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-BMpRpLILnS8/Tgiif45TyJI/AAAAAAAAAF4/wJFIcqlOhCM/s220/DSC01970.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8327700263599763418.post-5935462261109667281</id><published>2011-08-17T22:57:00.001+07:00</published><updated>2011-08-17T23:07:08.265+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Kritik Sastra'/><title type='text'>Ide Antikolonialisme Tokoh-tokoh Perempuan dalam Tiga Karya    Mas Marco Kartodikromo: Suatu Tinjauan Pascakolonial</title><content type='html'>&lt;br /&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;ABSTRAK&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;oleh Novi Diah Haryanti&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Penelitian ini bertujuan memperlihatkan ide antikolonialisme tokoh-tokoh perempuan dalam &lt;i&gt;Student Hidjo, Matahariah&lt;/i&gt;, dan &lt;i&gt;Rasa Mardika&lt;/i&gt;. Metode deskriptif kualitatif dengan teori orientalisme dan hibriditas digunakan untuk melihat bagaimana tokoh-tokoh perempuan tersebut merepresentasikan ide antikoloniliasme sebagai bentuk perlawanan Marco. Dari hasil analisis tampak bahwa Marco dengan sengaja menampilkan tokoh-tokoh perempuan mandiri, pintar, aktif, berani bersuara dan tampil di depan umum, serta bersama-sama kaum laki-laki melakukan perjuangan melawan berbagai bentuk penindasan. Persinggungannya dengan budaya Barat, membuat tokoh-tokoh perempuan dalam karya Marco menjadi pribadi yang hibrid, bergerak bebas pada ruang ketiga yang serba ambivalen. Strategi &amp;nbsp;hibriditas yang paling tampak adalah mimikri yang dilakukan para tokohnya. Perempuan Eropa yang tampak sangat Jawa atau perempuan Jawa yang berusaha menjadi Eropa. Dengan kata lain keduanya berusaha untuk menjadi serupa tapi tidak sama.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Kata kunci:&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt; &lt;span lang="IN"&gt;Marco, Antikolonial, Hibriditas, Mimikri, Barat-Timur&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8327700263599763418-5935462261109667281?l=ruangkata-katavie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/feeds/5935462261109667281/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/2011/08/ide-antikolonialisme-tokoh-tokoh.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8327700263599763418/posts/default/5935462261109667281'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8327700263599763418/posts/default/5935462261109667281'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/2011/08/ide-antikolonialisme-tokoh-tokoh.html' title='Ide Antikolonialisme Tokoh-tokoh Perempuan dalam Tiga Karya    Mas Marco Kartodikromo: Suatu Tinjauan Pascakolonial'/><author><name>Ruang Kata-kata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02073905970978168417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-BMpRpLILnS8/Tgiif45TyJI/AAAAAAAAAF4/wJFIcqlOhCM/s220/DSC01970.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8327700263599763418.post-4366347340414207954</id><published>2011-08-12T23:33:00.000+07:00</published><updated>2011-08-12T23:33:20.726+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita dan Permainan Kata-kata'/><title type='text'>KepadaNya</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt; /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable	{mso-style-name:"Table Normal";	mso-tstyle-rowband-size:0;	mso-tstyle-colband-size:0;	mso-style-noshow:yes;	mso-style-parent:"";	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;	mso-para-margin:0cm;	mso-para-margin-bottom:.0001pt;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:10.0pt;	font-family:"Times New Roman";	mso-ansi-language:#0400;	mso-fareast-language:#0400;	mso-bidi-language:#0400;}&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Jika semua ada masaNya&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Maka kasih dariMu ialah segalaNya&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Jika sudah habis masaNya&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Maka hanya padaMu kukembalikan semua&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Tiada yang luput, segalaNya&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;hanyalah milikMu semata.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8327700263599763418-4366347340414207954?l=ruangkata-katavie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/feeds/4366347340414207954/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/2011/08/kepadanya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8327700263599763418/posts/default/4366347340414207954'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8327700263599763418/posts/default/4366347340414207954'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/2011/08/kepadanya.html' title='KepadaNya'/><author><name>Ruang Kata-kata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02073905970978168417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-BMpRpLILnS8/Tgiif45TyJI/AAAAAAAAAF4/wJFIcqlOhCM/s220/DSC01970.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8327700263599763418.post-233769898343755964</id><published>2011-08-02T22:03:00.000+07:00</published><updated>2011-08-02T22:03:46.216+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Berbagai Ulasan Buku dan Artikel Sastra'/><title type='text'>NEW HISTORICISM DALAM PERKEMBANGAN KRITIK SASTRA</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;oleh Novi Diah Haryanti &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt; /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin:0cm; mso-para-margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:"Times New Roman"; mso-ansi-language:#0400; mso-fareast-language:#0400; mso-bidi-language:#0400;}&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Judul&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : New Historicism dalam Perkembangan Kritik Sastra&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Penulis&amp;nbsp; : Melani Budianta&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Terbit &amp;nbsp; : &lt;/span&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt; /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin:0cm; mso-para-margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:"Times New Roman"; mso-ansi-language:#0400; mso-fareast-language:#0400; mso-bidi-language:#0400;}&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Jurnal Susastra, Vol. 2 no 3 tahun 2006&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt; /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin:0cm; mso-para-margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:"Times New Roman"; mso-ansi-language:#0400; mso-fareast-language:#0400; mso-bidi-language:#0400;}&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tulisan Melani Budianta dalam jurnal Susastra, Vol. 2 no 3 tahun 2006 mencoba melihat kontribusi &lt;i&gt;New Historicism&lt;/i&gt; &lt;i&gt;(NH)&lt;/i&gt; dalam sejarah kritik sastra di Barat dan apa yang ditawarkannya bagi kritik sastra Indonesia. Ada tiga pertanyaan yang coba dijawabnya dalam tulisan terkait kritik yang berkembang dalam dua dekade terakhir abad ke-20, 1) pembaharuan apa yang disumbangkan &lt;i&gt;NH&lt;/i&gt;? Apakah &lt;i&gt;NH&lt;/i&gt; menawarkan kemungkinan-kemungkinan baru bagi kajian sastra di Indonesia? Dan apa keterbatasananya? Dengan kata lain ontologis atau “barang apa” yang diteliti dalam &lt;i&gt;paper&lt;/i&gt; Melani Budianta adalah &lt;i&gt;New Histocism&lt;/i&gt; &lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Budianta memulai tulisannya dengan subjudul “Yang Baru dalam &lt;i&gt;NH&lt;/i&gt;”. Sesuai dengan subjudul yang dipilihnya, penelurusan mengenai kapan dan oleh siapa istilah NH pertama dipakai terjawab dalam paragraf pertama. Istilah &lt;i&gt;NH&lt;/i&gt; pertama kali digunakan Stephen Greenblattt pada 1982 yang mencoba melihat keterkaitan teks sastra dengan berbagai kekuatan sosial, ekonomi, dan politik yang melingkupinya. Ia mendobrak kecendrungan kajian tekstual yang ahistoris, otonom, dan dipisahkan dari aspek yang berada di luar karya. Tidak hanya menggugat formalisme, menurut Greenblatttt karya sastra ikut membangun, mereproduksi konvensi, norma, dan nilai budaya melalui tindak verbal dan imajinasinya. &lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Revisi &lt;i&gt;NH&lt;/i&gt; terhadap pendekatan formalis maupun sejarah disimpulkan oleh Louis A. Montrose dengan istilah “kesejarahan sastra dan kesastraan sejarah” yang berarti membaca sastra = membaca sejarah dan membaca sejarah = membaca sastra. &lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Selanjutnya, lewat subjudul “Yang bukan baru: kesinambungan dan perbedaan teoritis” Melani Budianta mencoba membandingkan NH dengan beberapa teori yang sudah ada sebelumnya. Pertama Budianta membandingkan dengan &lt;i&gt;Cultural Materialism&lt;/i&gt; yang dipelopori Raymond Williams pada tahun 60-an. &lt;i&gt;Cultural Materialism&lt;/i&gt; yang dipengaruhi oleh neo-Marxis&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;melihat pentingnya memberi pemaknaan dengan menempatkannya pada kondisi material masanya. Selanjutnya Budianta juga melihat bahwa &lt;i&gt;NH&lt;/i&gt; tidak dapat dilepaskan dari teori-teori postrukturalis seperti teori Dekonstruksi Jaques Derrida atau keterkaitan antara tanda dan ideologi yang diungkapkan oleh Rland Barthes. Hanya saja, jika dekonstruksi yang cenderung berpusat pada teks, &lt;i&gt;NH&lt;/i&gt; mengutamakan hubungan teks dengan hukum, ekonomi, politik sehingga &lt;i&gt;NH&lt;/i&gt; dengan kritik poskolonial, feminis, atau cultural studies yang menekankan dimensi politis-ideologis produk-produk budaya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Setelah memaparkan yang baru dan bukan baru dalam kritik &lt;i&gt;NH&lt;/i&gt;, pada bagian selanjutnya Budianta membicarakan “Teori dan Metode: Foucault dan Geertz”. &lt;i&gt;NH&lt;/i&gt; banyak bertumpu pada konsep kekuasaan Michel Foucault yaitu keniscayaan yang selalu hadir dalam setiap interaksi manusia, termasuk bahasa. Karena relasi kuasa bersirkulasi terus menerus tanpa henti mendorong kreativitas dan produktivitas, maka karya sastra dengan sendirinya menghadirkan relasi kuasa itu melalui bahasa yan dipakainya. Tidak hanya itu pengaruh Foucault tampak dari definisi Greenblattt tentang kebudayaan yaitu ruang tempat tarik menarik antara “kendala” dan “mobilitas”. Kritik &lt;i&gt;NH&lt;/i&gt; umumnya menempatkan “subjek” dalam suatu tegangan antara menjadi agen yang mempunyai kesadaran akan pilihan, tindakan, kemauan, dan pihak yang ditaklukan atau mengalami subjektivikasi oleh idelogi atau nilai-nilai yang dominan. Pengaruh Clifford Greertz tampak pada metode “thick description” yaitu metode etnografi untuk memahami suatu produk budaya lain dengan rinci mengupas lapisan makna yang kompleks dalam kode-kode budaya yang mendasarinya. Sebagai penutup, Budianta menegaskan berbeda dengan pendekatan sejarah yang memakai teks dan produk budaya yang menonjol atau penting pada zamannya, &lt;i&gt;NH&lt;/i&gt; menggunakan hal-hal yang tampak remeh-temen dan tersisihkan dari sejarah dan menyadingkannya dengan teks sastra yang dimaknai untuk menunjukan bagaimana ideologi beroperasi. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Pada bagian “Dimensi Ekonomi: Puitika Pasar dalam Karya Sastra dan Kritik Sastra”, Budianta melihat dimensi ekonomi sangat kuat mewarnai pendekatan &lt;i&gt;NH&lt;/i&gt;. Menurut Greenblattt interaksi budaya didasari oleh logika pertukaran. Kebudayaan dilihat sebagai jaringan negosiasi untuk pertukaran benda-benda material, gagasan, dan pertukaran manusia. Karena &lt;i&gt;NH&lt;/i&gt; merupakan pendekatan yang lahir dalam tatanan masyarakat kapitalis, mau tak mau akan diwarnai oleh sistem yang membentuknya. Itulah yang membuat jargon seperti negosiasi, pertukaran, sirkulasi, merupakan metafor sistem ekonomi yang bertumpu pada sirkulasi uang dan modal. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;“Sumbangan dan Keterbatasan”, menurut Budianta fokus perhatian &lt;i&gt;NH&lt;/i&gt; pada yang bersifat sinkronik dan mikro merupakan kekuatan dan keterbatasan. Salah satu sumbangan &lt;i&gt;NH&lt;/i&gt; adalah mempelopori penjelajahan sejarah di bidang sastra dengan memakai wawasan dan konsep-konsep postruktural. &lt;i&gt;NH&lt;/i&gt; juga menunjukan kekayaan yang ditawarkan oleh studi lintas disiplin, antara sejarah, sastra, ekonomi, politik. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Terakhir pada “Pasar dalam Tjerita Boedjang Bingoeng: Melupakan dan Membingkai Teori” Melani Budianta mencoba menjawab pertanyaan apakah &lt;i&gt;NH&lt;/i&gt; bermanfaat bagi kajian sastra di Indonesia. Sebelum memulai analisis, Budianta mengambil penelitian Tinneke Hellwig mengenai novel populer Fientje de Finiks. Dengan pendekatan feminis, Hellwig menunjukan bahwa baik novelnya maupun dokumen-dokumen sejarah tentang kejadian peristiwa yang sama , telah sama-sama membungkam subjek yang dibicarakannya, perempuan, melalui bias nilai patriarki yang media sastra, jurnalisme, dan sejarah kolonial. Hal tersebut menunjukan Hellwig telah melakukan penelitian sejarah dengan bingkai feminis dan memperlihatkan berbagai penelitian tidak muncul dari satu pendekatan tapi permasalahan yang kemudian menuntut jawaban dengan kerangka konseptual yang lintas pendekatan. Itulah yang membuat Budianta tidak memikirkan &lt;i&gt;NH&lt;/i&gt; ketika menulis kajian tentang naskah Aman Datoek Madjoindo berjudul “Tjerita Boedjang Bingoeng”. Ia membuat penelitian diakronis mengenai “mengapa pasar dan uang begitu sentral dalam &lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;Tjerita Boedjang Bingong&lt;/i&gt;?” dan mengaitkannya dengan &lt;i&gt;Si Doel Anak Jakarta&lt;/i&gt; yang direproduksi menjadi dua film karya Sjuman Dajaja, dan sinteron produksi Rano Karno. Cara kerjanya, sebagai peneliti Melani Budianta tidak mulai dari teori atau pendekatan melainkan dari teks lalu melihat berbagai permasalahan yang ditawarkan oleh teks itu untuk diangkat sebagai penelitian. Pada saat yang sama, berbagai konsep, teori, model-model kajian yang pernah dibacanya telah terinterbalisasi sehingga memberinya “kacamata-kacamata” yang memungkinkannya menangkap permasalahan dalam teks (hlm.18). Sebagai penutup Melani Budianta mengajak pembaca untuk melakukan hal yang sama: membaca model-model kajian yang menerapkan berbagai konsep, teori, dan pendekatan, kemudian melupakannya ketika sedang menggeluti teks-teks sastra, sehingga dapat menemukan permasalahan-permasalahan yang kontekstual.&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8327700263599763418-233769898343755964?l=ruangkata-katavie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/feeds/233769898343755964/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/2011/08/new-historicism-dalam-perkembangan.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8327700263599763418/posts/default/233769898343755964'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8327700263599763418/posts/default/233769898343755964'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/2011/08/new-historicism-dalam-perkembangan.html' title='NEW HISTORICISM DALAM PERKEMBANGAN KRITIK SASTRA'/><author><name>Ruang Kata-kata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02073905970978168417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-BMpRpLILnS8/Tgiif45TyJI/AAAAAAAAAF4/wJFIcqlOhCM/s220/DSC01970.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8327700263599763418.post-4894835975709159119</id><published>2011-08-01T11:57:00.004+07:00</published><updated>2011-08-01T12:06:50.580+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Berbagai Ulasan Buku dan Artikel Sastra'/><title type='text'>Love in a Time of Colonialism: Race and Romance in an Early Indonesian Novel</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;Oleh Novi Diah Haryanti&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-d0kL0xIRn5M/TjYyBDetUMI/AAAAAAAAAH4/IyWnnBprje8/s1600/582649361.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://1.bp.blogspot.com/-d0kL0xIRn5M/TjYyBDetUMI/AAAAAAAAAH4/IyWnnBprje8/s200/582649361.jpg" width="142" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tulisan Paul Tickell dalam buku &lt;i&gt;Clearing a Space: Postcolonial Readings&amp;nbsp; of modern Indonesian Literature &lt;/i&gt;memperlihatkan bagaimana wacana-wacana disipliner (ras dan Seksualitas) sangat menentukan pembentukan identitas-indetitas Barat Modern yang terkait dengan upaya mempertahankan dominasi bangsa Barat terhadap non-Barat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pertemuan antara penjajah dan terjajah, membentuk identitas–identitas hibrida yang menurut Homi Bhabha yang selalu menampilkan ambivalensi dalam wacana kolonial. Atau menurut Bhabha terjadi mimikri kolonial yaitu keinginan akan suatu Other yang telah di reformasi dan yang bisa dikenali sebagai &lt;i&gt;subjek perbedaan yang nyaris sama tetapi tidak begitu sama&lt;/i&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Politik putih kolonial Belanda yang bertujuan menciptakan &lt;i&gt;“Other”&lt;/i&gt;, yang satu kaki tertancap di Eropa dan kaki lainnya tertancap di dunia pribumi, ternyata tidak selalu dapat dikendalikan oleh penguasa kolonial. Beberapa dari Others tersebut menjadi susah diatur yang memilah-milah suber linguistik, kultural, dan historis baik dari tradisi Barat maupun pribumi, sehingga seringkali tidak selaras dengan kepentingan kekuatan-kekuatan penjajah maupun elite tradisional. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Salah satunya adalah Marco Kartodiktromo yang mampu meniru dan mengejek kontradiksi-kontradiksi dari ideologi kolonial tentang ras dan gender. Tickell pun mencoba mendefinisikan apa yang dilakukan Marco terhadap wacana asing tentang ras dan indentitas, bagaimana ia menerjemahkan wacana tersebut ke dalam bahasa Melayu rendah? Dan bagaimana Marco menalarkan wacana asing tersebut, apa yang dibuang, dipelihara dan apa yang dimodifikasi dalam upaya mengarahkan gagasan tersebut ke tujuan politis dan kultural baru?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tentu apa yang dilakukan Marco bukanlah yang mudah, karena dia hidup di zaman ketika superioritas teknis orang Eropa dengan cepat diubah menjadi superioritas moral yang kuat yang pada gilirannya membenarkan kepemilikian kolonial sebagai suatu misi penyebaran peradaban. Hal inilah yang bahkan membuat Marco harus menghabiskan hidupnya di Boven Digul, Irian Barat karena penyakit Malaria pada 1932. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Matahariah, ditulis dalam tiga bahasa, teks &lt;i&gt;heteroglossic &lt;/i&gt;(gado-gado aneka bahasa), Belanda, Jawa, dan Bahasa Melayu. Novel yang di set pada 1916 ini menyodorkan detail gaya hidup para tokoh yang agak santai dan borjuis, serta petualangan interrasial mereka yang romantis, terlibat banyak pergunjingan (ras, politik dan identitas), serta hubungan yang radikal dan transgresif (wanita kulit putih dan lelaki Jawa hidup dalam dosa). &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Hal lain yang cukup menarik menurut Tickell adalah melihat kata-kata apa, istilah apa, sumber-sumber leksikal apa yang dimiliki Marco dan pembaca Melayunya untuk menelusuri masalah-masalah terkait ras, politik, dan identitas tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ketika novel ini berbicara politik, &lt;i&gt;bangsa&lt;/i&gt; digunakan dengan konsisten untuk diparalelkan dengan gagasan Barat tentang nation, nasionalitas dan ras. Kata &lt;i&gt;bangsa&lt;/i&gt;, membetuk basis bagi inklusi dan eksklusi kelompok yang tergambar sepanjang garis nasionalitas dan ras, tapi juga menciptakan perbedaan-perbedaan dan aliansi berbagai bangsa menurut di sisi mana mereka berada sepanjang garis pemisah koloni. Misal &lt;i&gt;bangsa tertindas, Jawa, Azia, &lt;/i&gt;dan&lt;i&gt; Boemipoetra&lt;/i&gt; dan di sisi lain &lt;i&gt;Belanda, Europa&lt;/i&gt;, dan &lt;i&gt;bangsa jang memerintah. &lt;/i&gt;Pada titik ini, identitas bersifat geografis, dalam arti orang-orang didefinisikan berdasarkan tempat kelahiran mereka. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Identitas juga dipandang sebagai masalah sentimen (‘&lt;i&gt;berperasaan&lt;/i&gt;’), semisal menjadi ‘seorang Hindia Sedjati’ atau menjadi seorang Belanda sejati, yang bisa dilakukan dengan mempelajari prilaku, adat istiadat, makanan dan bahasa ‘si lain’. Selain itu, dalam Mataharian, ideologi dan keyakinan politik bersama, sosialisme, revolusi, dan anti imperialis adalah ikatan yang mempersatukan Mataharian dengan teman-teman pria Asianya. Dalam Matahariah, ras menjadi kekuatan eksklusi dan perpecahan dalam masyarakat Hindia. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Novel-novel yang lahir sekitar 1910 sampai awal 1920 secara aktif menanggapi, menggugat, dan menolak wacana kolonial tentang ras. Bagi arus utama representasi sastra Indonesia, masalah ras tersebut harus lenyap dan ‘bungkam’.&amp;nbsp; Ironisnya menurut Tickell, ‘kelenyapan’ orang Belanda, Eurasia, dan Cina dipandang sebagai kemenangan de facto bagi ideologi kolonial tentang perbedaan ras, pemisahan, dan eksklusi. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8327700263599763418-4894835975709159119?l=ruangkata-katavie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/feeds/4894835975709159119/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/2011/08/cinta-di-zaman-kolonial-ras-dan-roman.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8327700263599763418/posts/default/4894835975709159119'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8327700263599763418/posts/default/4894835975709159119'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/2011/08/cinta-di-zaman-kolonial-ras-dan-roman.html' title='Love in a Time of Colonialism: Race and Romance in an Early Indonesian Novel'/><author><name>Ruang Kata-kata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02073905970978168417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-BMpRpLILnS8/Tgiif45TyJI/AAAAAAAAAF4/wJFIcqlOhCM/s220/DSC01970.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-d0kL0xIRn5M/TjYyBDetUMI/AAAAAAAAAH4/IyWnnBprje8/s72-c/582649361.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8327700263599763418.post-7498216811685199569</id><published>2011-08-01T00:16:00.003+07:00</published><updated>2011-08-01T22:24:55.306+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Belajar Bahasa'/><title type='text'>Mengenal Kelas Kata (bagian ke-2)</title><content type='html'>Pada bagian ke-2 mengenal kelas kata, saya akan menjelaskan dengan  singkat mengenai numeralia, pronomina, preposisi, dan konjungtor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;PRONOMINA (KATA GANTI)&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Tiga macam pronomina:&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ol&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;Pronomina       persona, yaitu pronomina yang dipakai untuk mengacu kepada orang  (pertama,      kedua, dan ketiga). Penggunaan pronomina persona (kata  ganti orang)      disesuaikan dengan umur, status sosial, keakraban.&amp;nbsp;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;ul&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;Kata ganti &lt;span style="color: red;"&gt;persona pertama&lt;/span&gt; &lt;i&gt;tunggal &lt;/i&gt;terdiri dari Saya, aku, ku-, -ku, daku, sedangkan &lt;i&gt;jamak &lt;/i&gt;kami, kita.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;Kata ganti &lt;span style="color: red;"&gt;persona kedua&lt;/span&gt; &lt;i&gt;tunggal, &lt;/i&gt;yaitu &lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;engkau, kamu, Anda, dikau, kau, mu, sedangkan &lt;i&gt;jamaknya &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;kalian, sekalian, Anda sekalian.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Kata ganti &lt;span style="color: red;"&gt;persona ketiga&lt;/span&gt; tunggal, yaitu &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;ia, dia, beliau, -nya, sedangkan jamaknya mereka.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt; &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol start="2" style="margin-top: 0cm;" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;Pronomina      penunjuk, dibagi menjadi tiga, yaitu:&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;·&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Pronomina penunjuk umum, seperti &lt;i&gt;ini&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;itu&lt;/i&gt;. Contoh: &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: 18pt;"&gt;Rumah &lt;i&gt;itu&lt;/i&gt; mahal.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Bu Ratna memberikan &lt;i&gt;ini&lt;/i&gt; kepada saya kemarin. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;·&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Pronomina penunjuk tempat, seperti &lt;i&gt;sini&lt;/i&gt; (dekat), &lt;i&gt;situ&lt;/i&gt; (agak jauh), &lt;i&gt;sana&lt;/i&gt; (jauh). Biasanya didahului oleh preposisi (kata depan) &lt;i&gt;di, ke, dari&lt;/i&gt;, contoh:&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: 18pt;"&gt;Ia pergi ke &lt;i&gt;sana&lt;/i&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: 18pt;"&gt;Sudah jangan jauh-jauh di &lt;i&gt;sini &lt;/i&gt;saja. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;·&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Pronomina ihwal, seperti &lt;i&gt;begini&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;begitu. &lt;/i&gt;Contoh: &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: 18pt;"&gt;Jangan berbuat &lt;i&gt;begitu&lt;/i&gt; lagi.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol start="3" style="margin-top: 0cm;" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;Pronomina      penanya dipakai sebagai pemarkah pertanyaan. &amp;nbsp;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;·&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Siapa&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; → jika yang ditanyakan orang atau nama orang. Contoh:&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Ibu menjadi Pak Dahlan → &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Ibu mencari siapa?&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Siapa yang ibu cari?&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Siapakah yang ibu cari?&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;·&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Apa&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; mempunyai dua peran:&lt;/div&gt;&lt;ol start="1" style="margin-top: 0cm;" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;Mengubah      kalimat menjadi kalimat tanya, contoh: &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Dia sudah datang. → Apa dia sudah datang?&lt;/div&gt;&lt;ol start="2" style="margin-top: 0cm;" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;Menggantikan      barang atau hal yang ditanyakan, contohnya:&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Yanti membeli mobil → Yanti membeli apa?&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-2oqx38uQjMk/TjWKC1-hPzI/AAAAAAAAAHw/lXn_qoYK_UM/s1600/KBBI.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://3.bp.blogspot.com/-2oqx38uQjMk/TjWKC1-hPzI/AAAAAAAAAHw/lXn_qoYK_UM/s200/KBBI.jpg" width="195" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;·&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Mana → &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;menanyakan pilihan orang, barang, atau hal. Contoh:&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;Besok mereka akan pergi ke &lt;i&gt;mana&lt;/i&gt;?&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;Di antara mereka &lt;i&gt;mana&lt;/i&gt; yang kamu suka?&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;NUMERALIA (Kata Bilangan)&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Kata yang dipakai untuk menghitung banyaknya orang, binatang, atau barang.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dua macam numeralia:&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ol start="1" style="margin-top: 0cm;" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;Numeralia      pokok → memberi jawaban atas pertanyaan “Berapa?”&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt;"&gt;Contoh:&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-indent: -18pt;"&gt;1)&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Belilah &lt;i&gt;tiga&lt;/i&gt; buah buku tulis.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-indent: -18pt;"&gt;2)&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;i&gt;Ketiga&lt;/i&gt; permain itu terkena kartu kuning.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-indent: -18pt;"&gt;3)&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;i&gt;Ratusan&lt;/i&gt; orang tinggal di tempat pengungsian.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-indent: -18pt;"&gt;4)&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Kami &lt;i&gt;berlima&lt;/i&gt; pergi berlibur.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Catatan: &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;"&gt;Ø&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Contoh tersebut menjawab pertanyaan “berapa?” &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;"&gt;Ø&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Bilangan pokok bisa ditambahkan dengan afiks ke-, ber-, dan –an.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;"&gt;Ø&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Banyak,  berbagai, pelbagai, beberapa, semua, seluruh, segenap merupakan  numeralia yang mengacu pada kejamakan. Contoh penggunaannya: banyak  orang &lt;b&gt;bukan&lt;/b&gt; banyak orang-orang&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;"&gt;Ø&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Numeralia yang berasal dari Jawa Kuna → eka, dwi, tri, catur, panca, sapta, dasa.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;"&gt;Ø&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Numeralia Ukuran → lusin, kodi, meter, liter, gram.&amp;nbsp; &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt;"&gt;2) Numeralia      tingkat → memberi jawaban atas pertanyaan “yang keberapa?”&lt;span style="font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &lt;span style="font-size: small;"&gt;Numeralia tingkat ialah n&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;umeralia pokok yang ditambahkan afiks &lt;i&gt;ke-&lt;/i&gt; namun khusus untuk bilangan satu digunakan juga istilah &lt;i&gt;pertama, &lt;/i&gt;seperti kesatu (pertama), kedua, ketiga. Contoh dalam kalimat:  &lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Rani mendapat peringkat &lt;i&gt;pertama&lt;/i&gt; di kelas.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pemain &lt;i&gt;ketiga&lt;/i&gt; itu mendapat kartu kuning.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; bandingkan degan&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;i&gt;Ketiga&lt;/i&gt; permain itu terkena kartu kuning.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;PREPOSISI (Kata Depan) &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Preposisi  berfungsi menandai berbagai hubungan makna konstituen (bagian yang  penting) di depan preposisi dengan konstituen di belakangnya. Contoh  pergi &lt;i&gt;ke&lt;/i&gt; pasar → ke menyatakan makna arah antara pergi dan pasar. &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Preposisi dibagi dua:&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ol start="1" style="margin-top: 0cm;" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;Preposisi      tunggal yang hanya terdiri dari satu kata, yaitu &lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;di, ke, dari, akan, antara, bagi, buat,demi, dengan, hingga, kecuali, lepas, lewat, oleh, pada, per, serta, untuk, sekitar, sekeliling, sepanjang, seluruh, terhadap.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;Preposisi      gabungan seperti: &lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;daripada, kepada, oleh karena, sampai ke, sampai dengan, selain dari, antara…dengan…, dari…hingga…, dari…ke…, sejak…hingga…&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&amp;nbsp;Fungsi Preposisi&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" class="MsoNormalTable" style="margin-left: 1.5pt; width: 338px;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr style="height: 16.8pt;"&gt;   &lt;td style="border-color: black; border-style: solid; border-width: 1.5pt 1pt 1pt 1.5pt; height: 16.8pt; padding: 0cm; width: 126.35pt;" valign="top" width="168"&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Fungsi &lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-color: black; border-style: solid; border-width: 1.5pt 1.5pt 1pt 1pt; height: 16.8pt; padding: 0cm; width: 127.4pt;" valign="top" width="170"&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Preposisi&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;tr style="height: 26.7pt;"&gt;   &lt;td style="border-color: black; border-style: solid; border-width: 1pt 1pt 1pt 1.5pt; height: 26.7pt; padding: 0cm; width: 126.35pt;" valign="top" width="168"&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Penanda hubungan tempat&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-color: black; border-style: solid; border-width: 1pt 1.5pt 1pt 1pt; height: 26.7pt; padding: 0cm; width: 127.4pt;" valign="top" width="170"&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;di, ke, dari, hingga, sampai, antara, pada&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;tr style="height: 16.8pt;"&gt;   &lt;td style="border-color: black; border-style: solid; border-width: 1pt 1pt 1pt 1.5pt; height: 16.8pt; padding: 0cm; width: 126.35pt;" valign="top" width="168"&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Penanda hubungan peruntukan&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-color: black; border-style: solid; border-width: 1pt 1.5pt 1pt 1pt; height: 16.8pt; padding: 0cm; width: 127.4pt;" valign="top" width="170"&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;bagi, untuk, buat, guna&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;tr style="height: 26.7pt;"&gt;   &lt;td style="border-color: black; border-style: solid; border-width: 1pt 1pt 1pt 1.5pt; height: 26.7pt; padding: 0cm; width: 126.35pt;" valign="top" width="168"&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Penanda hubungan kesertaan (cara)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-color: black; border-style: solid; border-width: 1pt 1.5pt 1pt 1pt; height: 26.7pt; padding: 0cm; width: 127.4pt;" valign="top" width="170"&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;dengan, sambil, beserta, bersama&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;tr style="height: 16.8pt;"&gt;   &lt;td style="border-color: black; border-style: solid; border-width: 1pt 1pt 1pt 1.5pt; height: 16.8pt; padding: 0cm; width: 126.35pt;" valign="top" width="168"&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Penanda hubungan pelaku&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-color: black; border-style: solid; border-width: 1pt 1.5pt 1pt 1pt; height: 16.8pt; padding: 0cm; width: 127.4pt;" valign="top" width="170"&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;oleh&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;tr style="height: 26.7pt;"&gt;   &lt;td style="border-color: black; border-style: solid; border-width: 1pt 1pt 1pt 1.5pt; height: 26.7pt; padding: 0cm; width: 126.35pt;" valign="top" width="168"&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Penanda hubungan waktu&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-color: black; border-style: solid; border-width: 1pt 1.5pt 1pt 1pt; height: 26.7pt; padding: 0cm; width: 127.4pt;" valign="top" width="170"&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;pada, hingga, sampai, sejak, semenjak, menjelang&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;tr style="height: 16.8pt;"&gt;   &lt;td style="border-color: black; border-style: solid; border-width: 1pt 1pt 1.5pt 1.5pt; height: 16.8pt; padding: 0cm; width: 126.35pt;" valign="top" width="168"&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Penanda hubungan ihwal peristiwa&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-color: black; border-style: solid; border-width: 1pt 1.5pt 1.5pt 1pt; height: 16.8pt; padding: 0cm; width: 127.4pt;" valign="top" width="170"&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;tentang, mengenai&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Konjungtor (Konjungsi / Kata Sambung)&lt;/b&gt; &lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Konjungtor  ialah kata tugas yang menghubungkan dua satuan bahasa yang sederajat:  kata dengan kata, frasa dengan frasa, dan klausa dengan klausa.  Contohnya dan, atau, karena, setelah, sedangkan.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Ada juga yang dapat bertindak sebagai preposisi dan konjungtor. &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&amp;nbsp;Berdasarkan fungsi sintaksisnya, konjungtor dibagi menjadi empat, yaitu: &lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;Konjungtor kordinatif&lt;/b&gt; → menghubungkan dua unsur atau lebih yang sama pentingnya. &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Beberapa konjungtor kordinatif:&lt;/div&gt;&lt;ol start="1" style="margin-top: 0cm;" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;dan&lt;/i&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; →      penanda hubungan penambahan&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;serta&lt;/i&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; → penanda hubungan pendampingan&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;atau&lt;/i&gt;      &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; → penanda hubungan pemilihan&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;tetapi,      melainkan&lt;/i&gt; → penanda hubungan perlawanan&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;padahal,      sedangkan&lt;/i&gt; → penanda hubungan pertentangan&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;Konjungtor korelatif&lt;/b&gt; terdiri atas dua bagian yang dipisahkan oleh salah satu kata, frasa, atau klausa yang dihubungkan.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&amp;nbsp;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/b&gt;Beberapa konjungtor korelatif:&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; baik…maupun… &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; tidak hanya… tetapi juga…&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; bukan hanya… melainkan juga…&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; demikian… sehingga…&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; sedemikian rupa… sehingga…&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; apa(kah)… atau…&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; entah…entah… &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; jangankan…,...pun…&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Contoh dalam kalimat:&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;i&gt;Entah&lt;/i&gt; disetujui &lt;i&gt;enta&lt;/i&gt;h tidak, dia tetap akan pergi.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;i&gt;Jangankan&lt;/i&gt; orang lain, orang tuanya sendiri &lt;i&gt;pun&lt;/i&gt; tidak dihormati.&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;Konjungtor Subordinatif&lt;/b&gt; &lt;b&gt;(KS)&lt;/b&gt; menghubungkan dua klausa atau lebih. Salah satu klausa itu merupakan anak kalimat.&amp;nbsp; &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;"&gt;Ø&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Dibagi menjadi 13 kelompok:&lt;/div&gt;&lt;ol start="1" style="margin-top: 0cm;" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;KS       waktu: sejak, semenjak, sedari, sewaktu, ketika, takkala,  sementara,      begitu, seraya, selagi, selama, serta, sambil, setelah,  sesudah, sebelum,      sehabis, selesai, seusai, hingga, sampai.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;KS      syarat: jika, kalau, jikalau, asal(kan),      bila, manakala.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;KS      pengandaian: andaikata, seandainya, umpamanya, sekiranya.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;KS      tujuan: agar, supaya, biar.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;KS      konsensif: biarpun, meski(pun), walau(pun),sekalipun, sungguhpun,      kendati(pun).&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;KS      perbandingan: seakan-akan, seolah-olah, sebagaimana, seperti, laksana,      ibarat, daripada, alih-alih. &lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;KS      sebab: sebab, karena, oleh karena, oleh sebab.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;KS      hasil: sehingga, sampai, (-sampai), maka(nya).&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;KS      alat: dengan, tanpa.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;KS      cara: dengan, tanpa.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;KS      komplementasi: bahwa&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;KS      atributif: yang&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;KS      perbandingan: sama… dengan, lebih…dari (pada)&amp;nbsp; &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;Konjuntor Antarkalimat &lt;/b&gt;menghubungkan satu kalimat dengan kalimat lainnya. Penulisannya selalu diawali dengan huruf besar.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/b&gt;Beberapa contoh konjungtor antarkalimat&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; biarpun demikian/begitu&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; sekalipun demikian/begitu&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; walaupun demikian/begitu&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; meskipun demikian/begitu&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/b&gt;sungguhpun demikian/begitu&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/b&gt;oleh karena itu&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Kedelapan  kelas kata tersebut yang saya diskusikan dalam kelas. Walau tidak  seluruh kelas kata saya berikan, semoga kedelapan kelas kata tersebut  menjadi bekal yang cukup bagi bapak dan ibu guru yang mengajar di MI.&amp;nbsp; &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8327700263599763418-7498216811685199569?l=ruangkata-katavie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/feeds/7498216811685199569/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/2011/08/mengenal-kelas-kata-bagian-2.html#comment-form' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8327700263599763418/posts/default/7498216811685199569'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8327700263599763418/posts/default/7498216811685199569'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/2011/08/mengenal-kelas-kata-bagian-2.html' title='Mengenal Kelas Kata (bagian ke-2)'/><author><name>Ruang Kata-kata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02073905970978168417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-BMpRpLILnS8/Tgiif45TyJI/AAAAAAAAAF4/wJFIcqlOhCM/s220/DSC01970.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-2oqx38uQjMk/TjWKC1-hPzI/AAAAAAAAAHw/lXn_qoYK_UM/s72-c/KBBI.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8327700263599763418.post-6262551832041672787</id><published>2011-07-18T00:48:00.003+07:00</published><updated>2011-08-01T00:27:14.340+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Belajar Bahasa'/><title type='text'>Mengenal Kelas Kata (bagian pertama)</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Setelah empat minggu mempelajari proses pembentukan kata, saatnya mengenalkan kelas kata kepada bapak-ibu guru di kelas kebahasaan. Tidak mudah mengajarkan kelas kata kepada mereka, karena mereka terbiasa mempelajari kata berdasarkan fungsi sintaksisnya. Tapi saya selalu percaya “tidak ada ilmu yang tidak bisa dipelajari”, maka dengan &lt;i&gt;outline&lt;/i&gt; sederhana saya mencoba membuat materi kelas kata menjadi semudah mungkin. Saya membagi materi kelas kata dalam dua kali pertemuan. Pada pertemuan pertama ada empat kelas kata yang dibahas, yaitu kata kerja (verba), kata sifat (adjektiva), kata benda (nomina), dan kata keterangan (adverbia). Berikut materi pada pertemuan pertama kelas kata.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-5KuZlH8l1sg/TjWP5UKYJeI/AAAAAAAAAH0/6RO7I_-aFeo/s1600/IN3.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://1.bp.blogspot.com/-5KuZlH8l1sg/TjWP5UKYJeI/AAAAAAAAAH0/6RO7I_-aFeo/s200/IN3.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;Verba (Kata Kerja)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Ciri-ciri verba&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Memiliki      fungsi sebagai predikat atau inti dalam kalimat. Contoh: pencuri itu &lt;i&gt;lari.&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Memiliki      makna perbuatan (aksi), proses, atau keadaan yang bukan sifat.&amp;nbsp; Contoh: Adik &lt;i&gt;main&lt;/i&gt; di sungai → (perbuatan); Sungai itu mulai mengering → (proses); Ayam itu mati → (keadaan).&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Verba      yang bermakna keadaan, tidak dapat diberi afiks ter- yang berarti      ‘paling’. Contoh: mati → termati, suka → tersuka.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pada      umumnya verba tidak bergabung dengan kata yang menyatakan makna      ‘kesangatan’, misalnya: sangat pergi. &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Dua Macam Verba&lt;br /&gt;&lt;ol start="3" style="margin-top: 0cm;" type="1"&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol start="1" style="margin-top: 0cm;" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;Verba      transitif adalah verba yang memerlukan nomina sebagai objek dalam kalimat      aktif dan objek tersebut dapat berfungsi sebagai subjek pada kalimat      pasif. Contohnya:&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kakak sedang merapihkan kamar. (aktif)&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kamar sedang dirapihkan oleh Kakak. (pasif)&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol start="2" style="margin-top: 0cm;" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;Verba      intransitif adalah verba yang tidak memiliki nomina di belakangnya namun      dapat diikuti pelengkap. Contohnya:&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Ayah sedang mandi. (intransitif tidak bernomina/objek)&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; nasi telah menjadi bubur. (intransitif berpelengkap)&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Selain verba transitif dan intrasitif dari segi bentunya verba dibagi menjadi:&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="margin-top: 0cm;" type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;Verba      Asal&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : berdiri sendiri tanpa      afiks, contohnya → ada, datang, mandi, tidur&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;Verba      Turunan, terdiri dari&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ol start="1" style="margin-top: 0cm;" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;Dasar      bebas tapi memerlukan afiks agar berfungsi sebagai verba (afiks wajib),      contoh: mendarat, melebar, mengering.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;Dasar      bebas afiks manasuka, contoh: (mem) baca, (meng) ambil, be(kerja)&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;Dasar      terikat, afiks wajib, contohnya: bersua, bertemu&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;Berulang,      contohnya: makan-makan, berjalan-jalan&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;Majemuk,      contohnya: tatap muka, temu wicara.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-indent: 18pt;"&gt;Pada verba majemuk, makna kata masih bisa ditelusuri.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;Adjektiva (kata sifat)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Dapat dibagi menjadi &lt;/div&gt;&lt;ol start="1" style="margin-top: 0cm;" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;Adjektiva      bersifat fisik atau mental, contohnya: aman, panas, dingin, kebal, ganas,      bersih&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;Mengacu      pada sesuatu yang dapat diukur (kuantitatif), contohnya: berat, pendek,      tebal, tipis, luas.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;Adjektiva      warna, contoh: merah, kuning, biru, merah darah, hitam pekat.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;Adjektiva      waktu mengacu pada proses, perbuatan, atau keadaan, contohnya: lama,      cepat, lambat&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;Adjektiva      jarak mengacu ke ruang antara dua benda atau tempat, contoh: jauh, akrab,      renggang&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;Adjektiva      sikap batin mengacu pada suasana hati (perasaan), contohnya: bahagia,      jahat, takut, cemas&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;Adjektiva      cerapan bertalian dengan pancaindera, yakni penglihatan, pendengaran,      penciuman, perabaan, dan citarasa. contoh: gelap, busuk, merdu, kasar,      manis. &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&amp;nbsp;&lt;b&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;Nomina (kata benda)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Nomina biasa mengacu pada manusia, binatang, benda, dan konsep atau pengertian, seperti: kucing, meja, kebangsaan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ciri-ciri nomina:&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ol start="1" style="margin-top: 0cm;" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;Cenderung      menduduki fungsi subjek, objek, atau pelengkap.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;Tidak      dapat diingkarkan dengan kata &lt;i&gt;tidak&lt;/i&gt;. Kata pengingkarnya ialah &lt;i&gt;bukan.      &lt;/i&gt;Contoh: Ibu saya guru → Ibu saya bukan guru &lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;Umumnya      dapat diikuti adjektiva secara langsung atau diantarai oleh kata &lt;i&gt;yang. &lt;/i&gt;Contoh:      rumah mewah atau rumah yang mewah &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&amp;nbsp;&lt;b&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;Adverbia (Kata Keterangan)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Kata yang menjelaskan verba, adjektiva, atau adverbia lainnya.&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Berdasarkan maknanya, adverbia dibagi menjadi 8, yaitu:&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ol start="1" style="margin-top: 0cm;" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;Adverbia      kualitatif → menggambarkan makna yang berhubungan dengan tingkat, derajat,      atau mutu, seperti paling, sangat, lebih, kurang. Contohnya:&amp;nbsp; Saya &lt;i&gt;paling&lt;/i&gt; suka masakan Jepang ; Ujiannya &lt;i&gt;lebih&lt;/i&gt; sulit daripada yang kuduga&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;ol start="2" style="margin-top: 0cm;" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;Adverbia      kuantitatif → berhubungan dengan jumlah. Termasuk dalam adverbia ini,      banyak, sedikit, kira-kira, cukup. Contoh: &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Lukanya &lt;i&gt;banyak&lt;/i&gt; mengeluarkan darah&lt;/div&gt;&lt;ol start="3" style="margin-top: 0cm;" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;Adverbia      limitatif → menghubungkan makna pembatasan, seperti hanya, saja, sekadar.      Contoh:&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kami di rumah &lt;i&gt;saja&lt;/i&gt; selama liburan.&lt;/div&gt;&lt;ol start="4" style="margin-top: 0cm;" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;Adverbia      frekuentatif → berhubungan dengan tingkat kekerapan terjadinya sesuatu      yang diterangkan adverbia, seperti selalu, sering, jarang, kadang-kadang.      Contoh: kami &lt;i&gt;selalu&lt;/i&gt; makan malam bersama-sama.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;ol start="5" style="margin-top: 0cm;" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;Adverbia      kewaktuan → menggambarkan makna yang berhubungan dengan terjadinya      peristiwa yang diterangkan adverbia, seperti baru dan segera. Contohnya:      Ayah &lt;i&gt;baru &lt;/i&gt;pensiun dari jabatannya.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;Adaverbia      kecaraan → menggambarkan makna yang berhubungan dengan bagaimana peristiwa      yang diterangkan oleh adverbia itu berlangsung atau terjadi, seperti      diam-diam, secepatnya, pelan-pelan. Contoh: Kami akan menyelesaikan tugas      itu &lt;i&gt;secepatnya.&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;Adverbia      konstrastif → menggambarkan pertentangan, seperti: bahkan, malahan, dan      justru. Contoh: Siapa bilang dia kikir, &lt;i&gt;justru &lt;/i&gt;dia yang menyumbang      paling banyak.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;Adverbia      keniscayaan → menggambarkan makna yang berhubungan dengan kepastian atau      keberlangsungan terjadinya hal, peristiwa yang dijelaskan adverbia,      seperti: niscahnya, pasti, tentu. &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&amp;nbsp;Selain delapan “jenis” adverbial tersebut, terdapat pula: &lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Adaverbia konjungtif → menghubungkan klausa atau kalimat dengan klausa atau kalimat yang lain. Contoh: sebaliknya, dengan demikian, kemudian, sesungguhnya&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Adverbia pembuka wacana (kalimat baru). Contoh: adapun, alkisah&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&amp;nbsp;Selain verba, adjektiva, adverbia, dan nomina masih ada empat kelas kata lagi yang akan dibahas pada pertemuan selanjutnya yaitu, pronomina, preposisi, numeralia, dan konjungsi. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8327700263599763418-6262551832041672787?l=ruangkata-katavie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/feeds/6262551832041672787/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/2011/07/mengenal-kelas-kata.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8327700263599763418/posts/default/6262551832041672787'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8327700263599763418/posts/default/6262551832041672787'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/2011/07/mengenal-kelas-kata.html' title='Mengenal Kelas Kata (bagian pertama)'/><author><name>Ruang Kata-kata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02073905970978168417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-BMpRpLILnS8/Tgiif45TyJI/AAAAAAAAAF4/wJFIcqlOhCM/s220/DSC01970.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-5KuZlH8l1sg/TjWP5UKYJeI/AAAAAAAAAH0/6RO7I_-aFeo/s72-c/IN3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8327700263599763418.post-3982198389282219582</id><published>2011-07-11T22:25:00.001+07:00</published><updated>2011-07-29T15:14:02.697+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Drama dan Sinema'/><title type='text'>“Membaca” Catatan Harian Si Boy</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Jangan bayangkan Boy seperti zaman dulu yang diperankan dengan manis oleh Onky Alexander! &lt;i&gt;Catatan Harian Si Boy&lt;/i&gt; yang ini, bukanlah versi baru melainkan “regenerasi” dari Boy yang beken di tahun 80-90an. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Catatan Harian Si Boy&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN"&gt; (2011) merupakan film yang mencoba mengambil karakter para tokoh&amp;nbsp; di &lt;i&gt;Catatan Harian Si Boy&lt;/i&gt; terdahulu. Itulah yang membuat &amp;nbsp;karakter Boy yang ramah, hangat, dan melindungi tetap ditampilkan lewat tokoh Satrio (Ario Bayu ), sedangkan sosok Emon yang lucu dan kemayu, kembali hadir lewat tokoh Herry (Albert Halim). Cerita bermula dari Nuke yang terbaring koma dan selalu memegang catatan harian milik Boy (Onky Alexander). Nuke “ingin” bertemu Boy! Maka sebagai anak, Natasha (Carissa Puteri) mencoba memenuhi “keinginan” ibunya tersebut. Dengan bantuan Satrio dan teman-temannya pencarian Mas Boy pun dimulai, mereka berusaha menelusuri setiap nama yang terdapat dalam Diary tersebut. Melihat kedekatan Natasha dan Satrio, Nico (Paul Foster) cemburu. Maka, lahirnya konflik dari cinta segitiga antara Satrio-Natasha-Nico. Selain bercerita mengenai kisah cinta segita, film ini kental dengan gambaran persahabatan para tokohnya (Sastrio, Andi, Halim, dan Nina) yang “hidup” bersama di bengkel milik Nina (Poppy Sovia). &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Buat saya, film ini “cowok banget”! Bukan hanya karena sosok Satrio yang ditampilkan sangat macho (tinggi, hitam manis, dan seksi) tapi juga dari tiap adegannya. Pertama, adegan dalam film dibuka dengan kebut-kebutan ala &lt;i&gt;Fast &amp;amp; Furious&lt;/i&gt; yang dilakukan oleh Satrio untuk menghindari kejaran polisi. Selain kebut-kebutan, film ini juga selalu menampilkan mobil-mobil mahal. Profesi montir yang dilakoni oleh Satrio dan Andi di Bengkel Mobil Mewah (Hummer) lagi-lagi menggambarkan hobi otomotif yang kerap disukai oleh kaum laki-laki. Kedua, setelah &lt;i&gt;ngebut &lt;/i&gt;penonton disuguhkan adegan-adegan perkelahian. Di antaranya perkelahian Nico dengan para penagih hutang dan perkelahian antara Nico dan Satrio yang merupakan puncak konflik kedua tokoh tersebut. Ketiga, dialog-dialog antara Satrio, Herry, dan Andi (Abimana Arya) walaupun lucu tapi terdengar “kasar”. Keempat, para aktrisnya ditampilkan cantik dan sangat seksi. Pakaian yang dikenakan Nina dan Natasha selalu minim, sangat &lt;i&gt;Male Gaze&lt;/i&gt;! Hal tersebut berbeda dengan tokoh prianya (Satrio) yang walaupun berpostur tinggi besar tapi nyaris “keseksiannya” tidak tampak (bandingkan dengan film-film karya Upi Avianto yang kerap menampilkan laki-laki dengan perut sixpack bertelanjang dada). Jadi tidak mengherankan kalau teman laki-laki saya, sangat menyukai film ini dan merekomendasikan untuk menontonnya hehehe&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Buat saya pribadi film ini biasa saja (bagus) tapi tidak luar biasa. Beberapa adegan dipaksakan dan cara sutradara membangun kelogisan cerita gagal. Misalnya saja, Satrio digambarkan sholat ketika di penjara atau sesaat setelah bengkelnya di rusak orang. Prilaku taat beribadah tersebut tampak kontras dengan sikap, tutur kata, dan pergaulannya. Belum lagi hubungan Nico dan Natasha yang “lepas” begitu saja, dan sikap Boy dan Emon yang berubah drastic (kalau soal perubahan Emon dan si Boy sepertinya karena factor usia para aktornya, hehehe). Untungnya penulis skenario cukup pintar menyisipkan kalimat-kalimat jenaka (lucu, nakal, dan agak jorok) lewat tokoh Herri dan Andy, sehingga film ini menjadi asik ditonton sampai akhir. Sepanjang pemutaran film, dua dialog yang saya ingat:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Kita keluarga Yo, ga selamanya keluarga adem ayem” (Andi kepada Satrio)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Apa yang sudah dimulai, harus diselesaikan” (Satrio)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Jadi yang pengen tertawa hahahihi silahkan nonton film ini, tapi jangan berharap lebih “serius” apalagi membayangkan Mas Boy dan Emon masih sama seperti dulu, karena pastinya Anda akan kecewa, hehehe&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-Ux5_khO10kw/ThsUwEdK1EI/AAAAAAAAAG0/0RxgUPDFA60/s1600/film25611b.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://4.bp.blogspot.com/-Ux5_khO10kw/ThsUwEdK1EI/AAAAAAAAAG0/0RxgUPDFA60/s320/film25611b.jpg" width="224" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Picture from http://www.21cineplex.com/catatan-harian-si-boy-cata,movie,2561.htm&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Novi Diah Haryanti (11 Juli 2011) &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Catatan singkat setelah nonton bareng merayakan kelulusan Mbak Rina Saraswati M.Hum (ceeileee) bersama Mbak Kifti, Mbak Eka, dan Erna.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8327700263599763418-3982198389282219582?l=ruangkata-katavie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/feeds/3982198389282219582/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/2011/07/membaca-catatan-harian-si-boy.html#comment-form' title='7 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8327700263599763418/posts/default/3982198389282219582'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8327700263599763418/posts/default/3982198389282219582'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/2011/07/membaca-catatan-harian-si-boy.html' title='“Membaca” Catatan Harian Si Boy'/><author><name>Ruang Kata-kata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02073905970978168417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-BMpRpLILnS8/Tgiif45TyJI/AAAAAAAAAF4/wJFIcqlOhCM/s220/DSC01970.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-Ux5_khO10kw/ThsUwEdK1EI/AAAAAAAAAG0/0RxgUPDFA60/s72-c/film25611b.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8327700263599763418.post-5555877039019078102</id><published>2011-07-06T09:03:00.003+07:00</published><updated>2011-07-06T09:51:38.275+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan Harian'/><title type='text'>Ketika Plagiat (Copas) Menjadi Hal yang Biasa</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Tadi malam, saya mencoba menyelesaikan koreksian tugas mahasiswa yang mulai menumpuk. Bukan hal yang mudah, membaca sekaligus mengoreksi menjadi salah satu tugas yang terberat karena sering kali beberapa mahasiswa hanya menulis untuk menyelesaikan tugasnya. Sehingga, sering kali logika kalimat berantakan atau terjadi salah ketik. Untuk dua masalah tersebut, saya sangat memaklumi. Toh saya juga masih sering melakukan dua kesalahan itu. Namun, tidak plagiat! Copy-paste pemikiran orang dan memindahkannya tanpa menyertakan darimana ide tersebut berasal. &amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ada beberapa (menurut saya) yang membuat mahasiswa “asik” meng-copy paste:&lt;/div&gt;&lt;ol start="1" style="margin-top: 0cm;" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Terdesak alias &lt;i&gt;kepepet,      deadline&lt;/i&gt;, dllnya. Ini penyakit mahasiswa, tugas dikerjakan dengan system kebut semalam (SKS), jadi jangankan maksimal, selesai saja sudah syukur, hehehehe.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;ol start="2" style="margin-top: 0cm;" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Mudahnya akses meng-&lt;i&gt;Copas.&lt;/i&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;Internet menjadi media yang dengan mudahnya membuat kita terhubung dan mendapat informasi dari siapaun, dimanapun, dan kapanpun.Waktu awal membuat blog, terus terang saya ragu apa saya akan mempublish tugas (tulisan) semasa saya kuliah. Sangat rawan di copy paste! Akhirnya saya memilih, mana yang bisa dipublish dan mana yang harus saya simpan sendiri. &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;ol start="3" style="margin-top: 0cm;" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Malas berpikir. Saya rasa, inilah alasan yang tidak diakui (tidak disadari) oleh mahasiswa. Malas berpikir ini bisa karena tidak menyukai mata kuliah yang dipelajari atau tidak menyukai dosennya, hehehe.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;ol start="4" style="margin-top: 0cm;" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kurang bahan tulisan. Hal ini terjadi karena kurangnya tradisi membaca dan memiliki buku (atau setidaknya berusaha meminjam buku di perpustakaan).&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;ol start="5" style="margin-top: 0cm;" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Dosen jarang membaca tugas mahasiswanya. Ada tipe dosen sibuk      yang asik dengan banyak mengajar tapi lupa mengkritisi tugas mahasiswanya.      Sehingga, mereka yang asik memplagiat bisa santai (tidak ketauan) &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Saya tau kok, tidak ada yang benar-benar asli. Bahkan para ahli pun perlu membaca, mempelajari, dan mengutip terlebih dulu sebelumnya akhirnya menghasilkan teori baru. Jadi, permintaan saya simple saja, tolong sebutkan asal sumber tulisan Anda. Itu saja, mudah bukan?&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-LJoUCSnrhhQ/ThPCHjroqxI/AAAAAAAAAGk/nWSeWAmKyFc/s1600/tumblr_laqdkczilR1qc6t1mo1_r1_500.png" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://4.bp.blogspot.com/-LJoUCSnrhhQ/ThPCHjroqxI/AAAAAAAAAGk/nWSeWAmKyFc/s320/tumblr_laqdkczilR1qc6t1mo1_r1_500.png" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Gambar diambil dari &lt;a href="http://emokei28122892.tumblr.com/"&gt;http://emokei28122892.tumblr.com/&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;NB: Buat kalian yang merasa mengcopy-paste mulai dari makalah, UTS, sampai UAS saya tunggu pengakuannya. Kita bisa berbincang dan mencari tahu di mana kesulitannya :)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8327700263599763418-5555877039019078102?l=ruangkata-katavie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/feeds/5555877039019078102/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/2011/07/ketika-plagiat-copas-menjadi-hal-yang.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8327700263599763418/posts/default/5555877039019078102'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8327700263599763418/posts/default/5555877039019078102'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/2011/07/ketika-plagiat-copas-menjadi-hal-yang.html' title='Ketika Plagiat (Copas) Menjadi Hal yang Biasa'/><author><name>Ruang Kata-kata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02073905970978168417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-BMpRpLILnS8/Tgiif45TyJI/AAAAAAAAAF4/wJFIcqlOhCM/s220/DSC01970.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-LJoUCSnrhhQ/ThPCHjroqxI/AAAAAAAAAGk/nWSeWAmKyFc/s72-c/tumblr_laqdkczilR1qc6t1mo1_r1_500.png' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8327700263599763418.post-76611065898845645</id><published>2011-06-29T10:42:00.002+07:00</published><updated>2011-07-29T19:31:55.251+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Berbagai Ulasan Buku dan Artikel Sastra'/><title type='text'>Pembantu Rumah Tangga dalam Sastra: Konstruksi Budaya Kelas Menengah</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Diringkas dari tulisan Melani Budianta dengan judul yang sama&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tulisan Melani Budianta bertajuk &lt;i&gt;Pembantu Rumah Tangga dalam Sastra: Konstruksi Budaya Kelas Menengah&lt;/i&gt; yang dimuat dalam jurnal Srint!l No.8 tahun 2005, mencoba melihat kateogori sosial pembantu rumah tangga (PRT) yang didefinisikan, dipertanyakan, dipermasalahkan dan terus-menerus dikonstruksikan. PRT adalah suatu kategori sosial yang menyangkut masalah gender dan pembagian kerja, hubungan kekuasaan yang hierakis antara majikan-bawahan, dan dimensi budaya karena profesi ini terkait dengan tatanan sosial budaya tertentu. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sosok PRT dalam karya sastra lahir di Inggris pada 1740 lewat tulisan Richardson berjudul &lt;i&gt;Familiar Letters&lt;/i&gt; yang juga melahirkan genre baru dalam kesusastraan Inggris yakni novel berbentuk surat. Sebagian besar surat tersebut ditulis oleh PRT bernama Pamela kepada ayahnya yang menceritakan usaha kerasnya dalam menghadapi rayuan sang majikan hingga pada akhirnya ia disunting sebagai istri. Novel ini meledak menjadi bacaan laris dikalangan perempuan dan membuat pola alur yang terdapat dalam novel Samuel Richardson yaitu pola rayuan ditiru oleh novel-novel yang muncul kemudian. Sejumlah kritikus menamai genre yang dipelopori oleh Pamela sebagai genre novel rayuan (&lt;i&gt;novel of seduction&lt;/i&gt;), atau novel pornografi tersamar karena ketegangannya dibangkitkan oleh alur berpola “perkosaan yang selalu ditunda”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-nJvJ5wNHizU/TgqfrKqDBYI/AAAAAAAAAGU/Nw1Hi1ZrVNs/s1600/Pariyem.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/-nJvJ5wNHizU/TgqfrKqDBYI/AAAAAAAAAGU/Nw1Hi1ZrVNs/s1600/Pariyem.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Status sosial PRT dari jaman ke jaman merupakan posisi rawan pelecehan, ia selalu berada dalam pihak yang lemah, melayani keperluan majikan, dan “terlanjur” ditampilkan sebagai objek seksual. Steorotip PRT yang terdapat dalam novel terutama masih muda, baru datang dari desa, gadis yang lugu, naif, segar, dan masih perawan, yang tak kalah penting adalah mitos Cinderella, ada anggapan bahwa sang pembantu sendiri ingin untuk dirayu karena impian atau harapannya dipersunting menjadi istri majikan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Dalam sastra Indonesia modern, pola tersebut berlaku dengan variasi dan warna yang beda dalam setiap karya, menggariskan “nasib” yang berbeda untuk PRT perempuan. Dalam pengamatan Melani, umumnya mereka mengalami perkosaan (yang diterima dengan “lega-lila” atau dengan perlawanan mati-matian), nasib mengalami pelecehan sudah termuat dalam judul-judul seperti, “Inem Pelayan Seksi”, dan pengambaran yang terdapat dalam media masa. Nama-nama panggilan desa seperti Inem, Inah, mempunyai acuan pada perempuan Jawa dari kalangan &lt;i&gt;wong cilik&lt;/i&gt;. Adapula nama yang berkaitan dengan mitos (kepercayaan), sikap hidp yang pasrah, sap mengabdi, seperti Trimah, yang terdapat dalam &lt;i&gt;Selamat Tinggal Jeanette&lt;/i&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Cerita yang lahir pada 1970-1990, umumnya menunjukan pola alur yang mirip dengan novel Pamela. Namun, ada pula pola lain yang menampilkan petualangan gadis dari kalangan menengah yang menyamar. Kedua pola ini yang terlihat dalam empat buah novel Titie Said, &lt;i&gt;Selamat Tinggal Jeanette&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;Pengakuan Pariyem&lt;/i&gt; karya Linus Suryadi AG, &lt;i&gt;Inconigto &lt;/i&gt;karya Naniheroe, dan karya Liestyo Suwito, &lt;i&gt;Iyem Cantik, Iyem Manis&lt;/i&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Dalam &lt;i&gt;Pengakuan Pariyem&lt;/i&gt; (PP) dan &lt;i&gt;Selamat Tinggal Jeanette&lt;/i&gt; (STJ), status PRT dirayakan, diratapi atau diprotes. Kedua teks ini memiliki sikap saling bertentangan. PP menuturkan kosmologi budaya Jawa dari perspektif seorang PRT, sedangkan STJ menyorot perkawinan antar bangsa dengan segala kerumitannya, dan sikap cemburu seorang PRT yang kasmaran pada tuannya. Pariyem adalah penutur tunggal, sedangkan Trimah adalah penutur pendamping yang memiliki peran cukup penting. Berbeda dengan pariyem yang gembira, Trimah meratapi nasibnya sebagai pembantu. Walaupun Trimah pada akhirnya menjadi ‘nyonya’ dan Pariyem menjadi selir, pada akhirnya posisi keduanya hampir sama karena Trimah yang terangkat statusnya tapi tetap di mata suaminya hanya sebagai pembantu. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pola alur samaran terdapat dalam novel &lt;i&gt;Inconigto &lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;Iyem Cantik, Iyem Manis, &lt;/i&gt;dalam dua cerita tersebut, PRT adalah gadis kelas menengah atas yang menyamar menjadi pembantu untuk tujuan tertentu atau sekadar berpetualang. Cerita yang terjadi umumnya adalah si gadis ini jatuh cinta (atau dicintai) oleh majikannya, cinta tidak bertepuk sebelah tangan, dan diakhiri dengan pertemuan kembali dua insan tersebut saat si gadis telah kembali dalam status aslinya. Berbeda dengan PRT asli, para PRT samaran ini menjadi sangat ‘lain’ dalam bersikap, berpikir, bahkan memiliki gaya dan selera yang ‘beda’. Hal ini semakin mengukuhkan perbedaan antara lapisan bawah yang tidak berpendidikan dengan lapisan yang memiliki selera dan prilaku ‘berbudaya’. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Menurut Melani, kesamaan sejumlah konvensi formal antara novel-novel Indonesia yang menampilkan PRT dengan yang ditulis Richardson disebabkan orientasi nilai kelas menengah para pengarangnya. Hanya saja, perbedaan tema dan nadanya menunjukan bahwa novel-novel Indonesia, berbeda dengan novel-novel Inggris, tidak ditujukan kepada “kelas pembantu”, yang pada jaman Richardson masih diperhitungkan. Sebaliknya, repersentasi PRT dalam karya sastra Indonesia lebih bersifat menunjang “status quo” kelas dengan menggarisbawahi unsur-unsur pembeda antara citarasa, prilaku dan wawasan priyayi dan wong cilik. Sosok pembantu, di sini dijadikan lelucon atau dikasihani bagi konsumsi pembaca kelas menengah, hal ini terjadi karena hubungan erat antara bisnis penerbitan dan pembaca yang dijadikan sasaran. &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;b&gt;Novi Diah Haryanti &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8327700263599763418-76611065898845645?l=ruangkata-katavie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/feeds/76611065898845645/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/2011/06/pembantu-rumah-tangga-dalam-sastra.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8327700263599763418/posts/default/76611065898845645'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8327700263599763418/posts/default/76611065898845645'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/2011/06/pembantu-rumah-tangga-dalam-sastra.html' title='Pembantu Rumah Tangga dalam Sastra: Konstruksi Budaya Kelas Menengah'/><author><name>Ruang Kata-kata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02073905970978168417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-BMpRpLILnS8/Tgiif45TyJI/AAAAAAAAAF4/wJFIcqlOhCM/s220/DSC01970.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-nJvJ5wNHizU/TgqfrKqDBYI/AAAAAAAAAGU/Nw1Hi1ZrVNs/s72-c/Pariyem.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8327700263599763418.post-2240825245475022339</id><published>2011-06-29T10:26:00.002+07:00</published><updated>2011-07-29T19:31:55.252+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Berbagai Ulasan Buku dan Artikel Sastra'/><title type='text'>Membaca Postrukturalisme Pada Karya Sastra</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal"&gt;Diringkas dari tulisan &lt;span lang="IN"&gt;Irmayanti M. Budianto dengan judul yang sama&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Postrukturalisme berguna untuk melihat bagaimana teks karya sastra menampilkan teks yang terbuka untuk dikritisi dan didekonstruksi dan terfokus pada eksistensi tokoh. Salah satu metode postrukturalisme yang dapat digunakan adalah dekonstruksi yang mencoba melakukan rekonstruksi tentang pandangan metafisi (konseptual) yang diarahkan pada tulisan, metabahasa dan subjektivitas. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Postrukturalisme tidak dapat dipisahkan dengan strukturalisme. Sebagai sebuah teori, ia berkaitan erat dengan manusia, dunia, dan prilaku praktis yang menghasilkan makna, dalam lingkup. Postrukturalisme mengajak kita untuk memikirkan berbagai hal terkait munculnya tanda (sign) dari objek, oposisi binari, mitos, historisitas, ideologi, dan kesadaran manusia. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Irmayanti M. Budianto (2007) melihat dua hal yang berkaitan dengan cara pandang dalam melihat postrukturalisme. Pertama, aspek yang berkaitan dengan ontologis empiristis (erat kaitannya dengan strukturalisme), dan aspek kedua berkaitan dengan metafisis –“dibalik” sesuatu yang sifatnya ontologis empiristis yang sifatnya konseptual berasal dari kesadaran atau akal budi atau rasio manusia.&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Postrukturalisme merupakan &lt;i&gt;after structuralism&lt;/i&gt; yang mencoba mengembangkan strukturalisme guna mengantisipasi berbagai fenomena kebahasaan dan sosial budaya yang sangat kompleks. Dasar strukturalisme adalah struktur teks yang mengalami transformasi dari intransitif ke transitif yang dimaksudkan untuk melihat&amp;nbsp; 1) bagaimana mengadopsi relasi yang muncul dalam problem teks dan 2) posisi/reaksi pembaca karena teks. Hal tersebut untuk memunculkan pemikiran kritis baru bagi para peneliti untuk melihat adanya aspek ideologi dan politis dalam teks. Peneliti harus mampu melakukan olah pikir kritis-logis terhadap subjek (self subject) yang terstruktur melalui kesadaran dirinya dan implikasi prilaku pembaca. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Prostrukturalisme berusaha mencari problem pada karya sastra, seperti struktur, semiologis, ideologis, dan subjektivitas. Semiologis mencoba meletakan dikotomo antara penampakan &lt;i&gt;(appearance)&lt;/i&gt; dan esesni (Milner, 2002:92). Menitikberatkan pada sisi epistemologi yaitu mencari kebenaran, hubungan antara kesadaran seseorang dengan objek yang dikajinya, bukan pada hasil prilaku praktisnya. Ideologi menekankan pentingnya sistem pemikiran seseorang yang ditransfer menjadi Aku, atau Ego atau Subjek yang memiliki norma tertentu (Budianto 2004: 130). Problem subjektivitas berkaitan dengan “kekuatan” dirinya, seperti pemikiran, perasaan, emosi, empati, kebebasan, kehendak, ketidakinginan tentang sesuatu. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Paradigma Baru dalam Postrukturalisme: Metode Dekonstruksi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Metode dekonstruksi bukan hanya diartikan sebagai pembongkaran terhadap suatu struktur teks, melainkan suatu rekonstruksi peneliti dalam melihat berbagai penelitian sastra tentang pandangan (oposisi) metafisis (konseptual) dalam berbagai argumen si subjek ketika muncul dalam figur relasi sebuah teks. Dekonstruksi di arahkan pada tulisan metabahasa (metalanguage) dan subjek. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tulisan adalah pemaknaan aras ekspresi dari berbagai tanda, metabahasa adalah prapengandaian peneliti untuk melihat bagaimana wacana atau gagasan atau konsep lahir dari si penulis yang diperoleh melalui observasi, kontemplasi, atau renungan kritis. &amp;nbsp;Sedangkan Subjek memiliki kesadaran diri (&lt;i&gt;self subject&lt;/i&gt;) yang dinamis bahkan ambigu, mampu berpikir kritis, melakukan imajinasi, berpikir dari kesadaran dirinya sendiri hingga ketidaksadaran diri (unconsiousness). Lacan dalam bukunya melihat kesadaran ego muncul melalui simbol,&amp;nbsp; bahasa, interpretasi, historisitas, dan dunia kehidupan manusia..&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Novi Diah Haryanti &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8327700263599763418-2240825245475022339?l=ruangkata-katavie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/feeds/2240825245475022339/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/2011/06/membaca-postrukturalisme-pada-karya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8327700263599763418/posts/default/2240825245475022339'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8327700263599763418/posts/default/2240825245475022339'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/2011/06/membaca-postrukturalisme-pada-karya.html' title='Membaca Postrukturalisme Pada Karya Sastra'/><author><name>Ruang Kata-kata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02073905970978168417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-BMpRpLILnS8/Tgiif45TyJI/AAAAAAAAAF4/wJFIcqlOhCM/s220/DSC01970.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8327700263599763418.post-3592634234638790761</id><published>2011-06-27T20:35:00.000+07:00</published><updated>2011-06-27T20:35:39.611+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Drama dan Sinema'/><title type='text'>Belajar dari "Serdadu Kumbang"</title><content type='html'>&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;img src="http://img2.blogblog.com/img/video_object.png" style="background-color: #b2b2b2; " class="BLOGGER-object-element tr_noresize tr_placeholder" id="ieooui" data-original-id="ieooui" /&gt; &lt;style&gt;st1\:*{behavior:url(#ieooui) }&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt; /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin:0cm; mso-para-margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:"Times New Roman"; mso-ansi-language:#0400; mso-fareast-language:#0400; mso-bidi-language:#0400;}&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Jumat lalu, menjelang senja saya mengajak Desy (adik saya) nonton film yang direkomendasikan oleh beberapa teman &lt;i&gt;Serdadu Kumbang. &lt;/i&gt;Dengan tergesa kami berangkat ke bioskop terdekat dari rumah dan pas saja filmnya baru dimulai. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Amek (Yudi Miftahudin) merupakan anak laki-laki Desa Mantar, Kab. Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat yang tidak memiliki cita-cita atau mimpi. Kekurangan fisik (bibir sumbing) yang dimilikinya dan gagal lulus dalam ujian nasional, membuat&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Amek semakin takut bermimpi.&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Setiap hari bersama Umbe (Aji Santosa) dan Acan (Fachri Azhari), Amek menghabiskan hari-harinya dengan bermain. Ketiganya kerap dianggap sebagai pembuat onar, nakal, dan minus dalam pelajaran.&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Hal itulah yang membuat ketiganya, kerap dihukum oleh Guru Alim (Lukman Sardi) yang menerapkan kedisiplinan ala militer kepada anak didiknya. Kerasnya “pendidikan” yang dirasakan Amek membuatnya malas bersekolah untungnya mereka masih memiliki Guru Imbok yang berjuang menghapus kekerasan di sekolah dan membuat mereka terus belajar.&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Buat saya film ini merupakan salah satu film yang mampu memberi gambaran tentang bobroknya dunia pendidikan kita. Setidaknya ada dua hal yang sengaja diangkat oleh Ari Sihale dan Nia Zulkarnaen (Alenia Picture). Pertama kekerasan yang kerap terjadi di sekolah dan kedua tidak tepatnya system ujian nasional sebagai cara untuk melihat kualitas pendididkan.&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Untuk dapat mencapai standar murid (anak-anak) menjadi korbannya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-ohPLFhleVS0/TgiG1EAQSKI/AAAAAAAAADw/wE-L25cl8Kw/s1600/film25621b.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-ohPLFhleVS0/TgiG1EAQSKI/AAAAAAAAADw/wE-L25cl8Kw/s320/film25621b.jpg" width="218" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Beberapa adegan mampu membuat kita tertawa sekaligus tersenyum miris. Penulis scenario, Jeremis Nyangoen, juga menyelipkan dialog-dialog padat dan mengenal. Kalimat-kalimatnya pun menarik, seperti:&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; line-height: 150%; margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;“saya tidak bangga kalau cucu saya cerdas di kepala tapi tidak cerdas di hati” &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;“Guru atau serdadu”&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;“saya mau sekolah tapi selalu dihukum”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;“Sekali berbohong kita akan terus berbohong”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Hmmm…. Pokoknya banyak deh &lt;span&gt;J&lt;/span&gt; adegan klimaks film ini saya jamin bisa membuat Anda tersentuh. Selain menampilkan wajah-wajah baru dan Lukman Sardi, film ini didukung oleh para bintang seperti Titi Sjuman, Putu Wijaya, Ririn Ekawati, Asrul Dahlan, Surya Saputra.&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Selain mengajarkan untuk berjuang meraih mimpi, bekerja karas, dan tidak mudah putusasa, film ini juga memperlihatkan sisi lain wajah bangsa Indonesia seperti ketimpangan ekonomi dan permasalahan TKI. Penasaran? Silahkan tonton sendiri filmnya, dijamin Anda tidak akan menyesal. *lho macam PRnya saja saya ini* hehehehe.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Gambar pindahkan dari&amp;nbsp;&lt;a href="http://www.21cineplex.com/serdadu-kumbang-serd,movie,2562.htm"&gt;http://www.21cineplex.com/serdadu-kumbang-serd,movie,2562.htm&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8327700263599763418-3592634234638790761?l=ruangkata-katavie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/feeds/3592634234638790761/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/2011/06/belajar-dari-serdadu-kumbang.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8327700263599763418/posts/default/3592634234638790761'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8327700263599763418/posts/default/3592634234638790761'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangkata-katavie.blogspot.com/2011/06/belajar-dari-serdadu-kumbang.html' title='Belajar dari &quot;Serdadu Kumbang
