Senin, 11 Januari 2016

Lindungi Hak Kami sebagai Konsumen dan Nasabah Bank! (Mempertanyakan SOP transaksi perbankan di Indomaret)

Pernah merasakan kecopetan dua kali dalam satu hari? Saya pernah. Pertama saya dicopet oleh pencopet dalam angkot D01 Jurusan Ciputat-Kebayoran Lama. Kedua, saya dicopet oleh Indomaret, yang membiarkan pencopet dengan mudah melakukan transaksi dengan kartu kredit yang saya miliki, tanpa curiga. Padahal jelas-jelas nama yang tercantum di kartu kredit adalah nama perempuan, sedangkan yang menggunakan lelaki. Kok bisa? Begini ceritanya. 
Pada 2 Desember 2015, sekitar pukul 9 WIB, saya berangkat dari depan UIN Jakarta menuju RS Hermina di Depok dengan angkot D01. Tujuan saya adalah turun Pasar Jumat untuk kemudian meneruskan perjalanan dengan bis kota ke Depok. Di dalam angkot yang tadinya sepi, naiklah 3 orang laki-laki, satu-persatu dari tempat yang berbeda. Mereka kemudian duduk di samping kanan-kiri dan depan saya. Tak lama berselang, karena memang jarak antara UIN Ciputat dan Pasar Jumat tak terlalu jauh, salah seorang lelaki diantaranya pura-pura muntah. Saya pun panik, karena posisi lelaki yang akan muntah itu tepat di depan saya, dan arah muntahannya juga tertuju ke saya. Tidak hanya saya yang terganggu, dua lelaki lain sepertinya juga terganggu, dan mereka meminta saya untuk membuka jendela. Entah karena rasa panik atau karena firasat buruk, dag dig dug di dada membuat saya tidak fokus dan menuruti saja apa kemauan mereka. Sampai detik itu saya belum sadar bahwa saya kecopetan. Baru kemudian setelah turun di Pasar Jumat, saya sadar. Namun semuanya sudah terlambat, dompet beserta seluruh isinya, termasuk uang tunai untuk membayar asisten rumah tangga, lenyap. 
Sadar bahwa saya baru kecopetan, saya langsung menelpon suami dan meminta agar kartu kredit diblokir. Sebab, kartu kredit yang saya punyai adalah kartu kredit BNI tambahan miliknya. Masih dalam kondisi lemas, saya juga langsung menghubungi BNI untuk memblokir 2 kartu ATM yang saya miliki. Saat itu Customer Service BNI mengatakan bahwa kedua ATM BNI saya telah terblokir karena terdapat 3 kali salah PIN. Rupanya si copet berusaha menebak PIN ATM dan terblokir. Dari sini saya merasa beruntung, karena PIN ATM menyelamatkan gaji bulanan yang baru saja masuk ke rekening tersebut. 
Namun itu bukanlah kabar buruk terakhir. Hanya berselang kurang dari 10 menit, suami saya memberi kabar kalau si pencopet berhasil menggunakan kartu kredit sebesar 1,3 juta di Indomaret H. Saikin Ciputat yang terletak di samping Selapa Polri di Jalan Ciputat Raya. Hal inilah yang membuat saya, sebagai korban pencopetan, merasa dicopet dua kali. Pertama oleh si pencopet, kedua oleh Indomaret. 
Mungkin, ini bukan kali pertama pencopet tersebut melakukan transaksi di Indomaret H Saikin. Indikasinya, seingat saya, sejak awal si pencopet mengatakan pada supir akan turun di Pasar Jumat. Dia juga tahu lokasi ATM terdekat dan juga lokasi belanja yang bisa menggunakan kartu kredit. Si pencopet ini tahu benar, bahwa lama sedikit saja, maka seluruh kartu perbankan yang dia copet akan terblokir. Jeda waktu antara saya sadar dompet hilang dengan waktu transaksi hanya 8 menit. 
Mengapa saya merasa dicopet dua kali? 

Minggu, 15 Maret 2015

"Yang Fana adalah Waktu, Kita Abadi"

Sayang, 
terima kasih atas 3 tahun yang luar biasa. Tiga tahun penuh cinta, dalam kasih dan sayangNya. 
Terima kasih untuk terus bersabar, meski kau dapati baju penuh di balik pintu atau sisir yang hilang entah ke mana. 
Terima kasih untuk berbagi waktu, memandikan Binar, mengajaknya main, atau membacakan buku untuknya
Semesta bersama. 

Terima kasih atas pelajaran yang kau berikan pada Binar: 
bahwa mencuci piring, baju, dan membersihkan kamar mandi bukan hanya tugas perempuan, terlebih istri. 
Tapi tugas bersama. 

Terima kasih untuk terus berbagi isi dompet denganku. 
Membiarkanku tetap bekerja, berkarya, 
mengaktualisasikan diri, begitu katamu.

Terima kasih karena kau mau mendengarkan celotehanku saat lelah pulang kerja,
Tentang Pram, tentang Rendra, tentang Dini, dan Kartini
Bahkan sering kali, kita terlelap bersama alunan Sapardi.
Dan tanpa sadar, kau menghapal "Hujan Bulan Juni".

Sayang, terima kasih
atas kasih dan sayang-Nya
Semoga dalam kasih-Nya kita terus bersama
Sayang, teruslah merapal doa-doa "Kita Abadi" 

10 Maret 2015

Yang fana adalah waktu. Kita abadi:
memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga
sampai pada suatu hari
kita lupa untuk apa.
"Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?"
tanyamu.
Kita abadi.

Sapardi Djoko Damono
Kumpulan Sajak, Perahu Kertas
1982


Sabtu, 31 Januari 2015

Tugas Menulis Dongeng (Unpam)

Halo mahasiswa semester 3 Unpam, mohon maaf karena saya terlambat mengunggah tugas menulis cerita anak. Cerita yang saya unggah berjudul "Tampe Ruma Sani". Cerita ini berasal dari Nusa Tenggara Barat. Tugas Anda ialah mengubah akhir cerita dan membuatnya lebih menarik. Anda boleh menambahkan atau menghilangkan tokoh. Bagian yang diberi tanda merah, merupakan tanda bahwa Anda harus mulai mengubah cerita. Jangan lupa tulisan diunggah di blog kelas.
Selamat mengerjakan!


TAMPE RUMA SANI
Cerita ini berasal dari Dompu, salah satu kabupaten di Nusa Tenggara Barat.
Alkisah pada zaman dulu, tinggallah seorang anak perempuan bernama Tampe Ruma Sani. Semua orang di kampungnya mengenal dia, sebab setiap hari ia menjajakan ikan hasil tangkapan ayahnya. Ibunya sudah meninggal. Di rumahnya ia tinggal bersama ayah dan adik laki-lakinya yang masih kecil. Ia memasak nasi untuk ayah dan adiknya. Kasihan Tampe Ruma Sani yang masih kecil itu harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang seharusnya dikerjakan oleh orang dewasa.
Pada suatu hari, seorang janda menyapa Tampe Rurna Sani, “Sudah habis ikanmu Nak? Tiap hari saya lihat ikanmu cepat habis, apa rahasianya?”
“Saya menjual lebih murah dari yang lain, agar cepat habis, karena saya harus segera pulang menanak nasi untuk ayah dan adik saya. Juga pekerjaan rumah tangga yang lain harus saya kerjakan”, jawab Tampe Rurna Sani sambil berjalan cepat.

Senin, 24 November 2014

DISKUSI PUBLIK "PEREMPUAN DALAM PANDANGAN PENGARANG INDONESIA"

Hai hai, jadi ceritanya saya ditodong untuk membahas "Perempuan dalam Pandangan Pengarang Indonesia". Dua hari jelang hari H baru mulai utak atik tulisan singkat pengantar diskusi. Kalau tulisannya sudah jadi saya share deh. Sekarang infonya dulu ya, jika ada yang sempat boleh datang. Acara terbuka untuk umum dan gratis. Nih info lengkapnya :

Diskusi Publik dan Pentas Seni: "Perempuan dalam Pandangan Pengarang Indonesia"
Pembicara:
1) Novi Diah Haryanti, M. Hum. (Dosen PBSI FITK UIN Jakarta)
2) Prima Yulia Nugraha (Penyair & Staf Bahasa Tempo)
3) Dewi Nova Wahyuni (Penulis & Pemerhati Kemanusiaan)

Pentas Seni:
1) Kemangilodi (Musikalisasi Puisi)
2) P'men & Friends (Pembacaan Puisi)
3) Rizky Kamil (Pembacaan Puisi)
4) Akims Jumbo (Monolog)

Waktu dan tempat:
Selasa, 25 November 2014, Teater Lt.1 FITK UIN Jakarta, Pukul 13.00 WIB.
Nara Hubung:
Silvi : 081282984009
Husnul : 083872266646

Komunitas Penyelenggara:
Majelis Kantiniyah, Bem FDI, KOLEKAN, FLP Ciputat, Radio tangga dan POSTAR
Dengan ini besar harapan kami untuk para pecinta seni dan budaya untuk ikut berpartisipasi dalam acara ini. Segarkan UIN Jakarta dengan budaya keilmuan. SEBARKAN dan AJAK semua teman-teman anda
menghadiri acara ini.

Senin, 14 April 2014

Menulis Cerpen

Halo mahasiswa FSH, maaf ya telat memposting ketentuan UTS menulis cerita pendek. Sebenarnya tulisan ini hanya membahas perkara teknis saja, sedangkan untuk contoh cerpennya sila baca cerpen-cerpen yang terbit di Kompas, Tempo, Republika, Media Indonesia, Horison, Femina, dan media lainnya. Yuk, perhatikan ketentuannya!

Pertama tema besar tulisan yaitu Kemanusiaan, Kedaerahan (Lokalitas), dan Kasih sayang.
Kedua tulisan yang dibuat tidak lebih dari 5 halaman A4, spasi 1,5 atau 1,15. Huruf yang digunakan calibri dengan ukuran 11 / 12.
Ketiga tulisan diposting di blog pada Rabu, 23 April 2014 dan dikumpulkan pada dalam bentuk hardcopy pada Jumat, 25 April 2014.
Keempat saya sangat menghargai jika print out cerpen dibuat bolak balik. Tugas tersebut tidak perlu dijilid dan dibuat covernya.
Kelima penilaian akan difokuskan pada tiga hal, yakni EyD, originalitas cerita, dan judul yang menarik.

Apalagi ya, rasanya sih sudah lengkap. Jika ada yang terlewat atau kurang jelas sila ditanyakan dengan mengomentari tulisan ini. Selamat menulis!

Sabtu, 05 April 2014

Menulis Dongeng

Halo mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum, terima kasih telah "memaksa" saya untuk memperbarui isi blog ini. Setelah mendapat banyak kejutan di paragraf deskripsi, saya menunggu kejutan lainnya di paragraf narasi. 

Di bawah ini terdapat beberapa dongeng yang telah kalian pilih di kelas dan  "Calon Arang" sebagai alternatif dongeng yang saya ajukan. Sila lanjutkan cerita yang ada. Kalian boleh mengubah akhir cerita sesuai dengan imajinasi kalian dan tidak terpaku pada teks lama. Akan tetapi, untuk mempermudah sila liat versi lengkap dongeng-dongeng tersebut. Berikut ini beberapa ketentuan lain yang harus kalian perhatikan:
  1. Sila salin cerita awal dongeng yang dipilih, baru lanjutkan membuat akhir cerita. Hal ini bertujuan pembaca mendapat pengalaman utuh membaca dongeng. 
  2. Akhir cerita yang kalian buat (tidak termasuk cerita pengantar), tidak lebih dari 4000 karakter.
  3. Saat menulis perhatikaan penggunaan EyD, termasuk saat menyalin cerita awal Anda boleh memperbaiki kesalahan berbahasa yang ada.
  4. Kalimat pertama pada cerita yang diubah harap dicetak tebal (bold) sebagai pembeda dengan cerita awal dongeng. (Ingat hanya kalimat pertama!)
  5. Tulisan di-posting paling lambat Kamis pukul 15.00 WIB, lebih cepat lebih baik. 
  6. Jika kurang paham, sila bertanya di sini dengan membuat komentar sehingga tidak muncul pertanyaan yang sama melalui sms/WA.   
  7. Di bawah ini merupakan dongeng yang bisa dipilih mahasiswa berdasarkan program studi 
  • Manajemen Zakat dan Wakaf (Ziswaf):  "Bawang Merah dan Bawang Putih", "Sangkuriang" dan "Jaka Tarub".  
  • Asuransi Syariah:   "Bawang Merah dan Bawang Putih", "Jaka Tarub", dan "Timun Emas".
  • Perbankan Syariah A: "Bawang Merah dan Bawang Putih", "Sangkuriang", dan "Malin Kundang"
  • Perbankan Syariah B: "Bawang Merah dan Bawang Putih", "Jaka Tarub", dan "Roro Jonggrang"
Selamat berimajinasi dan menulis! 

Kamis, 30 Mei 2013

Mba Mun (Pulang)



You can't always get what you want but if you try sometimes, You just might find You get what you need (Rolling Stone)

     Nak, hari ini kita kehilangan Mba Mun. Dialah yang menemani mama sejak dua minggu sebelum kehadiranmu sampai usiamu 4m3d. Pada mulanya Nak, Mba Mun merupakan sosok yang ingin serius bekerja. Ia memiliki 2 orang anak dan suami yang ditinggalnya di kampung. Kampung yang sama dengan tanah leluhurmu. Dia rajin, meskipun mama harus mengajarinya lebih sabar karena dia sering lupa. Dia juga sayang padamu, bayi yang dia tunggu-tunggu kehadirannya. Bahkan ketika kamu harus difototerapi selama sepekan, dia selalu bertanya “apa kabarmu, apa kamu tidak rewel, dengan siapa kamu di sana?” Dia pula yang kerap menyemangati mama untuk terus memerah ASI yang belum kamu hisap, memasakkan katuk, atau membuatkan jamu-jamuan.  Ya, pada mulanya Nak semua begitu menyenangkan. Rasanya tidak terpikir bahwa akhirnya ia akan cepat pulang.
      Namun Nak, setiap orang memiliki masalahnya sendiri pun dengan Mba Mun. Saat 2 bulan usiamu,  mendadak ia bilang “sang suami menyuruhnya pulang”. Saat itu mama sedih sekali. Kaget, merasa kehilangan, drop, terlintas di kepala mama “siapa yang akan membantu mama menjagamu”. Akh, pasti beda rasanya dengan mba lain yang tidak ikut menunggui kelahiranmu.

Ternyata Mba Mun menunda kepulangnya.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...