Thursday, March 31, 2011

Potret Dua Perempuan Jawa dalam Cerpen Sri Sumarah

Novi Diah Haryanti
novi.diah@gmail.com

“Tugas seorang intelektual adalah menulis mengenai masyarakatnya”
(Umar Kayam)

Kalimat tersebut adalah penutup yang diucapkan Umar Kayam (UK) dalam seminar dua hari yang diselenggarakan untuk merayakan pensiunnya UK di Universitas Gadjah Mada pada 1997. Bentuk penghargaan lain terhadap sosok yang kerap disamakan dengan tokoh Semar dalam pewayangan itu, adalah buku bertajuk Umar Kayam dan Jaring Semiotik (UK&JS) yang berisi kumpulan esai mengenai UK yang ditulis oleh berbagai kalangan. Sebut saja, Kuntowijoyo, Ignas Kleden, Goenawan Mohamad, Seno Gumira Ajidarma, Sapardi Djoko Damono, Leila S. Chudori, Toeti Heraty, Renda, dan Faruk yang menulis kata pengatar.  Buku yang terbit pada 1998 tersebut, dapat menjadi bahan rujukan untuk mengetahui sosok UK dari berbagai perspektif. 
Sebelum Para Priyayi terbit, cerita panjang UK Sri Sumarah dan Bawuk (1975) menjadi karya yang menarik karena menggambarkan bagaimana sikap perempuan Jawa ‘seharusnya’ (apalagi dia seorang priyayi). Membaca Sri Sumarah bagi saya adalah membaca wanita, wani di tata (berani diatur) bahkan lebih ekstrim lagi wanita, wani tapa (berani menderita). Lewat tokoh Sri Sumarah terlihat bagaimana konstruksi perempuan Jawa ‘seharusnya’ bersikap. Namun, lewat tokoh Tun, kita juga dapat membaca perubahan zaman yang ditunjukan oleh tingkah laku anak semata wayang Sri Sumarah yang melenceng dari tata perempuan Jawa.    
            Sastra adalah gambaran dalam masyararat. Sebagai sebuah gambaran, teks sastra menampilkan fakta-fakat yang ada dalam masyarakat. Hal itulah yang membuat teks sastra kerap menjadi bahan penelitian, tidak hanya oleh sarjana sastra tapi juga digunakan oleh mereka yang mengeluti bidang sejarah, sosiologi, antrologi, dan psikologi.

Prinsip-Prinsip Kritik Sastra, Teori, dan Penerapannya

Novi Diah Haryanti
novi.diah@gmail.com

Penulis: Prof. Dr. Rachmat Djoko Pradopo
Judul Buku: Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya
Penerbit: Pustaka Pelajar
Cetakan: Ke-5, Desember 2008 

            Pada salah satu tulisan bertajuk Kritik Sastra Indonesia Modern Tinjauan dari Jenis-jenis dan Tipe-Tipe Kritik Sastra, Pradopo mencoba menjelaskan perbedaan antara kritik sastra, teori sastra, dan sejarah sastra. Seperti yang diungkap Wellek bidang studi sastra meliputi tiga hal yaitu; kritik sastra, teori sastra, dan sejarah sastra. Teori sastra ialah bidang studi sastra yang berhubungan dengan teori-teori kesusastraan. Sejarah sastra adalah bidang studi sastra yang membicarakan perkembangan sastra sejak lahir hingga perkembangannya yang terakhir. Kritik sastra membicarakan karya sastra secara langsung: menganalisis, menginterpretasi, dan menilai karya sastra. 
Istilah kritik berasal dari bahasa Yunani krites yang berarti seorang hakim,’krinein berarti menghakimi’, dan kritikos berarti hakim kesusastraan. Istilah kritik sastra ini pun memiliki pengertian yang berubah-ubah. Yang dimaksud kritik sastra oleh Frye adalah semua kerja kesarjanaan dan selera yang berhubungan dengan kesusastraan yang merupakan bagian dan pendidikan liberal, kebudayaan atau studi humanitas.
Wellek mengumakakan teori sastra berbeda dengan kritik sastra. Kritik sastra dalam arti sempit adalah studi karya-karya sastra yang konkret dengan tekanan pada penilaiannya. Menurut Jassin kritik sastra itu pertmbangan baik atau buruk karya sastra, penerangan dan penghakiman karya sastra. Kritikus dipandang sebagai seorang ahli yang memiliki kepadaian khusus untuk membedah karya sastra, memeriksa karya sastra mengenal kebaikan-kebaikan dan cacat-cacatnya, dan menyatakan pendapatnya tentang itu.

Ulasan atas Kritik H.B. Jassin dalam tulisan Kenyataan Artistik Tidak Identik Dengan Kenyataan Objektif

                                                       Novi Diah Haryanti
                                                     novi.diah@gmail.com

Dalam tulisan Kenyataan Artistik Tidak Identik Dengan Kenyataan Objektif, Jassin mencoba mencermati beberapa persoalan dari empat karya yang diulasnya, yaitu: 1) karya sastra sebagai hasil imajinasi, tidak lebih dari itu, 2) hubungan antara pengarang, karya, dan isinya ditinjau dari kaidah agama, dan 3) sikap pengarang dan pembacanya.
Membaca salah satu tulisan Jassin dalam bukunya yang bertajuk Sastra Indonesia sebagia Warga Sastra Dunia, rasanya menarik dan cukup menggelitik. Menarik karena label “Paus Sastra” membuat pembacaan terhadap karya Jassin tak pernah usai, namun cukup menggelitik jika kemudian kita mencoba melihatnya dengan kacamata kekinian. Maka, tidak salah rasanya jika kita mencoba melihat dan mempertanyakan kembali apa yang dipersoalkan Jassin.
            Menurut Jassin, imajinasi adalah sesuatu yang hidup, suatu proses, dan kegiatan jiwa. Sehingga dengan demikian, imajinasi yang dituangkan ke dalam sesuatu karya seni, tidaklah identik dengan kenyataan sejarah, pengalaman ataupun ilmu pengetahuan. Dengan kata lain, kenyataan artistik tidak identik dengan kenyataan objektif atau sejarah. 
           

Sunday, March 20, 2011

Persoalan Tatapan (Male Gaze) dalam Film Kutunggu Jandamu

Novi Diah Haryanti
Tugas Matakuliah Sinema
novi.diah@gmail.com
Abstrak
Laura Mulvey (1975) mengungkapkan bagaimana sinema pop (Hollywood) memproduksi dan mereproduksi apa yang ia sebut sebagai “Male Gaze”. Tidak hanya itu,  kamera film menurut Mulvey juga menangkap apa yang Freud sebut sebagai scopophilia yaitu menggunakan orang lain sebagai objek rangsangan seksual melalui pandangan mata. Tulisan ini akan mengulas bagaimana male gaze berkerja pada film Kutunggu Jandamu (2008), film ini dipilih karena tiga alasan. Pertama, sepanjangan durasi film, penonton selalu disuguhkan dengan keseksian tubuh –dan pakaian minim– para aktrisnya. Kedua, film ini mendapat banyak kritikan sebagai film yang hanya menonjolkan unsur sensualitas dan seksualitas. Ketiga, film ini ditujukan bagi penoton laki-laki, hal ini tampak dari pemilihan pemain (casting) yang diisi oleh para perempuan cantik, seksi, dan”mengundang hasrat”. Sedangkan para pemain prianya tampak ”biasa-biasa saja”, tidak tanpan, tidak gagah, tidak seksi bahkan cenderung ’lemah’.
Dari hasil analisis, tampak bahwa tatapan laki-laki (male gaze) dalam film ini sangat kental terasa lewat casting pemain, gerak kamera, dan adegan-adegan yang dibuat tidak hanya untuk ‘memuaskan’ tatapan sutradara dan aktor, tapi juga tatapan spectator (penonton) film. Dengan sengaja kamera fokus menangkap (menatap) bagian-bagian tubuh tertentu seperti wajah, dada, dan bokong perempuan dalam film. Tatapan laki-laki ini semakin mempertegas bahwa masyarakat patriarkal tak hanya membentuk dunia nyata tapi juga menstruktur bentuk film.      

Kata Kunci: Kutunggu Jandamu, Mulvey, Male Gaze, Scopophilia.

 

Multikulturalisme dalam Novel Rojak

Novi Diah Haryanti
Paper singkat "Sastra dan Multikulturalisme"
novi.diah@gmail.com

Campur-campur ini saya,
Merayakan hari raya Melayu dan Cina,
Rupa-rupa campuran budaya ada,
Bersatu padu di Singapura.  (Basuki, 2004: 82)

Aneka Rasa Rojak ala Fira         
            Novel sebagai karya sastra, memberikan gambaran kepada kita tentang kompleksitas kehidupan manusia. Didalamnya, tokoh-tokoh saling berinteraksi, tokoh-tokoh saling bercerita, dan membangun kehidupannya sendiri dalam novel. Apa yang terjadi dalam novel ini tidak lantas menjadi dunia fiksi semata, namun karya tersebut merupakan representasi dari individu-individu dan masyarakat yang diceritakannya.  
            Melani Budianta (2007) melihat multikulturalisme sebagai upaya untuk menekankan pentingnya mengakui dan menghargai keragaman budaya. Selama ini, wacana publik tentang multikulturalisme sering kali melihat perbedaan ketimbang persamaan. Hal inilah yang kerap dipakai untuk memperuncing politik identitas dengan otentisitas (keaslian) etnis atau ras. Lebih lanjut Melani melihat hampir tidak ada satu wilayah pun yang terisolasi dari wilayah yang lain. Saling pengaruh, pinjam meminjam unsur budaya menjadi suatu proses yang hakiki dalam proses pembentukan budaya. Interaksi antar budaya inilah yang terlihat dalam novel Rojak (2004) karangan Fira Basuki. 

Wednesday, March 9, 2011

JIKA SENJA NANTI KAU KEMBALI

Rasa itu mengucur deras. Seperti sumur zam-zam yang tak akan habisnya. Cinta, luka, semua kau bungkus dalam paket yang paling menawan. Hingga aku terdiam. Larut dalam kisah terindah juga menyakitkan yang kita mainkan.    

            Aku menunggumu pada deretan bangku panjang di stasiun Jatinegara yang kumuh itu. Katamu senja ini kau akan kembali. Membawa berjuta-juta rindu yang kau tabung untukku. Kau akan memelukku erat. Memberikan ciuman paling panjang dalam sejarah kita. Kau juga bilang, senja ini setelah kau kembali, kau tak akan meninggalkanku lagi. Karena katamu, aku adalah separuh jiwamu. Kanan atas kirimu. Hingga tanpa ku, kau tak akan mampu bertahan.
Senja ini, aku menunggumu di stasiun Jatinegara yang kumuh itu. Berharap-harap cemas, setiap kereta berhenti dihadapanku. Mencari sosokmu yang kutahu pasti, akan mudah kukenali. Kau sengaja tak memberitahuku kereta yang kau naiki. Katamu itu kejutan untukku. Hingga setiap kereta berhenti senja itu, aku pasti akan berdiri. Mencari sosokmu di kerumunan orang yang lelah setelah pergi seharian. Tapi tak juga kutemui sosokmu di sana. Maka aku terus menunggumu. Pada satu senja di stasiun Jatinegara yang kumuh itu kasihku.  

FILM FIKSI: Pemahaman terhadap Genre Drama-Crime Thriller

Erwan, Maria Ulfa, Novi Diah & Yoyok W.S.
Tugas Mata kuliah Pendekatan dan Teori Sinema
2009

Pendahuluan
Pemahaman mengenai genre film dapat dilihat melalui FIKSI (2008) dengan tokoh utama perempuan sebagai pelaku beberapa aksi pembunuhan. Film FIKSI merupakan film Indonesia karya sutradara Mouldy Surya.[1] Film ini lebih banyak menceritakan kehidupan, perasaan dan tindakan tokoh utama yang bernama Alisha. Alisha merupakan gadis yang tenang, pendiam, tertutup, “dingin” dan juga kejam karena pembunuhan yang dilakukannya. Dengan kata lain Alisha dapat juga disebut psikopat, seperti yang dilabelkan oleh film ini dalam posternya (lihat poster ke-2). Sikap psikopat Alisha ini dapat dilihat dari sikap dan tindakannya yang muncul dalam beberapa adegan dalam film ini terutama terkait dengan pembunuhan yang dilakukannya. Pada akhirnya setelah ia melakukan “misi” pembunuhannya “atas nama cinta”, ia bunuh diri dengan melompat dari lantai sembilan rumah susun.


Tuesday, March 8, 2011

KEINGINAN UNTUK PULANG: KECEMASAN DAN AMBIVALENSI DALAM NOVEL MISS LU KARYA NANING PRANOTO

Novi Diah Haryanti
novi.diah@gmail.com
Makalah yang telah dipresentasikan pada Konfrensi Internasional Kesusastraan HISKI 
di UPI Bandung 2009  

ABSTRAK
Pascalengsernya Soeharto, berbagai macam karya sastra muncul kepermukaan membawa isu-isu yang “terpendam” selama berpuluh-puluh tahun. Salah satu isu yang sering diangkat ke dalam cerita adalah tragedi’65, yang tidak hanya memakan korban jiwa, tapi juga menimbulkan rasa traumatis terhadap korban hidup yang tersisa. Selain ‘menyapu’ mereka yang dianggap tercemar oleh Partai Komunis Indonesia (PKI), sasaran lain tragedi ini adalah etnis Tionghoa.
Esai ini bertujuan untuk memperlihatkan proses peliyanan yang dilakukan terhadap etnis Tionghoa dan membongkar pemakanaan nasionalisme –secara sempit– yang dilakukan pemerintah untuk mengindonesiakan etnis Tionghoa dalam novel Miss Lu (2003) karya Naning Pranoto. Metode deskriptif analisis dengan perspektif multikulturalisme digunakan untuk melihat wacana nasionalisme dan  oposisi biner “pribumi vs nonpribumi” dalam novel.
Berdasarkan pembacaan terhadap Miss Lu, tampak sikap ambivalen pemerintah terkait etnis Tionghoa. Di satu sisi pemerintah berusaha “mengindonesiakan” mereka, namun di sisi lain membuat berbagai aturan yang mempertegas perbedaan antara pribumi dengan etnis Tionghoa sebagai nonpribumi (other). Dengan demikian, pemaknaan kembali kata nasionalisme menjadi penting di tengah upaya mewujudkan Indonesia yang multikultur. 

Kata kunci: identitas, other, nasionalisme, etnis Tionghoa.    
 

Pendekatan Pascakolonial dalam "Student Hidjo" dan "Rasa Merdika" Karya Mas Marco Kartodikromo

Judul Asli: 
Hilang dan Terbuang: Kritik Sastra Pascakolonial Dua Karya Marco Kartodikromo


 Novi Diah Haryanti
novi.diah@gmail.com
Makalah belum diedit yang terbitkan Jurnal Semiotika edisi 10(1) Januari-Juni 2009

Abstrak 
            Esai ini, bertujuan mengulas bagaimana Marco sebagai the other melihat  identitas yang ia tuangkan dalam karya-karyanya yang digolongkan sebagai ‘bacaan liar’ oleh pemerintah kolonial Belanda. Pembacaan terhadap karya-karya Marco, diharapkan dapat menggambarkan sosoknya sebagai sastrawan, wartawan, dan perintis kemerdekaan, serta menempatkan kembali Marco si anak hilang ke dalam khasanah sastra Indonesia.
Penelitian akan dilakukan pada dua karya Marco yaitu: Student Hidjo (2000) dan Rasa Merdika (1924). Metode deskriptif analisis dengan teori pascakolonial akan digunakan untuk melihat dan membongkar konstruksi budaya konstruksi budaya putih global yang dilakukan Barat terhadap Timur. Sehingga, dapat membuka mata kita akan dampak permanen kolonialisme yang sampai sekarang masih dapat dirasakan. Salah satu dampak yang digambarkan Marco adalah perasaan rendah diri dan mengganggap bangsa Barat adalah dewa yang dipuja. Pembacaan terhadap kedua novel tersebut juga memperlihatkan kritik Marco terhadap pemerintah kolonial yang menempatkan pribumi sebagai kelas terendah dan mengeluarkan berbagai kebijakan yang membuat pribumi (Bumiputera) menjadi kuli di negerinya sendiri.     

Kata kunci: Marco Kartodikromo, bacaan liar,  kelas, antiimperialisme

DARI RUMAH MEWAH KE RUMAH SUSUN: Analisis Setting dalam Film FIKSI.

 Novi Diah Haryanti
Mata Kuliah Teori dan Pendekatan Sinema 
2009

Pendahuluan

Fiksi adalah film pertama Mouly Surya yang dirilis pada Juni 2008. Walaupun hanya meraih 23.883 penonton, Fiksi mendapat empat penghargaan di ajang Festival Film Indonesia (FFI) 2008, yaitu film terbaik, sutradara terbaik, skenario cerita asli terbaik, dan tata musik terbaik. Meski belakangan kerap mendapat kritik, festival ini masih dianggap sebagai barometer perfilman Indonesia.

Film Fiksi berkisah tentang Alisha (Ladya Cheryl) yang hidup dalam kesepian, kecemasan, dendam, dan trauma setelah ia tahu bapaknya memiliki simpanan dan ibunya meninggal pada saat mengandung. Kebencian pada sang bapak, membuat Alisha menutup diri dan hidup dalam dunianya sendiri. Namun, hal tersebut berubah ketika ia melihat sosok Bari (Donni Alamsyah) yang terlihat santai, riang, dan melakukan apa yang ia inginkan, seperti mencuri pajangan kelinci putih milik Alisha untuk kekasihnya Renta (Kinaryosih). Sayangnya, Bari tak pernah tahu perbuatan isengnya itu membawa Alisha –yang belakangan kita tahu seorang gadis psikopat –ke dalam hidupnya. Diam-diam, Alisha mencari Bari, mengikutinya sampai ke rumah susun tempat ia dan pacarnya tinggal bersama, bahkan mengontrak rumah tepat di samping rumah Bari.

Monday, March 7, 2011

Dua Ruang Baru

     Akhirnya.... hari ini aku memiliki dua ruang baru, pertama ialah Ruang (Kelas) Kajian Prosa dan kedua Ruang Kata-kata
Setiap senin pagi, kusiapkan energi lebih untuk berjuang di Metromini 510 (Kp. Rambutan-Ciputat) yang mengantarkanku sampai tepat di depan tempatku mengajar. Belum sarapan, kurang tidur, ditambah lagi penuhnya penumpang membuatku  nyaris saja pingsan. Untunglah ada penumpang yang kasihan dan memberiku tempat duduk. Terima kasih Tuan, terimakasih Tuhan!

Terus terang, setiap menaiki 510 aku selalu waspada setidaknya dengan dua hal: Copet dan Pelecehan Seksual. Hilda, salah satu mahasiswaku semester lalu pernah mengatakan, "di 510 copet bisa sangat canggih Bu, bahkan tadi di belakang Ibu saja copet", jadi setiap saat, kepada siapa saja kita harus selalu "Siaga dan Waspada". Berbekal pengalaman itulah, tiap kali berada di 510 aku selalu mengapit tasku erat-erat dan memerhatikan siapa saja. Selain penjahat dompet, jika tidak hati-hati penjahat kelaminpun bertebaran di angkutan publik yang padat. Aku selalu ingat bagaimana ketika masih menjadi mahasiwa di Rawamangun dulu, salah satu temanku mengalami pelecehan seksual dalam bus. Di antara padatnya penumpang, seorang laki-laki menggesekkan kelaminnya hingga temanku sangat shock. Setelah kejadian itu, aku selalu menghindari Patas Mayasari Bakti 98A, kecuali patas tersebut kosong. Sialnya, kini aku harus merasakan kepadatan yang sama di Metromini 510. Untuk menghindarinya, aku selalu memberikan jarak dengan penumpang lain dan memasang tampang jutek serta seram. Tampang yang memberi peringatan, "hati-hati, berani macam-macam Anda saya hajar!"

Menemukan (lagi) kata-kata

Pagi ini, aku berbicang dengan Mei. Tiba-tiba saja, aku ingin sekali menulis. Sudah hampir dua tahun ini aku tidak menulis, puisi, cerpen, apalagi novel.  Mereka seperti barang mewah bagiku. Kata-kata memusuhiku, mereka tidak mau berdamai, terus saja lari, dan bersembunyi. Hingga aku lelah dan membiarkannya pergi.

Tidak tahu bagaimana mulanya kata-kataku bisa hilang. Sudah kucari, di setiap sudut ingatan, di antara jari-jari yang tampak akrab dengan keyboard notebook tuaku, dan di lembar-lembar buku yang menanti untuk kubaca. Aku masih kehilangan kata.  Lalu jika sudah begitu, bagaimana caraku kembali menemukan kata-kata itu?

Kamu tahukan rasanya kehilangan?

Mungkin, itulah yang membuatku mencoba merapihkan ruang ini. Ruang yang merupakan tempatku mengumpulkan kata, sehingga aku mudah menemukannya dan tidak kehilangan kata-kataku lagi.


Semoga saja!

4 Maret 2011
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...