Friday, April 26, 2013

Tragedi Kamis Malam (Jumat)

"Gambar ini adalah jepretan laman seperti yang ditampilkan pada tanggal 13 Apr 2013 21:36:07 GMT. Sementara itu, halaman tersebut mungkin telah berubah" 

Tulisan tersebut muncul di layar  14" yang sejak pukul 20.00 menyala, artinya tulisan tidak dapat lagi diakses hiks. Waktu itu, saya sedang menulis tentang "Organisasi dan Media (Pergerakan) Perempuan" sambil menikmati wajah tampan Robert Downey Jr. di televisi. Saat tulisan sudah selesai, saya pun segera mempublikasikannya dan memasukkanya ke dalam label " Ruang Budaya dan Gaya Hidup". Setelah dipikir-pikir, rasanya kok label tersebut kurang pas dengan artikel yang saya tulis. Akhirnya, berbekal "ingat-ingat" karena lama sekali saya tidak memperbarui blog, saya pun mencoba mengedit dan menambahkan laman.

Ealah nasib, setelah diedit bukannya lebih baik malah lamannya jadi berantakan. Hingga muncullah ide untuk "menghilangkan" laman yang salah. Sayangnya saya tidak teliti dalam proses "menghilangkan" tadi. Tujuh buah tulisan yang diposting pun hilang. Hiks...

Tuesday, April 16, 2013

Kritik atas ulasan H.B. Jassin "Kenyataan Artistik Tidak Identik Dengan Kenyataan Objektif" (Bagian 2)

Bagian 2

Pendekatan ekspresif banyak digunakan pada abad ke-19 zaman romantik. Di Indonesia pendekatan ini berkembang pada masa Pujangga Baru yang dipelopori oleh Amir Hamzah, Sanusi Pane, ataupun JE Tatengkeng dengan puisi liriknya bahkan menurut Teeuw dalam Ratna (2007) sampai masa Sutardji Calzoum Bachri. Maka tidaklah mengherankan jika Chairil Anwar dan Amir Hamzah membuat tulisan yang hanya dimengerti oleh penyairnya sendiri.  

Mengenai cerpen "Datang dan Perginya", Jassin memberikan catatan "mungkin saja karya Navis menggambarkan pengarang yang hanya mementingkan persoalan dalam hidup atau pengarang menyerahkan suatu persoalan yang diangkat dari suatu peristiwa untuk dikupas pembaca". Lebih lajut, Jassin menjelaskan ada dua pendapat mengenai sikap pengarang dalam menampilkan suatu masalah. Pertama, pengarang yang menampilkan suatu masalah dengan pemecahannya. Kedua pengarang yang membiarkan permasalahan dikupas oleh pembaca sendiri.

Kritik atas ulasan H.B. Jassin "Kenyataan Artistik Tidak Identik Dengan Kenyataan Objektif" (Bagian 1)

Kali ini, saya mencoba menyusun kembali tulisan yang dibuat pada 2009. Sebelumnya tulisan ini pernah saya "posting" di Facebook. Untuk lebih memudahkan pembaca, saya membagi dalam 2 tulisan.

Bagian 1 

Jika kita membaca salah satu tulisan Jassin dalam bukunya yang bertajuk Sastra Indonesia sebagi Warga Sastra Dunia, rasanya menarik dan cukup menggelitik. Menarik karena label “Paus Sastra” membuat pembacaan terhadap karya Jassin tidak pernah usai, namun menjadi menggelitik jika  kita mencoba melihatnya dengan kacamata kekinian. Maka, tidak salah rasanya jika kita melihat dan mempertanyakan kembali apa yang dipersoalkan Jassin dalam tulisan "Kenyataan Artistik Tidak Identik Dengan Kenyataan Objektif". Dalam tulisan tersebut, Jassin mencermati tiga persoalan dari empat karya yang diulasnya, yaitu 1) karya sastra sebagai hasil imajinasi, tidak lebih dari itu, 2) hubungan antara pengarang, karya, dan isinya ditinjau dari kaidah agama, serta 3) sikap pengarang. 

Menurut Jassin, imajinasi adalah sesuatu yang hidup, suatu proses, dan kegiatan jiwa. Dengan demikian, imajinasi yang dituangkan ke dalam sesuatu karya seni, tidaklah identik dengan kenyataan sejarah, pengalaman, ataupun ilmu pengetahuan. Dapat pula dikatakan, kenyataan artistik tidak identik dengan kenyataan obyektif atau sejarah. 

Sunday, April 14, 2013

Bidadari dan Si Penggoda: Representasi Tokoh-Tokoh Perempuan dalam Novel "Student Hidjo"


Abstrak

Tulisan ini akan mengulas bagaimana representasi (gambaran) tokoh-tokoh perempuan dalam novel Student Hidjo (SH) dan bagaimana dunia pergerakan mempengaruhi Mas Marco Kartodikromo dalam menciptakan tokoh perempuan. Untuk menggambarkan tokohnya, Marco menggunakan oposisi binner Eropa (Belanda) dan Jawa atau dalam istilah pascakolonial Barat/Timur. Melalui hasil re-reading terhadap karya tersebut tampak bahwa Marco mencitrakan perempuan pribumi sebagai bidadari sedangkan perempuan Belanda sebagai si penggoda. Lewat Student Hidjo Marco memperlihat bahwa perempuan Eropa tak selamanya sempurna, mandiri, dan superior sedangkan perempuan pribumi tak selalu lemah, bodoh, tertinggal, dan hanya memikirkan urusan cinta (rumah tangga).        

Kata kunci: Student Hidjo, Marco Kartodikromo, representasi perempuan,


Pendahuluan
            Persoalan seksualitas dan gender dalam wacana pascakolonial memerlihatkan absen atau tidak hadirnya perspektif wanita terjajah. Subjek kolonial dipahami sebagai pria, sedangkan jika perempuan maka tanpa sengaja ia akan dicitrakan secara ambigu, sebagai kulit putih. Dengan kata lain, wanita pribumi terjajah tetap tidak terlihat dari segala macam sudut pandang (Hatley, 2006). Selain itu, penelitian yang selama ini ada kerap mendokumentasikan citra wanita terbelenggu dan terkurung dalam bentuk-bentuk kultural Indonesia modern seperti wanita yang halus, penurut, tergantung pada pria, dan mengenyampingkan wanita yang suka berempansipasi dan berpolitik. Sedangkan ide “feminis” memiliki makna berani secara seksual dan asing, janggal, bertentangan dengan sifat kodrati dan otentik wanita (Hatley, 2006: 191-192).
               Tulisan ini akan mengulas bagaimana representasi tokoh-tokoh perempuan dalam novel Student Hidjo (SH) karya Mas Marco Kartodikromo. Tidak hanya itu, saya juga akan mencoba melihat bagaimana representasi tokoh-tokoh perempuan dalam novel Student Hidjo (SH). Dalam SH, setidaknya tampak dua oposisi binner perempuan Barat (Eropa) dengan Pribumi (Jawa). Walaupun dalam novel keduanya tidak pernah bertemu, tapi “pertemuan” keduanya tampak dari wacana yang berkembang mengenai perempuan Belanda (Eropa) yang dalam kacamata pribumi selalu menjadi penggoda pria Jawa.


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...