Jumat, 14 Oktober 2011

Jatuh Cinta

Sayang, terus terang aku tak tahu sejak kapan bunga cinta bermekaran di antara kita.
Seingatku, kita selalu membicarakan luka.
Luka karena jatuh cinta.
Ja-tuh.
Cin-ta.
Ja-tuh.
Cin-ta.
Katamu mengeja.

Lalu, pelan dan diam kau gandeng tanganku mesra.
Dengan kasihNya
Kita pun bercinta. 

Vie 

Tanggapan Atas Naskah Sandiwara "Cindua Mato"

 Novi Diah Haryanti
novi.diah@gmail.com

Mursal Esten dalam buku Tradisi dan Modernitas dalam Sandiwara (1992) meneliti hubungan teks sandiwara “Cindua Mato” karya Wisran Hadi dengan teks kaba “Cindua Mato” yang merupakan karya sastra tradisonal Minangkabau. Dalam simpulannya Esten mengungkapkan “Wisran Hadi menggunakan genre yang juga mencerminkan sikapnya. Ia menggunakan tradisi bakaba dan randai untuk hal yang bersifat tradisional dan menggunakan sandiwara untuk mengungkapkan konflik yang terjadi dan pikiran-pikiran barunya” (1992: 149). Sedangkan Wisran Hadi dalam wawancara yang dilakukan dengan Esten,[1] mengungkapkan bahwa “Cindua Mato” dibuat sebagai upaya untuk ‘menshock’ masyarakat Minang yang berusaha mempertahankan tradisi dan mengagung-agungkan kaba Cindua Mato yang para tokohnya “bersih” sebagai manusia.  
Wisran Hadi lahir di Lapai, Padang, Sumatera Barat, pada 27 Juli 1945. Lewat karya-karyanya, Wisran berupaya untuk menghidupkan kembali tradisi dan mitos lama Minangkabau dan Melayu menjadi bentuk yang lebih baru dan tidak tunduk kepada pemikiran masyarakatnya.[2] Selain menulis naskah drama, dia juga menulis, puisi, cerpen, dan novel. Pada 1978, ia mendirikan sanggar Teater Bumi di Padang. Kumpulan naskah drama berjudul Empat Orang Melayu berisi empat naskah drama Senandung Semenanjung, Dara Jingga, Gading Cempaka”dan Cindua Mato” membuatnya mendapat penghargaan SEA Write Award 2000.
“Cindua Mato” karya Wisran Hadi adalah pemenang sayembara penulisan naskah sandiwara Indonesia yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta pada 1977.  Wisran membagi sandiwarannya ke dalam delapan putaran. Cerita dimulai dengan kabar pernikahan Puti Bungsu dengan Imbang Jaya yang diterima oleh Dang Tuanku. Sebagai orang yang sudah dijodohkan sejak kecil, Dang Tuanku merasa terhina ketika tahu wanitanya direbut oleh lelaki lain. Itulah yang membuat Dang Tuanku bersikeras menyuruh Cindua Mato berperang untuk merebut Puti Bungsu. Bundo Kanduang pun merasa terhina dengan ulah Rajo Mundo yang membatalkan perjodohan antara Dang Tuangku dan Puti Bungsu serta menerima lamaran dari Raja Tiang Bungkuk. Maka diutuslah Cindua Mato untuk menghadiri dan mengacaukan perkawinan Puti Bungsu dan Imbang Jaya. Ternyata, Cindua Mato bertindak melebihi perintah Bundo Kanduang. Imbang Jaya dibunuhnya, hingga Cindua Mato di penjara. Tak hanya itu kedekatan Cindua Mato dengan Puti Bungsu membuat Dang Tuangku merasa cemburu padanya. Namun, atas saran Bundo Kanduang, Dang Tuangku yang sudah tak ingin lagi menerima Puti Bungsu karena dianggap tidak suci lagi, akhirnya kembali. Terdesak oleh serangan yang dilakukan oleh Raja Tiang Bungkuk, Cindua Mato pun dibebaskan untuk berperang melawannya. Kemenangan yang diperoleh oleh Cindua Mato tidak lantas membuatnya bahagia karena ia merasa sedih ditinggal oleh Puti Bungsu yang lebih memilih Dang Tuangku dibanding dirinya.

REDUPLIKASI

n
Ulasan singkat reduplikasi ini saya ambil dari buku Morfologi: Suatu Tinjuan Deskriptif yang ditulis oleh Prof. Drs. M. Ramlan. 

Reduplikasi adalah proses pengulangan satuan gramatik, baik seluruhnya maupun sebagian, baik dengan variasi fonem maupun tidak. Hasilnya disebut kata ulang dan setiap kata ulang memiliki bentuk dasar.
Contoh kata ulang: rumah-rumah, menari-nari, lauk-pauk.
Contoh bukan kata ulang: sia-sia, alun-alun, mondar-mandir, compang-camping.

Menentukan Bentuk Dasar Kata Ulang
  • Pengulangan pada umumnya tidak mengubah golongan kata. contoh: 
  1. makan-makanan (nomina) → makanan (nomina) 
  2. tersenyum-senyum (verba) → tersenyum (verba)

  • Ada pula pengulangan yang mengubah golongan kata, ialah pengulangan dengan se-nya. Contoh: 
  1. setinggi-tingginya (adverbia) → tinggi (adjektiva)
  2. secepat-cepatnya (adverbia) → cepat (adjektiva)

Rabu, 05 Oktober 2011

Mas Marco Kartodikromo: Dunia dan Karya-karyanya


Mas Marco Kartodikromo lahir di Cepu pada 25 Maret 1890. Lewat pengakuan Marco dalam persdelict-nya yang dimuat dalam Sinar Djawa, ia merupakan keturunan kelima dari Mas Karowikoro, sedangkan sumber lain menyebut Marco adalah anak seorang asisten wedana (Hartanto, 2008:43). Ia lulus dari sekolah bumiputra Angka Dua di Bojonegoro dan sekolah swasta bumiputra Belanda di Purworejo. Menurut Shiraishi (1997:110), Marco adalah anggota kaum muda yang diciptakan oleh pendidikan gaya Barat. Ia dapat membaca bahasa Belanda, tetapi kemampuan menulis dan berbicaranya tidak terlalu baik. Tidak mengherankan jika semua tulisannya dalam berbahasa Melayu dan Jawa.
Pada 1905, Marco bekerja sebagai juru tulis di Dinas Kehutanan sebelum akhirnya pindah ke Semarang menjadi juru tulis di Nederland Indische Spoorweg (NIS), perusahaan swasta di Hindia Belanda yang menangani masalah kereta api. Ketika melakukan perjalanan dengan menggunakan kereta api, Marco melihat bagaimana gerbong dibuat berdasarkan kelas, sesuai dengan warna kulit dan status sosial. Kelas satu diperuntukkan bagi orang Eropa, kelas dua diperuntukkan orang Eropa berpenghasilan rendah, orang Timur asing, dan pribumi kelas atas. Kelas tiga (kelas kambing) bagi pribumi miskin (Hartanto, 2008:50). Setelah enam tahun bekerja di perusahaan tersebut, semangat nasionalismenya berkobar. Ia tidak dapat lagi bertahan untuk bekerja pada perusahaan Eropa yang sangat rasialis, membedakan golongan jabatan dan gaji atas dasar ras (Yuliati, 2008).  Saat itu diperkirakan pendapatan bumiputra per kepala setahun hanya 63 gulden, sedang golongan Eropa 2.100 gulden dan Timur asing sekitar 250 gulden.
Pada 1911, Marco meninggalkan Semarang menuju Bandung, bergabung dengan Medan Prijaji sebagai pegawai magang Di surat kabar yang diperuntukkan bagi bangsa jang terprentah itulah Marco memulai kariernya sebagai jurnalis dan berguru pada Tirto Adhi Suryo dan Soewardi. Persahabatannya dengan Suwardi itulah yang membuat Marco berusaha mengumpulkan uang untuk membiayai Nyi Suwardi Suryaningrat dan dua orang rekannya Ny. Dokter Cipto dan Nyi Douwes Dekker agar dapat menyusul suami mereka ke tempat pembuangan di Nederland. Lalu, pada 1913 Marco pun datang ke Nederland untuk menengok keadaan teman-temannya yang dibuang dan mempelajari kebudayaan masyarakat Belanda di Nederland. Hasil penyelidikannya ialah Belanda tidak mungkin dapat memberikan bimbingan yang cukup bertanggung jawab terhadap kemajuan, kesulilaan, dan kebudayaan kepada rakyat Indonesia (Muljana, 2008: 96).

Marco, Balai Pustaka, dan Bacaan Liar

           Pers pada tahun duapuluhan, yaitu masa pergerakan nasional mencapai gelombang pasang yang pertama. Mereka telah memuat cerita bersambung dan cerita pendek yang mencerminkan penderitaan dan perjuangan rakyat untuk sesuap nasi (Siregar,1964). Oleh karena itu, perkembangan pers sejalan dengan perkembangan dunia sastra di Hindia. Beberapa tokoh pergerakan pun turut ambil bagian pada awal abad XX, Tirto, Semaoen, Marco merupakan nama-nama yang kerap kali menulis dengan tajam kritikan kepada penguasa Belanda saat itu. Tidak heran jika mereka sering kali keluar masuk bui bahkan ‘dibuang’.
Sastra dapat dianggap sebagai perkembangan masyarakat dan kebudayaan, dengan konsekuensi perkembangan dalam sastra harus dilihat dalam kaitan dengan fungsi lain dalam masyarakat dan kebudayaan, seperti ekonomi, susunan dan bangunan kelas sosial, pembentukan kekuasaan dan distribusi kekuasaan dalam satu sistem politik (Kleden, 2004). Perkembangan sastra Melayu di awal abad XX sejalan dengan perkembangan pers yang pada saat itu banyak menggunakan bahasa Melayu pasar sebagai medium penyampai gagasan. Bahasa Melayu pasar digunakan karena bahasa tersebut adalah bahasa para pedagang dan kaum buruh yang tidak pernah mengenyam pendidikan sekolah gaya Barat dengan pelajaran bahasa Melayu yang baik. Selain itu, bacaan yang ditulis dalam bahasa Melayu pasar menggunakan bahasa sehari-hari yang terasa lebih spontan dan kadang-kadang lebih “hidup”, serta lebih bebas dari ikatan tata bahasa.  
            Penulisan Roman modern pada mulanya sangat terpengaruh oleh penulis-penulis Belanda (Retnanningsih, 1983). Surat kabar yang pertama kali memuat cerita bersambung berbentuk roman adalah Medan Prijaji. Roman yang pertama diterbitkan adalah Hikajat Siti Mariah yang dikarang oleh H. Mukti. Roman ini menurut pengarangnya disebut “hikayat”, tetapi melukiskan kehidupan sehari-hari pada zaman pengarangnya, lalu ditulis dalam bahasa melayu (Rosidi, 1986). Lebih lanjut, Rosidi mengungkapkan Tirto Adhi Suryo dapat pula disebut sebagai perintis fiksi moderen. Karya-karyanya antara lain: Doenia Pertjintaan 101 Tjerita Jang Soenggoe Terjadi di Tanah Priangan (1906), Tritja Nyai Ratna (1909), Membeli Bini Orang (1909), Busono (1912).
Pengarang lain yang terbilang produktif adalah Mas Marco Kartodikromo. Karya-karyanya adalah Mata Gelap (1914), Student Hidjo (1918), Syair Rempah-rempah (1919), dan Rasa Mardika (1924). Akibat tulisannya Marco empat kali dijatuhi hukuman oleh pemerintah kolonial. Selain Marco, Semoen juga menulis sebuah roman berjudul Hikayat Kadiroen (1920) yang dilarang beredar oleh pemerintah.

Selasa, 04 Oktober 2011

Setiap Hari Merupakan Kado Istimewa

Hidup adalah kejutan. Sering kali kita terkaget-kaget dengan setiap peristiwa yang dihadirkanNya. Senang alhamdulillah, sedih astagfirullah, padahal susah senang adalah pemberianNya. Lalu mengapa kita sering kali mengeluh tiap kali diberi kejutan yang tidak sesuai dengan harapkan kita?

Sudah hampir dua tahun ini saya selalu belajar memahami makna "innalillahi wa innalillahi ra'jiun". Kalimat yang tentu saja, kaum muslim sangat akrab dengannya. Saya berkenalan dengan kalimat tersebut ketika asik "pengajian" bersama Bu Turita dan Mas Asep Sambodja. Intinya, belajar mengiklaskan semua, bahwa semua bukanlah milik kita, karena itulah susah senang harus dikembalikan padaNya.

Tak perlu sedih atau senang berlebih, karena sedih dan senang sama saja. Berputar, atas, tengah, bawah, atas, tengah, bawah, begitu seterusnya. Jadi apalagi yang harus dirisaukan? Tak ada, karena semua toh akan dirasa, diminta, dikembalikan, suka atau tidak suka.

Seseorang pernah berkata pada saya, "Tuhan sudah terlalu baik, jadi tidak ada alasan untuk mengeluh". Inalillahi wa innalillahi ra'jiun, setiap hari merupakan kado istimewa buat saya...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...