Sunday, November 13, 2011

Sang Penari: Bila Ronggeng Mulai Menari

Sang Penari
"Sang Penari" (SP) merupakan salah satu film yang sejak akhir Oktober lalu sudah saya tunggu pemutarannya. Alasannya tentu saja karena penasaran bagaimana jika novel seserius "Ronggeng Dukuh Paruk" (RDP) -trilogi RDP (2003) terbitan Gramedia 397 hlm- diadaptasi ke layar lebar dengan durasi yang terbatas. Tidak hanya itu, sudah dua semester ini saya selalu menyelipkan RDP sebagai bacaan wajib di kelas, sehingga visualisasi Srintil (tokoh utama) sebagai ronggeng membuat saya sangat penasaran.

RDP berkisah mengenai gadis bernama Srintil yang harus menanggung dosa kedua orang tuanya yang dianggap telah membunuh orang se-Dukuh Paruk dengan tempe bongkreknya. Namun, dosa masa lalu itupun dianggap hilang saat ia kemasukkan roh indang hingga ia dianggat sebagai ronggeng. Kemunculan ronggeng tersebut menghidupkan kembali Dukuh Paruk yang telah lama "mati". Ronggeng menjadi harapan, penghibur, 'penolong' warga Dukuh Paruk hingga datanglah PKI memanfaatkan kepopuleran Srintil untuk menarik simpati warga.


Tidak jauh berbeda dengan novelnya, SP memperlihatkan dengan baik bagaimana awal mula terjadinya tragedi tempe bongkrek. Sayangnya, peralihan masa kanak-kanak Srintil (Prisia Nasution) ke masa remajanya tidak semulus bagian pembuka karena sutradara (Ifa Ifansyah) gagal mengambil moment-moment penting di saat Srintil bertransformasi dari gadis cilik yang diam-diam menari bersama teman sepermainannya menjadi seorang ronggeng. Tidak hanya itu, penokohan Rasus (Oka Antara) dan Srintil juga tidak terbangun sebaik novelnya bahkan gambaran pedihnya "tragedi" 65 pun tidak terlalu tampak dan hanya menjadi "tempelan" dalam film. Selain akting pemain yang standar, parahnya -menurut saya- film ini minim interpretasi!

Ronggeng Dukuh Paruk
Meskipun demikian, keberanian Ifa untuk mengangkat RDP ke layar lebar patut diapresiasi. Terlebih lagi karya tersebut merupakan salah satu karya kanon yang mengangkat isu sensitif "65". Setidaknya film ini mengingatkan kita bahwa ada tragedi yang belum selesai di negeri ini.

Sapardi Djoko Damono dalam kuliahnya di kelas Alih Wahana pernah mengungkapkan bahwa alih wahana tidak harus sama dengan karya aslinya. Justru ketika karya tersebut dibuat sama dengan aslinya (dalam hal ini novelnya) maka alih wahana (adaptasi) tersebut gagal. 

Ini hanya catatan singkat yang saya buat dengan sedikit emosional. Entah karena sudah tengah malam atau sangat terganggu dengan certa "Sang Penari". Penasaran? Lupakan catatan saya, berangkatlah ke bioskop dan buat catatanmu sendiri.

Selamat menonton teman!

Novi Diah Haryanti


Published with Blogger-droid v2.0.1

9 comments:

  1. Kemarin kamu tanya apa itu tempe bongkrek kan?

    ini dai wikipedia:

    Tempe bongkrek di buat dari ampas kepala dengan penambahan beberapa bahan lain seperti kedelai. Makanan ini "bisa" menghasilkan asam bongkrek (bongkrek acid), toksin pernapasan yang lebih mematikan daripada sianida. Orang yang keracunan asam bongkrek akan merasa tercekik lalu dari mulutnya akan keluar busa.

    Asam ini dapat terbentuk dalam proses fermentasi bungkil kelapa sewaktu pembuatan tempe bongkrek yang terkontaminasi bakteri Burkholderia gladioli pathovar cocovenenans.

    Pembuatan tempe bongkrek sekarang dilarang di Indonesia, meskipun di beberapa tempat di Jawa orang masih membuatnya secara sembunyi-sembunyi. Kasus kematian karena asam bongkrek ini setiap tahun masih terus dilaporkan.

    mas mu

    ReplyDelete
  2. Setelah membaca review ini, gw semakin penasaran utk nonton film teranyar besutan Ifa yg diadaptasi dr novel kanon yg gw suka, RDP. Ingin jg membuktikan pendapat Novi bhw film ini minim interpretasi, haha. Oooh ya, Mas Agung blm prnah bc RDP kan? Gw jg pgn tau gmn ekspresi n responnya (sudut pandang org nonsastra) stlh nonton ini, hehehe *piss mas agung*

    Sahabatmu

    ReplyDelete
  3. Mbaa... emang kayanya dimana-mana film ga pernah "sebagus" bukunya ya. Aku sih juga kecewa sedikit. Kabarnya, banyak kena sensor LPI. Tapi menurutku penggambaran "65"-nya lumayanlah, terlihat "berani" kok. Aku sebenernya lebih kecewa di ending-nya.

    ReplyDelete
  4. Alhamdulillaaaah, makasih Mba, gw ga harus nonton atau pun baca novelnya. cukup baca tulisanmu ini aja. hehe :D

    ReplyDelete
  5. Mas: Bukan aku yang tanya, tapi mahasiwaku. Makasih ya infonya :)

    Anggita: Iyaaa tetap harus diapresiasi :)

    Mentari: Aku apa ya, pokoknya sangat terganggu deh hehehe

    Shofrul: Wah jangan nonton dong :p

    ReplyDelete
  6. Asalam. mbak saya salah satu mahasiswa, sya lagi kesusahan cari contoh sastra bandingan dari novel asing/terjemahan dan novel dalam negeri.. ada contonya atau tidak ia mbak ?? mohon bantuannya ia mbak

    ReplyDelete
  7. Wulan: Hmmm untuk sastra bandingan coba bandingkan antara "Memoar of Geisha" dan "Namaku hiroko" atau novel-novel yang punya kesamaan ide cerita.Untuk buku mengenai Sastra Bandingan, silakan baca punya Sapardi Djoko Damono :)

    ReplyDelete
  8. ia. makasih kk. tapi contoh yang dr tujuan sampai anlisisnya gg da kk ?? soalnya masih binggung kk.

    ReplyDelete
  9. Saya nggak punya contoh analisisnya, tapi cara menganalisis prosa pasti sama. Yang perlu kamu cari ialah masalahnya :)

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...