Showing posts with label Belajar Sastra di Strata Satu. Show all posts
Showing posts with label Belajar Sastra di Strata Satu. Show all posts

Monday, June 20, 2011

Perbandingan Alur Antara Novel dengan Film CA-BAU-KAN (Hanya Sebuah Dosa)

CA-BAU-KAN (Hanya Sebuah Dosa) merupakan salah satu Novel yang ditulis Remy Sylado yang mempunyai nama asli Yapi Tambayong. Novel yang pernah dipublikasikan di harian Republika ini akhirnya diangkat ke layar lebar oleh sineas muda kita Nia Dinata dengan rumah produksinnya Kalyana Shira Film. Alih wahana dari novel ke film tentu saja membuat terjadinya perubahan-perubahan khususnya terkait cerita dan penceritaan. Berikut analisis singkat novel dan film Ca-Bau-Kan

CA-BAU-KAN dalam Novel Remy Silado
Tema  
Novel ini menceritakan tentang kehidupan masyarakat keturunan Tionghoa, dengan tokoh utamanya yang bernama Tan Peng Liang. Tema novel ini adalah perjuangan. Perjuangan pertama dilakukan Tan Peng Liang dalam melawan penjajah dengan merusak fondasi ekonominya yaitu menciptakan uang palsu untuk dibagikan. Kedua perjuangan Tinung yang dengan keluguan dan "kebodohannya" mencoba bertahan hidup.
Novel CA-BAU-KAN

Analisis Puisi “Sia-sia” Karya Chairil Anwar

… ajining sastra ana ing ukara, nilai sastra ada pada kalimat/kata.

Puisi adalah salah satu bagian dari karya sastra yang menggunakan kata sebagai senjatanya. Padatnya Konstruksi kata-kata pada puisi, memaksa kita untuk mampu meraba-raba apa yang sebenarnya ingin disampaikan penyair. Tidak mudah tentunya, karena itulah berbagai macam kajian dan analisis pun dilakukan, baik oleh para ahli atau hanya sebatas penginterpretasian makna kata oleh pembaca itu sendiri. Seperti yang di ungkapkan Sutardji Calzoum Bachri “... menulis cerpen adalah upaya menentramkan imajinasi, sedangkan menulis puisi adalah membiarkan imajinasi liar”

Analisis puisi Sia-sia, Charil Anwar.   
Sia-sia                                                                                   
Penghabisan kali itu kau datang                                
Membawa karangan kembang                                    
Mawar merah dan melati putih:                      
Darah dan suci                                                           
Kau tebarkan depanku                                               
Serta pandang yang memastika:  Untukmu     

Sudah itu kita sama termanggu
Saling bertanya : apakah ini?
Cinta? Keduanya tak mengerti

Sehari itu kita bersama. Tak hampir- menghampiri

Ah! Hatiku yang tak mau memberi
Mampus kau dikoyak-koyak sepi
(versi DCD))
Deru Tjampur Debu

Thursday, June 9, 2011

"Keluarga Gila" karya Hudan Hidayat: Zaman Purba di Tengah Perdaban Kota

oleh Novi Diah Haryanti

Ayah memasak di dapur. Ibu membaca surat kabar, kopinya masih mengepul. Kami saling membenci. Ribuan kali ayah mau membunuh ibu, tapi ibu berhasil lolos. Pertama pada waktu di tepi sumur. Waktu ibu menjenguk, ayah mendorong ibu. Tapi ibu berpegangan padaku, aku bisa mendorong ibu tak ada yang tahu. Tapi tak kulakukan. Sebab ayah harus membunuh ibu dengan tangannya sendiri, sebagai mana aku mau membunuh ayah dengan tanganku sendiri.

Kalimat tersebut dapat kita temui pada paragraf awal dari cerita pendek milik Hudan Hidayat yang berjudul Keluarga Gila. Memang tak ada yang lebih gila dari usaha saling bunuh dalam satu keluarga. Dilihat sekilas mungkin cerpen ini hanya rekaan si penulis belaka. Tapi jika kita telaah lebih lanjut maka akan terlihat unsur kenyataan yang mampu dituangkannya dalam bentuk yang tidak biasa.

Tuesday, April 12, 2011

Armijn Pane dan Jerat Romantisisme*

 oleh Novi Diah Haryanti
Romantisme ala Armijn Pane
Seorang hamba seni yang sejati adalah hamba sukmanya. Selalu gelisah, tidak pernah tetap. Seperti alam yang selalu berganti. Alam adalah rahasia, selubung yang terbuka sedikit demi sedikit tapi akan memperlihatkan lapisan selubung yang lain. Ini adalah salah satu konsep pemikiran yang diusung oleh Armijn Pane tentang apa itu aliran romantisme yang menurutnya tak akan pernah mati.
Pujangga (penyair), adalah gambaran dari masyarakat yang ada. Segala macam perubahan yang terjadi di dalamnya akan terlihat dari sajak atau karangannya. Lain masyarakat lain pula seni yang berkembang. Begitu juga dengan waktu, lain waktu lain pula seni yang dihasilkan. Apalagi penduduk negeri ini hidup dalam masyarakat dualistik, yaitu pertemuan peradaban barat dan timur yang berlainan jenisnya. Maka terdapat kebimbangan terhadap karya sastra yang tercipta. Kebimbangan dalam bentuk, ritme dan pemilihan katra-kata.

Mengintip Fira Basuki Lewat Jendela, Pintu, Atap


 Oleh Novi Diah Haryanti

“L’ âme n’a pas de sexe”, jiwa tidak punya kelamin. Itulah salah satu filsafat pencerahan yang diusung Erich Fromm dalam salah satu bukunya The Art Of  Loving. Jiwa memang tidak punya kelamin, hal tersebut dapat kita lihat dari bagaimana seorang Fira Basuki, atau juga para penulis lain yang bermetafor dari seorang perempuan menjadi laki – laki ataupun sebaliknya. Sebuah trilogi “Jendela, Pintu, Atap” membawa wanita kelahiran Surabaya 7 Juni 1972 menjadi salah satu penulis wanita yang buku – bukunya sangat diminati oleh penikmat sastra Indonesia saat ini.

Umar Kayam dan Transformasi Tiga Priyayi

           Oleh Novi Diah Haryanti

Umar Kayam Si Priyai Asli
Priyayi Jawa, itulah gambaran yang tepat lelaki kelahiran Ngawi, Jawa Timur, 30 April 1932. Dengan gelar Doktor dari Cornell University, Ithaca, tahun 1965 sekarang ia mengajar sebagai Guru Besar pada Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada. Umar Kayam (UK) memang jauh dari birokratis tapi tata krama dia pegang teguh. UK bukanlah penulis cerpen apalagi novel yang produktif tapi karya-karyanya selalu ramai jadi bahan pembicaran orang, begitu pun ketika ia menulis esai dan makalah. Entah sengaja atau tidak, ini adalah bagian dari strategi kebudayaan UK, telaten, diulang-ulang agar gagasannya masuk dalam ingatan masyarakat. Membaca dua karya UK (Bawuk dan Sri Sumarah serta Para Priyayi) terlihat jelas bahwa UK sangat memperhatikan hal-hal kecil serta bahasa yang tidak multitafsir membuat saya merasa kagum dengan sosok yang satu ini, karna dengan sederhana kita dapat langsung masuk ke dunia ciptaanya. Ideologi politknya yang cenderung sosialis menurut Sapardi Djoko Damono dikarenakan kedekatannya dengan Seodjatmoko.  

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...