Showing posts with label Ruang Drama dan Sinema. Show all posts
Showing posts with label Ruang Drama dan Sinema. Show all posts

Sunday, December 4, 2011

Pentas Teater Realis "Rumah Boneka" ( A Doll's House): Tiga Jam Tanpa Interval

 "Saya mempunyai tugas yang tak kalah sakralnya dengan menjadi seorang ibu, tugas kepada diri sendiri!"

Kalimat tersebut merupakan kutipan dialog teater "Rumah Boneka" yang diadaptasi dari buku drama karya Hendrik Ibsen  "A Doll's House". Dari kata sambutan Faiza Mardzoeki (produser) saya tahu bahwa Ibsen oleh bangsa Norwegia dijadikan simbol kebanggaan nasional. Pemerintah Norwegia mendukung diciptakannya ruang pergaulan kreatif di seluruh dunia melalui Ibsen. Program kesetaraan gender pun dipromosikan dengan nama Nora's Sisters mengambil nama tokoh utama perempuan dalam cerita. Terus terang isu gender ini yang menarik minat saya untuk datang ke Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) kemarin malam (3/12).

Sunday, November 13, 2011

Sang Penari: Bila Ronggeng Mulai Menari

Sang Penari
"Sang Penari" (SP) merupakan salah satu film yang sejak akhir Oktober lalu sudah saya tunggu pemutarannya. Alasannya tentu saja karena penasaran bagaimana jika novel seserius "Ronggeng Dukuh Paruk" (RDP) -trilogi RDP (2003) terbitan Gramedia 397 hlm- diadaptasi ke layar lebar dengan durasi yang terbatas. Tidak hanya itu, sudah dua semester ini saya selalu menyelipkan RDP sebagai bacaan wajib di kelas, sehingga visualisasi Srintil (tokoh utama) sebagai ronggeng membuat saya sangat penasaran.

RDP berkisah mengenai gadis bernama Srintil yang harus menanggung dosa kedua orang tuanya yang dianggap telah membunuh orang se-Dukuh Paruk dengan tempe bongkreknya. Namun, dosa masa lalu itupun dianggap hilang saat ia kemasukkan roh indang hingga ia dianggat sebagai ronggeng. Kemunculan ronggeng tersebut menghidupkan kembali Dukuh Paruk yang telah lama "mati". Ronggeng menjadi harapan, penghibur, 'penolong' warga Dukuh Paruk hingga datanglah PKI memanfaatkan kepopuleran Srintil untuk menarik simpati warga.

Friday, October 14, 2011

Tanggapan Atas Naskah Sandiwara "Cindua Mato"

 Novi Diah Haryanti
novi.diah@gmail.com

Mursal Esten dalam buku Tradisi dan Modernitas dalam Sandiwara (1992) meneliti hubungan teks sandiwara “Cindua Mato” karya Wisran Hadi dengan teks kaba “Cindua Mato” yang merupakan karya sastra tradisonal Minangkabau. Dalam simpulannya Esten mengungkapkan “Wisran Hadi menggunakan genre yang juga mencerminkan sikapnya. Ia menggunakan tradisi bakaba dan randai untuk hal yang bersifat tradisional dan menggunakan sandiwara untuk mengungkapkan konflik yang terjadi dan pikiran-pikiran barunya” (1992: 149). Sedangkan Wisran Hadi dalam wawancara yang dilakukan dengan Esten,[1] mengungkapkan bahwa “Cindua Mato” dibuat sebagai upaya untuk ‘menshock’ masyarakat Minang yang berusaha mempertahankan tradisi dan mengagung-agungkan kaba Cindua Mato yang para tokohnya “bersih” sebagai manusia.  
Wisran Hadi lahir di Lapai, Padang, Sumatera Barat, pada 27 Juli 1945. Lewat karya-karyanya, Wisran berupaya untuk menghidupkan kembali tradisi dan mitos lama Minangkabau dan Melayu menjadi bentuk yang lebih baru dan tidak tunduk kepada pemikiran masyarakatnya.[2] Selain menulis naskah drama, dia juga menulis, puisi, cerpen, dan novel. Pada 1978, ia mendirikan sanggar Teater Bumi di Padang. Kumpulan naskah drama berjudul Empat Orang Melayu berisi empat naskah drama Senandung Semenanjung, Dara Jingga, Gading Cempaka”dan Cindua Mato” membuatnya mendapat penghargaan SEA Write Award 2000.
“Cindua Mato” karya Wisran Hadi adalah pemenang sayembara penulisan naskah sandiwara Indonesia yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta pada 1977.  Wisran membagi sandiwarannya ke dalam delapan putaran. Cerita dimulai dengan kabar pernikahan Puti Bungsu dengan Imbang Jaya yang diterima oleh Dang Tuanku. Sebagai orang yang sudah dijodohkan sejak kecil, Dang Tuanku merasa terhina ketika tahu wanitanya direbut oleh lelaki lain. Itulah yang membuat Dang Tuanku bersikeras menyuruh Cindua Mato berperang untuk merebut Puti Bungsu. Bundo Kanduang pun merasa terhina dengan ulah Rajo Mundo yang membatalkan perjodohan antara Dang Tuangku dan Puti Bungsu serta menerima lamaran dari Raja Tiang Bungkuk. Maka diutuslah Cindua Mato untuk menghadiri dan mengacaukan perkawinan Puti Bungsu dan Imbang Jaya. Ternyata, Cindua Mato bertindak melebihi perintah Bundo Kanduang. Imbang Jaya dibunuhnya, hingga Cindua Mato di penjara. Tak hanya itu kedekatan Cindua Mato dengan Puti Bungsu membuat Dang Tuangku merasa cemburu padanya. Namun, atas saran Bundo Kanduang, Dang Tuangku yang sudah tak ingin lagi menerima Puti Bungsu karena dianggap tidak suci lagi, akhirnya kembali. Terdesak oleh serangan yang dilakukan oleh Raja Tiang Bungkuk, Cindua Mato pun dibebaskan untuk berperang melawannya. Kemenangan yang diperoleh oleh Cindua Mato tidak lantas membuatnya bahagia karena ia merasa sedih ditinggal oleh Puti Bungsu yang lebih memilih Dang Tuangku dibanding dirinya.

Monday, July 11, 2011

“Membaca” Catatan Harian Si Boy

Jangan bayangkan Boy seperti zaman dulu yang diperankan dengan manis oleh Onky Alexander! Catatan Harian Si Boy yang ini, bukanlah versi baru melainkan “regenerasi” dari Boy yang beken di tahun 80-90an.

Catatan Harian Si Boy (2011) merupakan film yang mencoba mengambil karakter para tokoh  di Catatan Harian Si Boy terdahulu. Itulah yang membuat  karakter Boy yang ramah, hangat, dan melindungi tetap ditampilkan lewat tokoh Satrio (Ario Bayu ), sedangkan sosok Emon yang lucu dan kemayu, kembali hadir lewat tokoh Herry (Albert Halim). Cerita bermula dari Nuke yang terbaring koma dan selalu memegang catatan harian milik Boy (Onky Alexander). Nuke “ingin” bertemu Boy! Maka sebagai anak, Natasha (Carissa Puteri) mencoba memenuhi “keinginan” ibunya tersebut. Dengan bantuan Satrio dan teman-temannya pencarian Mas Boy pun dimulai, mereka berusaha menelusuri setiap nama yang terdapat dalam Diary tersebut. Melihat kedekatan Natasha dan Satrio, Nico (Paul Foster) cemburu. Maka, lahirnya konflik dari cinta segitiga antara Satrio-Natasha-Nico. Selain bercerita mengenai kisah cinta segita, film ini kental dengan gambaran persahabatan para tokohnya (Sastrio, Andi, Halim, dan Nina) yang “hidup” bersama di bengkel milik Nina (Poppy Sovia).

Buat saya, film ini “cowok banget”! Bukan hanya karena sosok Satrio yang ditampilkan sangat macho (tinggi, hitam manis, dan seksi) tapi juga dari tiap adegannya. Pertama, adegan dalam film dibuka dengan kebut-kebutan ala Fast & Furious yang dilakukan oleh Satrio untuk menghindari kejaran polisi. Selain kebut-kebutan, film ini juga selalu menampilkan mobil-mobil mahal. Profesi montir yang dilakoni oleh Satrio dan Andi di Bengkel Mobil Mewah (Hummer) lagi-lagi menggambarkan hobi otomotif yang kerap disukai oleh kaum laki-laki. Kedua, setelah ngebut penonton disuguhkan adegan-adegan perkelahian. Di antaranya perkelahian Nico dengan para penagih hutang dan perkelahian antara Nico dan Satrio yang merupakan puncak konflik kedua tokoh tersebut. Ketiga, dialog-dialog antara Satrio, Herry, dan Andi (Abimana Arya) walaupun lucu tapi terdengar “kasar”. Keempat, para aktrisnya ditampilkan cantik dan sangat seksi. Pakaian yang dikenakan Nina dan Natasha selalu minim, sangat Male Gaze! Hal tersebut berbeda dengan tokoh prianya (Satrio) yang walaupun berpostur tinggi besar tapi nyaris “keseksiannya” tidak tampak (bandingkan dengan film-film karya Upi Avianto yang kerap menampilkan laki-laki dengan perut sixpack bertelanjang dada). Jadi tidak mengherankan kalau teman laki-laki saya, sangat menyukai film ini dan merekomendasikan untuk menontonnya hehehe

Monday, June 27, 2011

Belajar dari "Serdadu Kumbang"

Jumat lalu, menjelang senja saya mengajak Desy (adik saya) nonton film yang direkomendasikan oleh beberapa teman Serdadu Kumbang. Dengan tergesa kami berangkat ke bioskop terdekat dari rumah dan pas saja filmnya baru dimulai.
Amek (Yudi Miftahudin) merupakan anak laki-laki Desa Mantar, Kab. Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat yang tidak memiliki cita-cita atau mimpi. Kekurangan fisik (bibir sumbing) yang dimilikinya dan gagal lulus dalam ujian nasional, membuat  Amek semakin takut bermimpi.  Setiap hari bersama Umbe (Aji Santosa) dan Acan (Fachri Azhari), Amek menghabiskan hari-harinya dengan bermain. Ketiganya kerap dianggap sebagai pembuat onar, nakal, dan minus dalam pelajaran.  Hal itulah yang membuat ketiganya, kerap dihukum oleh Guru Alim (Lukman Sardi) yang menerapkan kedisiplinan ala militer kepada anak didiknya. Kerasnya “pendidikan” yang dirasakan Amek membuatnya malas bersekolah untungnya mereka masih memiliki Guru Imbok yang berjuang menghapus kekerasan di sekolah dan membuat mereka terus belajar. 
Buat saya film ini merupakan salah satu film yang mampu memberi gambaran tentang bobroknya dunia pendidikan kita. Setidaknya ada dua hal yang sengaja diangkat oleh Ari Sihale dan Nia Zulkarnaen (Alenia Picture). Pertama kekerasan yang kerap terjadi di sekolah dan kedua tidak tepatnya system ujian nasional sebagai cara untuk melihat kualitas pendididkan.  Untuk dapat mencapai standar murid (anak-anak) menjadi korbannya. 

Sunday, June 19, 2011

Sejarah film (Horor) Indonesia

Novi Diah Haryanti

Lebaran tahun ini, hampir di setiap jaringan bioskop 21 Cineplex, memutar film-film bergenre horor. Tidak hanya satu, tiga film bertajuk Pocong 3, Jelangkung 3, sampai Kuntilanak 2, bersaing merebut perhatian penonton dalam waktu bersamaan.

            “Film Lebaran 2007”, begitulah Multivisionplus Picture menobatkan film Kuntilanak 2 yang diproduksinya. Antrean panjang yang terlihat pada loket penjualan tiket, memperlihatkan kesuksesan film Kuntilanak (2006) membuat penonton penasaran hingga rela antre untuk dapat menonton sekuel film tersebut. Keingintahuan penonton akan nasib Samantha (Julie Estelle) yang mendapat wangsit untuk memanggil kuntilanak dan kekejaman keluarga Mangkoedjiwo yang memaksa Samantha untuk masuk dalam lingkaran mereka, menarik perhatian remaja sampai dewasa. Inilah fenomena yang tak bisa dihilangkan dari wajah perfilman Indonesia. setelah terbangun dari tidur panjangnya, film Indonesia seakan tak pernah bisa lepas dari mistis dan mengandalkan mahluk halus sebagai bintang utamanya.   
Film Jengkung
            Sejak awal kelahirannya, film identik dengan hiburan rendah orang kota. Fenomena perkembangan film yang begitu cepat dan tak terprediksi membuat film menjadi salah satu fenomena budaya progresif. Tidak hanya di negara besar, tapi juga di negara berkembang seperti Indonesia.

Wednesday, June 15, 2011

Relasi Antar Tokoh dalam "Malam Jahanam" Karya Motinggo Busye

 Oleh Novi Diah Haryanti

Malam Jahanam merupakan drama satu babak Motinggo Busye yang pertama kali diterbitkan pada 1961. Drama tersebut bercerita mengenai kehidupan Mat Kontan, Paijah, Soleman, Utai, dan tukang pijat yang tinggal di perkampungan nelayan yang miskin. Kemiskinan itulah yang membuat Paijah sakit hati karena suaminya Mat Kontan, lebih mementingkan nasib burung beonya yang hilang dibanding anaknya yang sedang sakit. Hilangnya burung beo kesayangan Mat Kontan, menjadi kunci terbuka satu demi satu rahasia hidup Mat Kontan, Paijah, dan Soleman. Keinginan Paijah memiliki anak membuatnya berhubungan dengan sahabat baik suaminya sendiri, Soleman. Sikap sombong Mat Kontan dan perhatiannya yang tercurah pada kematian burung beonya serta melupakan anaknya yang sedang sakit, membuat Paijah dan Soleman kesal. Hingga semua rahasia terbongkar, Soleman yang memotong leher burung beo sekaligus bapak dari anak Paijah. Tanpa ragu, Mat Kontan mengambil goloknya dan bersama Utai mengejar Soleman. Soleman berhasil lolos, sedangkan Utai mati karena patah batang lehernya disepak Soleman. Cerita ditutup dengan kematian si Kontan Kecil. Tak hanya bicara soal kemiskinan, Malam Jahanam juga mengangkat isu perselingkuhan. Keinginan menjadi ibu dan kesadaran bahwa suaminya tidak dapat memberikan keturunan membuat Paijah berselingkuh dengan Soleman. 
Dalam tulisan singkat ini, saya akan mencoba melihat relasi antara Paijah dan Mat Kontan yang terikat dalam satu institusi perkawinan, serta relasi antara Paijah dan Soleman yang merupakan selingkuhannya. Pendekatan feminisme digunakan untuk melihat bagaimana tokoh perempuan ditampilkan atau melihat bagaimana suatu teks membahas relasi jender.

Sunday, March 20, 2011

Persoalan Tatapan (Male Gaze) dalam Film Kutunggu Jandamu

Novi Diah Haryanti
Tugas Matakuliah Sinema
novi.diah@gmail.com
Abstrak
Laura Mulvey (1975) mengungkapkan bagaimana sinema pop (Hollywood) memproduksi dan mereproduksi apa yang ia sebut sebagai “Male Gaze”. Tidak hanya itu,  kamera film menurut Mulvey juga menangkap apa yang Freud sebut sebagai scopophilia yaitu menggunakan orang lain sebagai objek rangsangan seksual melalui pandangan mata. Tulisan ini akan mengulas bagaimana male gaze berkerja pada film Kutunggu Jandamu (2008), film ini dipilih karena tiga alasan. Pertama, sepanjangan durasi film, penonton selalu disuguhkan dengan keseksian tubuh –dan pakaian minim– para aktrisnya. Kedua, film ini mendapat banyak kritikan sebagai film yang hanya menonjolkan unsur sensualitas dan seksualitas. Ketiga, film ini ditujukan bagi penoton laki-laki, hal ini tampak dari pemilihan pemain (casting) yang diisi oleh para perempuan cantik, seksi, dan”mengundang hasrat”. Sedangkan para pemain prianya tampak ”biasa-biasa saja”, tidak tanpan, tidak gagah, tidak seksi bahkan cenderung ’lemah’.
Dari hasil analisis, tampak bahwa tatapan laki-laki (male gaze) dalam film ini sangat kental terasa lewat casting pemain, gerak kamera, dan adegan-adegan yang dibuat tidak hanya untuk ‘memuaskan’ tatapan sutradara dan aktor, tapi juga tatapan spectator (penonton) film. Dengan sengaja kamera fokus menangkap (menatap) bagian-bagian tubuh tertentu seperti wajah, dada, dan bokong perempuan dalam film. Tatapan laki-laki ini semakin mempertegas bahwa masyarakat patriarkal tak hanya membentuk dunia nyata tapi juga menstruktur bentuk film.      

Kata Kunci: Kutunggu Jandamu, Mulvey, Male Gaze, Scopophilia.

 

Wednesday, March 9, 2011

FILM FIKSI: Pemahaman terhadap Genre Drama-Crime Thriller

Erwan, Maria Ulfa, Novi Diah & Yoyok W.S.
Tugas Mata kuliah Pendekatan dan Teori Sinema
2009

Pendahuluan
Pemahaman mengenai genre film dapat dilihat melalui FIKSI (2008) dengan tokoh utama perempuan sebagai pelaku beberapa aksi pembunuhan. Film FIKSI merupakan film Indonesia karya sutradara Mouldy Surya.[1] Film ini lebih banyak menceritakan kehidupan, perasaan dan tindakan tokoh utama yang bernama Alisha. Alisha merupakan gadis yang tenang, pendiam, tertutup, “dingin” dan juga kejam karena pembunuhan yang dilakukannya. Dengan kata lain Alisha dapat juga disebut psikopat, seperti yang dilabelkan oleh film ini dalam posternya (lihat poster ke-2). Sikap psikopat Alisha ini dapat dilihat dari sikap dan tindakannya yang muncul dalam beberapa adegan dalam film ini terutama terkait dengan pembunuhan yang dilakukannya. Pada akhirnya setelah ia melakukan “misi” pembunuhannya “atas nama cinta”, ia bunuh diri dengan melompat dari lantai sembilan rumah susun.


Tuesday, March 8, 2011

DARI RUMAH MEWAH KE RUMAH SUSUN: Analisis Setting dalam Film FIKSI.

 Novi Diah Haryanti
Mata Kuliah Teori dan Pendekatan Sinema 
2009

Pendahuluan

Fiksi adalah film pertama Mouly Surya yang dirilis pada Juni 2008. Walaupun hanya meraih 23.883 penonton, Fiksi mendapat empat penghargaan di ajang Festival Film Indonesia (FFI) 2008, yaitu film terbaik, sutradara terbaik, skenario cerita asli terbaik, dan tata musik terbaik. Meski belakangan kerap mendapat kritik, festival ini masih dianggap sebagai barometer perfilman Indonesia.

Film Fiksi berkisah tentang Alisha (Ladya Cheryl) yang hidup dalam kesepian, kecemasan, dendam, dan trauma setelah ia tahu bapaknya memiliki simpanan dan ibunya meninggal pada saat mengandung. Kebencian pada sang bapak, membuat Alisha menutup diri dan hidup dalam dunianya sendiri. Namun, hal tersebut berubah ketika ia melihat sosok Bari (Donni Alamsyah) yang terlihat santai, riang, dan melakukan apa yang ia inginkan, seperti mencuri pajangan kelinci putih milik Alisha untuk kekasihnya Renta (Kinaryosih). Sayangnya, Bari tak pernah tahu perbuatan isengnya itu membawa Alisha –yang belakangan kita tahu seorang gadis psikopat –ke dalam hidupnya. Diam-diam, Alisha mencari Bari, mengikutinya sampai ke rumah susun tempat ia dan pacarnya tinggal bersama, bahkan mengontrak rumah tepat di samping rumah Bari.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...