“Maksud saya mengirimkan Hidjo ke Negeri Belanda itu, tidak lain supaya orang-orang yang meredahkan kita bisa mengerti bahwa manusia sama saja”
Sejak awal kedatangannya, Barat tidak hanya menanamkan wacana tentang superioritasnya tapi juga melanggengkannya lewat pendidikan. Dengan atau tanpa kita sadar bangsa Barat telah berhasil menanamkan pemahaman bahwa sebagai bangsa Timur, bangsa Dunia Ketiga, kita lemah, inferior, lebih menggunakan perasaan, percaya pada takhyul, dengan konsekuensi logis mengakui superioritas Barat.
Manneke Budiman menjelaskan konsep pascakolonial sebagai kajian tetang bagaimana sastra mengungkapkan ‘jejak-jejak” kolonialisme dalam konfrontasi “ras-ras, bangsa-bangsa, dan kebudayan-kebudayaan” yang terjadi dalam lingkup “hubungan tidak setara” sebagai dampak dari kolonisasi Eropa atas bangsa-bangsa di ‘dunia ketiga’.[1] Sebagai strategi membaca karya sastra, pascakolonial menurut Bhabha akan menghasilkan penafsiran yang beda. Maka, salah satu tujuan pascakolonial adalah re- writing dan re-reading terhadap teks yang sudah ada. Tidak hanya itu pascakolonial diartikan sebagai upaya untuk menyingkap dan membongkar (dekonstruksi) kekuasaan kolonialisme yang teraktualisasi dalam wacana sastra pascakolonial.
Novel Student Hidjo karangan Marco Kartodikromo merupakan salah satu novel yang ditulis pada akhir abad XX, masa yang dalam sejarah resmi disebut sebagai kebangkitan nasional. Sebagai produk yang lahir dimasa kolonial, Student Hidjo merepresentasikan ketimpangan Barat dan Timur yang terlihat dari figur tokoh-tokohnya. Novel ini menggambarkan kehidupan priyayi Jawa dengan kemudahan-kemudahan yang mereka peroleh, salah satunya pendidikan. Suasana pergerakan, terutama Sarekat Islam, tempat para tokoh novel mencurahkan sebagian waktu dan kegiatan, menjadikan novel ini kental dengan suasana politik.
Cerita dimulai dengan keinginan orang tua Hidjo menyekolahkannya ke Belanda untuk mengangkat derajat keluarga. Demi keinginan sang ayah, Hidjo pergi ke Belanda meninggalkan keluarga dan tunangannya Biro. Dengan keyakinan kuat bahwa ia tak akan terpengaruh dengan budaya Barat karena sangat memegang teguh budaya Timur, Hidjo berjuang untuk tetap pada identitasnya sebagai bangsa Hindia. Tetapi dikarenakan benturan budaya yang terus menerus dialaminya, ia menjadi goyah tergoda dengan perempuan Belanda bertubuh seksi. Sejak saat itu ia mengalami disorientasi dan meninggalkan budaya Timur yang selama ini dipujanya.
Hubungan terjajah dan penjajah yang terjadi di tanah jajahan menimbulkan relasi kuasa yang tak dapat dihindarkan. Relasi yang dimaksud bersifat hierakis, dominatif dan menindas. Hal inilah yang kemudian terlihat dalam karya Marco, salah satu pengarang yang paling produktif melahirkan bacaan liar.
Waktu ini, orang seperti saya masih dipandang rendah oleh orang-orang yang menjadi pegawai Gouvernement. Kadang-kadang saudara kita sendiri, yang juga turut menjadi pegawai Gouvernement, dia tidak mau kumpul dengan kita. Sebab dia pikir derajatnya lebih tinggi daripada kita yang hanya menjadi saudagar atau petani. maksud saya mengirimkan Hidjo ke Belanda, tidak lain supaya orang-orang yang merendahkan kita bisa mengerti bahwa manusia itu sama saja sama (SH: 3)
 |
Student Hidjo
|