Showing posts with label Ruang Berbagai Ulasan Buku dan Artikel Sastra. Show all posts
Showing posts with label Ruang Berbagai Ulasan Buku dan Artikel Sastra. Show all posts

Tuesday, April 16, 2013

Kritik atas ulasan H.B. Jassin "Kenyataan Artistik Tidak Identik Dengan Kenyataan Objektif" (Bagian 2)

Bagian 2

Pendekatan ekspresif banyak digunakan pada abad ke-19 zaman romantik. Di Indonesia pendekatan ini berkembang pada masa Pujangga Baru yang dipelopori oleh Amir Hamzah, Sanusi Pane, ataupun JE Tatengkeng dengan puisi liriknya bahkan menurut Teeuw dalam Ratna (2007) sampai masa Sutardji Calzoum Bachri. Maka tidaklah mengherankan jika Chairil Anwar dan Amir Hamzah membuat tulisan yang hanya dimengerti oleh penyairnya sendiri.  

Mengenai cerpen "Datang dan Perginya", Jassin memberikan catatan "mungkin saja karya Navis menggambarkan pengarang yang hanya mementingkan persoalan dalam hidup atau pengarang menyerahkan suatu persoalan yang diangkat dari suatu peristiwa untuk dikupas pembaca". Lebih lajut, Jassin menjelaskan ada dua pendapat mengenai sikap pengarang dalam menampilkan suatu masalah. Pertama, pengarang yang menampilkan suatu masalah dengan pemecahannya. Kedua pengarang yang membiarkan permasalahan dikupas oleh pembaca sendiri.

Kritik atas ulasan H.B. Jassin "Kenyataan Artistik Tidak Identik Dengan Kenyataan Objektif" (Bagian 1)

Kali ini, saya mencoba menyusun kembali tulisan yang dibuat pada 2009. Sebelumnya tulisan ini pernah saya "posting" di Facebook. Untuk lebih memudahkan pembaca, saya membagi dalam 2 tulisan.

Bagian 1 

Jika kita membaca salah satu tulisan Jassin dalam bukunya yang bertajuk Sastra Indonesia sebagi Warga Sastra Dunia, rasanya menarik dan cukup menggelitik. Menarik karena label “Paus Sastra” membuat pembacaan terhadap karya Jassin tidak pernah usai, namun menjadi menggelitik jika  kita mencoba melihatnya dengan kacamata kekinian. Maka, tidak salah rasanya jika kita melihat dan mempertanyakan kembali apa yang dipersoalkan Jassin dalam tulisan "Kenyataan Artistik Tidak Identik Dengan Kenyataan Objektif". Dalam tulisan tersebut, Jassin mencermati tiga persoalan dari empat karya yang diulasnya, yaitu 1) karya sastra sebagai hasil imajinasi, tidak lebih dari itu, 2) hubungan antara pengarang, karya, dan isinya ditinjau dari kaidah agama, serta 3) sikap pengarang. 

Menurut Jassin, imajinasi adalah sesuatu yang hidup, suatu proses, dan kegiatan jiwa. Dengan demikian, imajinasi yang dituangkan ke dalam sesuatu karya seni, tidaklah identik dengan kenyataan sejarah, pengalaman, ataupun ilmu pengetahuan. Dapat pula dikatakan, kenyataan artistik tidak identik dengan kenyataan obyektif atau sejarah. 

Friday, September 16, 2011

Sastra dan Interaksi Lintas Budaya

Pada pengantar makalah Sastra dan Interaksi Lintas Budaya, Melani Budianta menekankan bahwa tujuan dari pembahasan makalahnya adalah menunjukan pentingnya peran sastra dalam pemahaman lintas budaya. Hal ini terjadi dikarenakan, interaksi global tidak dapat dipisahkan dengan yang bersifat lokal. Bahkan menurut Melani dapat dikatakan bahwa pertautan lintas budaya dalam interaksi global-regional-nasional-lokal menjadi semakin kompleks. Untuk melihat posisi sastra dalam interaksi lintas budaya itu,  Melani mencoba mengupas beberapa karya yang sarat akan pengalaman Lokal-Nasional-Regional-Global. Hal tersebut dilakukan karena sastra merupakan suatu praktis budaya, sosial, bahkan politik yang tidak hanya membentuk, tapi juga ikut bermain dalam lintas budaya tersebut.  
Menurut Melani, salah satu cerpen yang mengusik hubungan keuasaan diberbagai tingkatan adalah cerpen Azmi R Fatwa, Karena Generasi Kakek.  Lewat cerpennya, Azmi mencoba menggambarkan bagaimana masyarakat desa Tajul  mengubah posisi mereka menjadi warga dunia dengan menggunakan bahasa Inggris dalam setiap komunikasinya.  Dengan nada sedih dipersolkan peran bangsa sebagai penguasa yang mengeruk kekayaan lokal kepada pihak asing. Di satu sisi, cerpen ini membalikan posisi keterpinggiran dengan bergabung ke tataran global melalui bahasa asing. Cerpen Azmi berbeda dengan kelaziman untuk memakai bahasa Inggris sebagai simbol pengaruh Barat yang mengancam indentitas nasional. Lewat cerpen ini, kita melihat pertautan bahwa yang asing, nasional, maupun lokal dapat saling bertaut tanpa batas yang jelas.  
Dalam kumpulan Riau Satu maupun karya lain yang memposisikan diri sebagai marginal atau gugatan terhadap kekuatan pusat, maka nada kecewa, gusar, risau, menjadi warna dominan. Karya sastra mewakili daerah yang membangun kesadaran akan kebersamaan dalam kondisi apapun di wilayah budaya yang sama.  Pembentukan suatu entitas kelompok seperti itu memerlukan upaya untuk terus membayangkan dan mengukuhkan eksistensinya, termasuk ciri budaya, tradisi, mitos, dan ritualnya.
Identitas sebagai suatu komunitas dikukuhkan dengan menentukan siapa yang berhak memilikinya. Konsep asli, pendatang, orang asing, secara hirakis menunjukan hak kepemilikikan terhadap suatu komunitas, baik dalam tataran lokal maupun nasional. Sastra selain dapat berfungsi untuk mengukuhkan kecenderungan yang dominan, dapat pula secara steorotip mempertanyakan konstruksi sosial yang telah ada. Hal ini terlihat, jika pada masa orde baru kata-kata komunis, kiri mampu membangkitkan konotasi yang menakutkan. Sesudah masa kejatuhannya, sastrawan dan sejarahwan dapat melihatnya dengan perspektif yang beda. Hal ini dapat dilihat lewat karya Putu Oka Sukanta, Merajut Harkat karya karya Martin Aleida, Layang-layang itu Tak Lagi Mengepak Tingg-tinggi, dan juga dalam karya Ayu Utami berjudul Larung.

Tuesday, August 2, 2011

NEW HISTORICISM DALAM PERKEMBANGAN KRITIK SASTRA

oleh Novi Diah Haryanti

Judul     : New Historicism dalam Perkembangan Kritik Sastra
Penulis  : Melani Budianta
Terbit   : Jurnal Susastra, Vol. 2 no 3 tahun 2006 

Tulisan Melani Budianta dalam jurnal Susastra, Vol. 2 no 3 tahun 2006 mencoba melihat kontribusi New Historicism (NH) dalam sejarah kritik sastra di Barat dan apa yang ditawarkannya bagi kritik sastra Indonesia. Ada tiga pertanyaan yang coba dijawabnya dalam tulisan terkait kritik yang berkembang dalam dua dekade terakhir abad ke-20, 1) pembaharuan apa yang disumbangkan NH? Apakah NH menawarkan kemungkinan-kemungkinan baru bagi kajian sastra di Indonesia? Dan apa keterbatasananya? Dengan kata lain ontologis atau “barang apa” yang diteliti dalam paper Melani Budianta adalah New Histocism  
Budianta memulai tulisannya dengan subjudul “Yang Baru dalam NH”. Sesuai dengan subjudul yang dipilihnya, penelurusan mengenai kapan dan oleh siapa istilah NH pertama dipakai terjawab dalam paragraf pertama. Istilah NH pertama kali digunakan Stephen Greenblattt pada 1982 yang mencoba melihat keterkaitan teks sastra dengan berbagai kekuatan sosial, ekonomi, dan politik yang melingkupinya. Ia mendobrak kecendrungan kajian tekstual yang ahistoris, otonom, dan dipisahkan dari aspek yang berada di luar karya. Tidak hanya menggugat formalisme, menurut Greenblatttt karya sastra ikut membangun, mereproduksi konvensi, norma, dan nilai budaya melalui tindak verbal dan imajinasinya.  Revisi NH terhadap pendekatan formalis maupun sejarah disimpulkan oleh Louis A. Montrose dengan istilah “kesejarahan sastra dan kesastraan sejarah” yang berarti membaca sastra = membaca sejarah dan membaca sejarah = membaca sastra.

Monday, August 1, 2011

Love in a Time of Colonialism: Race and Romance in an Early Indonesian Novel

 Oleh Novi Diah Haryanti

Tulisan Paul Tickell dalam buku Clearing a Space: Postcolonial Readings  of modern Indonesian Literature memperlihatkan bagaimana wacana-wacana disipliner (ras dan Seksualitas) sangat menentukan pembentukan identitas-indetitas Barat Modern yang terkait dengan upaya mempertahankan dominasi bangsa Barat terhadap non-Barat.

Pertemuan antara penjajah dan terjajah, membentuk identitas–identitas hibrida yang menurut Homi Bhabha yang selalu menampilkan ambivalensi dalam wacana kolonial. Atau menurut Bhabha terjadi mimikri kolonial yaitu keinginan akan suatu Other yang telah di reformasi dan yang bisa dikenali sebagai subjek perbedaan yang nyaris sama tetapi tidak begitu sama.

Politik putih kolonial Belanda yang bertujuan menciptakan “Other”, yang satu kaki tertancap di Eropa dan kaki lainnya tertancap di dunia pribumi, ternyata tidak selalu dapat dikendalikan oleh penguasa kolonial. Beberapa dari Others tersebut menjadi susah diatur yang memilah-milah suber linguistik, kultural, dan historis baik dari tradisi Barat maupun pribumi, sehingga seringkali tidak selaras dengan kepentingan kekuatan-kekuatan penjajah maupun elite tradisional.

Wednesday, June 29, 2011

Pembantu Rumah Tangga dalam Sastra: Konstruksi Budaya Kelas Menengah

Diringkas dari tulisan Melani Budianta dengan judul yang sama

            Tulisan Melani Budianta bertajuk Pembantu Rumah Tangga dalam Sastra: Konstruksi Budaya Kelas Menengah yang dimuat dalam jurnal Srint!l No.8 tahun 2005, mencoba melihat kateogori sosial pembantu rumah tangga (PRT) yang didefinisikan, dipertanyakan, dipermasalahkan dan terus-menerus dikonstruksikan. PRT adalah suatu kategori sosial yang menyangkut masalah gender dan pembagian kerja, hubungan kekuasaan yang hierakis antara majikan-bawahan, dan dimensi budaya karena profesi ini terkait dengan tatanan sosial budaya tertentu.
            Sosok PRT dalam karya sastra lahir di Inggris pada 1740 lewat tulisan Richardson berjudul Familiar Letters yang juga melahirkan genre baru dalam kesusastraan Inggris yakni novel berbentuk surat. Sebagian besar surat tersebut ditulis oleh PRT bernama Pamela kepada ayahnya yang menceritakan usaha kerasnya dalam menghadapi rayuan sang majikan hingga pada akhirnya ia disunting sebagai istri. Novel ini meledak menjadi bacaan laris dikalangan perempuan dan membuat pola alur yang terdapat dalam novel Samuel Richardson yaitu pola rayuan ditiru oleh novel-novel yang muncul kemudian. Sejumlah kritikus menamai genre yang dipelopori oleh Pamela sebagai genre novel rayuan (novel of seduction), atau novel pornografi tersamar karena ketegangannya dibangkitkan oleh alur berpola “perkosaan yang selalu ditunda”.
            

Membaca Postrukturalisme Pada Karya Sastra

Diringkas dari tulisan Irmayanti M. Budianto dengan judul yang sama

Postrukturalisme berguna untuk melihat bagaimana teks karya sastra menampilkan teks yang terbuka untuk dikritisi dan didekonstruksi dan terfokus pada eksistensi tokoh. Salah satu metode postrukturalisme yang dapat digunakan adalah dekonstruksi yang mencoba melakukan rekonstruksi tentang pandangan metafisi (konseptual) yang diarahkan pada tulisan, metabahasa dan subjektivitas.

Postrukturalisme tidak dapat dipisahkan dengan strukturalisme. Sebagai sebuah teori, ia berkaitan erat dengan manusia, dunia, dan prilaku praktis yang menghasilkan makna, dalam lingkup. Postrukturalisme mengajak kita untuk memikirkan berbagai hal terkait munculnya tanda (sign) dari objek, oposisi binari, mitos, historisitas, ideologi, dan kesadaran manusia.

Irmayanti M. Budianto (2007) melihat dua hal yang berkaitan dengan cara pandang dalam melihat postrukturalisme. Pertama, aspek yang berkaitan dengan ontologis empiristis (erat kaitannya dengan strukturalisme), dan aspek kedua berkaitan dengan metafisis –“dibalik” sesuatu yang sifatnya ontologis empiristis yang sifatnya konseptual berasal dari kesadaran atau akal budi atau rasio manusia. 

Wednesday, June 22, 2011

Pergulatan Budaya Student Hidjo

 “Maksud saya mengirimkan Hidjo ke Negeri Belanda itu, tidak lain supaya orang-orang yang meredahkan kita bisa mengerti bahwa manusia sama saja”
            
            Sejak awal kedatangannya, Barat tidak hanya menanamkan wacana tentang superioritasnya tapi juga melanggengkannya lewat pendidikan.  Dengan atau tanpa kita sadar bangsa Barat telah berhasil menanamkan pemahaman bahwa sebagai bangsa Timur, bangsa Dunia Ketiga, kita lemah, inferior, lebih menggunakan perasaan, percaya pada takhyul, dengan konsekuensi logis mengakui superioritas Barat.
            Manneke Budiman menjelaskan konsep pascakolonial sebagai kajian tetang bagaimana sastra mengungkapkan ‘jejak-jejak” kolonialisme dalam konfrontasi “ras-ras, bangsa-bangsa, dan kebudayan-kebudayaan” yang terjadi dalam lingkup “hubungan tidak setara” sebagai dampak dari kolonisasi Eropa atas bangsa-bangsa di ‘dunia ketiga’.[1]
             Sebagai strategi membaca karya sastra, pascakolonial menurut Bhabha akan menghasilkan penafsiran yang beda. Maka, salah satu tujuan pascakolonial adalah re- writing dan re-reading terhadap teks yang sudah ada. Tidak hanya itu pascakolonial diartikan sebagai upaya untuk menyingkap dan membongkar (dekonstruksi) kekuasaan kolonialisme yang teraktualisasi dalam wacana sastra pascakolonial. 
            Novel Student Hidjo karangan Marco Kartodikromo merupakan salah satu novel yang ditulis pada akhir abad XX, masa yang dalam sejarah resmi disebut sebagai kebangkitan nasional. Sebagai produk yang lahir dimasa kolonial, Student Hidjo merepresentasikan ketimpangan Barat dan Timur yang terlihat dari figur tokoh-tokohnya. Novel ini menggambarkan kehidupan priyayi Jawa dengan kemudahan-kemudahan yang mereka peroleh, salah satunya pendidikan. Suasana pergerakan, terutama Sarekat Islam, tempat para tokoh novel mencurahkan sebagian waktu dan kegiatan, menjadikan novel ini kental dengan suasana politik.
            Cerita dimulai dengan keinginan orang tua Hidjo menyekolahkannya ke Belanda untuk mengangkat derajat keluarga. Demi keinginan sang ayah, Hidjo pergi ke Belanda meninggalkan keluarga dan tunangannya Biro. Dengan keyakinan kuat bahwa ia tak akan terpengaruh dengan budaya Barat karena sangat memegang teguh budaya Timur, Hidjo berjuang untuk tetap pada identitasnya sebagai bangsa Hindia. Tetapi dikarenakan benturan budaya yang terus menerus dialaminya, ia menjadi goyah tergoda dengan perempuan Belanda bertubuh seksi. Sejak saat itu ia mengalami disorientasi dan meninggalkan budaya Timur yang selama ini dipujanya.     
            Hubungan terjajah dan penjajah yang terjadi di tanah jajahan menimbulkan relasi kuasa yang tak dapat dihindarkan. Relasi yang dimaksud bersifat hierakis, dominatif dan menindas. Hal inilah yang kemudian terlihat dalam karya Marco, salah satu pengarang yang paling produktif melahirkan bacaan liar.
Waktu ini, orang seperti saya masih dipandang rendah oleh orang-orang yang menjadi pegawai Gouvernement. Kadang-kadang saudara kita sendiri, yang juga turut menjadi pegawai Gouvernement, dia tidak mau kumpul dengan kita. Sebab dia pikir derajatnya lebih tinggi daripada kita yang hanya menjadi saudagar atau petani. maksud saya mengirimkan Hidjo ke Belanda, tidak lain supaya orang-orang yang merendahkan kita bisa mengerti bahwa manusia itu sama saja sama (SH: 3)  
     
Student Hidjo

Friday, June 17, 2011

MARXISME DAN KRITIK SASTRA

Novi Diah Haryanti 

Judul Buku: Marxisme dan Kritik Sastra
Jumlah Halaman : 152
Penulis: Terry Eagleton
Penerbit : Desantara
Tahun Terbit : 2002

 /I/
            Kritik sastra marxis, lebih dari sekadar “sosiologi sastra” yang memusatkan perhatiannya pada alat-alat produksi sastra, ditribusi, dan pertukarannya dalam masyarakat. Secara keseluruhan sosiologi sastra membentuk salah satu aspek kritik sastra marxis yang memusatkan perhatian pada bentuk, gaya, dan maknanya sebagai produk dari sejarah tertentu. Pemahaman yang revolusioner terhadap sejarah tersebutlah yang menjadi kekhasan kritik sastra marxis.
Dalam bukunya The German Ideology (1845) Marx dan Engels mengungkapkan bahwa “model produksi kehidupan material mengkondisikan proses kehidupan sosial, politik, dan intelektual pada umumnya. Bukan kesadaran manusia yang menentukan kehidupan mereka tapi kehidupan sosial merekalah yang menentukan kesadaran mereka” (hlm 11). Dengan kta lain, hubungan sosial antar manusia terkait dengan cara mereka berproduksi dalam kehidupan material.
Marxisme dan Kritik Sastra

Sunday, June 12, 2011

Strukturalisme dalam Perkembangan Ilmu Sejarah

Judul Buku: Prancis dan Kita; Srukturalisme, Sejarah, Politik, Film dan Bahasa
Penyunting: Irzanti Sutanto& Ari Anggari Harapan
Pernerbit: Wedatama Widya Sastra
Jakarta: 2003

Arthur Marwick, sejarawan Inggris yang dalam The Nature of History melakukan kajian menyeluruh dan rinci tentang perkembangan ilmu sejarah. Dia menyebutkan Prancis sebagai tempat terjadinya perkembangan berarti dalam usaha menemukan suatu pendekatan yang sungguh-sungguh baru dan lebih luas dalam ilmu sejarah.

Marwick menyebutkan Henri Berr (1863-1954) yang berusaha menyatukan semua kegiatan manusia dalam masyarakat ke dalam sebuah sintesis sejarah dengan bantuan metode dan kepekaan untuk mendalami masalah yang dipinjam dari sosiologi. Berr mendakatkan ilmu sejarah kepada sosiologi Durkheim dan menjauhkan diri atau lebih tegasnya menolak paradigma sejarah yang berlaku, yang secara salah kaprah disebut penganutnya sebagai “positivisme”. Gagasan tersebut diperjuangkan Berr dengan menerbitkan jurnal Revue de Synthese (1900). Berr dicatat sebagai pendahulu sebuah mazhab ilmu sejarah yang besar pengaruhnya, yaitu mazhab Annales.

Thursday, June 9, 2011

Perempuan Bali dalam "Tarian Bumi"

Identitas Karya
Judul                     : Tarian Bumi               
Pengarang            : Oka Rusmini
Tebal                     : X + 224
Penerbit                : Idonesiaterra
Tahun terbit         : 2004

          Dalam sejarah perkembangan kesusastraan Indonesia terdapat fakta yang sulit dibantah, yakni jumlah penulis perempuan yang sangat sedikit jika dibanding laki-laki. Hal ini bisa dikatakan ironis karena sepanjang perkembangan novel Indonesia “dunia perempuan” ternyata merupakan tema yang cukup signifikan, sekalipun penulisnya adalah laki-laki.
Novel "Tarian Bumi"
          Di tengah kemarau penulis perempuan lahirlah satu novel yang mampu menarik hati para peminat sastra, Tarian Bumi. Novel karangan Oka Rusmini ini bercerita tentang perjuangan perempuan bali, ‘Luh’ yang dibiasakan untuk tidak mengeluh. Bagi orang bali, kasta sangatlah penting sehingga orang cenderung dinilai, dilihat, dan diperlakukan sesuai  dengan kastanya. Luh Sekar merupakan perempuan dari kasta Sudra yang menikah dengan seorang Ida Bagus Ngurah Pidada. Pernikahan tersebut membuatnya “naik kelas” menjadi seorang Jero Kenanga. Dalam pencapaiannya menjadi seorang Jero, Sekar berjuang dengan menggunakan berbagai macam cara. Semisal ia berusaha untuk menjadi seorang penari joged bumbung, hingga Sekar dapat menarik setiap mata lelaki agar melihatnya.

Pengantar Bermain Drama

Judul Buku                         : Pengantar Bermain Drama
Pengarang                          : A. Adjib Hamzah 
Penerbit                              : CV ROSDA, Bandung – 1985
Jumlah Halaman                : 418 Halaman


            Buku Pengantar Bermain Drama karya A. Adjib Hamzah ini terdri dari XXIII Bab, yang mengungkapkan apa-apa saja yang terkait dengan bermain drama, seperti: Langkah Awal dalam bermain drama, Panggung, Movement,  Blocking, Pantomim, Akting, Suara dan Ucapan, Penafsiran, Struktur Skenario, Sutradara, dan Jenis-jenis drama.

Langkah Awal Bermain Drama
            Banyak pemain amatir yang bersedia mengeluarkan biaya besar agar dapat bermain drama di panggung atau televisi. Malah kadang-kadang, karena amat berambisi, mendorongnya merangkap banyak tugas. Dari segi permainan kita akan cepat mengetahui bahwa pemain amatir yang memborong tugas pementasan itu sebenarnya bukan digerakkan oleh hasrat mengejar mutu. Tapi hanya sekedar pelampiasan keinginan bermain tanpa mengikat diri dalam batas-batas kemampuan yang dimilikinya.

Thursday, March 31, 2011

Prinsip-Prinsip Kritik Sastra, Teori, dan Penerapannya

Novi Diah Haryanti
novi.diah@gmail.com

Penulis: Prof. Dr. Rachmat Djoko Pradopo
Judul Buku: Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya
Penerbit: Pustaka Pelajar
Cetakan: Ke-5, Desember 2008 

            Pada salah satu tulisan bertajuk Kritik Sastra Indonesia Modern Tinjauan dari Jenis-jenis dan Tipe-Tipe Kritik Sastra, Pradopo mencoba menjelaskan perbedaan antara kritik sastra, teori sastra, dan sejarah sastra. Seperti yang diungkap Wellek bidang studi sastra meliputi tiga hal yaitu; kritik sastra, teori sastra, dan sejarah sastra. Teori sastra ialah bidang studi sastra yang berhubungan dengan teori-teori kesusastraan. Sejarah sastra adalah bidang studi sastra yang membicarakan perkembangan sastra sejak lahir hingga perkembangannya yang terakhir. Kritik sastra membicarakan karya sastra secara langsung: menganalisis, menginterpretasi, dan menilai karya sastra. 
Istilah kritik berasal dari bahasa Yunani krites yang berarti seorang hakim,’krinein berarti menghakimi’, dan kritikos berarti hakim kesusastraan. Istilah kritik sastra ini pun memiliki pengertian yang berubah-ubah. Yang dimaksud kritik sastra oleh Frye adalah semua kerja kesarjanaan dan selera yang berhubungan dengan kesusastraan yang merupakan bagian dan pendidikan liberal, kebudayaan atau studi humanitas.
Wellek mengumakakan teori sastra berbeda dengan kritik sastra. Kritik sastra dalam arti sempit adalah studi karya-karya sastra yang konkret dengan tekanan pada penilaiannya. Menurut Jassin kritik sastra itu pertmbangan baik atau buruk karya sastra, penerangan dan penghakiman karya sastra. Kritikus dipandang sebagai seorang ahli yang memiliki kepadaian khusus untuk membedah karya sastra, memeriksa karya sastra mengenal kebaikan-kebaikan dan cacat-cacatnya, dan menyatakan pendapatnya tentang itu.

Ulasan atas Kritik H.B. Jassin dalam tulisan Kenyataan Artistik Tidak Identik Dengan Kenyataan Objektif

                                                       Novi Diah Haryanti
                                                     novi.diah@gmail.com

Dalam tulisan Kenyataan Artistik Tidak Identik Dengan Kenyataan Objektif, Jassin mencoba mencermati beberapa persoalan dari empat karya yang diulasnya, yaitu: 1) karya sastra sebagai hasil imajinasi, tidak lebih dari itu, 2) hubungan antara pengarang, karya, dan isinya ditinjau dari kaidah agama, dan 3) sikap pengarang dan pembacanya.
Membaca salah satu tulisan Jassin dalam bukunya yang bertajuk Sastra Indonesia sebagia Warga Sastra Dunia, rasanya menarik dan cukup menggelitik. Menarik karena label “Paus Sastra” membuat pembacaan terhadap karya Jassin tak pernah usai, namun cukup menggelitik jika kemudian kita mencoba melihatnya dengan kacamata kekinian. Maka, tidak salah rasanya jika kita mencoba melihat dan mempertanyakan kembali apa yang dipersoalkan Jassin.
            Menurut Jassin, imajinasi adalah sesuatu yang hidup, suatu proses, dan kegiatan jiwa. Sehingga dengan demikian, imajinasi yang dituangkan ke dalam sesuatu karya seni, tidaklah identik dengan kenyataan sejarah, pengalaman ataupun ilmu pengetahuan. Dengan kata lain, kenyataan artistik tidak identik dengan kenyataan objektif atau sejarah. 
           
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...