Showing posts with label Ruang Sejarah Sastra. Show all posts
Showing posts with label Ruang Sejarah Sastra. Show all posts

Wednesday, October 5, 2011

Mas Marco Kartodikromo: Dunia dan Karya-karyanya


Mas Marco Kartodikromo lahir di Cepu pada 25 Maret 1890. Lewat pengakuan Marco dalam persdelict-nya yang dimuat dalam Sinar Djawa, ia merupakan keturunan kelima dari Mas Karowikoro, sedangkan sumber lain menyebut Marco adalah anak seorang asisten wedana (Hartanto, 2008:43). Ia lulus dari sekolah bumiputra Angka Dua di Bojonegoro dan sekolah swasta bumiputra Belanda di Purworejo. Menurut Shiraishi (1997:110), Marco adalah anggota kaum muda yang diciptakan oleh pendidikan gaya Barat. Ia dapat membaca bahasa Belanda, tetapi kemampuan menulis dan berbicaranya tidak terlalu baik. Tidak mengherankan jika semua tulisannya dalam berbahasa Melayu dan Jawa.
Pada 1905, Marco bekerja sebagai juru tulis di Dinas Kehutanan sebelum akhirnya pindah ke Semarang menjadi juru tulis di Nederland Indische Spoorweg (NIS), perusahaan swasta di Hindia Belanda yang menangani masalah kereta api. Ketika melakukan perjalanan dengan menggunakan kereta api, Marco melihat bagaimana gerbong dibuat berdasarkan kelas, sesuai dengan warna kulit dan status sosial. Kelas satu diperuntukkan bagi orang Eropa, kelas dua diperuntukkan orang Eropa berpenghasilan rendah, orang Timur asing, dan pribumi kelas atas. Kelas tiga (kelas kambing) bagi pribumi miskin (Hartanto, 2008:50). Setelah enam tahun bekerja di perusahaan tersebut, semangat nasionalismenya berkobar. Ia tidak dapat lagi bertahan untuk bekerja pada perusahaan Eropa yang sangat rasialis, membedakan golongan jabatan dan gaji atas dasar ras (Yuliati, 2008).  Saat itu diperkirakan pendapatan bumiputra per kepala setahun hanya 63 gulden, sedang golongan Eropa 2.100 gulden dan Timur asing sekitar 250 gulden.
Pada 1911, Marco meninggalkan Semarang menuju Bandung, bergabung dengan Medan Prijaji sebagai pegawai magang Di surat kabar yang diperuntukkan bagi bangsa jang terprentah itulah Marco memulai kariernya sebagai jurnalis dan berguru pada Tirto Adhi Suryo dan Soewardi. Persahabatannya dengan Suwardi itulah yang membuat Marco berusaha mengumpulkan uang untuk membiayai Nyi Suwardi Suryaningrat dan dua orang rekannya Ny. Dokter Cipto dan Nyi Douwes Dekker agar dapat menyusul suami mereka ke tempat pembuangan di Nederland. Lalu, pada 1913 Marco pun datang ke Nederland untuk menengok keadaan teman-temannya yang dibuang dan mempelajari kebudayaan masyarakat Belanda di Nederland. Hasil penyelidikannya ialah Belanda tidak mungkin dapat memberikan bimbingan yang cukup bertanggung jawab terhadap kemajuan, kesulilaan, dan kebudayaan kepada rakyat Indonesia (Muljana, 2008: 96).

Marco, Balai Pustaka, dan Bacaan Liar

           Pers pada tahun duapuluhan, yaitu masa pergerakan nasional mencapai gelombang pasang yang pertama. Mereka telah memuat cerita bersambung dan cerita pendek yang mencerminkan penderitaan dan perjuangan rakyat untuk sesuap nasi (Siregar,1964). Oleh karena itu, perkembangan pers sejalan dengan perkembangan dunia sastra di Hindia. Beberapa tokoh pergerakan pun turut ambil bagian pada awal abad XX, Tirto, Semaoen, Marco merupakan nama-nama yang kerap kali menulis dengan tajam kritikan kepada penguasa Belanda saat itu. Tidak heran jika mereka sering kali keluar masuk bui bahkan ‘dibuang’.
Sastra dapat dianggap sebagai perkembangan masyarakat dan kebudayaan, dengan konsekuensi perkembangan dalam sastra harus dilihat dalam kaitan dengan fungsi lain dalam masyarakat dan kebudayaan, seperti ekonomi, susunan dan bangunan kelas sosial, pembentukan kekuasaan dan distribusi kekuasaan dalam satu sistem politik (Kleden, 2004). Perkembangan sastra Melayu di awal abad XX sejalan dengan perkembangan pers yang pada saat itu banyak menggunakan bahasa Melayu pasar sebagai medium penyampai gagasan. Bahasa Melayu pasar digunakan karena bahasa tersebut adalah bahasa para pedagang dan kaum buruh yang tidak pernah mengenyam pendidikan sekolah gaya Barat dengan pelajaran bahasa Melayu yang baik. Selain itu, bacaan yang ditulis dalam bahasa Melayu pasar menggunakan bahasa sehari-hari yang terasa lebih spontan dan kadang-kadang lebih “hidup”, serta lebih bebas dari ikatan tata bahasa.  
            Penulisan Roman modern pada mulanya sangat terpengaruh oleh penulis-penulis Belanda (Retnanningsih, 1983). Surat kabar yang pertama kali memuat cerita bersambung berbentuk roman adalah Medan Prijaji. Roman yang pertama diterbitkan adalah Hikajat Siti Mariah yang dikarang oleh H. Mukti. Roman ini menurut pengarangnya disebut “hikayat”, tetapi melukiskan kehidupan sehari-hari pada zaman pengarangnya, lalu ditulis dalam bahasa melayu (Rosidi, 1986). Lebih lanjut, Rosidi mengungkapkan Tirto Adhi Suryo dapat pula disebut sebagai perintis fiksi moderen. Karya-karyanya antara lain: Doenia Pertjintaan 101 Tjerita Jang Soenggoe Terjadi di Tanah Priangan (1906), Tritja Nyai Ratna (1909), Membeli Bini Orang (1909), Busono (1912).
Pengarang lain yang terbilang produktif adalah Mas Marco Kartodikromo. Karya-karyanya adalah Mata Gelap (1914), Student Hidjo (1918), Syair Rempah-rempah (1919), dan Rasa Mardika (1924). Akibat tulisannya Marco empat kali dijatuhi hukuman oleh pemerintah kolonial. Selain Marco, Semoen juga menulis sebuah roman berjudul Hikayat Kadiroen (1920) yang dilarang beredar oleh pemerintah.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...