Mas Marco Kartodikromo lahir di Cepu pada 25 Maret 1890. Lewat pengakuan Marco dalam persdelict-nya yang dimuat dalam Sinar Djawa, ia merupakan keturunan kelima dari Mas Karowikoro, sedangkan sumber lain menyebut Marco adalah anak seorang asisten wedana (Hartanto, 2008:43). Ia lulus dari sekolah bumiputra Angka Dua di Bojonegoro dan sekolah swasta bumiputra Belanda di Purworejo. Menurut Shiraishi (1997:110), Marco adalah anggota kaum muda yang diciptakan oleh pendidikan gaya Barat. Ia dapat membaca bahasa Belanda, tetapi kemampuan menulis dan berbicaranya tidak terlalu baik. Tidak mengherankan jika semua tulisannya dalam berbahasa Melayu dan Jawa.
Pada 1905, Marco bekerja sebagai juru tulis di Dinas Kehutanan sebelum akhirnya pindah ke Semarang menjadi juru tulis di Nederland Indische Spoorweg (NIS), perusahaan swasta di Hindia Belanda yang menangani masalah kereta api. Ketika melakukan perjalanan dengan menggunakan kereta api, Marco melihat bagaimana gerbong dibuat berdasarkan kelas, sesuai dengan warna kulit dan status sosial. Kelas satu diperuntukkan bagi orang Eropa, kelas dua diperuntukkan orang Eropa berpenghasilan rendah, orang Timur asing, dan pribumi kelas atas. Kelas tiga (kelas kambing) bagi pribumi miskin (Hartanto, 2008:50). Setelah enam tahun bekerja di perusahaan tersebut, semangat nasionalismenya berkobar. Ia tidak dapat lagi bertahan untuk bekerja pada perusahaan Eropa yang sangat rasialis, membedakan golongan jabatan dan gaji atas dasar ras (Yuliati, 2008). Saat itu diperkirakan pendapatan bumiputra per kepala setahun hanya 63 gulden, sedang golongan Eropa 2.100 gulden dan Timur asing sekitar 250 gulden.
Pada 1911, Marco meninggalkan Semarang menuju Bandung, bergabung dengan Medan Prijaji sebagai pegawai magang Di surat kabar yang diperuntukkan bagi bangsa jang terprentah itulah Marco memulai kariernya sebagai jurnalis dan berguru pada Tirto Adhi Suryo dan Soewardi. Persahabatannya dengan Suwardi itulah yang membuat Marco berusaha mengumpulkan uang untuk membiayai Nyi Suwardi Suryaningrat dan dua orang rekannya Ny. Dokter Cipto dan Nyi Douwes Dekker agar dapat menyusul suami mereka ke tempat pembuangan di Nederland. Lalu, pada 1913 Marco pun datang ke Nederland untuk menengok keadaan teman-temannya yang dibuang dan mempelajari kebudayaan masyarakat Belanda di Nederland. Hasil penyelidikannya ialah Belanda tidak mungkin dapat memberikan bimbingan yang cukup bertanggung jawab terhadap kemajuan, kesulilaan, dan kebudayaan kepada rakyat Indonesia (Muljana, 2008: 96).