Showing posts with label Ruang Mengenal Berbagai Teori dan Pendekatan Sastra. Show all posts
Showing posts with label Ruang Mengenal Berbagai Teori dan Pendekatan Sastra. Show all posts

Thursday, November 10, 2011

Dongeng

          Dongen, pasti bukan istilah yang asing di telinga kita, tapi apa sih pengertian dongeng sebenarnya? Dongeng dan hikayat merupakan dua bentuk prosa lama yang banyak mengisi khazanah sastra Indonesia. Atar Semi mengungkapkan dongeng merupakan cerita khayal atau fantasi yang mengisahkan tentang keanehan dan keajaiban sesuatu seperti menceritakan asal muasal suatu tempat, peristiwa-peristiwa yang aneh dan menakjubkan tentang kehidupan manusia atau binatang. Oleh karena itu ,dongeng cenderung tidak masuk akal (tidak mungkin terjadi). Misalnya, cerita tentang kancil yang balap lari dengan siput. Kalian pasti tak akan percaya kalau siput yang lambat bisa menang lomba lari melawan di kancil. Cerita-cerita semacam itu sebenarnya bukan dipercayai sebagai sesuatu yang pernah terjadi. Masyarakat membuat cerita semacam ini lebih sebagai cara lain dalam berkomunikasi dan menyampaikan ide-ide lewat tokoh-tokoh semacam kancil atau binatang lain.
            Meski demikian, ada pula dongeng yang hingga saat ini dipercaya terjadi pada suatu masa di zaman dahulu. Hal ini biasanya berkait dengan dongeng mengenai asal-usul suatu tempat atau yang biasa disebut legenda. Misalnya, cerita mengenai Gunung Tangkuban Perahu. Meski, rasanya tidak mungkin, masyarakat setempat percaya bahwa seperti itulah Tangkuban Perahu terbentuk atau cerita tentang Nyi Roro Kidul yang dipercaya penduduk Jawa sebagai penguasa Ratu Pantai Selatan, hingga kerap melakukan berbagai ritual adat guna menghormatinya.
Dongeng berdasarkan isinya dapat dibagi menjadi:

Thursday, September 29, 2011

Said dan Orientalisme

Edward Said, lahir di Yerusalem pada 1 November 1935. Dalam memoar berjudul yang Out Of Place (2002) yang ditulisnya pada 1999, Said mengaku membutuhkan waktu lima puluh tahun untuk merasa nyaman dengan namanya. Menurutnya, nama Edward terdengar bodoh dan secara paksa dilekatkan pada nama keluarga Arab asli, Said. Ayahnya adalah saudagar Arab yang makmur, berkewarganegaraan Palestina-Amerika Serikat. Said menjalani pendidikan dasar dan menengah di Yerusalem dan Mesir lalu pada usia limabelas tahun pindah ke Massachusets dan menjadi warganegara Amerika Srikat pada umur delapanbelas tahun (Amalik, 2001).
Said belajar sastra, musik, dan filsafat di Princeton selama setahun. Namun, gelar doktor sastra Inggris diraihnya dari Universitas Harvard. Perang yang melanda Arab pada 1947 -1948, membuat keluarganya tergusur dari Palestina dan memilih tinggal di Yordania dan Lebanon. Peristiwa ini, mengubahnya dari intelektual kampus menjadi intelektual organik. Said juga akrab dengan kegiatan advokasi dan penegakan Hak Asasi Manusia dalam rangka membela kepentingan Palestina dan dunia Arab pada umumnya.
Pada 1978, Said menerbitkan buku berjudul Orientalism yang melahirkan kegerahan sekaligus pencerahan dalam berbagai disiplin ilmiah seperti cultural studies, kajian wilayah, dan secara khusus melahirkan analisis diskursus kolonial (Young dalam Yusuf , 2009). Lapangan penelitian baru yang kemudian dikenal dengan nama teori pascakolonial (postcolonial theory).
 Orientalisme (2001) merupakan suatu cara untuk memahami dunia Timur, berdasarkan tempatnya yang khusus dalam pengalaman manusia Barat Eropa. Timur telah membantu mendefinisikan Eropa (Barat) sebagai imaji, idea, kepribadian dan pengalaman yang berlawanan dengannya. Orientalisme tidak pernah jauh dari apa yang dinamakan Denys Hay sebagai gagasan Eropa, suatu pikiran kolektif yang mengidentifikasikan ‘kita’ orang-orang Eropa sebagai yang berbeda dari ‘mereka’ orang-orang non Eropa. Apa yang membuat budaya Eropa berkuasa baik di Eropa ataupun di luar Eropa adalah gagasan identitas Eropa sebagai identitas yang lebih unggul dibandingkan dengan semua bangsa dan budaya non Eropa.[1]

Sunday, September 25, 2011

Representasi


            Representasi merupakan praktik pemaknaan yang menjelaskan atau menguraikan objek atau praktik lain di dunia ‘nyata’. Representasi membangun kebudayaan, makna dan pengetahuan yang terimbas pada kekuasaan.  Representasi merupakan isu utama dalam kesusastraan. Karya sastra secara umum kerap dipandang sebagai upaya merepresentasikan keyataan dan oleh sebab itu sastra dikatakan sebagai imitasi atau peniruan kenyataan.[1] Sebagai sumber data, dengan medium utama bahasa, yang kemudian direpresentasikan dalam bentuk wacana karya sastra juga merupakan objek kajian yang sangat kaya, sebab sebagai sistem simbol bahasa selalu menunjuk sesuatu yang lain.[2] Karya sastra merepresentasikan dimensi kebudayaan tertentu yang berfungsi untuk menampilkan kembali berbagai peristiwa kehidupan manusia. Tujuannya agar manusia dapat mengidentifikasikan dirinya dalam rangka menciptakan suatu kehidupan yang lebih bermakna. Dikaitkan dengan totalitas karya sastra sebagai dunia dalam kata, maka tokoh-tokoh, kejadian, dan latar dianggap repersentasi kolektif, sebagai spesies. Nama diri, nama tempat, nama benda, peristiwa sejarah dan sebagainya.

Novi Diah Haryanti

     [1] Manneke Budiman, Sastra dan Representasi, (Jakarta: Junal Kalam, 1998), ed. 11
     [2] Kutha Ratna, Sastra dan Cultural Studies, (Yogyajarta: Pustaka Pelajar, 2005), hlm.2

Friday, September 9, 2011

Ulasan Singkat Teori Abrams: Objektif, Mimetik, Pragmatik, Ekspresif

Berbicara tentang teori sastra, salah satu tokoh yang sangat berpengaruh adalah M.H. Abrams. Dalam artikelnya yang berjudul Orientation of Critical Theory  Abrams mencoba menawarkan satu kerangka berpikir untuk memahami proses penciptaan satu karya. Kerangka tersebut terdiri dari artis/seniman, karya, semesta, dan penikmat seni/audience. Untuk memudahkan analisis tersebut Abrams mengacak keempat elemen tersebut ke pola segitiga di mana karya seni berada di tengah sebagai hal/objek yang akan dijelaskan.

                            Universe
                              Work
          Artis                             Audience

            Menurut Abrams keempat kordinat ini tidak selalu tetap, melainkan berubah, keempat-empatnya sangat penting tergantung dari apa yang kemudian ingin diteliti. Abrams mengambil contoh, ketika berbicara mengenai alam semesta, maka salah satu teori yang kerap digunakan adalah imitasi yang diperkenalkan oleh Plato. Lebih lanjut, Abrams mencoba  melihat teori apa saja yang berkembang pada masa romantik khususnya meneliti puisi di Inggris pada abad ke-19.
Teori Mimetik
Secara esensial, teori mimetik melihat bahwa karya seni adalah imitasi dari alam semesta. “The Mimetic Orientation- the explanation of art as essentially an imitation of aspects of the universe”. Teori ini bersumber dari pikiran Plato dan Aristoteles. Menurut Abrams teori ini merupakan teori yang paling primitif. 

Wednesday, September 7, 2011

MITOS-SEMIOTIKA (Barthes)

            Barthes (1915-1980) merupakan pelopor semiotik yang mengembangkan strukturalisme pada semiotik teks. Salah satu teorinya yang terkenal ialah mitos yang sering dipertukarkan dengan pengertian mitos yang telah lama dikenal di Indonesia, yaitu cerita yang menampilkan makhluk suci dalam bentuk yang konkret dan dipercayai kebenarannya oleh masyarakat tertentu.

            Bagi Barthes, mitos adalah sistem komunikasi karena mitos menyampaikan pesan, suatu bentuk, dan bukan suatu objek atau suatu konsep. Mitos juga merupakan bentuk tuturan, karena itu semua dapat dianggap mitos, asal ditampilkan dalam bentuk wacana. Mitos tidak ditentukan oleh materinya, melainkan oleh pesan yang disampaikan. Mitos tidak selalu bersifat verbal (kata-kata, baik lisan ataupun tulisan), tetapi dalam berbagai bentuk lain atau campuran antara bentuk verbal dan nonverbal, seperti dalam bentuk film, lukisan, patung, fotografi, iklan, bahkan komik. 

            Barthes memperluas teori tentang tanda yang diusung oleh Saussure. Oleh Barthes, pemaknaan terjadi dalam dua tahap. Tanda (penanda dan petanda) pada tahap pertama menyatu sehingga dapat membentuk penanda pada tahap ke dua. Kemudian pada tahap berikutnya membentuk penanda dan petanda yang telah menyatu ini dapat membentuk petanda baru yang merupakan perluasan makna. Makna tahap pertama disebut denotasi, sedangkan makna tahap kedua disebut konotasi. Walau denotasi dan konotasi bukan istilah baru, Barthes memperlihatkan proses terjadinya kedua istilah tersebut, sehingga menjadi jelas dari mana datangnya perluasan makna.

Tuesday, August 23, 2011

Pendekatan Struktural

Strukturalis pada dasarnya merupakan cara berpikir tentang dunia yang  berhubungan dengan tanggapan dan deskripsi struktur-struktur. Dalam pandangan ini karya sastra diasumsikan sebagai fenomena uang memiliki struktur yang saling terkait satu sama lain.[1]
Struktur berasal dari kata stuctura, bahasa latin, yang berarti bentuk atau bangunan. Secara definitif strukturalisme berarti paham mengenai unsur-unsur, yaitu struktur itu sendiri, dengan mekanisme antarhubugannya, di satu pihak antarhubungan unsur yang satu dengan unsur lainnya, dipihak yang lain hubungan antara unsur (unsur) dengan totalistasnya.[2]  Sebagai kualitas totalitas, antar-hubungan merupakan energi, motivator terjadinya gejala yang baru, mekanisme yang baru, yang pada gilirannya menampilkan makna-makna baru. [3]
Strukturalisme adalah suatu pendekatan terhadap teks dan praktik teks yang berasal dari kerangka teoritis seorang pakar linguistik Swiss, Ferdinand de Saussure. Strukturalisme mengambil dua ide dasar Saussure. Pertama, perhatian pada hubungan yang mendukung teks dan praktik budaya, “tata bahasa” yang memungkinkan makna. Kedua, pandangan bahwa makna selalu merupakan hasil dari hubungan seleksi dan kombinasi yang dimungkinkan terjadi di dalam struktur yang mendukungnya.[4]
Menurut Jean Peaget strukturalisme mengandung tiga hal pokok:

Thursday, June 23, 2011

Semiotik

Sekilas tentang Semiotika 


     Semiotik percaya bahwa karya sastra memiliki sistem sendiri, karena itu muncul penelitian yang menghubungkan aspek struktur dengan tanda-tanda. Semiotik berasal dari bahasa Yunani Semeion yang berarti tanda. 
  • Semiotik dikembangkan dari teori de Saussure yaitu karya sastra memiliki hubungan antara:
  1. Penanda (signifiant) vs Petanda (signifie). 
  2. Langue (bahasa yang menjadi acuan dalam komunikasi) vs Parole (ujaran)
  3. Sintagmatik (relasi antar komponen dalam struktur yang sama) vs Paradigmatik (relasi antara komponen dalam struktur dengan entitas lain diluar struktur).
  4. Sinkroni (waktu dan ruang tertentu) vs diakroni (melihat perkembangan dari satu lapisan waktu ke lapisan waktu yang lain)
  •  Pierce ada tiga fakto yang mementukan ada tidaknya tanda: 1) Tanda itu sendiri, 2) hal yang ditandai, 3) tanda baru yang berterima dalam diri. Peirce juga melihat ada 3 hal yang menghubungkan antara tanda dan yang ditandakan:
  1. Ikon, tanda yang memiliki kesamaan dengan yang arti yang ditunjuk. Misal: foto dengan orang yang difoto. 
  2.  Indeks mengandung hubungan kausal dengan yang ditandakan, misal asap dengan api, mendung dengan hujan. 
  3. Simbol, bersifat arbiter, sesuai dengan konvensi suatu lingkungan tertentu. Misal, bendera kuning /putih dengan kematian.
  • Model pembacaan semiotik: 1) Heuristik, yaitu telaah kata, bait, term karya. Biasanya pembacaan semiotik tingkat pertama 2) Hermeneutik yaitu penafsiran totalitas karya sastra. Pembacaan semiotik tingka kedua, atau berdasarkan konvensi sastra.
  • Riffaterre: 
  1. Displacing of meaning (penggantian arti), disebabkan oleh bahasa kias seperti metafora, personifikasi, alegori, metonimi dsb. 
  2.  Distorsing of meaning (penyimpangan arti) terjadi karena: 1) ambiguitas yaitu pemakaian bahasa yang multimakna, 2) Kontradiksi, sesuatu yang berlawanan. 3) Nonsense yaitu kata-kata yang tidak bermakna.
§    Penciptaan arti, tampak pada permainan tipografi dalam puisi. Misal Tragedi Winka dan Sihka, karya Sutardji Calzoum Bachri. 


Novi Diah Haryanti
2008



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...