Tuesday, August 23, 2011

Pendekatan Struktural

Strukturalis pada dasarnya merupakan cara berpikir tentang dunia yang  berhubungan dengan tanggapan dan deskripsi struktur-struktur. Dalam pandangan ini karya sastra diasumsikan sebagai fenomena uang memiliki struktur yang saling terkait satu sama lain.[1]
Struktur berasal dari kata stuctura, bahasa latin, yang berarti bentuk atau bangunan. Secara definitif strukturalisme berarti paham mengenai unsur-unsur, yaitu struktur itu sendiri, dengan mekanisme antarhubugannya, di satu pihak antarhubungan unsur yang satu dengan unsur lainnya, dipihak yang lain hubungan antara unsur (unsur) dengan totalistasnya.[2]  Sebagai kualitas totalitas, antar-hubungan merupakan energi, motivator terjadinya gejala yang baru, mekanisme yang baru, yang pada gilirannya menampilkan makna-makna baru. [3]
Strukturalisme adalah suatu pendekatan terhadap teks dan praktik teks yang berasal dari kerangka teoritis seorang pakar linguistik Swiss, Ferdinand de Saussure. Strukturalisme mengambil dua ide dasar Saussure. Pertama, perhatian pada hubungan yang mendukung teks dan praktik budaya, “tata bahasa” yang memungkinkan makna. Kedua, pandangan bahwa makna selalu merupakan hasil dari hubungan seleksi dan kombinasi yang dimungkinkan terjadi di dalam struktur yang mendukungnya.[4]
Menurut Jean Peaget strukturalisme mengandung tiga hal pokok:

Wednesday, August 17, 2011

Anticolonialism ideas of the female characters in three Mas Marco Kartodikromo’s Works: A Postcolonial Analysis

: Novi Diah Haryanti

This analysis aims to show anticolonialism ideas of the female characters in Student Hidjo, Matahariah, and Rasa Merdika. Qualitative descriptive method and orientalism and hibridity theories are used to see how these female characters represent their anticolonialism ideas as a form of Marco’s disapproval. From the result of the analysis, it is shown that Marco presents on purpose the female characters who are independent, intelligent, active, brave in stating their opinions and appear on public, and together with men fight against various forms of colonialism. The connection to the west culture makes these women become hibrid people, move freely in the third space that is ambivalent. Hibridity strategy that is the most obviously done by these characters is mimicry. European women that look so javanese or the javanese women that try to be european. In other words, both try to be “almost the same but not quite’.   

Key Words: Marco, Anticolonial, Hibridity, Mimicry, West-East

Ide Antikolonialisme Tokoh-tokoh Perempuan dalam Tiga Karya Mas Marco Kartodikromo: Suatu Tinjauan Pascakolonial


ABSTRAK 
oleh Novi Diah Haryanti


Penelitian ini bertujuan memperlihatkan ide antikolonialisme tokoh-tokoh perempuan dalam Student Hidjo, Matahariah, dan Rasa Mardika. Metode deskriptif kualitatif dengan teori orientalisme dan hibriditas digunakan untuk melihat bagaimana tokoh-tokoh perempuan tersebut merepresentasikan ide antikoloniliasme sebagai bentuk perlawanan Marco. Dari hasil analisis tampak bahwa Marco dengan sengaja menampilkan tokoh-tokoh perempuan mandiri, pintar, aktif, berani bersuara dan tampil di depan umum, serta bersama-sama kaum laki-laki melakukan perjuangan melawan berbagai bentuk penindasan. Persinggungannya dengan budaya Barat, membuat tokoh-tokoh perempuan dalam karya Marco menjadi pribadi yang hibrid, bergerak bebas pada ruang ketiga yang serba ambivalen. Strategi  hibriditas yang paling tampak adalah mimikri yang dilakukan para tokohnya. Perempuan Eropa yang tampak sangat Jawa atau perempuan Jawa yang berusaha menjadi Eropa. Dengan kata lain keduanya berusaha untuk menjadi serupa tapi tidak sama.

Kata kunci: Marco, Antikolonial, Hibriditas, Mimikri, Barat-Timur

Friday, August 12, 2011

KepadaNya


Jika semua ada masaNya
Maka kasih dariMu ialah segalaNya

Jika sudah habis masaNya
Maka hanya padaMu kukembalikan semua

Tiada yang luput, segalaNya
hanyalah milikMu semata.

Tuesday, August 2, 2011

NEW HISTORICISM DALAM PERKEMBANGAN KRITIK SASTRA

oleh Novi Diah Haryanti

Judul     : New Historicism dalam Perkembangan Kritik Sastra
Penulis  : Melani Budianta
Terbit   : Jurnal Susastra, Vol. 2 no 3 tahun 2006 

Tulisan Melani Budianta dalam jurnal Susastra, Vol. 2 no 3 tahun 2006 mencoba melihat kontribusi New Historicism (NH) dalam sejarah kritik sastra di Barat dan apa yang ditawarkannya bagi kritik sastra Indonesia. Ada tiga pertanyaan yang coba dijawabnya dalam tulisan terkait kritik yang berkembang dalam dua dekade terakhir abad ke-20, 1) pembaharuan apa yang disumbangkan NH? Apakah NH menawarkan kemungkinan-kemungkinan baru bagi kajian sastra di Indonesia? Dan apa keterbatasananya? Dengan kata lain ontologis atau “barang apa” yang diteliti dalam paper Melani Budianta adalah New Histocism  
Budianta memulai tulisannya dengan subjudul “Yang Baru dalam NH”. Sesuai dengan subjudul yang dipilihnya, penelurusan mengenai kapan dan oleh siapa istilah NH pertama dipakai terjawab dalam paragraf pertama. Istilah NH pertama kali digunakan Stephen Greenblattt pada 1982 yang mencoba melihat keterkaitan teks sastra dengan berbagai kekuatan sosial, ekonomi, dan politik yang melingkupinya. Ia mendobrak kecendrungan kajian tekstual yang ahistoris, otonom, dan dipisahkan dari aspek yang berada di luar karya. Tidak hanya menggugat formalisme, menurut Greenblatttt karya sastra ikut membangun, mereproduksi konvensi, norma, dan nilai budaya melalui tindak verbal dan imajinasinya.  Revisi NH terhadap pendekatan formalis maupun sejarah disimpulkan oleh Louis A. Montrose dengan istilah “kesejarahan sastra dan kesastraan sejarah” yang berarti membaca sastra = membaca sejarah dan membaca sejarah = membaca sastra.

Monday, August 1, 2011

Love in a Time of Colonialism: Race and Romance in an Early Indonesian Novel

 Oleh Novi Diah Haryanti

Tulisan Paul Tickell dalam buku Clearing a Space: Postcolonial Readings  of modern Indonesian Literature memperlihatkan bagaimana wacana-wacana disipliner (ras dan Seksualitas) sangat menentukan pembentukan identitas-indetitas Barat Modern yang terkait dengan upaya mempertahankan dominasi bangsa Barat terhadap non-Barat.

Pertemuan antara penjajah dan terjajah, membentuk identitas–identitas hibrida yang menurut Homi Bhabha yang selalu menampilkan ambivalensi dalam wacana kolonial. Atau menurut Bhabha terjadi mimikri kolonial yaitu keinginan akan suatu Other yang telah di reformasi dan yang bisa dikenali sebagai subjek perbedaan yang nyaris sama tetapi tidak begitu sama.

Politik putih kolonial Belanda yang bertujuan menciptakan “Other”, yang satu kaki tertancap di Eropa dan kaki lainnya tertancap di dunia pribumi, ternyata tidak selalu dapat dikendalikan oleh penguasa kolonial. Beberapa dari Others tersebut menjadi susah diatur yang memilah-milah suber linguistik, kultural, dan historis baik dari tradisi Barat maupun pribumi, sehingga seringkali tidak selaras dengan kepentingan kekuatan-kekuatan penjajah maupun elite tradisional.

Mengenal Kelas Kata (bagian ke-2)

Pada bagian ke-2 mengenal kelas kata, saya akan menjelaskan dengan singkat mengenai numeralia, pronomina, preposisi, dan konjungtor.

PRONOMINA (KATA GANTI)
  • Tiga macam pronomina:
  1. Pronomina persona, yaitu pronomina yang dipakai untuk mengacu kepada orang (pertama, kedua, dan ketiga). Penggunaan pronomina persona (kata ganti orang) disesuaikan dengan umur, status sosial, keakraban. 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...