Wednesday, June 29, 2011

Pembantu Rumah Tangga dalam Sastra: Konstruksi Budaya Kelas Menengah

Diringkas dari tulisan Melani Budianta dengan judul yang sama

            Tulisan Melani Budianta bertajuk Pembantu Rumah Tangga dalam Sastra: Konstruksi Budaya Kelas Menengah yang dimuat dalam jurnal Srint!l No.8 tahun 2005, mencoba melihat kateogori sosial pembantu rumah tangga (PRT) yang didefinisikan, dipertanyakan, dipermasalahkan dan terus-menerus dikonstruksikan. PRT adalah suatu kategori sosial yang menyangkut masalah gender dan pembagian kerja, hubungan kekuasaan yang hierakis antara majikan-bawahan, dan dimensi budaya karena profesi ini terkait dengan tatanan sosial budaya tertentu.
            Sosok PRT dalam karya sastra lahir di Inggris pada 1740 lewat tulisan Richardson berjudul Familiar Letters yang juga melahirkan genre baru dalam kesusastraan Inggris yakni novel berbentuk surat. Sebagian besar surat tersebut ditulis oleh PRT bernama Pamela kepada ayahnya yang menceritakan usaha kerasnya dalam menghadapi rayuan sang majikan hingga pada akhirnya ia disunting sebagai istri. Novel ini meledak menjadi bacaan laris dikalangan perempuan dan membuat pola alur yang terdapat dalam novel Samuel Richardson yaitu pola rayuan ditiru oleh novel-novel yang muncul kemudian. Sejumlah kritikus menamai genre yang dipelopori oleh Pamela sebagai genre novel rayuan (novel of seduction), atau novel pornografi tersamar karena ketegangannya dibangkitkan oleh alur berpola “perkosaan yang selalu ditunda”.
            

Membaca Postrukturalisme Pada Karya Sastra

Diringkas dari tulisan Irmayanti M. Budianto dengan judul yang sama

Postrukturalisme berguna untuk melihat bagaimana teks karya sastra menampilkan teks yang terbuka untuk dikritisi dan didekonstruksi dan terfokus pada eksistensi tokoh. Salah satu metode postrukturalisme yang dapat digunakan adalah dekonstruksi yang mencoba melakukan rekonstruksi tentang pandangan metafisi (konseptual) yang diarahkan pada tulisan, metabahasa dan subjektivitas.

Postrukturalisme tidak dapat dipisahkan dengan strukturalisme. Sebagai sebuah teori, ia berkaitan erat dengan manusia, dunia, dan prilaku praktis yang menghasilkan makna, dalam lingkup. Postrukturalisme mengajak kita untuk memikirkan berbagai hal terkait munculnya tanda (sign) dari objek, oposisi binari, mitos, historisitas, ideologi, dan kesadaran manusia.

Irmayanti M. Budianto (2007) melihat dua hal yang berkaitan dengan cara pandang dalam melihat postrukturalisme. Pertama, aspek yang berkaitan dengan ontologis empiristis (erat kaitannya dengan strukturalisme), dan aspek kedua berkaitan dengan metafisis –“dibalik” sesuatu yang sifatnya ontologis empiristis yang sifatnya konseptual berasal dari kesadaran atau akal budi atau rasio manusia. 

Monday, June 27, 2011

Belajar dari "Serdadu Kumbang"

Jumat lalu, menjelang senja saya mengajak Desy (adik saya) nonton film yang direkomendasikan oleh beberapa teman Serdadu Kumbang. Dengan tergesa kami berangkat ke bioskop terdekat dari rumah dan pas saja filmnya baru dimulai.
Amek (Yudi Miftahudin) merupakan anak laki-laki Desa Mantar, Kab. Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat yang tidak memiliki cita-cita atau mimpi. Kekurangan fisik (bibir sumbing) yang dimilikinya dan gagal lulus dalam ujian nasional, membuat  Amek semakin takut bermimpi.  Setiap hari bersama Umbe (Aji Santosa) dan Acan (Fachri Azhari), Amek menghabiskan hari-harinya dengan bermain. Ketiganya kerap dianggap sebagai pembuat onar, nakal, dan minus dalam pelajaran.  Hal itulah yang membuat ketiganya, kerap dihukum oleh Guru Alim (Lukman Sardi) yang menerapkan kedisiplinan ala militer kepada anak didiknya. Kerasnya “pendidikan” yang dirasakan Amek membuatnya malas bersekolah untungnya mereka masih memiliki Guru Imbok yang berjuang menghapus kekerasan di sekolah dan membuat mereka terus belajar. 
Buat saya film ini merupakan salah satu film yang mampu memberi gambaran tentang bobroknya dunia pendidikan kita. Setidaknya ada dua hal yang sengaja diangkat oleh Ari Sihale dan Nia Zulkarnaen (Alenia Picture). Pertama kekerasan yang kerap terjadi di sekolah dan kedua tidak tepatnya system ujian nasional sebagai cara untuk melihat kualitas pendididkan.  Untuk dapat mencapai standar murid (anak-anak) menjadi korbannya. 

Thursday, June 23, 2011

Semiotik

Sekilas tentang Semiotika 


     Semiotik percaya bahwa karya sastra memiliki sistem sendiri, karena itu muncul penelitian yang menghubungkan aspek struktur dengan tanda-tanda. Semiotik berasal dari bahasa Yunani Semeion yang berarti tanda. 
  • Semiotik dikembangkan dari teori de Saussure yaitu karya sastra memiliki hubungan antara:
  1. Penanda (signifiant) vs Petanda (signifie). 
  2. Langue (bahasa yang menjadi acuan dalam komunikasi) vs Parole (ujaran)
  3. Sintagmatik (relasi antar komponen dalam struktur yang sama) vs Paradigmatik (relasi antara komponen dalam struktur dengan entitas lain diluar struktur).
  4. Sinkroni (waktu dan ruang tertentu) vs diakroni (melihat perkembangan dari satu lapisan waktu ke lapisan waktu yang lain)
  •  Pierce ada tiga fakto yang mementukan ada tidaknya tanda: 1) Tanda itu sendiri, 2) hal yang ditandai, 3) tanda baru yang berterima dalam diri. Peirce juga melihat ada 3 hal yang menghubungkan antara tanda dan yang ditandakan:
  1. Ikon, tanda yang memiliki kesamaan dengan yang arti yang ditunjuk. Misal: foto dengan orang yang difoto. 
  2.  Indeks mengandung hubungan kausal dengan yang ditandakan, misal asap dengan api, mendung dengan hujan. 
  3. Simbol, bersifat arbiter, sesuai dengan konvensi suatu lingkungan tertentu. Misal, bendera kuning /putih dengan kematian.
  • Model pembacaan semiotik: 1) Heuristik, yaitu telaah kata, bait, term karya. Biasanya pembacaan semiotik tingkat pertama 2) Hermeneutik yaitu penafsiran totalitas karya sastra. Pembacaan semiotik tingka kedua, atau berdasarkan konvensi sastra.
  • Riffaterre: 
  1. Displacing of meaning (penggantian arti), disebabkan oleh bahasa kias seperti metafora, personifikasi, alegori, metonimi dsb. 
  2.  Distorsing of meaning (penyimpangan arti) terjadi karena: 1) ambiguitas yaitu pemakaian bahasa yang multimakna, 2) Kontradiksi, sesuatu yang berlawanan. 3) Nonsense yaitu kata-kata yang tidak bermakna.
§    Penciptaan arti, tampak pada permainan tipografi dalam puisi. Misal Tragedi Winka dan Sihka, karya Sutardji Calzoum Bachri. 


Novi Diah Haryanti
2008



Wednesday, June 22, 2011

Pergulatan Budaya Student Hidjo

 “Maksud saya mengirimkan Hidjo ke Negeri Belanda itu, tidak lain supaya orang-orang yang meredahkan kita bisa mengerti bahwa manusia sama saja”
            
            Sejak awal kedatangannya, Barat tidak hanya menanamkan wacana tentang superioritasnya tapi juga melanggengkannya lewat pendidikan.  Dengan atau tanpa kita sadar bangsa Barat telah berhasil menanamkan pemahaman bahwa sebagai bangsa Timur, bangsa Dunia Ketiga, kita lemah, inferior, lebih menggunakan perasaan, percaya pada takhyul, dengan konsekuensi logis mengakui superioritas Barat.
            Manneke Budiman menjelaskan konsep pascakolonial sebagai kajian tetang bagaimana sastra mengungkapkan ‘jejak-jejak” kolonialisme dalam konfrontasi “ras-ras, bangsa-bangsa, dan kebudayan-kebudayaan” yang terjadi dalam lingkup “hubungan tidak setara” sebagai dampak dari kolonisasi Eropa atas bangsa-bangsa di ‘dunia ketiga’.[1]
             Sebagai strategi membaca karya sastra, pascakolonial menurut Bhabha akan menghasilkan penafsiran yang beda. Maka, salah satu tujuan pascakolonial adalah re- writing dan re-reading terhadap teks yang sudah ada. Tidak hanya itu pascakolonial diartikan sebagai upaya untuk menyingkap dan membongkar (dekonstruksi) kekuasaan kolonialisme yang teraktualisasi dalam wacana sastra pascakolonial. 
            Novel Student Hidjo karangan Marco Kartodikromo merupakan salah satu novel yang ditulis pada akhir abad XX, masa yang dalam sejarah resmi disebut sebagai kebangkitan nasional. Sebagai produk yang lahir dimasa kolonial, Student Hidjo merepresentasikan ketimpangan Barat dan Timur yang terlihat dari figur tokoh-tokohnya. Novel ini menggambarkan kehidupan priyayi Jawa dengan kemudahan-kemudahan yang mereka peroleh, salah satunya pendidikan. Suasana pergerakan, terutama Sarekat Islam, tempat para tokoh novel mencurahkan sebagian waktu dan kegiatan, menjadikan novel ini kental dengan suasana politik.
            Cerita dimulai dengan keinginan orang tua Hidjo menyekolahkannya ke Belanda untuk mengangkat derajat keluarga. Demi keinginan sang ayah, Hidjo pergi ke Belanda meninggalkan keluarga dan tunangannya Biro. Dengan keyakinan kuat bahwa ia tak akan terpengaruh dengan budaya Barat karena sangat memegang teguh budaya Timur, Hidjo berjuang untuk tetap pada identitasnya sebagai bangsa Hindia. Tetapi dikarenakan benturan budaya yang terus menerus dialaminya, ia menjadi goyah tergoda dengan perempuan Belanda bertubuh seksi. Sejak saat itu ia mengalami disorientasi dan meninggalkan budaya Timur yang selama ini dipujanya.     
            Hubungan terjajah dan penjajah yang terjadi di tanah jajahan menimbulkan relasi kuasa yang tak dapat dihindarkan. Relasi yang dimaksud bersifat hierakis, dominatif dan menindas. Hal inilah yang kemudian terlihat dalam karya Marco, salah satu pengarang yang paling produktif melahirkan bacaan liar.
Waktu ini, orang seperti saya masih dipandang rendah oleh orang-orang yang menjadi pegawai Gouvernement. Kadang-kadang saudara kita sendiri, yang juga turut menjadi pegawai Gouvernement, dia tidak mau kumpul dengan kita. Sebab dia pikir derajatnya lebih tinggi daripada kita yang hanya menjadi saudagar atau petani. maksud saya mengirimkan Hidjo ke Belanda, tidak lain supaya orang-orang yang merendahkan kita bisa mengerti bahwa manusia itu sama saja sama (SH: 3)  
     
Student Hidjo

Tuesday, June 21, 2011

Menulis Karya Ilmiah (Curhatan setelah membaca tugas mahasiswa)

             Hal yang paling menyenangkan dari proses menjadi pengajar bagi saya ialah membuat saya terus belajar. 

Rumusan masalah dan Latar Belakang Masalah

            Belakangan ini, saya sering kali mendapat sms “Bu, bisa tidak kalau saya ambil judul: nilai moral (atau pendidikan, religiusitas, nasionalisme  etc) dalam novel....”. Ketika saya mengikuti kuliah “metode penelitian sastra dan budaya” dosen saya selalu mengatakan “tugas Anda sebagai scholar ialah mencari-cari masalah”. Waktu itu saya tertawa, tapi mencari, merumuskan, dan membuat latar belakang masalah bukanlah hal yang mudah. Untuk bisa menemukkan masalah Anda harus membaca dengan teliti, lebih dari sekali. Pahami dulu “temanya”, identifikasi berbagai masalah yang ada, lalu cari yang paling menarik minat Anda atau belum pernah diteliti. Setelah menemukan masalah, Anda harus membuatnya dalam satu rumusan masalah.  Terdengar simple tapi buat pusing kepala, hehehe.
            Kesalahan yang paling sering kita lakukan ialah terlalu cepat merumuskan masalah, malas membaca berkali-kali (merasa sekali saja cukup), dan membuat rumusan masalah yang terlalu luas (umum, tidak spesifik). Akibatnya, kita bingung mengambil data untuk dianalisis dan pusing menentukan teori yang digunakan.
             Masalah yang Anda teliti biasanya menjadi judul penelitian Anda. Nah, jika sudah menentukan masalah, langkah berikutnya menggali latar belakang dari masalah yang akan Anda teliti. Apa sih isi latar belakang masalah (LBM)?
  • LBM merupakan gambaran tentang penelitian Anda (baik makalah ataupun skripsi)
  • Anda harus menjelaskan faktor yang menyebabkan “lahirnya suatu masalah”
  • Anda juga harus mampu menjelaskan secara rasional kenapa masalah tersebut Anda angkat (teliti).
  • Anda juga bisa memasukkan sedikit tentang teori yang akan digunakan, tentang pengarang dan karya yang akan dianalisis (saya tekankan sedikit karena teori, biografi pengarang dan karyanya memiliki satu bab khusus).
  • Anda juga harus memasukkan penelitian terdahulu (penelitian yang relevan). Apa yang sudah dilakukan, bagian mana yang kurang.
  • Dengan demikian Anda bisa menjawab pentingnya (urgensi) penelitian Anda apa.
 Rumusan masalah dan latar belakang yang “menarik” (baca: mampu memberikan gambaran terkait penelitian Anda), sangat membantu pembaca dalam mendapatkan informasi dan berniat melanjutkan ke bab berikutnya. Jika LBM saja sudah tidak “berisi” lalu apa yang bisa diharapkan dari penelitian tersebut.
Jadi, untuk membuat LBM yang baik Anda harus banyak membaca.  Apa yang Anda baca akan memperlihatkan apa yang Anda tulis. "Banyak baca, banyak cerita" ^_^
Untuk yang sedang mengerjakan skripsi, menulis tugas akhir atau akan melakukan penelitian, selamat mencari masalah dan membuat latar belakangnya....

Add caption

Monday, June 20, 2011

Renjana*

Kutitipkan rindu pada rintik hujan yang turun di kotamu, ku titipkan rasaku pada sinar yang melesap lewat celah-celah aksia yang tumbuh subur di tamanku. Ku titipkan semua yang ada padaku padamu, Renjana.

            Kata orang aku cantik. Ya, tentu saja aku cantik. Tuhan mengukir wajah ini dengan semparna. Mata yang mampu menenggelamkan siapapun yang memandangnya, bibir yang membuat setiap lelaki berharap bisa mencobanya, juga hidung yang indah, membuat banyak perempuan merasa iri dan tersaingi bila berada di dekatku.  Selain itu, aku punya tubuh yang mampu membuat lelaki berfantasi, kata orang gitar Spanyol pun kalah dengan keindahan tubuhku, dengan tubuh menjulang bak model, jarang sekali rasanya ada lelaki yang berani menggapaiku.
            Orang memanggilku Rana. Nama yang rasanya ingin sekali ku ganti. Nama yang seakan mengingatkanku bahwa aku adalah gadis yang merana. Satu nama yang membuatku muak karena Bara kasihku mengucapkannya dengan sangat indah, hingga akhirnya aku merana.
            Batara Kala, atau ku panggil ia Bara. Seperti namanya dia adalah dewa yang memberiku semangat tiap paginya. Dialah dewa matahariku. Dia hadir tak terduga dalam hidupku, tanpa banyak kata ia mengetuk pintu hati dan memaksa masuk ke dalam. Sedang aku hanya mampu terdiam, terpesona dengan indah yang ia berikan. Aku memujanya, terus menunggu untuk dapat bersatu dengannya.
                                                            ****
            “Rana, tidak ada yang lebih baik dari hubungan kita sekarang. Sampai kapanpun kita tak akan bisa bersatu”
            “Tapi bukankah katamu rasa itu begitu sempurna untukku?”
            “Tentu saja, kamu adalah hidup, hingga aku mampu bertahan”
            “Lalu kenapa kau biarkan aku menunggumu tanpa batas?”
            “Kita ini beda, tidak mungkin rasanya kita menghilangkan semua itu dengan satu kata, cinta”
            Aku terdiam, sering kali kasihku menjadikan perbedaan kami sebagai alasanya. Kita memang berbeda, perbedaan yang sangat jelas adanya. Aku mencintainya, bahkan melebihi cintaku pada-Mu, hingga ku putuskan untuk menghilangkan perbedaan itu dan menembus batas logikaku untuk satu kata bernama, Cinta. Tolong Tuhan, jangan hukum aku karena terlalu menginginkannya..
            Akhirnya tak ada lagi beda yang tersisa antara kita, tentu saja selain kegemaranmu minum kopi yang kutau pasti sangat tak baik buat kesehatanmu. Hanya itu, sekarang aku mulai shalat sama seperti mu, mulai mengaji, mulai mempelajari sesuatu yang sebenarnya ku tak tau pasti. Ku jalani semua itu dengan iklas, tanpa tanda tanya aku mengikuti ke mana pun kasihku pergi. Kamu, rokok dan kopi hitam kental kesukaanmu, yang kuharap dapat menjadi bagian utuh hidupku.
             Kata orang dulu kami tak bisa bersatu karena beda, karena setiap jumat dia harus ke masjid sedang setiap minggu ku harus pergi ke gereja. Perbedaan yang sudah kutebus dengan seluruh jiwaku. Tapi kini orang, lagi-lagi berbisik di belakangku, katanya aku perempuan tak tau malu. Aku adalah perempuan iblis yang menggoda laki-laki dengan kecantikanku. Aku adalah kusta yang harus dijauhi. Tidak taukah mereka kalau aku adalah Rana, aku ini perempuan yang selalu merana. Aku hanya perempuan, yang sedang jatuh cinta. Perempuan yang rela melakukan apa saja untuk dapat bersatu dengan Bara kasihku.
            Ku biarkan mulut-mulut itu mengejekku, ku biarkan setiap mata yang memandangku sinis, ku biarkan cibiran itu datang pada setiap langkahku. Aku sungguh tak peduli yang ku tau suatu saat nanti aku akan bahagia bersama kasihku.
                                                  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...