Tuesday, April 12, 2011

Armijn Pane dan Jerat Romantisisme*

 oleh Novi Diah Haryanti
Romantisme ala Armijn Pane
Seorang hamba seni yang sejati adalah hamba sukmanya. Selalu gelisah, tidak pernah tetap. Seperti alam yang selalu berganti. Alam adalah rahasia, selubung yang terbuka sedikit demi sedikit tapi akan memperlihatkan lapisan selubung yang lain. Ini adalah salah satu konsep pemikiran yang diusung oleh Armijn Pane tentang apa itu aliran romantisme yang menurutnya tak akan pernah mati.
Pujangga (penyair), adalah gambaran dari masyarakat yang ada. Segala macam perubahan yang terjadi di dalamnya akan terlihat dari sajak atau karangannya. Lain masyarakat lain pula seni yang berkembang. Begitu juga dengan waktu, lain waktu lain pula seni yang dihasilkan. Apalagi penduduk negeri ini hidup dalam masyarakat dualistik, yaitu pertemuan peradaban barat dan timur yang berlainan jenisnya. Maka terdapat kebimbangan terhadap karya sastra yang tercipta. Kebimbangan dalam bentuk, ritme dan pemilihan katra-kata.

Mengintip Fira Basuki Lewat Jendela, Pintu, Atap


 Oleh Novi Diah Haryanti

“L’ âme n’a pas de sexe”, jiwa tidak punya kelamin. Itulah salah satu filsafat pencerahan yang diusung Erich Fromm dalam salah satu bukunya The Art Of  Loving. Jiwa memang tidak punya kelamin, hal tersebut dapat kita lihat dari bagaimana seorang Fira Basuki, atau juga para penulis lain yang bermetafor dari seorang perempuan menjadi laki – laki ataupun sebaliknya. Sebuah trilogi “Jendela, Pintu, Atap” membawa wanita kelahiran Surabaya 7 Juni 1972 menjadi salah satu penulis wanita yang buku – bukunya sangat diminati oleh penikmat sastra Indonesia saat ini.

Umar Kayam dan Transformasi Tiga Priyayi

           Oleh Novi Diah Haryanti

Umar Kayam Si Priyai Asli
Priyayi Jawa, itulah gambaran yang tepat lelaki kelahiran Ngawi, Jawa Timur, 30 April 1932. Dengan gelar Doktor dari Cornell University, Ithaca, tahun 1965 sekarang ia mengajar sebagai Guru Besar pada Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada. Umar Kayam (UK) memang jauh dari birokratis tapi tata krama dia pegang teguh. UK bukanlah penulis cerpen apalagi novel yang produktif tapi karya-karyanya selalu ramai jadi bahan pembicaran orang, begitu pun ketika ia menulis esai dan makalah. Entah sengaja atau tidak, ini adalah bagian dari strategi kebudayaan UK, telaten, diulang-ulang agar gagasannya masuk dalam ingatan masyarakat. Membaca dua karya UK (Bawuk dan Sri Sumarah serta Para Priyayi) terlihat jelas bahwa UK sangat memperhatikan hal-hal kecil serta bahasa yang tidak multitafsir membuat saya merasa kagum dengan sosok yang satu ini, karna dengan sederhana kita dapat langsung masuk ke dunia ciptaanya. Ideologi politknya yang cenderung sosialis menurut Sapardi Djoko Damono dikarenakan kedekatannya dengan Seodjatmoko.  

Sedikit Cerita tentang Asep Sambodja

Pada 22 Maret 2011, buku Asep Sambodja Menulis Tentang Sastra Indonesia dan Pengarang Lekra diluncurkan di FIB UI dengan pembicara Putu Oka Sukanta, Hilmar Farid, dan Maria Josephine K. Mantik sedang saya ditugaskan menjadi moderator. Pascaacara tersebut, Mbak Yuni (istri Kang Asep) memberitahukan ada undangan dari Bu Tuti untuk ngobrol di rumahnya. Pak Putu Oka Sukanta pun memberitahukan adanya acara TEMU KANGEN dan mengajak saya untuk menghadiri acara tersebut agar “mengenal lebih dalam dunia yang hampir ditenggelamkan”. Ajakkan itu, tak bisa saya tolak. Rasa penasaran membuat saya nekat menerima permintaan untuk berbagi cerita tentang “Asep Sambodja Menulis”.
Asep Sambodja Menulis

Thursday, March 31, 2011

Potret Dua Perempuan Jawa dalam Cerpen Sri Sumarah

Novi Diah Haryanti
novi.diah@gmail.com

“Tugas seorang intelektual adalah menulis mengenai masyarakatnya”
(Umar Kayam)

Kalimat tersebut adalah penutup yang diucapkan Umar Kayam (UK) dalam seminar dua hari yang diselenggarakan untuk merayakan pensiunnya UK di Universitas Gadjah Mada pada 1997. Bentuk penghargaan lain terhadap sosok yang kerap disamakan dengan tokoh Semar dalam pewayangan itu, adalah buku bertajuk Umar Kayam dan Jaring Semiotik (UK&JS) yang berisi kumpulan esai mengenai UK yang ditulis oleh berbagai kalangan. Sebut saja, Kuntowijoyo, Ignas Kleden, Goenawan Mohamad, Seno Gumira Ajidarma, Sapardi Djoko Damono, Leila S. Chudori, Toeti Heraty, Renda, dan Faruk yang menulis kata pengatar.  Buku yang terbit pada 1998 tersebut, dapat menjadi bahan rujukan untuk mengetahui sosok UK dari berbagai perspektif. 
Sebelum Para Priyayi terbit, cerita panjang UK Sri Sumarah dan Bawuk (1975) menjadi karya yang menarik karena menggambarkan bagaimana sikap perempuan Jawa ‘seharusnya’ (apalagi dia seorang priyayi). Membaca Sri Sumarah bagi saya adalah membaca wanita, wani di tata (berani diatur) bahkan lebih ekstrim lagi wanita, wani tapa (berani menderita). Lewat tokoh Sri Sumarah terlihat bagaimana konstruksi perempuan Jawa ‘seharusnya’ bersikap. Namun, lewat tokoh Tun, kita juga dapat membaca perubahan zaman yang ditunjukan oleh tingkah laku anak semata wayang Sri Sumarah yang melenceng dari tata perempuan Jawa.    
            Sastra adalah gambaran dalam masyararat. Sebagai sebuah gambaran, teks sastra menampilkan fakta-fakat yang ada dalam masyarakat. Hal itulah yang membuat teks sastra kerap menjadi bahan penelitian, tidak hanya oleh sarjana sastra tapi juga digunakan oleh mereka yang mengeluti bidang sejarah, sosiologi, antrologi, dan psikologi.

Prinsip-Prinsip Kritik Sastra, Teori, dan Penerapannya

Novi Diah Haryanti
novi.diah@gmail.com

Penulis: Prof. Dr. Rachmat Djoko Pradopo
Judul Buku: Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya
Penerbit: Pustaka Pelajar
Cetakan: Ke-5, Desember 2008 

            Pada salah satu tulisan bertajuk Kritik Sastra Indonesia Modern Tinjauan dari Jenis-jenis dan Tipe-Tipe Kritik Sastra, Pradopo mencoba menjelaskan perbedaan antara kritik sastra, teori sastra, dan sejarah sastra. Seperti yang diungkap Wellek bidang studi sastra meliputi tiga hal yaitu; kritik sastra, teori sastra, dan sejarah sastra. Teori sastra ialah bidang studi sastra yang berhubungan dengan teori-teori kesusastraan. Sejarah sastra adalah bidang studi sastra yang membicarakan perkembangan sastra sejak lahir hingga perkembangannya yang terakhir. Kritik sastra membicarakan karya sastra secara langsung: menganalisis, menginterpretasi, dan menilai karya sastra. 
Istilah kritik berasal dari bahasa Yunani krites yang berarti seorang hakim,’krinein berarti menghakimi’, dan kritikos berarti hakim kesusastraan. Istilah kritik sastra ini pun memiliki pengertian yang berubah-ubah. Yang dimaksud kritik sastra oleh Frye adalah semua kerja kesarjanaan dan selera yang berhubungan dengan kesusastraan yang merupakan bagian dan pendidikan liberal, kebudayaan atau studi humanitas.
Wellek mengumakakan teori sastra berbeda dengan kritik sastra. Kritik sastra dalam arti sempit adalah studi karya-karya sastra yang konkret dengan tekanan pada penilaiannya. Menurut Jassin kritik sastra itu pertmbangan baik atau buruk karya sastra, penerangan dan penghakiman karya sastra. Kritikus dipandang sebagai seorang ahli yang memiliki kepadaian khusus untuk membedah karya sastra, memeriksa karya sastra mengenal kebaikan-kebaikan dan cacat-cacatnya, dan menyatakan pendapatnya tentang itu.

Ulasan atas Kritik H.B. Jassin dalam tulisan Kenyataan Artistik Tidak Identik Dengan Kenyataan Objektif

                                                       Novi Diah Haryanti
                                                     novi.diah@gmail.com

Dalam tulisan Kenyataan Artistik Tidak Identik Dengan Kenyataan Objektif, Jassin mencoba mencermati beberapa persoalan dari empat karya yang diulasnya, yaitu: 1) karya sastra sebagai hasil imajinasi, tidak lebih dari itu, 2) hubungan antara pengarang, karya, dan isinya ditinjau dari kaidah agama, dan 3) sikap pengarang dan pembacanya.
Membaca salah satu tulisan Jassin dalam bukunya yang bertajuk Sastra Indonesia sebagia Warga Sastra Dunia, rasanya menarik dan cukup menggelitik. Menarik karena label “Paus Sastra” membuat pembacaan terhadap karya Jassin tak pernah usai, namun cukup menggelitik jika kemudian kita mencoba melihatnya dengan kacamata kekinian. Maka, tidak salah rasanya jika kita mencoba melihat dan mempertanyakan kembali apa yang dipersoalkan Jassin.
            Menurut Jassin, imajinasi adalah sesuatu yang hidup, suatu proses, dan kegiatan jiwa. Sehingga dengan demikian, imajinasi yang dituangkan ke dalam sesuatu karya seni, tidaklah identik dengan kenyataan sejarah, pengalaman ataupun ilmu pengetahuan. Dengan kata lain, kenyataan artistik tidak identik dengan kenyataan objektif atau sejarah. 
           
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...