Tuesday, April 16, 2013

Kritik atas ulasan H.B. Jassin "Kenyataan Artistik Tidak Identik Dengan Kenyataan Objektif" (Bagian 1)

Kali ini, saya mencoba menyusun kembali tulisan yang dibuat pada 2009. Sebelumnya tulisan ini pernah saya "posting" di Facebook. Untuk lebih memudahkan pembaca, saya membagi dalam 2 tulisan.

Bagian 1 

Jika kita membaca salah satu tulisan Jassin dalam bukunya yang bertajuk Sastra Indonesia sebagi Warga Sastra Dunia, rasanya menarik dan cukup menggelitik. Menarik karena label “Paus Sastra” membuat pembacaan terhadap karya Jassin tidak pernah usai, namun menjadi menggelitik jika  kita mencoba melihatnya dengan kacamata kekinian. Maka, tidak salah rasanya jika kita melihat dan mempertanyakan kembali apa yang dipersoalkan Jassin dalam tulisan "Kenyataan Artistik Tidak Identik Dengan Kenyataan Objektif". Dalam tulisan tersebut, Jassin mencermati tiga persoalan dari empat karya yang diulasnya, yaitu 1) karya sastra sebagai hasil imajinasi, tidak lebih dari itu, 2) hubungan antara pengarang, karya, dan isinya ditinjau dari kaidah agama, serta 3) sikap pengarang. 

Menurut Jassin, imajinasi adalah sesuatu yang hidup, suatu proses, dan kegiatan jiwa. Dengan demikian, imajinasi yang dituangkan ke dalam sesuatu karya seni, tidaklah identik dengan kenyataan sejarah, pengalaman, ataupun ilmu pengetahuan. Dapat pula dikatakan, kenyataan artistik tidak identik dengan kenyataan obyektif atau sejarah. 

Friday, June 22, 2012

Istana Jiwa: Cerita Para Korban Tragedi 65


Novi Diah Haryanti[1]


Pada acara bedah buku “Istana Jiwa” 24 April lalu di GoetheHaus, walau tidak hadir, Maria Hastiningsih memberikan ulasan terkait novel sejarah yang ditulis oleh Putu Oka Sukanta (POS). Buat saya, poin yang menarik ialah bagaimana Hastiningsih menutup tulisan tersebut dengan sebuah paragraf, “... Istana Jiwa, telah melengkapi sejarah dari perspektif korban kekerasan politik. Kehancuran keluarga dan bagaimana perempuan mempertahankan hidup dirinya dan anak-anaknya di masyarakat yang menghukum mereka dengan berbagai stigma pasca G-30S, tak pernah ada tempatnya dalam Sejarah Nasional; sejarah sebagai 'His-story'. Kita yang wajib mencatat 'Her-story'.”[2]
Dalam usahanya mencatat “her-strory” POS menggunakan banyak tokoh perempuan, mulai dari yang utama, tokoh ibu dan anak, yaitu Maria (Ria) dan Ibu Suri, juga para istri dan kekasih kelompok kiri, yaitu Kirtani, Ivone, Hwani, Ninuk, dan Savitri. Lewat suara-suara merekalah pembaca mengetahui dan merasakan sulitnya menjadi bagian dari tragedi 65.
Di awal cerita, kita dikenalkan pada tokoh Maria, anak Bung Rampi yang merupakan orang penting di Partai Komunis Indonesia (PKI). Maria juga merupakan aktivis Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI) yang rajin pergi ke gereja, menjadi anggota drumband dan suara merdunya kerap dipakai Paduan Suara Gereja ataupun paduan suara Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Kisah cintanya dengan Larsono yang merupakan anggotan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), kandas lantara perbedaan agama di antara mereka. Keteguhan Maria mempertahankan keyakinan agamanya, mematahkan mitos yang selama ini berkembang bahwa orang komunis tidak beragama. Selain itu, tampaknya POS tidak ingin kisah cinta beda agama ini mengambil porsi yang cukup besar hingga mampu menghadirkan konflik antara Maria dan Larsono. Bagi mereka, perjuangan dan keyakinan politiklah yang utama, hal tersebut tampak pada kutipan berikut ini.
     “Pada waktu demonstrasi besar-besaran di Kedutaan Inggris, mereka bertemu, karena CGMI dan GMNI adalah kelompok mahasiswa yang mendukung ideologi Soekarno dengan manifesto politiknya yang anti-imperialisme, neokolonialisme, habis-habisan.” (2012: 9)

Monday, January 16, 2012

Parade Teater UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

       Senin, 16 Januari 2012 gelaran Parade Teater yang diselenggarankan oleh Teater7 mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dimulai. Lakon hari ini berjudul "Pagi Bening" dan "Pinangan" akan dipentaskan pada pukul 15.30 dan 19.00 WIB. Sedangkan Rabu, 18 Januari 2012 mahasiswa PBSI UIN kembali menggelar pementasan dengan lakon "Mimpi-Mimpi","Malam Pengantin di Bukit Kera", dan "Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi", pada pukul 13.00, 15.30, dan 19.00 WIB. Harga Tiket Masuk Rp5000 untuk lima pertunjukan yang bertempat di Aula Madya lt.2 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 
Selamat datang dan Menyaksikan!   

Thursday, December 8, 2011

I Love My Job

Semester ini, saya mengajar dua mata kuliah menulis di dua kampus yang berbeda, yaitu Penulisan Editorial dan Opini di UIN Ciputat dan Menulis Populer di Universitas Pamulang (Unpam). Kedua matakuliah tersebut membuat saya bekerja ekstra karena harus membaca lebih jeli setiap tulisan mahasiswa. Melelahkan tapi sangat menyenangkan! 

Di kelas "Penulisan Editorial dan Opini" saya menantang mahasiswa saya untuk mengirimkan opininya ke media. Bagi yang berhasil dimuat, nilai A di tangan. Kesempatan tersebut saya buka selama satu semester perkuliahan. Ternyata, satu orang mencoba, Reni namanya. Dengan semangat ia menunjukkan tulisannya di koran daerah Tangerang, "Bu tulisan saya dimuat". Saya pun melihatnya dengan semangat. Tak hanya koran, Reni juga membawa bukti pengiriman dan tulisan asli yang ia kirimkan. Hhmm... tulisannya memang banyak diubah, tapi melihat kegigihan dan semangatnya, patutlah dia diberi nilai 85 untuk UTSnya (dengan berbagai pertimbangan terpaksa tulisan itu hanya ampuh untuk UTS). "Wah saya jadi semangat mengirimkan tulisan lain ke media nasional Bu" begitu katanya. Akh, Reni taukah bahwa kamu sudah membuat saya bahagia :)

Sunday, December 4, 2011

Kalimat


  • Kalimat ialah satuan bahasa yang dapat berdiri sendiri, memiliki intonasi final, terdiri atas frasa dan klausa (KBBI). 
  • Terdapat 3 buah intonasi final yang memberi ciri kalimat: intonasi deklaratif (tanda titik), intonasi interogeratif (tanda tanya), intonasi seru (tanda seru).  
Jenis Kalimat Berdasarkan Tujuan dan Situasinya  
1.Kalimat berita berfungsi untuk memberitahukan sesuatu kepada pihak lain hingga diperoleh tanggapan yang berupa perhatian. Contoh:
Malam ini sepi sekali.
Ia baru saja datang. 

2.Kalimat perintah merupakan kalimat yang mengharapkan tanggapan (biasanya berupa tindakan) dari pihak lain. 
Dari segi makna, kalimat perintah dapat berupa:
a)Perintah → Pergilah segera!
b)Ajakan → Mari kita ke sana!
c)Larangan → Jangan membuang sampah sembarangan!
d)Mempersilakan →Silakan duduk!
e)Salam → Selamat pagi! 

Frasa dan Klausa

Frasa

Frasa ialah satuan gramatikal yang terdiri dari dua kata dan konstruksi non-predikatif (unsur pembentuknya bukan subjek-predikat). 
nContoh Kalimat

Adik saya   sedang membaca   buku cerita di kamar tidur
           S                        P                       O                Ket 

Terdiri dari Frasa: 1) Adik saya ; 2) Sedang membaca ; 3) Buku cerita; 4) di kamar tidur
nFrasa dibagi menjadi: 
  1. 1.Frasa endosentris adalah frasa yang unsur pusatnya berdistribusi sama dengan frasa yang dibentuknya. Contoh: mahasiswa teladan → unsur pusat nomina, frasa yang dibentuk Frasa nomina/FN. 
  2. Frasa eksosentris ialah kategori frasa yang dibentuk tidak sama dengan unsur pusatnya, contoh: di kelas → (prep+n) disebut frasa preposisi (Fprep) dengan unsur pusat nomina.

Pentas Teater Realis "Rumah Boneka" ( A Doll's House): Tiga Jam Tanpa Interval

 "Saya mempunyai tugas yang tak kalah sakralnya dengan menjadi seorang ibu, tugas kepada diri sendiri!"

Kalimat tersebut merupakan kutipan dialog teater "Rumah Boneka" yang diadaptasi dari buku drama karya Hendrik Ibsen  "A Doll's House". Dari kata sambutan Faiza Mardzoeki (produser) saya tahu bahwa Ibsen oleh bangsa Norwegia dijadikan simbol kebanggaan nasional. Pemerintah Norwegia mendukung diciptakannya ruang pergaulan kreatif di seluruh dunia melalui Ibsen. Program kesetaraan gender pun dipromosikan dengan nama Nora's Sisters mengambil nama tokoh utama perempuan dalam cerita. Terus terang isu gender ini yang menarik minat saya untuk datang ke Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) kemarin malam (3/12).

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...